Peta Konsep
Latar Belakang
Kerajaan ini berdiri di bumi Mataram yang terletak di dekat Yogyakarta sejak abad ke-8 hingga menuju ke-11. Kerajaan ini sering berpindah, sehingga berpengaruh juga pada nama kerajaan ketika berdiri di Mataram sempat diberi nama Medang I Bhumi Mataram. Total kerajaan ini berpindah-pindah sebanyak tujuh kali hingga sampai ke Jawa Timur di abad ke-10. Saat itu dikenal dengan nama Kerajaan Medang, saat itu pendiri kerajaan ini bernama Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan periode berkuasa pada 732-760 masehi. Menariknya selama berdiri, kerajaan Mataram diperintah oleh dua dinasti yakni dinasti Sanjaya dengan mayoritas beragama Hindu dan dinasti Syailendra dengan agama Buddha.
Letak Geografis
Sumber Sejarah
Prasasti Canggal
Prasasti Canggal merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 654 Saka atau 732 M. Prasasti ini ditemukan di Gunung Wukir, Desa Canggal, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Canggal ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isi dari Prasasti Canggal adalah asal usul Dinasti Sanjaya dan pembangunan sebuah lingga di Bukit Stirangga. Disebutkan pula bahwa yang menjadi raja sebelumnya adalah Sanna yang digantikan oleh Sanjaya yang merupakan keturunan Sannaha saudara perempuan Sanna.
2. Prasasti Kalasan
Prasasti Kalasan merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 700 Saka atau 778 M. Sesuai namanya, prasasti ini ditemukan di Desa Kalasan, Daerah Istimewa Yogyakarta. Prasasti Kalasan ditulis dengan huruf Pranagari dan bahasa Sansekerta. Prasasti ini berisi cerita pendirian bangunan suci untuk Dewi Tara dan biara untuk pendeta oleh raja Panangkaran atas permintaan Keluarga Syailendra. Disebutkan pula bahwa Panangkaran juga menghadiahkan Desa Kalasan untuk para Sanggha atau umat Buddha. Adapun bangunan suci untuk Dewi Tara diidentifikasi sebagai Candi Kalasan sekarang.
3. Prasasti Klurak
Prasasti Klurak merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 782 M. Prasasti ini ditemukan di daerah Prambanan berisi cerita tentang pembuatan Arca Manjusri di sebelah utara Prambanan oleh Raja Indra yang bergelar Sri Sanggramadananjaya.
4. Prasasti Ratu Boko
Prasasti Ratu Boko merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 856 M. Prasasti Ratu Boko bercerita tentang kekalahan Raja Balaputradewa dalam perang saudara melawan kakaknya yaitu Pramodhawardani dan kemudian melarikan diri ke Sriwijaya.
5. Prasasti Mantyasi
Prasasti Kedu dikenal juga sebagai Prasasti Balitung atau atau Prasasti Kedu. Prasasti Kedu merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berangka tahun 907 M. Prasasti Kedu berisi silsilah raja-raja keturunan wangsa Sanjaya yang mendahului Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Sanjaya, Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, Raka Garung, Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi, dan Rakai Watuhumalang.
6. Prasasti Nalanda
Prasasti Nalanda menceritakan asal-usul Balaputra Dewa. Ia adalah putra dari Samarattungga sekaligus cucu dari Raja Indra.
7. Prasasti Borubudur
Samaratungga digantikan oleh putrinya bernama Pramodawardhani. Dalam Prasasti Sri Kahulunan (= gelar Pramodawardhani) berangka tahun 842 M di daerah Kedu, menyebutkan bahwa: Sri Kahulunan meresmikan pemberian tanah untuk pemeliharaan candi Borobudur (kamulan di bhummi sambara bhudara) yang sudah dibangun sejak masa pemerintahan Samaratungga.
8. Prasasti Prambanan
Pramodhawardhani menikah dengan Rakai Pikatan yang beragama Hindu. Adik Pramodhawardhani, Balaputradewa menentang pernikahan itu. Pada tahun 856 Balaputradewa berusaha merebut kekuasaan dari Rakai Pikatan, namun usahanya itu gagal. Balaputradewa kemudian melarikan diri ke Sriwijaya dan berhasil naik tahta sebagai raja Kerajaan Sriwijaya. Menurut Prasasti Pikatan, 856 M disebutkan bahwa Rakai Pikatan memerintahkan pembangunan Candi Prambanan. Setelah pemerintahan Rakai Pikatan, Mataram menunjukkan kemunduran. Pengganti Rakai Pikatan, Rakai Kayuwangi (856 – 886) berhasil mengatasi pemberontakan Rakai Walaing Pu Kumbayoni. Pengganti Rakai Kayuwangi adalah Rakai Watuhumalang yang memerintah dari tahun 886 – 898 Masehi. Kemudian menyusul pemerintahan Raja Balitung (898 – 910. Sejak pemerintahan Raja Balitung banyak mengalihkan perhatian ke wilayah Jawa Timur. Prasasti-prasasti Raja Balitung dari tahun 898 sampai 907 Masehi banyak ditemukan di Jawa Timur. Bahkan salah satunya menyebutkan tentang penyerangan ke Bantan (Bali).
Masa Kejayaan
Raja-Raja Kerajaan Mataram Kuno Berikut ini silsilah raja Kerajaan Mataram Kuno saat berpusat di Jawa Tengah :
1. Rakai Mataram Sang Ratu
Sanjaya (732-760 M)
2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M)
3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan/ Dharmatungga (780-800 M)
4. Sri Maharaja Rakai Warak/ Indra (Syailendra) (800-820 M)
5. Sri Maharaja Rakai Garung/ Samaratungga (820-840 M)
6. Sri Maharaja Rakai Pikatan dan Maharatu Pramodawardhani (840-856 M)
7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi alias Dyah Lokapala (856-882 M)
8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882-899 M)
9. Sri Maharaja Rakai Watukara Dyah Balitung (898-915 M)
10. Raja Daksa (915-919 M)
11. Raja Tulodong (919-924 M)
12. Raja Sumba Dyah Wawa (924 M)
Perkembangan Agama, Ekonomi, Politik, dan Budaya
Agama
Masyarakat Kerajaan Mataram kuno terdiri atas agama Hindu dan agama Buddha. Namun, mereka tetap hidup rukun dan saling bertoleransi. Hal itu dibuktikan dalam pembangunan Candi Plaosan di Kabupaten Klaten, yang merupakan wujud akulturasi budaya Hindu dan Buddha.
Ekonomi
Kehidupan ekonomi bertumpu pada sektor agraris Wilayah Kerajaan Mataram Kuno dikelilingi pegunungan dan sungai-sungai besar. Hal itu membuatnya memiliki tanah yang subur sehingga cocok untuk kegiatan pertanian. Itulah mengapa kehidupan ekonomi Kerajaan Mataram Kuno cenderung bergerak di bidang pertanian.
Politik
Kerajaan Mataram Kuno dikenal sebagai kerajaan yang toleran dalam hal beragama. Sebab, di Kerajaan Mataram Lama berkembang agama Buddha dan Hindu secara berdampingan. Kerajaan ini diperintah oleh dua dinasti, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Berdasarkan interpretasi terhadap prasasti-prasasti bahwa kedua dinasti itu saling bersaing berebut pengaruh dan kadang-kadang memerintah bersama-sama. Asal usul Dinasti Sanjaya tercantum dalam prasasti Canggal (732 M) yang menyebutkan bahwa Sanjaya adalah keponakan Sanna (anak dari Sannaha). Dinasti Syailendra sendiri tercantum dalam prasasti Sojomerto (tidak berangka tahun), isinya menceritakan tentang Dapuntahyang Syailendra.
Budaya
Kebudayaan Kerajaan Mataram Kuno Kerajaan Mataram Kuno memiliki kebudayaan yang bernilai sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya peninggalan berupa prasasti dan candi yang masih bisa disaksikan hingga sekarang. Jumlah prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno sangat banyak, mungkin mencapai ratusan. Begitu pula dengan candi-candi peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang masih berdiri megah hingga saat ini. Baca juga: Sejarah Candi Lumbung di Kawasan Prambanan Lihat Foto Candi-candi Kerajaan Mataram Kuno ada yang bercorak Hindu ada pula yang bercorak Buddha. Beberapa candi peninggalan Mataram Kuno yang terkenal yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Kalasan, Candi Sewu, Candi Pawon, dan masih banyak lainnya. Selain itu, di Kerajaan Mataram Kuno juga berkembang seni sastra dan seni pertunjukan. Salah satu hasil seni sastra peninggalan Kerajaan Mataram Kuno adalah Kitab Ramayana Kakawin yang diduga berasal dari masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (899-911). Di masa pemerintahan Dinasti Isyana di Jawa Timur, dihasilkan karya sastra berjudul Sang Hyang Kamahayanikan yang berisi tentang agama Buddha Mahayana. Baca juga: Sejarah Candi Bubrah di Kawasan Prambanan Dari relief Candi Prambanan dan Borobudur, diketahui tentang adanya bermacam-macam seni pertunjukan pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Seni pertunjukan yang ada saat itu adalah pertunjukan wayang, kemudian tari-tarian yang biasanya ditampilkan dalam upacara penetapan sima (tanah bebas pajak).
Masa Keruntuhan
Keruntuhan Kerajaan Mataram Kuno
Runtuhnya Kerajaan Mataram Kuno bermula dari persaingan Rakai Pikatan dari Sanjaya dan Balaputradewa dari Sailendra yang selanjutnya berkembang menjadi persaingan antara Mataram Kuno dan Sriwijaya secara turun-temurun. Sebetulnya perseteruan kedua kerajaan ini dilatarbelakangi oleh kepentingan politis untuk memegang kawasan Selat Malaka. Perseteruan itu berlanjut saat Kerajaan Mataram Kuno (Medang) dipimpin oleh Dinasti Isyana, dimana pasukan Sriwijaya melancarkan serangan ke Jawa. Pertempuran selanjutnya pecah di Anjukladang atau sekitar Nganjuk (Jawa Timur). Di masa pemerintahan Dharmawangsa Teguh, pasukan dari Mataram giliran menyerbu ibu kota Sriwijaya tetapi dapat dibendung. Akhirnya, pada tahun 1016, ibu kota Mataram kembali digempur oleh pasukan Aji Wurawari dari Lwaram atau sekutu Sriwijaya dan kali ini serangan tersebut tidak mampu dimentahkan, sehingga istana Mataram Kuno runtuh dan menewaskan Dharmawangsa. Inilah penanda berakhirnya Kerajaan Mataram Kuno.
Galeri
Tentang Kami
Aliya Uzhma R.
-Mencari Materi dan foto
Aurelia Nidya R.
-Admin google site.
Destia Dwi N.
-Mencari Foto dan materi
Nabila Talitha K.
-Mencari materi dan membuat peta konsep
Nalla Alrisqi P.R.
-Mencari Materi dan mengkonsep google site.
Daftar Pusaka