NAMA : Dwi Mahmudin
NIM : 2203030026
Prodi : Teknik Elektro
Mata Kuliah : Renewable Energy
Berdasarkan data beban puncak sebesar 1385 Watt, direkomendasikan menggunakan inverter dengan daya 2000 Watt. Kapasitas yang lebih besar ini penting untuk menangani lonjakan arus sesaat saat peralatan dinyalakan.
Dari data diatas pilihan terbaik menggunakan baterai 48 V, karena dengan tegangan yang lebih tinggi arus yang mengalir akan lebih kecil, sehingga memungkinkan penggunaan kabel yang lebih kecil (diameter lebih tipis) untuk menghubungkan baterai ke inverter, yang mengurangi biaya dan mempermudah instalasi. Arus yang lebih rendah pada sistem 48 V menghasilkan kerugian energi (panas) yang lebih sedikit di kabel dan komponen sistem, sehingga meningkatkan efisiensi sistem secara keseluruhan dan memperpanjang umur komponen.
Kebutuhan Energi Harian: Beban puncak 1385 W tidak berarti digunakan 24 jam. Kita asumsikan total pemakaian energi setara dengan beban puncak berjalan selama 6 jam.
Kebutuhan Energi = 1385 Watt × 6 jam = 8310 Wh atau 8,31 kWh per hari.
Tegangan Sistem Baterai: Harus sama dengan tegangan inverter, yaitu 48 V.
Hari Otonomi (Days of Autonomy): Kita tetapkan 2 hari sebagai cadangan energi jika tidak ada sinar matahari sama sekali (cuaca sangat mendung/hujan).
Depth of Discharge (DoD): Untuk menjaga umur baterai, kita gunakan DoD sebesar 50% (0,5). Artinya, kita hanya akan menggunakan setengah dari total kapasitasnya.
Efisiensi Baterai: Baterai tidak 100% efisien. Kita asumsikan efisiensi pengisian dan pengosongan sebesar 85% (0,85).
Perhitungan Kapasitas Baterai
Menghitung Kapasitas Total dalam Wh (Watt-hour):
Kapasitas Wh = (Kebutuhan Energi Harian × Hari Otonomi) / (DoD × Efisiensi Baterai)
Kapasitas Wh = ( 8.310 Wh × 2) / (0,5 × 0,85)
Kapasitas Wh = 16.620 Wh / 0,425
Kapasitas Wh = 38.832 Wh
Mengkonversi Kapasitas ke Ah (Ampere-hour):
Kapasitas Ah = Kapasitas Wh / Tegangan Sistem
Kapasitas Ah = 38.832 Wh / 48 V
Kapasitas Ah = 809 Ah
Kita bulatkan ke atas untuk kemudahan, sehingga kapasitas bank baterai yang dibutuhkan adalah 1000 Ah pada tegangan 48 V.
Spesifikasi Baterai yang Digunakan
Sangat jarang ada satu baterai 48V 1000Ah. Oleh karena itu, kita akan membangunnya dari baterai standar yang lebih kecil (misalnya 24V / 500Ah) yang dihubungkan secara seri dan paralel.
Jenis Baterai yang Dipilih: Baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4 atau LFP) 24V / 500Ah, Jenis ini dipilih karena bebas perawatan dan dirancang khusus untuk siklus pengisian-pengosongan PLTS.
Konfigurasi Seri (untuk mencapai 48V):
Jumlah Seri = Tegangan Sistem / Tegangan Baterai Satuan
Jumlah Seri = 48 V / 24 V = 2 Baterai
Konfigurasi Paralel (untuk mencapai 1000Ah):
Jumlah Paralel = Kapasitas Total Ah / Kapasitas Baterai Satuan
Jumlah Paralel = 1000 Ah / 500 Ah = 2 String Paralel
Total Baterai yang Dibutuhkan:
Total Baterai = Jumlah Seri × Jumlah Paralel
Total Baterai = 2 × 2 = 4 Buah
Sistem ini membutuhkan bank baterai dengan kapasitas total 48V 1000Ah, yang terdiri dari 4 buah baterai 24V 500Ah jenis Baterai Lithium Iron Phosphate (LiFePO4 atau LFP). Baterai tersebut disusun dalam 2 string paralel, di mana setiap string terdiri dari 2 baterai yang terhubung secara seri.
Perhitungan Ukuran Panel
Ukuran Panel = Kebutuhan Energi Harian / Rerata Matahari
Ukuran Panel = 8,310 kWh / 5 jam
Ukuran Panel = 1,66 kW atau 1.662 Watt
Penerapan Faktor Keamanan
Ditambahkan faktor keamanan sebesar 1,25 untuk mengantisipasi berbagai kerugian sistem
Kapasitas yang direkomendasikan = Ukuran panel x 1,25
Kapasitas yang direkomendasikan = 1.662 Watt x 1,25
Kapasitas yang direkomendasikan = 2.077,5 Watt
Penentuan Jumlah Panel
Jika ingin menggunakan panel berkapasitas 600 Watt per unit, maka jumlah yang dibutuhkan adalah:
Jumlah Panel = Kapasitas yang direkomendasikan / kapasitas per panel
Jumlah Panel = 2.077,5 W / 600 W
Jumlah Panel = 3,462 (dibulatkan menjadi 4)
Dengan menggunakan 4 panel surya berkapasitas 600 W, maka total kapasitas sistem terpasang menjadi
Kapasitas Terpasang = Jumlah Panel x Kapasitas Panel
Kapasitas Terpasang = 4 Panel x 600 W
Kapasitas Terpasang = 2.400 W atau 2,4kW
Rancangan Anggaran Biaya (RAB)
Analisis Break-Even Point
Sebelum melakukan perhitungan BEP,diperlukan beberapa nilai dasar dan asumsi perhitungan
Total Investasi Awal: Rp 102.000.000
Produksi Energi Harian: 8,31 kWh per hari
Tarif Listrik PLN: Rp 1.352 per kWh
Hari Operasional: 365 Hari
Setelah mengetahui beberapa nilai dasar,selanjutnya menghitung berapa banyak uang yang dapat dihemat setiap hari, bulan dan tahun dengan tidak membeli listrik dari PLN.
Penghematan Harian:
Penghematan Harian = Produksi Energi Harian x Tarif Listrik PLN
Penghematan Harian = 8,31 kWh x Rp 1.352
Penghematan Harian = Rp 11.221,6
Penghematan Bulanan:
Penghematan Bulanan = Penghematan Harian x 30 Hari
Penghematan Bulanan = Rp 11.221,6 x 30
Penghematan Bulanan = Rp 336.648
Penghematan Tahunan:
Penghematan Tahunan = Penghematan Harian x 365 Hari
Penghematan Tahunan = Rp 11.221,6 x 365
Penghematan Tahunan = Rp 4.095.884
Berdasarkan hasil perhitungan, sistem PLTS ini dapat melakukan penghematan biaya sebesar 4,095 juta rupiah/tahun. Setelah mengetahui angka penghematan biaya, maka bisa dilanjutkan menghitung BEP yaitu dengan membagi nilai total investasi dengan penghematan tahunan.
Rumus BEP:
BEP(Tahun) = Total Investasi Awal / Penghematan Tahunan
BEP = Rp 102.000.000 / Rp 4.095.884
BEP = 24,9 Tahun
Dari hasil perhitungan BEP diatas menunjukan bahwa untuk mengembalikan modal awal sebelum nantinya energi listrik yang digunakan terhitung bersih (keuntungan pribadi) termasuk dalam jangka yang cukup lama atau tidak efisien, hal ini dikarenakan modal awal yang dibutuhkan terhitung sangat besar dibanding dengan penggunaan listrik harian yaitu sebesar 8,32kWh/hari dengan penghematan tahunan yang hanya sebesar RP. 4.095.884. Hasil BEP 25 tahun untuk PLTS ini sangat tidak efisien dibanding menggunakan energi listrik dari PLN langsung. Akan tetapi jika terjadi peningkatan konsumsi energi listrik atau penambahan beban yang cukup tinggi, maka investasi yang dilakukan akan lebih efisien dengan kondisi estimasi RAB tetap. Dan juga bila seluruh harga RAB mengalami penurunan hingga 50% dari estimasi maka akan lebih efisien dengan kisaran BEP 12,45 Tahun.