Salam Sejarah!
Kami Kelompok 1 membahas mengenai Kerajaan Kutai Kartanegara. Kerjaaan Kutai merupakan Kerajaan Hindu pertama di Indonesia yang didirikan pada abad ke-4 Masehi.
Berikut kami lampirkan peta konsep terkait Kerajaan Kutai beserta rangkaian materi-materinya. Kami harap apa yang kami sampaikan dapat dipahami dan bermanfaat.
Selamat membaca!
Peta Konsep
Letak Geografis
Peta
Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu pertama di Nusantara, yang diperkirakan berdiri sekitar abad ke-4 Masehi.
Secara geografis, kerajaan Kutai terletak di provinsi Kalimantan Timur tepatnya di kecamatan Muara Kaman, tepi Sungai Mahakam, di dekat kota/kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong), yang merupakan jalur perdangan antara China dan India.
Latar Belakang
Kerajaan Kutai memiliki hubungan perdagangan dengan India. Dari hubungan perdagangan dengan India inilah diketahui awal penyebaran pengaruh Hindu. Bukti bahwa Kerajaan Kutai memiliki hubungan perdagangan dengan India adalah ditemukannya Prasasti Yupa (monumen batu yang memuat tulisan dengan bahasa Sansekerta). Diketahui kerajaan kutai adalah kerajaan hindu tertua di indonesia.
Nama Kutai diambil dari nama tempat ditemuinya prasasti yang menggambarkan kerajaan tersebut. Nama Kutai diberikan oleh para pakar sebab tidak terdapat prasasti yang jelas mengatakan nama kerajaan ini. Karena sedikit data yang bisa diperoleh akibat minimnya sumber sejarah.
Keberadaan kerjaan tersebut dikenal bersumber pada sumber kabar yang ditemui ialah berbentuk prasasti yang berupa yupa ataupun tiang batu yang berjumlah 7 buah. Yupa yang menggambarkan huruf Pallawa serta bahasa sansekerta. Ada pula isi prasasti tersebut melaporkan bahwa raja awal kerajaan Kutai bernama Kudungga. Dia memiliki seseorang putra bernama Aswarman yang diucap selaku wamsakerta (pembuat keluarga). Sehabis wafat Aswarman digantikan oleh Mulawarman. Pemakaian nama tersebut meyakinkan jika sudah masuknya pengaruh ajaran Hindu dalam kerajaan Kutai serta perihal tersebut.
Sumber Sejarah
1. Prasasti Yupa Muarakaman I
Prasasti Yupa yang ditemukan pertama kali atau disebut Muarakaman I, terdiri dari 12 baris di salah satu sisinya. Prasasti ini berisi silsilah Raja Mulawarman. Selain itu, disebutkan pula tentang upacara selamatan yang dilakukan oleh Mulawarman.
2. Prasasti Yupa Muarakaman II
Prasasti kedua terdiri dari 8 baris tulisan yang dipahat di sisi depan. Prasasti ini merupakan yupa paling tinggi di antara ketujuh prasasi lainnya.
3. Prasasti Yupa Muarakaman III
Prasasti Yupa ketiga ini terdiri dari 8 baris, sama dengan prasasti yang kedua. Prasasti ini berisi kebaikan budi dan kebesaran Raja Mulawarman berupa pemberian sedekah yang berlimpah.
4. Prasasti Yupa Muarakaman IV
Prasasti Yupa keempat terdiri dari 11 baris tulisan di sisi depan. Namun, huruf yang dipahat tidak dapat dibaca.
5. Prasasti Yupa Muarakaman V
Prasasti Yupa kelima terdiri dari empat baris pahatan. Prasasti ini dibuat sebagai bentuk peringatan atas kebaikan sang raja. Di dalamnya berisi tentang jenis sedekah yang diberikan oleh Raja Mulawarman.
6. Prasasti Yupa Muarakaman VI
Prasasti Yupa keenam terdiri dari 8 baris tulisan. Pada baris pertama tertulis seruan selamat bagi Sri Maha Raja Mulawarman yang termasyhur.
7. Prasasti Yupa Muarakaman VII
Prasasti Yupa ketujuh terdiri dari 8 baris tulisan. Prasasti ini ditemukan dalam kondisi kurang baik dan tidak semua aksara dapat dibaca. Berdasarkan aksara yang masih dapat terbaca, prasasti ini berisikan prestasi Raja Mulawarman yang telah menakhlukkan raja-raja lain.
Masa Kejayaan
Raja yang memerintah Kerajaan Kutai setelah wafatnya pendiri, yaitu sebanyak 20 generasi sebagai berikut:
1.Maharaja Kudungga, bergelar Anumerta Dewawarman (sebagai pendiri)
2.Maharaja Aswawarman (anak dari Raja Kudungga)
3.Maharaja Mulawarman (sebagai raja yang terkenal)
4.Maharaja Marawijaya Warman
5.Maharaja Gajayana Warman
6.Maharaja Tungga Warman
7.Maharaja Jayanaga Warman
8.Maharaja Nalasinga Warman
9.Maharaja Gadingga Warman Dewa
10.Maharaja Indra Warman Dewa
11.Maharaja Sangga Warman Dewa
12.Maharaja Candrawarman
13.Maharaja Sri Langka Dewa
14.Maharaja Guna Parana Dewa
15.Maharaja Wijaya Warman
16.Maharaja Sri Aji Dewa
17.Maharaja Mulia Putera
18.Maharaja Nala Pandita
19.Maharaja Indra Paruta Dewa
20. Maharaja Dharma Setia
Dari 20 generasi tersebut, raja yang terkenal adalah Raja Mulawarman. Namun, setelah peninggalan Raja Kudungga, Kutai dipimpin oleh Aswawarman. Pemerintahan Aswawarman tidak berlangsung lama yang kemudian digantikan oleh anaknya, Mulawarman.
Masa Kejayaan Kerajaan Kutai
Kejayaan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman ditulis dalam Prasasti Yupa dikatakan bahwa Mulawarman telah melakukan upacara pengorbanan emas yang jumlahnya sangat banyak. Emas tersebut dibagikan kepada para rakyatnya, selain itu juga dijadikan sebagai persembahan kepada para dewa. Kehidupan sosial pada kerajaan ini ditandai dengan adanya golongan terdidik yang banyak. Golongan terdidik ini menguasai bahasa sansekerta serta huruf pallawa. Stabilitas politik di masa pemerintahan Raja Mulawarman juga sangat terjaga.
Keadaan Masyarakat
Kehidupan Sosial
Kerajaan Kutai terdiri dari golongan masyarakat yang mampu menguasai bahasa Sansekerta dan menggunakan aksara Palawa dalam untuk penulisan yang terdiri dari para Brahmana dan Ksatria yang terdiri dari kerabat-kerabat kerajaan. Dari kondisi tersebut diketahui bahwa Kerajaan Kutai menggunakan sistem sosial berdasarkan kasta sebagai penggolongan masyarakatnya. Masyarakat Kutai sendiri diketahui menjunjung tinggi kepercayaan asli leluhurnya, yakni berdasarkan agama Hindu Syiwa dan para Brahmana
Kehidupan Ekonomi
Letak Kerajaan Kutai yang berada di tepi Sungai Mahakam menyebabkan banyaknya masyarakat yang bekerja di bidang pertanian. Karena wilayah Kutai letaknya sangat strategis, yakni terletak pada jalur aktifitas pelayaran dan perdagangan antardunia barat dan dunia timur menyebabkan perdagangannya cukup ramai dan hasil pertaniannya melimpah sehingga masyarakat pada zaman kerajaan Kutai hidup makmur. Kemakmuran Kutai tercermin dari kedermawanan Raja Mulawarman. Yang dikisahkan ia mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para brahmana.
Kehidupan Politik
Keberadaan kerajaan Tarumanegara dibuktikan dari penemuan kompleks percandian Batujaya dan Cibuaya di muara Sungai Citarum. Pada awalnya kerajaan Kutai dipimpin oleh raja kundunga. Setelah turun tahta digantikan oleh asmawarman sebagai raja. Dalam prasasti Yupa, disebutkan bahwa Asmawarman dianggap seperti Dewa Ansuman atau Dewa Matahari dan mendapat julukan Wamsakerta atau pembentuk keluarga/dinasti Hindu dalam prasasti Yupa. Alasannya karena Aswawarman diperkirakan merupakan raja pertama yang telah menganut agama Hindu saat ia memimpin. Setelah Asmawarman turun takhta, Kerajaan Kutai dipimpin oleh putranya, Raja Mulawarman. Pada masa kepemimpinannya kerajaan Kutai mengalami kejayaan yang dibuktikan dengan wilayah kekuasaannya yang mencapai seluruh Provinsi Kalimantan Timur.
Kehidupan Budaya
Disebutkan dalam prasasti yupa, masyarakat Kerajaan Kutai banyak yang menganut agama Hindu. Sehingga pola pengaturan kerajaan kepada masyarakat sangat teratur rapi menurut pola pemerintahan Kerajaan India. Tetapi masyarakatnya tetap menjunjung tinggi kepercayaan asli leluhurnya. Contohnya prasasti berbentuk Yupa yang menggunakan huruf Pallawa menunjukkan adanya pengaruh dari India Selatan. Sedangkan Yupa sendiri merupakan bentuk perkembangan dari menhir, kebudayaan asli nenek moyang bangsa Indonesia pada zaman Megalitikum.
Pada pemerintahan raja Mulawarman, kehidupan budaya kerajaan Kutai sudah maju dibuktikan dengan diadakannya upacara vratyastoma yang dipimpin pendeta Brahmana yang merupakan orang asli Kutai, hal ini menandakan bahwa masyarakatnya memiliki kesadaran akan ilmu pengetahuan yang tinggi. khususnya penguasaan terhadap bahasa Sansekerta.
Kehidupan Agama
Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu ke kerajaan Kutai, masyarakat masih memegang kepercayaan nenek moyang asli wilayah Kutai sehingga sistem kasta masih belum dikenal oleh masyarakat. Ketika agama Hindu masuk ke wilayah kerajaan, barulah masyarakat mengenal sistem kasta. Kemudian para masyarakat Hindu melakukan upacara vratyastoma yang digunakan oleh masyarakat Kutai untuk masuk ke dalam salah satu sistem kasta di agama Hindu. Melalui upacara penyucian diri yang disebut vratyastoma. Dimana segala macam kesalahan dan dosa yang pernah diperbuat akan dihapuskan, bahkan seseorang tersebut dapat kembali masuk ke lingkungan masyarakat setelah diasingkan.
Upacara penerimaan orang di luar kasta tersebut dilakukan dengan melihat kedudukan orang yang bersangkutan di lingkungan masyarakat. Raja pertama Kutai Awawarman melakukan upacara vratyastoma dipimpin oleh pendeta dari India, katena pada saat itu pendeta dari Indonesia belum sepenuhnya masuk ke dalam kasta Brahmana, atau pendeta Hindu sedangkan Mulawarman masuk ke dalam kasta dengan dipimpin oleh pendeta dari Indonesia.
Golongan kasta kesatria yang ada di kerajaan Kutai terdiri dari kerabat-kerabat Mulawarman. Golongan kstaria tidak mudah didapatkan oleh masyarakat Kutai. Karena keadaan raja yang hanya ingin dikelilingi oleh kerabat yang memiliki hubungan erat dengan keluarga kerajaan saja.
Bukti sejarah berupa prasasti yang menjelaskan mengenai kerajaan Kutai banyak berisikan mengenai agama yang dianut oleh raja-raja di Kutai, terutama masa Mulawarman berkuasa. Semua prasasti yang sudah ditemukan berisikan peringatan akan kebaikan dan pekerjaan yang telah dilakukan oleh Mulawarman. Di dalam isi prasasti juga dijelaskan bahwa Mulawarman adalah penganut agama Siwa.
Masa Keruntuhan
Pada masa pemerintahan Maharaja Dharma Setia adalah awal mula kehancuran Kerajaan Kutai.
Faktor utama penyebab runtuhnya Kerajaan Kutai yaitu perang perebutan kekuasaan antara Kutai Maartapura yang beragama Hindu dengan Kutai Kartanegara yang beragama Islam.
Pada saat itu, Maharaja Dharma Setia turun langsung dalam peperangan, melawan Raja Kutai Kartanegara ke-13 yang bernama Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.
Maharaja Dharma Setia gugur di medan perang, sehingga Kutai Kartanegara memenangkan peperangan tersebut dan menguasai wilayah Kutai Martapura.
Kerajaan Kutai Kartanegara selanjutnya menjadi Kerajaan Islam yang bernama Kesultanan Kutai Kartanegara. Sejak tahun 1735, gelar rajanya berubah dari gelar Pangeran menjadi gelar Sultan.
Daftar Pustaka
Galeri
Tentang Kami
NAMA ANGGOTA DAN JOB DESK
1. Dinda Rahma Alia: Materi Raja-raja Kerajaan Kutai.
2. Ida Tri Rohaeni: Peta konsep, Materi Asal Usul Kerajaan Kutai, dan Materi Sumber Sejarah Kerajaan Kutai.
3 . Nabila Amada Setiawan: Materi Keadaan Masyarakat Kerajaan Kutai.
4. Sahla Nailah Salsabilla: Materi Keruntuhan Kerajaan Kutai Martapura.
5. Tsalistia Putri Rizqillah: Letak geografis, Admin Google Site.
Demikianlah materi kerajaan kutai yang telah kami telaah dan kami sampaikan, mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan ataupun ke akuratan informasi. Semoga bermanfaat. Terimakasih sudah membaca!