Pendiri, sekaligus sesepuh
Pondok Pesantren Salafiyah Baabussalam
Alm.Abi Endang Supriatna, anak dari Alm.Bpk Uhi. Beliau disebut bapak nya sebagai anak yang mandiri dan dapat bersosialisasi dengan siapa saja. Karena jiwa sosialnya yang tinggi itulah beliau pun berkeinginan untuk mendirikan Yayasan, Panti asuhan, LKSA, sampai akhirnya berdirilah Pondok Pesantren Salafiyah Baabussalam yang sekarang masih diteruskan oleh anak dan cucu nya.
Inilah sekilas cerita perjuangan Alm.Abi Endang Supriatna yang kerap di panggil oleh santri nya ; Abi Endang. Beliau lahir pada tanggal dan tahun yang spesial, dan jarang dimiliki oleh marsyarakat Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Tanggal kelahiran ini merupakan tanggal kelahiran yang unik dan langka bagi marsyarakat Indonesia, karena tanggal tersebut bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Indonesia, setelah dijajah oleh beberapa negara seperti Belanda,Jepang dan Portugis.
Alm.Abi Endang mendirikan Yayasan Ramda Bhakti Pertiwi pada tahun 2000 dan dilanjut dengan mendirikan PSAA dan LKSA. Sebelum mendirikan lembaga-lembaga sosial Alm.Abi Endang merupakan warga asli dari Cilengkrang II dan mempunyai rumah yang telah di beli beberapa tahun sebelumnya, yang mana rumah tersebut dijadikan sebagai tempat tinggal sekaligus kantor Yayasan oleh beliau, sampai sekarang.
Saat awal berdirinya Yayasan, Alm.Abi Endang mendapat banyak cacian dan makian dari marsyarakat setempat yang membuat Alm.Abi Endang Supriatna menjadi down, bangkit, down, dan bangkit lagi. Belum lagi rumah Alm Abi Endang pernah di lempari petasan besar karena masyarakat setempat tidak setuju dengan adanya lembaga sosial di kampung nya. Akan tetapi hal itu tidak membuat beliau putus asa. Beberapa tahun kemudian, Alm.Abi Endang mendirikan sebuah Pondok yang mana pada awalnya, hanya diisi oleh anak-anak yatim dan piatu.
3 tahun 4 tahun telah dilewati oleh Alm.Abi Endang. Beliau mengalami Sakit Jantung yang mana sebelum nya juga almarhum sudah terjangkit penyakit jantung tetapi beliau kuat dan sabar menghadapi penyakit yang allah berikan, tetapi di tahun 2021 saat lagi maraknya penyebaran Covid-19, almarhum meninggalkan santri, istri, cucu, dan anak-anak nya. Hebat nya beliau, sebelum meninggal beliau melunasi hutang hutang kepada saudara saudara nya termasuk marsyarakat yang pernah di hutangi.
Wafatnya beliau menjadi sesuatu yang sangat mengharukan bagi keluarganya, kerabatnya, para santri serta pengurus. Karena mengingat jasa-jasa beliau yang sangat besar dalam mendirikan lembaga sosial dan pondok pesantren. Belum lagi karakter yang menjiwai sosok beliau selalu menjadi panutan bagi seluruh santri. Kesabaran, keteguhan, dan keihklasan nya beliau dalam mendidik santri-santri nya akan selalu diingat oleh para santri.
"Seingat saya beliau tidak pernah marah, lebih tepatnya saya dan teman-teman saya belum pernah mendengar ataupun melihat beliau marah, terutama terhadap anak-anak. Dan beliau sangat mandiri dan sangat murah hati. Sangking kerendahan hatinya beliau, hampir semua pekerjaan seperti membersihkan halaman yayasan, menyirami bunga, membersihkan selokan, dan pekerjaan lainnya dikerjakan olehnya sendiri, yang mana hal itu seharus nya dikerjakan oleh para santri. Umur beliau sudah tua untuk kelahiran tahun-45, tetapi jiwa dan semangatnya seakan masih muda, saya sangat kagum kepada beliau". Ujar Raka, salah satu santri Baabussalam.
Itulah sekilas tentang biografi pendiri sekaligus bapak bagi para santri PPS Baabussalam. Selain jasa besar beliau, kerendah hati-an beliau membuat beliau sangat dihormati oleh santri-santri nya.