Sebuah karya film pendek yang berjudul "DUSNER" berhasil meraih juara 1 dalam Festival FILM Pendek Berbahasa Daerah tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbud-Ristek).
Yusuf Hayy, selaku sutradara film “Dusner” ini mengatakan jika proses pembuatan film ini tidak memakan waktu lama karena hanya memakan waktu satu setengah bulan. “Proses pembuatan film keseluruhan memakan waktu 1,5 bulan, dimana pre-production meeting menghabiskan waktu 3 minggu, sedangkan untuk proses produksi hanya memakan waktu 3 hari, dan terakhir di pasca-produksi memakan waktu 1 bulan,” ungkapnya.
Terdapat sekitar 30 orang kru yang ikut terlibat dalam proses pembuatan film “Dusner” ini. Menurut Yusuf, pemilihan bahasa daerah “Dusner” dari Papua yang diangkat dalam film ini datang dari keresahan ia dan timnya atas banyaknya bahasa daerah yang mulai punah di Indonesia. “Pengusungan ide bahasa “Dusner” untuk diangkat sebagai film sebenarnya berawal dari riset tim kami yang menemukan bahwa banyak bahasa daerah di Indonesia sudah mulai punah apalagi bahasa daerah di bagian Timur termasuk salah satunya bahasa “Dusner” ini, dari situ akhirnya kami mencoba mengangkat bahasa tersebut ke dalam film pendek “Dusner” ini,” terangnya.
Ia juga menambahkan bahwa alasan lain di balik pemilihan bahasa daerah “Dusner” ini karena MM Kine Klub ingin mencoba tantangan baru dengan memakai bahasa yang mungkin banyak orang awam tidak tahu. “Di samping karena keresahan kami atas punahnya bahasa “Dusner” ini, kami juga ingin menantang diri kami sendiri (MM Kine Klub) untuk keluar dari zona nyaman, karena biasanya setiap pembuatan film kami sudah sering menggunakan bahasa jawa. Untuk itu, dalam film ini kami ingin memakai bahasa baru tersebut yang mungkin banyak orang awam tidak ketahui sebagai bahasa utama dalam film yang kami buat,” tambanya.
Adapun cerita yang diangkat dalam film ini adalah sebuah realita yang seringkali diabaikan masyarakat terkait punahnya bahasa daerah. Film ini dimaksudkan sebagai sindiran untuk masyarakat millennial yang seringkali abai terhadap bahasa daerahnya sendiri. Oleh karena itu, Yusuf berharap dengan adanya film “Dusner” ini membuka mata masyarakat terkhusus anak muda untuk terus melestarikan bahasa daerahnya masing-masing.
Setelah 5 Tahun Tidak Ada Pentas, Sukses Mementaskan "Bisik Besuk"
Setelah vakum selama lima tahun tanpa satu pun produksi pentas, Teater Tangga akhirnya memulai babak baru dalam sejarah mereka pada tanggal 18 Maret 2023. Dengan ketua periode, Yusuf Hayy, yang juga bertindak sebagai sutradara pementasan, bersama delapan anggota inti, Cindi Selviani, Nadiazulfa Nur Arya, Aisya Ratna Mahasiwi, Wulan Yanis Setyanti, Pratiwi Marjan Azzahra, Ainani Tajriani, Gina Julia Fajrin, dan Indria Novita Maulina, mereka meresmikan kembalinya Pentas Teater Tangga dengan pementasan yang menggugah hati berjudul "Bisik Besuk".
Proses kreatif yang panjang dan intens dimulai sejak awal tahun, melibatkan diskusi mendalam, latihan rutin, hingga menentukan tempat pertunjukan yang tepat. Pementasan ini bukan sekadar sebuah tontonan, melainkan sebuah perjalanan emosional dan intelektual yang mendalam bagi semua yang terlibat. Yusuf Hayy, selaku ketua dan sutradara, menyatakan, "Pertunjukan ini bukan hanya sekadar kembalinya Teater Tangga ke panggung, tetapi sebuah pernyataan bahwa seni tetap hidup meskipun melalui perjalanan yang sulit. 'Bisik Besuk' adalah hasil dari semangat kebersamaan dan tekad untuk menciptakan karya yang bermakna."
Delapan anggota Teater Tangga juga berbagi pengalaman yang mendalam selama proses kreatif. Cindi, salah satu anggota, menyebutnya sebagai "perjalanan spiritual" yang memperkaya jiwa mereka. "Kami tidak hanya berlatih untuk tampil di atas panggung, tetapi juga merenung, berkolaborasi, dan tumbuh bersama sebagai keluarga teater," ujar Cindi.
Sebagai penonton, 'Bisik Besuk' diharapkan memberikan pengalaman yang mendalam dan meresapi setiap lapisan cerita yang dibawakan oleh Teater Tangga. Momen ini menjadi pembuktian bahwa keberlanjutan seni teater bisa diwujudkan melalui semangat kolektif dan dedikasi yang tak tergoyahkan. Pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi anggota Teater Tangga, tetapi juga menandai era baru dalam dunia seni pertunjukan, membuktikan bahwa kekuatan kreativitas dan kegigihan mampu mengatasi segala rintangan.