KISAH PAKU DAN SEBATANG BALOK KAYU
Alkisah, tersebutlah seorang murid yang memiliki sifat temperamental, mudah marah dan kesulitan mengendalikan dirinya. Dia selalu mengalami kesulitan untuk mengontrol emosinya, bahkan selalu mudah marah dan berkata kasar hanya untuk kesalahan-kesalahan kecil orang lain yang membuatnya tersinggung. Hingga pada suatu hari ia dipanggil oleh gurunya. Sang guru merasa berkewajiban untuk menasehati dan menjadikan murid ini lebih baik akhlaknya, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Oleh sang guru, ia diminta untuk menyiapkan sebatang balok kayu, palu dan paku. Dan dengan pendekatan serta sentuhan hati yang tulus, guru itu pun meminta kepadanya, agar setiap kali ia marah, ia harus menancapkan satu buah paku ke balok kayu dengan menggunakan palu yang sudah disiapkan. Berapa kali pun marah, ia harus melakukan hal tersebut dengan paku-paku yang baru. Ia pun menerima nasihat dari gurunya dan bersedia melakukannya.
Keesokan harinya, ia kembali dipanggil oleh sang guru di sekolah, dan ditanya, “dari kemarin sampai pagi ini sudah berapa buah paku yang engkau tancapkan di atas balok kayu itu?” Ia menjawab, “dua puluh, guru” jawabnya sambil menunduk malu. Dalam hati ia menyadari, ternyata hampir setiap satu jam ia marah kepada orang lain. Sang guru pun tidak berkomentar apa-apa, dan memintanya untuk kembali lagi minggu depan serta berpesan untuk terus melanjutkan kegiatan itu. Satu minggu berlalu dan saatnya sang guru memanggilnya kembali. Dengan wajah berseri-seri, ia menghadap kepada gurunya dan berkata “terima kasih guru, karena nasihat yang guru berikan, yang tadinya satu hari saya menancapkan 20 buah paku, pelan-pelan mulai berkurang, dan dari kemarin hingga pagi ini saya sama sekali tidak menancapkan paku lagi”. Dan sang guru pun menjawab “bagus sekali nak. Kalau begitu, tugasmu selanjutnya adalah, setiap kali engkau berhasil menahan amarahmu, maka cabutlah satu paku yang engkau tancapkan sebelumnya. Setiap hari seperti itu, nanti engkau boleh kembali lagi setelah engkau berhasil mencabut semua paku di balok kayu itu”. Hari demi hari berlalu, berganti minggu dan beberapa bulan kemudian murid itu pun kembali menghadap gurunya dengan wajah yang berseri-seri tetapi penuh dengan rasa penasaran. “Guru, saya telah mencabut semua paku seperti yang guru nasihatkan, setiap kali saya bisa mengendalikan amarah saya, dan saat ini semua paku sudah berhasil saya cabut” lapornya. “Luar biasa sekali anakku. Tentu tidak mudah bagimu untuk melakukan apa yang aku sarankan. Dan sekarang, bolehkan aku bertamu ke rumahmu dan melihat paku-paku dan balok kayu itu?” Ia menjawab dengan cukup penasaran “baiklah guru, tapi kalau boleh tahu, untuk apa guru melihat paku-paku dan balok kayu itu?” “Nanti kamu juga akan tahu” jawab sang guru. Kemudian guru dan murid itu pun beriringan menuju ke rumah sang murid dan kemudian melihat balok kayu yang sudah bersih dari tancapan paku, tetapi balok kayu itu terlihat buruk karena bekas-bekas lubang paku yang dicabut. Lalu sang guru berkata “anakku, engkau sudah melakukan hal yang luar biasa dengan menahan amarahmu. Tapi engkau juga harus tahu, bahwa ada akibat yang engkau timbulkan dari amarahmu selama ini. Ketika engkau marah dan meluapkan emosimu dengan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, maka hal itu seperti kiasan paku yang menancap di balok kayu ini. Tidak ada bedanya kemarahan yang disengaja, maupun kemarahan yang spontan, semuanya sama-sama berakibat buruk bagi orang lain” kata sang guru dengan penuh bijaksana
“Anakku, tidak cukup bagimu hanya menyesali, meminta maaf dan memohon ampunan kepada Allah Swt. atas apa yang pernah engkau perbuat. Permintaan maafmu kepada orang yang pernah engkau sakiti, ibarat engkau mencabut paku-paku itu dari balok kayu. Pakunya bisa dicabut, tetapi bekas lubang pakunya tidak bisa hilang. Demikian juga dengan sakit hati, barangkali orang lain bisa memaafkan, tetapi belum tentu ia bisa melupakan apa yang pernah kita lakukan kepadanya. Oleh karena itu, janganlah engkau meremehkan kata-kata buruk, emosi dan kemarahanmu kepada orang lain, karena luka yang disebabkan oleh kata-kata, sama sakitnya dengan luka fisik yang kita alami” pungkas sang guru. Murid itu pun menunduk dan menyadari sifat temperamental yang ia miliki selama ini, ternyata berdampak buruk bagi orang lain dan merugikan dirinya sendiri, dan ia pun berjanji untuk menjadi orang yang lebih baik dengan mengendalikan amarah dan emosinya dalam kehidupan berikutnya. (Dinarasikan kembali dari rumahinspirasi.com)
Menekuni Al-Qur`an
sebagai wujud Cinta Kepada Allah Swt.
K.H. M. Munawwir (Krapyak, Yogyakarta) adalah putra dari K.H. Abdullah Rosyad bin K.H. Hasan Basri. berIlmu Al-Qur`an diperoleh dari ayahnya sendiri, kemudian mendalaminya di Makkah dan Madinah melalui Syaikh Abdullah Sanqara, Syaikh Ibrahim Huzaimi, Syaikh Yusuf Hajar, dan beberapa syaikh lainnya. Selama 21 tahun belajar di Makkah dan Madinah, beliau kembali ke Kauman, Yogyakarta pada tahun 1909 M. Selain ahli qira’at sab’ah (tujuh bacaan Al-Qur`an),
beliau juga mendalami ilmu lain melalui K.H. Abdullah (Kanggotan, Bantul, Yogyakarta), K.H. Kholil (Bangkalan, Madura), dan K.H. Shalih (Darat, Semarang). Dikisahkan saat baru berusia 10 tahun,
beliau belajar kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Suatu ketika, saat akan shalat berjamaah, K.H. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat, sambil berkata: “Seharusnya yang berhak menjadi imam adalah anak ini (sambil menunjuk K.H. M. Munawwir), meskipun masih usia belia, tetapi ahli qiraat.”
Sebagai wujud cinta kepada Allah Swt., beliau menekuni Al-Qur`an dengan usaha yang amat gigih, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, kemudian sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, kemudian sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan membaca Al-Qur`an selama 40 hari berturut-turut.
Beliau selalu menunaikan shalat fardu pada awal waktu diiringi dengan shalat sunah rawatib. Secara rutin setiap setelah ashar dan subuh selalu mewiridkan Al-Qur`an. Setiap satu pekan sekali beliau mengkhatamkan Al-Qur`an, yakni pada hari Kamis sore. Hal ini rutin beliau lakukan sejak usia 15 tahun.
Di pondok pesantren Krapyak Yogyakarta K.H. M. Munawwir fokus mengajarkan Al-Qur`an kepada para santri. Mereka sangat menghormati beliau karena memiliki kewibawaan akhlak dan ilmu yang sangat tinggi. Di antara murid-murid beliau yang meneruskan perjuangan pengajaran Al-Qur`an adalah K.H. Arwani Amin (Kudus, Jawa Tengah), K.H. Badawi (Kendal, Jawa Tengah), Kyai Zuhdi (Nganjuk, Jawa Timur), K.H. Muntaha (Kalibeber, Wonosobo, Jawa Tengah), K.H. Murtadla (Buntet, Cirebon, Jawa Barat), K.H. Hasbullah (Wonokromo, Yogyakarta).
Beliau wafat pada hari Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M, dimakamkan di pemakaman Dongkelan, sekitar 2 km dari kompleks pesantren Krapyak. Karena banyaknya orang yang bertakziyah, bertindak sebagai imam shalat jenazah secara bergiliran adalah K.H. Manshur (Popongan, Solo, Jawa Tengah), K.H. R. Asnawi (Kudus, Jawa Tengah), dan KH. Ma’shum (Rembang, Jawa Tengah).
Sumber: Manaqibus Syaikh: K.H. M. Moenauwir Almarhum: Pendiri Pesantren Krapyak Yogyakarya, diterbitkan oleh Majelis Ahlein (Keluarga Besar Bani Munawwir) Pesantren Krapyak, tahun 1975
Suatu ketika Umar bin Khattab berniat melakukan kunjungan ke Syam (Suriah). Di tengah perjalanan, Umar bin Khattab mendengar kabar bahwa Syam sedang terkena wabah penyakit hingga kepanikan melanda negeri itu. Mengetahui kabar ini, Khalifah Umar bin Khattab meminta pendapat sahabat lainnya, apakah perjalanan tetap dilanjutkan atau menunda perjalanan itu.
Sebagian sahabat berpendapat untuk tetap melanjutkan rencana perjalanan tersebut demi melaksanakan perintah Allah. Sedangkan sahabat lainnya menyarankan untuk membatalkan perjalanan tersebut. Salah seorang sahabat berkata, jika Umar membatalkan perjalanan, maka ia termasuk lari dari takdir Allah.
Kemudian Umar bin Khattab mengatakan, ia dan pasukannya lari dari takdir Allah yang buruk menuju takdir yang baik. Pendapat Umar bin Khattab tersebut didukung oleh Abdurrahman bin Auf.
Ia meyakinkan Umar bin Khattab untuk membatalkan perjalanan tersebut dengan dasar hadis nabi: “apakah kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Akhirnya Umar bin Khattab membatalkan perjalanan tersebut demi menghindari wabah penyakit.
Dalam rangka memperingati Hari Santri 2020, Kementerian Agama RI mengadakan berbagai kegiatan, di antaranya adalah Youtuber Selawat Summit, untuk memberikan wadah dari berkembang pesatnya para youtuber di Indonesia yang menyajikan konten-konten selawat. Kegiatan Youtuber Selawat Summit tersebut dilaksanakan pada hari Rabu (14/10) yang disajikan dalam bentuk talk show secara daring. Kementerian Agama RI sejak awal telah mengadakan berbagai rangkaian kegiatan secara daring untuk memperingati Hari Santri 2020, karena tetap patuh pada protokol pencegahan Covid-19, namun kegiatan tetap terlaksana sesuai dengan yang telah direncanakan. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (Ditpontren) Kementerian Agama RI Waryono Abdul Ghofur menyampaikan tema dari kegiatan Youtuber Selawat Summit tersebut adalah “Dengan Selawat Indonesia Kuat”. Bagi masyarakat yang menghendaki untuk berperan serta, harus mendaftar melalui tautan pendaftaran online yang sudah disiapkan oleh panitia
Waryono Abdul Ghofur menyampaikan, saat ini masyarakat semakin gemar membaca selawat, terutama setelah banyaknya content creator yang membawakan selawat melalui platform youtube, instragram, facebook dan lain-lain. Oleh sebab itulah Kementerian Agama RI merasa perlu untuk memfasilitasi para santri yang gemar membaca selawat tersebut. Ia juga menjelaskan bahwa selawat dapat menjadi media dakwah serta media menyampaikan ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Di antara para youtuber yang bergabung dalam youtuber selawat summit tersebut adalah Syakir Daulay, Veve Zulfikar Basyaiban, dan Sulis. Youtuber selawat summit merupakan gerakan yang sinergis untuk memanfaatkan teknologi digital dengan lebih bijak dan bertanggungjawab. Sekaligus juga menjadi media dakwah yang moderat dengan memanfaatkan para influencer selawat.
Selain Youtuber selawat summit, peringatan Hari Santri 2020 dimeriahkan dengan berbagai kegiatan virtual lainnya yaitu Santri millenials competitions, Kopdar Virtual Akbar Santrinet Nusantara, serta Selawat creator and influencer summit. Panitia juga menyerahkan sejumlah bantuan operasional di masa pandemi bagi pondok pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan Islam. Ada juga penyerahan bantuan pembelajaran daring bagi pesantren. Peringatan Hari Santri juga dimeriahkan dengan Santriversary atau Malam Puncak Peringatan Hari Santri 2020. Adapun tema Hari Santri 2020 adalah “Santri Sehat, Indonesia Kuat” kata Waryono mengakhiri wawancara. (Dikutip dari Jawapos.com, 10 Oktober 2020, Pkl. 17.49.04 WIB)