Pendidikan di seluruh dunia mengedepankan model dan inovasi dalam proses pembelajaran, menciptakan 4CPS (Communication, Collaboration, Creative, Critical Thinking, Problem Solving) yang menjawab tuntutan revolusi industri 4.0.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset & Teknologi mencoba melakukan adaptasi dengan kondisi diatas dengan menginisiasi kurikulum yang mengintegrasikan keahlian yang dibutuhkan pada abad 21 ini.
Tren dengan nama Kurikulum Merdeka, kurikulum ini membuka terobosan dengan mengimplementasikan model pembelajaran yang lebih berorientasi ke student based, seperti model Project Based Learning (PjBL) atau Discovery Based Learning (DBL).
Model - model pembelajaran seperti ini mendorong peserta didik untuk lebih aktif dalam melaksanakan kegiatan belajar, dengan melakukan penentuan masalah, mencari informasi cara menyelesaikannya, menyusun metode terefektif saat menyelesaikannya, dan menyajikan hasil pemecahan masalah dengan komunikasi yang baik. Seluruh tahapan tersebut dilakukan dengan melakukan kolaborasi antar peserta didik
Secara definisi, Project Based Learning (PjBL) merupakan pendekatan pengajaran yang dibangun di atas kegiatan pembelajaran dan tugas nyata yang memberikan tantangan bagi peserta didik yang terkait dengan kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan secara berkelompok.
+ Pengenalan masalah (Menentuan Pertanyaan Mendasar)
+ Penyusunan rancangan project
+ Penyusunan rencana kerja penyelesaian project
+ Pelaksanaan project untuk mencari penyelesaian masalah
+ Pengujian hasil dengan presentasi dan penyajian data/ bukti
+ Evaluasi
+ Memberikan wawasan dan ruang lingkup masalah yang akan dipecahkan oleh peserta didik
+ Membantu mengarahkan rancangan project
+ Membantu peserta didik dalam menyusun rencana kerja
+ Memonitor perkembangan pelaksanaan rencana kerja
+ Memberi penilaian seluruh langkah yang telah dilakukan peserta didik
+ Evaluasi
Untuk mendukung dan menjadikan pelaksanaan Project Based Learning terasa menyenangkan bagi peserta didik sekaligus memudahkan pendidik dalam melakukan pedampingan, monitoring dan penilaian, dibutuhkan implementasi teknologi yang tepat guna. Secara garis besar, teknologi yang tersaji dalam bentuk aplikasi tersebut dibagi menjadi 4 bagian :
Aplikasi yang dibutuhkan untuk menyajikan ide kreatif dari peserta didik dalam mengidentifikasi dan merumuskan masalah. Selain mampu merekam jalan cerita, aplikasi ini membuka ruang kolaborasi antar sesama peserta didik dan sekaligus kolaborasi dengan pendidik untuk melakukan pendampingan
Aplikasi yang dibutuhkan untuk merancang rangkaian aktivitas secara runut dalam rentang waktu. Selain membuka ruang kolaborasi, aplikasi ini juga mampu menyematkan bukti pada kegiatan yang telah menuaikan hasil
Aplikasi yang digunakan untuk menyajikan hasil pelaksanaan proyek dengan desain komunikasi visual yang handal. Kemasan informasi dapat berupa presentasi, infografis maupun videografi
Aplikasi yang membantu pendidik memberikan penilaian seluruh rangkaian proses pelaksanaan project secara kualitatif. Tidak seperti penilaian pola sebelumnya yaitu dengan Formative Assessment (FA), kali ini pola penilaian yang digunakan menggunakan Summative Assessment (SA).
Saat mengikuti pelatihan, peserta akan mensimulasikan kedua peran, sebagai pendidik dan peserta didik, bertujuan untuk memberikan pengalaman yang komprehensif sehingga keberhasilan proses PjBL dapat dicapai
Integrasi Akun Google atau Office 365 ke platform pelatihan
Mendesain mekanisme penilaian sumatif (SA)
Mendesain managemen aktifitas proyek peserta didik
Mendesain komunikasi visual penyajian hasil proyek
Eksposisi
Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan pelatihan diatas, para peserta memperoleh pengalaman yang komprehensif peran sebagai pendidik sekaligus peserta didik. Simulasi terapan teknologi yang telah dilakukan akan mendukung penuh keberhasilan pelaksanaan Project Based Learning yang sedang berjalan
Setelah menyelesaikan materi Pelatihan Teknologi bagi Pelaksanaan Project Based Learning, peserta pelatihan dapat melanjutkan ke materi pendukung yaitu Pelatihan Bahan Ajar Multimedia. Saat mengikuti tema ini, peserta pelatihan akan dilatih menyajikan komunikasi visual dalam bentuk presentasi animatif, infografis animatif dan portofolio. Paduan kedua materi ini menjadikan para pendidik siap dalam menjalankan kurikulum merdeka.
Berminat di pelatihan berikutnya? Info lengkap disini