Welcome to My Blogger!
Berikut saya lampirkan juga tugas saya dalam format PDF.
1. Bagaimana biasanya Anda mengenali situasi yang dapat dianggap sebagai dilema etika atau bujukan moral dalam konteks sekolah Anda?
Ismairi, S.Pd.I mengidentifikasi situasi dilema etika atau bujukan moral dengan memerhatikan pertentangan nilai, dampak pada murid, konsultasi dengan tim guru, dan beracuan pada kode etik profesional guru. Baginya, penting untuk mempertimbangkan dampak keputusan pada murid dan memastikan bahwa kebijakan sekolah selaras dengan prinsip-prinsip etika.
Ailisa Mevta, S.Pd. menjelaskan bahwa dia mengenali situasi dilema etika atau bujukan moral di sekolahnya dengan mengamati konflik nilai, ketidakpastian dalam pengambilan keputusan, pertimbangan moral, dan melalui proses refleksi yang rutin. Dia menganggap penting untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil selaras dengan nilai-nilai etika dan moral yang dianut di sekolahnya.
Fauziah, S.Pd, juga menekankan pentingnya memerhatikan pertentangan nilai, konsultasi tim, dampak pada lingkungan, dan berpikir jangka panjang dalam mengenali dilema etika atau bujukan moral di sekolahnya. Dia berfokus pada aspek-aspek ini untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil mendukung budaya sekolah yang positif dan lingkungan yang kondusif.
2. Bisa Anda ceritakan bagaimana Anda biasanya mengambil keputusan ketika dihadapkan pada kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau sama-sama mengandung nilai kebajikan?
Ismairi, S.Pd.I mengambil pendekatan serupa. Ketika dihadapkan pada dua kepentingan yang sama-sama benar, dia akan mengadakan pertemuan dengan tim guru, komite sekolah, dan pihak terkait lainnya. Mereka akan melakukan diskusi terbuka untuk merinci manfaat dan risiko dari setiap opsi yang ada. Keputusan diambil berdasarkan konsensus dan dengan berpegang pada nilai-nilai kebajikan yang telah ditetapkan.
Ailisa Mevta, S.Pd mengungkapkan bahwa dalam kasus di mana ada dua kepentingan yang sama-sama benar atau mengandung nilai kebajikan, dia cenderung untuk lebih mengutamakan konsultasi dengan tim guru dan staf sekolah. Dia percaya bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mengambil keputusan yang bijak. Dalam diskusi bersama tim, mereka akan mempertimbangkan nilai-nilai etika, prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, serta dampak keputusan tersebut pada murid dan lingkungan sekolah. Keputusan diambil secara demokratis dengan mendengarkan pandangan semua pihak yang terlibat.
Fauziah, S.Pd, menjelaskan bahwa dalam situasi semacam ini, dia biasanya akan melakukan evaluasi mendalam terhadap setiap opsi yang tersedia. Dia akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk tim guru, orang tua, dan murid, jika sesuai. Keputusan yang diambil harus selaras dengan visi sekolah dan nilai-nilai yang dianutnya. Pertimbangan etika, dampak jangka panjang, dan kesejahteraan murid selalu menjadi fokus utama dalam proses pengambilan keputusan.
3. Apakah Anda memiliki langkah-langkah atau prosedur khusus yang Anda ikuti dalam pengambilan keputusan dilema etika? Bagaimana prosesnya biasanya?
Ismairi, S.Pd.I: langkah pertama adalah melakukan analisis mendalam terhadap kasus tersebut. Mereka akan mencari tahu apa yang menjadi inti masalah, siapa yang terlibat, dan nilai-nilai yang terkait. Selanjutnya, mereka akan mengadakan pertemuan dengan tim guru dan pihak terkait lainnya untuk berdiskusi. Dalam diskusi tersebut, mereka akan mencari solusi yang paling sesuai dengan nilai-nilai etika dan kebajikan yang dianut sekolah. Keputusan diambil berdasarkan konsensus tim.
Ailisa Mevta, S.Pd:mengatakan bahwa mereka memiliki prosedur tertentu dalam menghadapi dilema etika. Pertama, mereka akan mengumpulkan semua informasi yang relevan tentang kasus tersebut. Selanjutnya, mereka akan mengidentifikasi nilai-nilai etika yang terlibat dan mempertimbangkan dampaknya pada murid dan sekolah. Setelah itu, tim guru dan staf sekolah akan berkumpul untuk berdiskusi secara terbuka, mengemukakan argumen dan pandangan masing-masing. Keputusan diambil secara kolaboratif dengan berpegang pada prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai kebajikan yang telah ditetapkan.
Fauziah, S.Pd: menjelaskan bahwa mereka memiliki prosedur yang melibatkan banyak pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dilema etika. Pertama, kasus akan diselidiki secara menyeluruh. Kemudian, mereka akan mengadakan pertemuan dengan tim guru, komite sekolah, orang tua, dan jika diperlukan, murid. Dalam pertemuan ini, mereka akan menganalisis semua opsi yang ada dan mempertimbangkan implikasinya. Keputusan diambil berdasarkan diskusi terbuka dan dengan berfokus pada prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai yang dianut sekolah.
4. Apa yang menurut Anda efektif dalam pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika di sekolah? Apakah ada pendekatan tertentu yang Anda temukan berhasil?
Ismairi, S.Pd.I: menyatakan bahwa efektivitas dalam pengambilan keputusan dilema etika di sekolah melibatkan analisis mendalam terhadap kasus tersebut. Mereka menemukan bahwa dengan mengidentifikasi inti masalah dan nilai-nilai yang terlibat, mereka dapat mengevaluasi semua opsi dengan lebih baik. Pendekatan ini membantu mereka memilih solusi yang paling sesuai dengan prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai yang dianut sekolah.
Ailisa Mevta, S.Pd.: Menurut efektivitas dalam pengambilan keputusan dilema etika di sekolah tergantung pada komunikasi dan kolaborasi yang kuat di antara tim guru dan staf sekolah. Mereka menemukan bahwa pendekatan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, seperti guru, orang tua, komite sekolah, dan jika perlu, murid, adalah pendekatan yang berhasil. Dengan berdiskusi terbuka dan mempertimbangkan sudut pandang yang beragam, mereka dapat mencapai keputusan yang lebih baik.
Fauziah, S.Pd: mengungkapkan bahwa efektivitas dalam pengambilan keputusan dilema etika di sekolah bergantung pada transparansi dan keterlibatan semua pihak yang terlibat. Mereka menemukan bahwa melibatkan komite sekolah, orang tua, dan guru dalam proses pengambilan keputusan adalah kunci keberhasilan. Ini memungkinkan berbagai sudut pandang dan pandangan yang berbeda untuk dipertimbangkan, sehingga keputusan yang diambil lebih seimbang dan sesuai dengan nilai-nilai etika sekolah.
5. Apa yang menjadi tantangan utama dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan pada dilema etika? Bagaimana Anda mengatasi tantangan tersebut?
Ismairi, S.Pd.I: menyatakan bahwa tantangan utama adalah menghadapi tekanan waktu dan ekspektasi yang tinggi. Mereka berusaha untuk mengatasi tantangan ini dengan melakukan evaluasi yang cermat dan berfokus pada prinsip-prinsip etika yang mereka anut. Mereka juga berusaha untuk menjaga komunikasi yang kuat dengan semua pemangku kepentingan untuk menghindari konflik yang tidak perlu.
Ailisa Mevta, S.Pd mengatakan tantangan utama dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan pada dilema etika adalah adanya tekanan dari berbagai pihak, seperti orang tua, komite sekolah, atau bahkan kebijakan pemerintah. Mereka berusaha untuk mengatasi tantangan ini dengan memastikan bahwa semua keputusan didasarkan pada nilai-nilai kebajikan yang telah menjadi pedoman sekolah. Mereka juga berkomunikasi secara terbuka dengan semua pihak yang terlibat untuk menjelaskan pemikiran di balik keputusan tersebut.
Fauziah, S.Pd: mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam mengambil keputusan ketika dihadapkan pada dilema etika adalah menyeimbangkan antara kepentingan individu dan kepentingan sekolah secara keseluruhan. Mereka mencoba mengatasi tantangan ini dengan memastikan bahwa setiap keputusan yang diambil adalah untuk kebaikan bersama dan sesuai dengan nilai-nilai etika sekolah. Mereka juga berusaha untuk melibatkan semua pihak yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk memastikan keputusan yang lebih adil dan berimbang.
6. Apakah Anda memiliki jadwal atau tatakala tertentu dalam menyelesaikan kasus dilema etika? Apakah Anda cenderung menyelesaikannya segera atau ada prosedur tertentu yang Anda ikuti?
Ismairi, S.Pd.I: mengatakan bahwa mereka tidak memiliki jadwal tetap untuk menyelesaikan kasus dilema etika. Mereka berusaha untuk menyelesaikan kasus tersebut sesegera mungkin, tetapi juga memastikan bahwa proses pengambilan keputusan berjalan dengan baik. Mereka cenderung mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, termasuk melakukan konsultasi dengan semua pihak yang terlibat.
Ailisa Mevta, S.Pd mengatakan dalam menyelesaikan kasus dilema etika, mereka cenderung tidak memiliki jadwal tertentu. Mereka lebih fokus pada pemahaman yang mendalam tentang situasi dan nilai-nilai etika yang terlibat. Mereka berusaha untuk menyelesaikan kasus tersebut sesegera mungkin, tetapi juga tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Terkadang, kasus dilema etika memerlukan waktu ekstra untuk diskusi dan konsultasi.
Fauziah, S.Pd: menjelaskan bahwa mereka tidak memiliki jadwal tertentu untuk menyelesaikan kasus dilema etika. Mereka lebih fokus pada proses pengambilan keputusan yang cermat dan memastikan bahwa semua pihak yang terlibat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses tersebut. Mereka cenderung menyelesaikan kasus tersebut dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam waktu yang wajar, tetapi tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
7. Adakah seseorang atau faktor-faktor yang biasanya membantu atau mempermudah Anda dalam proses pengambilan keputusan dalam kasus dilema etika di sekolah?
Ismairi, S.Pd.I: mengatakan bahwa di sekolah mereka, mereka memiliki seorang penasehat etika yang berperan dalam membantu dalam pengambilan keputusan dilema etika. Penasehat etika ini memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam dalam masalah etika dan dapat memberikan pandangan yang berharga dalam menyelesaikan kasus dilema etika.
Ailisa Mevta, S.Pd mengungkapkan bahwa dalam proses pengambilan keputusan dilema etika, mereka biasanya melibatkan tim manajemen sekolah dan guru-guru yang memiliki pengalaman dalam masalah etika. Mereka percaya bahwa diskusi dan berbagi pandangan dengan orang lain dapat membantu mereka memahami situasi dengan lebih baik dan mencari solusi yang lebih baik pula.
Fauziah, S.Pd: menyebutkan bahwa mereka juga memiliki seorang penasehat etika yang membantu dalam proses pengambilan keputusan dilema etika. Selain itu, mereka juga biasanya melakukan konsultasi dengan instansi pendidikan setempat dan orang tua siswa yang terlibat dalam kasus tersebut. Semua pandangan ini membantu mereka mendapatkan perspektif yang beragam dan lebih baik dalam mengambil keputusan.
8. Dari pengalaman Anda dalam menghadapi dilema etika, apa pembelajaran utama yang telah Anda peroleh? Bagaimana pengalaman ini memengaruhi pendekatan Anda dalam mengambil keputusan di masa depan?
Ismairi, S.Pd.I: menyampaikan bahwa pembelajaran utama yang dia peroleh adalah pentingnya memiliki penasehat etika dan konsultasi dengan mereka dalam kasus dilema etika. Pengalaman ini telah memengaruhi pendekatannya dalam mengambil keputusan di masa depan, di mana dia akan lebih aktif melibatkan penasehat etika dan mencari pandangan yang beragam sebelum membuat keputusan penting.
Ailisa Mevta, S.Pd menyatakan bahwa pengalaman dalam menghadapi dilema etika telah mengajarkannya pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan dan dampaknya pada murid. Pembelajaran utama yang dia peroleh adalah bahwa dalam mengambil keputusan, harus selalu berfokus pada kepentingan murid dan menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan positif bagi mereka. Pengalaman ini telah memengaruhi pendekatannya dalam mengambil keputusan di masa depan, di mana nilai-nilai kebajikan akan menjadi panduan utama.
Fauziah, S.Pd: mengungkapkan bahwa pembelajaran utama yang dia peroleh adalah bahwa pengambilan keputusan dalam dilema etika harus didasarkan pada nilai-nilai etika yang kuat dan mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pengalaman ini telah memengaruhi pendekatannya dalam mengambil keputusan di masa depan, di mana dia akan lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan nilai-nilai etika dan berfokus pada konsekuensi jangka panjang dari keputusan tersebut.
Hal-hal menarik apa yang muncul dari wawancara tersebut?
Dari wawancara ketiga narasumber kepala sekolah, terdapat beberapa hal menarik yang dapat diidentifikasi:
Pemahaman Dilema Etika: Ketiga narasumber menunjukkan pemahaman yang baik tentang apa yang merupakan dilema etika dan bujukan moral dalam konteks sekolah. Mereka memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi situasi-situasi di mana keputusan sulit harus diambil.
Prosedur Pengambilan Keputusan: Masing-masing narasumber memiliki prosedur atau langkah-langkah yang mereka ikuti dalam pengambilan keputusan dilema etika. Ini mencerminkan pendekatan yang terstruktur dalam menghadapi masalah etika.
Pendekatan Berbasis Kebajikan: Semua narasumber menekankan pentingnya nilai-nilai kebajikan dalam pengambilan keputusan. Mereka menjelaskan bahwa kebijakan dan tindakan mereka selalu berlandaskan pada nilai-nilai etis yang positif.
Kerjasama dengan Stakeholder: Beberapa narasumber menyoroti kerjasama dengan stakeholder, seperti komite sekolah atau orang tua, dalam pengambilan keputusan yang melibatkan dilema etika. Hal ini mencerminkan transparansi dan partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Tantangan dan Pembelajaran: Ketiga narasumber mengakui bahwa menghadapi dilema etika bukanlah tugas yang mudah. Mereka menghadapi berbagai tantangan, seperti mempertimbangkan banyak faktor, memuaskan semua pihak, dan menangani tekanan waktu. Namun, pengalaman ini juga memberikan pembelajaran berharga dalam pengembangan kemampuan pengambilan keputusan mereka.
Pentingnya Etika dalam Pendidikan: Semua narasumber menegaskan pentingnya etika dalam pendidikan. Mereka menyadari bahwa kebijakan dan tindakan mereka akan memberikan dampak pada murid-murid dan lingkungan sekolah, oleh karena itu, menjalankan pendidikan yang etis adalah prioritas utama.
Dalam analisis lebih mendalam, kita dapat mengevaluasi bagaimana pendekatan dan strategi masing-masing narasumber dalam mengatasi dilema etika berkontribusi pada pembelajaran dan pengembangan mereka sebagai pemimpin pembelajaran.
Bagaimana hasil wawancara antara 2-3 pimpinan yang Anda wawancarai, adakah sebuah persamaan, atau perbedaan. Kira-kira ada yang menonjol dari salah satu pimpinan tersebut, mengapa, apa yang membedakan?
Hasil wawancara dengan ketiga kepala sekolah menunjukkan beberapa persamaan dan perbedaan dalam pendekatan mereka terhadap dilema etika di lingkungan sekolah.
Persamaan:
Pendekatan Berbasis Kebajikan: Ketiga kepala sekolah menekankan pentingnya berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan dalam pengambilan keputusan. Mereka menjadikan etika dan moral sebagai landasan utama dalam mengatasi dilema.
Pemahaman Dilema Etika: Semua narasumber memiliki pemahaman yang kuat tentang apa yang merupakan dilema etika dan bujukan moral dalam konteks sekolah. Mereka dapat mengidentifikasi situasi-situasi yang memerlukan pengambilan keputusan etis.
Kerjasama dengan Stakeholder: Semua narasumber menyoroti kerjasama dengan pihak-pihak terkait, seperti komite sekolah atau orang tua, dalam pengambilan keputusan yang melibatkan dilema etika. Mereka menganggap kerjasama ini penting untuk mencapai keputusan yang tepat dan mendapatkan dukungan.
Perbedaan:
Prosedur Pengambilan Keputusan: Ada perbedaan dalam langkah-langkah atau prosedur yang mereka ikuti dalam pengambilan keputusan. Ailisa Mevta, S.Pd mengacu pada aspek hukum dan regulasi, sementara Ismairi, S.Pd.I menekankan pada konsultasi dengan guru dan komite sekolah. Fauziah, S.Pd menggunakan pendekatan yang lebih inklusif dengan melibatkan banyak stakeholder dalam proses pengambilan keputusan.
Tantangan yang Menonjol: Ismairi, S.Pd.I menekankan bahwa salah satu tantangan utama dalam pengambilan keputusan adalah mencapai keseimbangan antara nilai-nilai kebajikan dan kepentingan sekolah. Dia merasa bahwa dalam beberapa situasi, kepentingan sekolah mungkin harus ditempatkan di atas nilai-nilai kebajikan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan.
Pendekatan dalam Mengatasi Tantangan: Fauziah, S.Pd menonjol dalam pendekatannya untuk mengatasi tantangan dalam pengambilan keputusan. Dia menekankan pentingnya komunikasi dan dialog terbuka dengan semua pihak terkait untuk menemukan solusi yang sesuai. Pendekatannya yang inklusif dan keterlibatan banyak stakeholder dapat membedakannya.
Secara keseluruhan, persamaan terletak pada pemahaman yang kuat tentang dilema etika dan pentingnya nilai-nilai kebajikan. Perbedaan utamanya terletak pada langkah-langkah konkret yang mereka ambil dalam pengambilan keputusan dan cara mereka mengatasi tantangan yang muncul. Ismairi, S.Pd.I menonjol dalam pendekatannya yang inklusif dan keterlibatan banyak pihak dalam pengambilan keputusan.
Apa rencana ke depan para pimpinan dalam menjalani pengambilan keputusan yang mengandung unsur dilema etika? Bagaimana mereka bisa mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka?
Ketiga pimpinan sekolah memiliki rencana ke depan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam situasi dilema etika. Ailisa Mevta, S.Pd bermaksud untuk terus memperbarui panduan dan prosedur pengambilan keputusan sekolahnya, melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan seperti orang tua dan siswa, serta meningkatkan komunikasi terbuka. Dia juga berencana untuk mengadakan pelatihan etika secara berkala bagi staf dan guru. Ismairi, S.Pd.I akan lebih menekankan pendidikan agama Islam dalam pengambilan keputusan di sekolahnya, serta memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil selaras dengan nilai-nilai agama. Dia juga berencana untuk melakukan evaluasi dampak jangka panjang dari keputusan yang telah diambil.
Fauziah, S.Pd di sisi lain, akan tetap mengandalkan konsultasi dengan ahli etika dan penerapan prosedur pengambilan keputusan yang sudah ada. Dia akan bekerja sama dengan ahli etika untuk menghadapi dilema etika yang lebih kompleks.
Mengukur efektivitas pengambilan keputusan mereka akan dilakukan dengan memantau hasil jangka panjang dari kebijakan yang telah diambil, seperti perubahan dalam kualitas pendidikan, perilaku siswa, dan tingkat kepuasan orang tua dan staf. Mereka juga akan melibatkan stakeholder dalam proses evaluasi ini, seperti dengan mengadakan survei atau diskusi terbuka. Dengan demikian, mereka berharap bisa memastikan bahwa keputusan yang diambil selaras dengan tujuan sekolah dan nilai-nilai yang mereka anut.
Bagaimana Anda sendiri akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika pada lingkungan Anda, pada murid-murid Anda, dan pada kolega guru-guru Anda yang lain? Kapan Anda akan menerapkannya?
Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, saya akan menerapkan pengambilan keputusan dilema etika dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip dan panduan yang telah saya pelajari. Pertama, saya akan mengenali situasi yang mengandung unsur dilema etika atau bujukan moral, seperti kasus yang mempengaruhi murid-murid atau staf sekolah. Saya akan berusaha untuk memahami seluruh aspek dan konsekuensi dari kasus tersebut.
Kemudian, saya akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk orang tua, staf sekolah, dan jika perlu, konsultan etika, dalam proses pengambilan keputusan. Diskusi terbuka akan membantu dalam mengidentifikasi berbagai sudut pandang dan potensi solusi. Saya juga akan mengacu pada prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai kebajikan yang menjadi landasan dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan dilema etika akan saya terapkan saat situasi tersebut muncul, tanpa menunda-nunda. Namun, saya akan memberikan waktu yang cukup untuk diskusi dan pemahaman bersama sebelum akhirnya mengambil keputusan. Saya akan menjalani proses ini dengan transparansi dan komunikasi terbuka agar semua pihak merasa terlibat dan memahami alasan di balik keputusan yang diambil.
Selain itu, saya akan menjadikan pengalaman ini sebagai pembelajaran bagi murid-murid saya. Saya akan mengajarkan mereka bagaimana menghadapi dilema etika dengan cara yang etis dan berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan. Dengan demikian, pengambilan keputusan dilema etika akan menjadi pengalaman pembelajaran yang berharga bagi mereka, membantu mereka dalam pengembangan karakter dan pemahaman moral.
Bersama dengan Ibu Ailisa Mevta, S.Pd Selaku Kepala SMPN 1 Pulo Aceh
Bersama dengan Bpk. Ismairi, S.Pd.I Selaku Kepala SMPN 1 Peukan Bada
Bersama dengan Ibu Fauziah, S.Pd Selaku Kepala SMPN 2 Pulo Aceh
Kesimpulan akhir yang dapat saya tarik dari pemebelajaran modul 3.1 adalah bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru harus dapat mengambil keputusan yang sesuai dengan nilai – nilai kebajikan sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan berpihak pada murid. Sesuai dengan ajaran KHD bahwa pendidikan adalah menuntun murid mencapai kebahagiaan (modul 1.1).
Sebagai penuntun murid, guru penggerak kita memiliki peran berpihak pada murid, mandiri, reflektif, kolaboratif, dan inovatif (modul 1.2). Dalam pengambilan keputusan kita akan mengaplikasikan kelima peran guru penggerak. Selain berpihak pada murid, guru harus mandiri dan reflektif. Setiap keputusan yang diambil dievaluasi secara mandiri dan dibuat refleksi untuk memastikan dampak positif dari pengambilan keputusan.
Guru diharapkan menjadi pemrakarsa perubahan, hal ini melibatkan banyak pengambilan keputusan yang besar. Sebagai acuan guru dapat menyusun visi yang berorientasi ke depan untuk diri, murid, dan sekolah secara keseluruhan. Langkah yang dapat ditempuh adalah dengan BAGJA (Buat Pertanyaan – Ambil Pelajaran – Gali Mimpi – Atur Eksekusi – Jabarkan Rencana) (modul 1.3). Melalui langkah – langkah ini dapat dipahami bahwa setiap keputusan membuat suatu perubahan semuanya mengedepankan manfaat dan evaluasi untuk memastikan apa yang dijalankan adalah sesuai dengan visi masa depan.
Visi akan terwujud jika budaya positif di sekolah sudah terwujud. Ada keyakinan kelas maupun sekolah yang disepakati bersama. Jika ada penyimpangan, dilakukan penyelesaian masalah dengan segitigita restitusi sehingga pihak – pihak yang terlibat menyadari kesalahannya dan menemukan solusi atas permasalahannya (modul 1.4). Disini sering terjadi juga dilema etika dan bujukan moral yang harus dikenali dengan baik oleh pemimpin pembelajaran sehingga keputusan yang dihasilkan adalah tepat dan berdampak positif. Dengan demikian akan terwujud masyarakat sekolah yang harmonis dan berdisiplin positif.
Visi dalam pembelajaran tentunya memenuhi kebutuhan setiap murid. Guru dapat melakukan pembelajaran berdiferensiasi untuk memfasilitasi murid dengan berbagai kemajemukan gaya belajar dan tingkat kesiapan (modul 2.1). Dengan bantuan tes diagnostik dan karakteristik materi yang akan dipelajari oleh murid, seorang guru harus membuat suatu keputusan model dan strategi pembelajaran yang akan dipilih. Hal ini tentu membutuhkan banyak pertimbangan dan perencanaan. Keputusan macam diferensiasi yang akan dipilih dan dikembangkan dalam modul ajar atau RPP dapat dievaluasi efektif atau tidaknya dengan evaluasi hasil belajar siswa.
Setiap keputusan yang baik tentunya dihasilkan oleh pikiran yang jernih dan kondisi emosi yang stabil. Sebagai pemimpin pembelajaran yang berinteraksi dengan murid yang beragam tentunya tidak jarang menemukan masalah – masalah yang dapat mengganggu proses pembelajaran itu sendiri. Disinilah Kesadaran Sosial Emosional (KSE) harus berjalan dengan baik (modul 2.2). KSE ini meliputi Kesadaran diri, Manajemen diri, Kesadaran Sosial, Keterampilan Berelasi, dan Pengambilan Keputusan yang Bertanggungjawab. Dalam penyelesaian masalah seseorang harus hadir sepenuhnya (mindfullness) sehingga fokus menjadi baik dan keputusan yang diambil sesedikit mungkin dampak negatifnya.
Dampak negatif yang kecil dapat kita peroleh juga dengan proses coaching yang baik, dimana coach berperan sebagai mitra yang siap membantu coachee untuk meningkatkan performa kerja, menemukan solusi atas permasalahannya, dan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Dalam pembelajaran utamanya, peningkatan kualitas pembelajaran dapat dilakukan melalui supervisi akademik (modul 2.3).