"Usman Yasin"
Program Studi Agroteknologi
Universitas "Muhammadiyah Bengkulu"
Program Studi Agroteknologi
Universitas "Muhammadiyah Bengkulu"
Usman Yasin adalah seorang akademisi, aktivis sosial, dan tokoh publik asal Bengkulu yang dikenal luas melalui kiprahnya di bidang pendidikan, budaya, media, dan gerakan digital. Lahir dan besar di Bengkulu, ia ditempa dalam lingkungan yang menekankan pentingnya pendidikan, kemandirian, serta kepedulian sosial. Perjalanan intelektualnya ditempuh di Institut Pertanian Bogor (IPB), menjadikannya sosok akademisi yang tak hanya bergelut di ruang kelas, tetapi juga aktif dalam dinamika sosial masyarakat.
Sejak 1991-1999, Usman Yasin mengabdi sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, dan pulang kampung mengajar di Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Di kampus ini ia bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing mahasiswa agar memiliki kepedulian sosial dan keberanian bersuara. Pemikirannya kerap dituangkan dalam diskusi, tulisan, hingga ruang publik yang ia isi sebagai host program “Dialog Publik” di TVRI Bengkulu (2013–2015). Kehadirannya di layar televisi menegaskan perannya sebagai jembatan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia akademik.
Selain dunia akademik, Usman Yasin aktif mengembangkan Yayasan Lembak Bengkulu, yang berfokus pada pelestarian budaya lokal, adat Suku Lembak, sekaligus pemberdayaan masyarakat. Melalui yayasan ini, ia terlibat dalam gerakan sosial seperti urban farming, advokasi masyarakat adat, serta mendorong ruang-ruang partisipasi publik. Hal ini memperkuat identitasnya sebagai seorang aktivis budaya yang percaya bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan akar tradisi.
Nama Usman Yasin menasional ketika pada 2009 ia menggagas gerakan “1 Juta Facebookers Dukung Bibit-Chandra”. Gerakan ini lahir sebagai respon atas kriminalisasi dua pimpinan nonaktif KPK, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M. Hamzah. Melalui platform Facebook, Usman berhasil menghimpun lebih dari satu juta anggota dalam waktu singkat. Gerakan ini tidak hanya menandai sejarah baru dalam mobilisasi publik melalui media sosial, tetapi juga menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan hukum. BBC, Tempo, Kompas, dan berbagai media nasional serta internasional menyoroti fenomena ini sebagai bukti kekuatan opini publik digital.
Atas kiprahnya, Usman Yasin dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan “People of the Year” oleh KOMPAK (Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi) tahun 2009. Tempo dan Detik menulis tentang perannya sebagai figur publik yang lahir dari dunia maya, namun nyata pengaruhnya dalam memperkuat demokrasi dan pemberantasan korupsi di Indonesia.
Selain bergerak di ranah hukum dan digital, ia juga terlibat dalam aktivitas kemanusiaan, seperti bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Bengkulu, program sosial bedah rumah, serta kepedulian terhadap olahraga, termasuk membina anak jalan dalam Sasan Lembak Boxing Camp, Pertina Bengkulu, dan juga PS Bengkulu. Ia pun tercatat sebagai Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Bengkulu, Pokja Indeks Demokrasi Indonesia Provinsi Bengkulu, serta aktif pada berbagai aktivitas KPID dan Komisi Informasi Bengkulu. Jejak digital menunjukkan konsistensi memperjuangkan nilai demokrasi, keterbukaan informasi, dan ruang publik yang sehat.
Dalam kehidupan pribadi, Usman Yasin membangun rumah tangga bersama Isnaini Shobri, S.Sos, seorang birokrat perempuan yang pernah menjadi lurah, camat, sekdis capil, hingga saat ini menjabat Sekretaris Dinas Perikanan Kota Bengkulu. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai tiga anak: Fikratuz Auliyah Adimana Isman, Filika Amalia Isman, dan Firda Hanum Isman, yang tumbuh dalam tradisi keluarga berpendidikan, religius, dan menjunjung tinggi nilai sosial.
Usman Yasin adalah simbol dari pertemuan antara dunia akademik, budaya, media, dan gerakan digital. Pemikirannya tentang demokrasi, kebangsaan, dan keadilan sosial tetap relevan sebagai inspirasi bagi generasi muda Bengkulu dan Indonesia. Ia membuktikan bahwa satu gagasan, bila diperjuangkan dengan konsisten, bisa menggerakkan jutaan orang dan meninggalkan warisan yang abadi.