Pemilihan bibit tanaman memberikan pemahampemahaman kepada murid sebelum mulai kegiatan menanam demi kelestarian alam.
Mempersiapkan bahan pembuatan POC dengan bahan yang mudah kepada murid sebagai bentuk memahami makna "Pancaniti".
Memulai proses penyiapan lahan dilingkungan sekolah sebagai lokasi tempat bercocok tanaman dan pembentukan karakter positif tentang keseimbangan atau keharmonisan ekosistem.
Apa itu TdBA???
TdBA merupakan singkatan dari "Tatanen di Bale Atikan" adalah sebuah program pendidikan karakter yang digagas di Kabupaten Purwakarta dengan fokus pada kesadaran ekologis dan pertanian di sekolah. Program ini menjadi bagian dari inisiatif pendidikan muatan lokal dan selaras dengan visi Provinsi Jawa Barat dalam peningkatan mutu pendidikan dan penguatan karakter.
Secara harfiah, "tatanen di bale atikan" dalam bahasa Sunda berarti "bertani di tempat belajar" atau "pertanian di sekolah". Namun, maknanya jauh lebih mendalam, yaitu menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran yang memberikan pengalaman bermakna tentang merawat bumi dan alam.
Sesuai program Kabupaten Purwakarta
Program ini pertama kali dikembangkan secara masif di Purwakarta dan berintegrasi dengan nilai-nilai budaya Sunda.
Gerakan masif dan terintegrasi: "Tatanen di Bale Atikan" (TdBA) adalah sebuah gerakan yang melibatkan seluruh warga sekolah (siswa, guru, dan staf) serta para pemangku kepentingan pendidikan di Purwakarta.
Pendidikan karakter berbasis ekologis: TdBA bertujuan membentuk karakter siswa yang memiliki kesadaran ekologis untuk menjaga, memelihara, dan memperbaiki kelestarian lingkungan hidup.
Pembelajaran berbasis Pancaniti: Implementasi TdBA memperhatikan prinsip pendidikan Kesundaan yang dikenal sebagai Pancaniti, yaitu olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Laboratorium alam di sekolah: Sekolah didorong untuk mengaplikasikan budidaya tanaman di lingkungan sekolah, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Kegiatan ini bisa berupa berkebun, hidroponik, hingga pembuatan produk seperti eco-enzym.
Melengkapi kekosongan pendidikan: Program ini lahir sebagai upaya melengkapi kekosongan pendidikan yang selama ini terlalu fokus pada aspek kognitif, sehingga mental dan kepribadian siswa dapat terbentuk secara utuh.
Sesuai program Provinsi Jawa Barat
Meskipun digagas di Purwakarta, program TdBA memiliki keselarasan dengan beberapa visi dan misi pendidikan di Provinsi Jawa Barat, yaitu:
Peningkatan akses dan mutu pendidikan: TdBA berfokus pada inovasi pendidikan yang melengkapi pembelajaran akademis dengan pengembangan karakter, sehingga menciptakan individu yang cerdas secara intelektual dan memiliki moralitas yang baik.
Penguatan pendidikan karakter: Program ini sejalan dengan upaya Pemprov Jabar dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan-kegiatan konkret di sekolah. Misalnya, TdBA memiliki kesamaan semangat dengan inisiatif seperti Kurikulum Nyaah ka Indung atau kurikulum lain yang berorientasi pada pembentukan karakter.
Pemberdayaan masyarakat: TdBA mendorong siswa untuk berkreasi dan menghasilkan produk, seperti ecoprint atau hasil panen lainnya, yang bisa memiliki nilai ekonomi. Hal ini sejalan dengan fokus Pemprov Jabar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pemberdayaan melalui pendidikan.
Pelestarian budaya Sunda: TdBA juga dapat diintegrasikan dengan upaya pelestarian budaya Sunda, yang telah menjadi bagian dari kurikulum lokal di Purwakarta dan Jabar.
Implementasi
Implementasi TdBA dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan di sekolah-sekolah di Purwakarta antara lain:
Berkebun dan memanen tanaman di sekolah.
Membuat produk olahan dari hasil panen, seperti keripik atau saos.
Membuat pupuk kompos atau eco-enzym.
Penyelenggaraan panen raya atau festival hasil karya, seperti "Gandrung Mulasara".
Dengan demikian, "Tatanen di Bale Atikan" menjadi salah satu inovasi pendidikan unggulan dari Kabupaten Purwakarta yang memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan dan berbudaya, sekaligus mendukung visi pendidikan di Provinsi Jawa Barat.
"Tatanen di Bale Atikan" adalah sebuah program pendidikan karakter yang digagas di Kabupaten Purwakarta dengan fokus pada kesadaran ekologis dan pertanian di sekolah. Program ini menjadi bagian dari inisiatif pendidikan muatan lokal dan selaras dengan visi Provinsi Jawa Barat dalam peningkatan mutu pendidikan dan penguatan karakter.
Secara harfiah, "tatanen di bale atikan" dalam bahasa Sunda berarti "bertani di tempat belajar" atau "pertanian di sekolah". Namun, maknanya jauh lebih mendalam, yaitu menjadikan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran yang memberikan pengalaman bermakna tentang merawat bumi dan alam.
Sesuai program Kabupaten Purwakarta
Program ini pertama kali dikembangkan secara masif di Purwakarta dan berintegrasi dengan nilai-nilai budaya Sunda.
Gerakan masif dan terintegrasi: "Tatanen di Bale Atikan" (TdBA) adalah sebuah gerakan yang melibatkan seluruh warga sekolah (siswa, guru, dan staf) serta para pemangku kepentingan pendidikan di Purwakarta.
Pendidikan karakter berbasis ekologis: TdBA bertujuan membentuk karakter siswa yang memiliki kesadaran ekologis untuk menjaga, memelihara, dan memperbaiki kelestarian lingkungan hidup.
Pembelajaran berbasis Pancaniti: Implementasi TdBA memperhatikan prinsip pendidikan Kesundaan yang dikenal sebagai Pancaniti, yaitu olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
Laboratorium alam di sekolah: Sekolah didorong untuk mengaplikasikan budidaya tanaman di lingkungan sekolah, disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Kegiatan ini bisa berupa berkebun, hidroponik, hingga pembuatan produk seperti eco-enzym.
Melengkapi kekosongan pendidikan: Program ini lahir sebagai upaya melengkapi kekosongan pendidikan yang selama ini terlalu fokus pada aspek kognitif, sehingga mental dan kepribadian siswa dapat terbentuk secara utuh.
Sesuai program Provinsi Jawa Barat
Meskipun digagas di Purwakarta, program TdBA memiliki keselarasan dengan beberapa visi dan misi pendidikan di Provinsi Jawa Barat, yaitu:
Peningkatan akses dan mutu pendidikan: TdBA berfokus pada inovasi pendidikan yang melengkapi pembelajaran akademis dengan pengembangan karakter, sehingga menciptakan individu yang cerdas secara intelektual dan memiliki moralitas yang baik.
Penguatan pendidikan karakter: Program ini sejalan dengan upaya Pemprov Jabar dalam membentuk karakter siswa melalui kegiatan-kegiatan konkret di sekolah. Misalnya, TdBA memiliki kesamaan semangat dengan inisiatif seperti Kurikulum Nyaah ka Indung atau kurikulum lain yang berorientasi pada pembentukan karakter.
Pemberdayaan masyarakat: TdBA mendorong siswa untuk berkreasi dan menghasilkan produk, seperti ecoprint atau hasil panen lainnya, yang bisa memiliki nilai ekonomi. Hal ini sejalan dengan fokus Pemprov Jabar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat dan pemberdayaan melalui pendidikan.
Pelestarian budaya Sunda: TdBA juga dapat diintegrasikan dengan upaya pelestarian budaya Sunda, yang telah menjadi bagian dari kurikulum lokal di Purwakarta dan Jabar.
Implementasi
Implementasi TdBA dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Berbagai kegiatan yang dilakukan di sekolah-sekolah di Purwakarta antara lain:
Berkebun dan memanen tanaman di sekolah.
Membuat produk olahan dari hasil panen, seperti keripik atau saos.
Membuat pupuk kompos atau eco-enzym.
Penyelenggaraan panen raya atau festival hasil karya, seperti "Gandrung Mulasara".
Dengan demikian, "Tatanen di Bale Atikan" menjadi salah satu inovasi pendidikan unggulan dari Kabupaten Purwakarta yang memberikan kontribusi nyata dalam membentuk karakter siswa yang peduli lingkungan dan berbudaya, sekaligus mendukung visi pendidikan di Provinsi Jawa Barat.