Teknik Penebaran Benih Ikan
Penebaran benih ikan dilakukan setelah wadah/media kolam pendederan yang akan dipergunakan dipersiapkan dan dikondisikan sedemikian rupa sehingga dapat menjamin kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan yang dipelihara.Sebelum penebaran benih ikan dilakukan terlebih dahulu ditentukan padat penebaran benih ikan tersebut. Padat tebar benih ikan tergantung dari daya dukung kolam.Daya dukung kolam adalah kemampuan sumberdaya kolam mendukung kehidupan benih ikan untuk dapat berkembang dan tumbuh secara optimal. Oleh sebab itu untuk menentu- kan padat tebar benih perlu dilakukan pengamatan dan analisa daya dukung kolam.Daya dukung kolam terdiri dari oksigen terlarut, suhu, debit air, jumlah phytoplankton dan zooplanton dan sebagainya. Padat penebaran sangat tergantung kepada ”Caryng Capacity” kolam tersebut dan sifat serta ukuran ikan. Carryng capacity bisa diartikan daya dukung kolam yang menyangkut kelimpahan pakan alami, ketersediaan oksigen serta minimalnya faktor penggangu hidupnya ikan. Carryng capacity bisa dihitung, contoh : ada berapa juta sel per ml kelimpahan plankton nya, ada berapa ppm kandungan oksigennya atau berapa kapasitas oksigen per volume kolam tersebut. Kemudian dengan menggunakan metode sampling ada berapa juta sel plankton yang terdapat dalam perut ikan & berapa laju kecepatan respirasi ikan tersebut dalam menyerap oksigen. Penebaran benih dilakukan bertujuan untuk menempatkan ikan dalam kolam pemeliharaan dengan padat penebaran tertentu. Padat penebaran adalah jumlah (biomassa) benih yang ditebarkan per satuan luas atau volume.Padat penebaran benih akan menentukan tingkat intensitas pemeliharaan. Semakin tinggi padat penebaran benih, maka semakin banyak jumlah atau biomassa benih per satuan luas, sehingga pemeliharaannya juga harus semakin intens. Selain itu, semakin tinggi padat penebaran benih, maka semakin tinggi pula tingkat teknologi yang digunakan.Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suasana teduh untuk menghindari fluktuasi suhu yang panas, sehingga benih yang ditebarkan tidak mengalami stress. Sebelum larva/ benih ikan dilepas terlebih dahulu dilakukan aklimatisasi.Faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses penebaran adalah aklimatisasi suhu. Aklimatisasi merupakan proses adaptasi benih terhadap lingkungan yang baru, khususnya adalah penyesuaian suhu dari lingkungan yang lama dengan lingkungan yang baru. Apabila benih didatangkan dari lokasi yang cukup jauh dan dikemas dengan menggunakan kantong plastik, maka proses aklimatisasi dilakukan dengan cara memasukkan kantong pengangkutan benih tersebut di permukaan air dalam kolam.Setelah didiamkan selama 5 – 10 menit, maka pada kantong tersebut dapat ditambah air yang diambil dari kolam pemeliharaan benih yang baru sedikit demi sedikit, hingga kondisi suhu air di dalam kantong plastik sama dengan suhu air yang ada di dalam kolam.Proses aklimatisasi benih ikan
Teknik Pemeliharaan Benih Ikan
Teknik pemeliharaan benih ikan pada wadah pendederan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu pemeliharaan ikan secara tradisional, pemeliharaan ikan secara semi intensif dan pemeliharaan iokan secara intensif.Pemeliharaan Ikan secara tradisional
Pemeliharaan ikan secara tradisional memiliki arti melakukan kegiatan budidaya secara turun temurun. Pada pendederan benih ikan khususnya pada pemeliharaan benih secara tradisional memiliki arti pemeliharaan benih ikan yang dilakukan secara turun temurun. Jika anda mempelajari ulang pemeliharaan sejak dahulu kala, maka pemeliharaan benih ikan di kolam, nenek moyang kita dulu belum mengenal wadah bak beton, bak terpal, bak fiberglass dan sebagainya.Nenek moyang kita memelihara benih ikan di kolam belum mengenal pupuk/ kapur. Jadi persiapan kolam yang mereka lakukan hanya membersihkan kolam dari rumput dan kotoran serta mengolah dasar kolam tanpa pemupukan dan pengapuran. Pendederan ikan secara tradisional juga demikian, persiapan kolam hanya dilakukan dengan membersihkan kolam dari rumput dan kotoran lainnya tanpa pemupukan dan pengapuran. Konstruksi kolam tradisional terbuat dari tanah dimana pematang merupakan tumpukan tanah belum memperhitungkan tinggi dan lebar dasar dari ukuran pematang. Pipa pemasukan dan pengeluaran terbuat dari bambu. Kolam yang telah selesai dibersihkan dimasukkan air. Penebaran benih dilakukan seadanya tanpa memperhitungkan kondisi luas lahan kolam, daya dukung kolam, ukuran benih ikan, debit air dan sebagainya.Kolam ikan secara tradisional
Pemeliharaan Benih Ikan secara Semi intensif
Pemeliharaan benih ikan (pendederan) secara semi intensif merupakan perbaikan pembenihan ikan secara tradisional. Pada prinsipnya, pemeliharaan benih ikan secara semi intensif telah berorientasi mendapatkan keuntungan bahkan sudah cenderung sebagai profesi. Apabila cara pemeliharaan benih ikan sudah berorientasi kepada keuntungan atau menjadi profesi, maka akan berpikir dan memperbaiki kelemahan/kekurangan sebelumnya agar mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.Pada pemeliharaan benih ikan secara semi intensif, maka mulai persiapan wadah sampai pemanenan sudah lebih baik dibandingkan pemeliharaan secara tradisional. Persiapan wadah pada pemeliharaan benih ikan secara semi intentensif meliputi pengeringan kolam, pengolahan dasar kolam, pemupukan dan pengapuran serta pengisian air kolam. Pengeringan dasar kolam pendederan bertujuan untuk membasmi hama & penyakit dan mengoksidasi gas beracun yang terdapat di dasar kolam. Gas beracun yang terdapat di dasar kolam berasal dapat dari hasil penguraian bahan-bahan organik seperti kotoran ikan, sisa pakan, lumpu atau kotoran yang terbawa air masuk dan mengendap di dasar kolam dan sebagainya. Bahan organik yang di dasar kolam tersebut diuraikan oleh bakteri nitrosomonas, nitrobakter dsb.Beberapa hasil penguraian tersebut berbentuk gas di dalam dasar kolam. Dalam jumlah banyak, gas tersebut berbahaya bagi ikan. Gas beracun dalam dasar harus dibuang melalui oksidasi yaitu pengeringan dasar kolam. Bahan organik juga merupakan media tumbuh hama dan penyakit ikan. Kolam yang jarang dikeringkan biasanya memiliki bahan organik cukup banyak dengan kata lain pada kolam tersebut banyak hama dan penyakit ikan. Hama dan penyakit yang sering berkembang di bahan organik meliputi aeromonas, white spot, trichodina, girodactylus, dactylogirus, bacciluss, ucrit dan sebagainya. Pengeringan kolam dilakukan selama 2-3 hari atau sampai dasar kolam retak-retak.Pengeringan Dasar Kolam Pendederan
Pemeliharaan Benih Ikan secara Intensif
Pemeliharaan benih ikan secara intensif umumnya lebih terkontrol baik pengelolaan kualitas air, pakan, hama penyakit, ukuran dan tahapan pendederan. Pemeliharaan benih ikan secara intensif dapat dilakukan di wadah berupa bak, kolam dan di akuarium. Agar pemeliharaan benih ikan secara intensif, umumnya dilengkapi dengan data data. Data tersebut meliputi data pertumbuhan ikan, jumlah dan jenis ikan, data kualitas air, data hama dan penyakit, data pakan, pemasaran serta data produksi. Selain itu pemeliharaan benih ikan secara intensif telah memiliki standar operasional prosedur pada setiap unit kegiatan.Fasilitas yang digunakan pada pemeliharaan ikan secara intensif lebih lengkap dan lebih modern. Oleh sebab itu, komoditas yang dipelihara pada pemeliharaan secara intensif dapat dipertimbangkan antara harga jual dan kuantitas produksi dengan total investasi dan operasional. Umumnya pemeliharaan benih ikan secara intensif, memelihara komoditas ikan yang memiliki harga yang mahal.Pemeliharaan benih ikan secara intensif, telah berorientasi pada keuntungan. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar maka dipelihara ikan dengan padat penebaran yang lebih tinggi. Padat penebaran yang lebih tinggi harus didukung oleh daya dukung kolam. Daya dukung kolam terdiri dari ketersediaan pakan, kualitas air yang baik dan pengendalian hama penyakit.Ketersediaan pakan bagi benih ikan pada pemeliharaan ikan secara intensif pada umumnya berasal dari luar kolam. Artinya ikan yang dipelihara diberi makan sesuai dengan jenis, jumlah, frekuensi pemberian pakan. Pada pemeliharaan ikan secara intensif, ketersediaan pakan di kolam tidak diperhitungkan. Seluruh pakan untuk benih ikan berasal dari luar kolam contohnya budidaya udang secara intensif di tambak, budidaya ikan di kolam ar deras, jaring terapung dan sebagainya.Pemeliharaan Ikan di Kolam air Deras.
Kincir air di Tambak untuk Meningkat Kandungan Oksigen Terlarut
Pemberian Pakan Ikan
Pakan merupakan faktor yang penting dalam usaha pendederan benih ikan. Dalam usaha pembenihan, benih ikan diharuskan tumbuh hingga mencapai ukuran pasar. Untuk itu, benih ikan harus makan, tidak sekedar untuk mempertahankan kondisi tubuh, tetapi juga untuk menumbuhkan jaringan otot atau daging. Jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi oleh benih ikan akan menentukan asupan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan daging. Pakan yang dikonsumsi oleh benih ikan bisa menggambarkan nafsu makan ikan dan ini dipengaruhi oleh kualitas air (terutama suhu dan oksigen terlarut) media pemeliharaan benih ikan. Dalam pemberian pakan benih ikan ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu frekuensi pemberian pakan dan cara memberikan pakan.Pemberian pakan terhadap benih ikan tergantung tingkat kesuburan kolam pendederan. Pemberian pakan terhadap benih ikan umumnya sebanyak 3-5% dari total berat benih ikan. Namun jika kolam pendederan subur, pemberian pakan dapat dikurangi. Frekuensi pemberian pakannya 3 kali yaitu pagi, siang dan sore hari dengan jumlah yang sama. Tetapi kondisi permintaan pakan akan berubah-ubah tergantung suhu air. Apabila cuaca cerah, matahari bersinar terang maka suhu air akan naik segala proses/metabolisme dipercepat. Barangkali apabila kondisi demikian frekuensi pemberian pakan akan lebih dari 2 kali. Tetapi apabila cuaca mendung, matahari tidak bersinar otomatis suhu akan menurun, kondisi ini dibarengi dengan fotosintesis plankton terhambat. Sehingga produksi oksigen menurun sebagai akibat nafsu makan ikan menurun permintaan ikan akan pakan juga menurun.Pakan yang diberikan selama pendederan benih ikan adalah campuran tepung pelet dengan bekatul dengan perbandingan 1 : 2. Tetapi sebenarnya benih ikan sangat menyukai pakan alami. Jika kombinasi kedua jenis pakan yaitu pakan buatan dan pakan alami diberikan bersama adalah sangat baik, karena unsur gizinya saling melengkapi.Jika total bobot ikan diketahui maka jumlah pakan yang dibutuhkan dapat dihitung. Konversi/efesiensi pakan akan dapat dihitung apabila jumlah pakan yang diberikan serta bobot total ikan diketahui.Pakan merupakan faktor yang menentukan dalam pemeliharaan benih ikan. Pakan nyang diberikan ke benih ikan adalah memiliki kandungan protein tinggi, ukuran lebih kecil dari bukaan mulut, gerakan lambat dan mudah dicerna. Dengan terbatasnya organ sistem pencernaan benih karena masih dalam tahap perkembangan, seperti ukuran bukaan mulutnya yang kecil, gerakan tubuh/berenang yang masih sangat terbatas, kondisi saluran pencernaan yang sangat sederhana larva dipaksa untuk memburu, memangsa dan mencerna makanannya.Pakan yang baik harus diberikan sesuai dengan kondisi benih. Kriteria pakan tersebut harus memenuhi persyaratan:Pakan alami
Pakan alami ikan terdiri dari organisme renik berukuran kecil (mikro) dan organisme makro yang sangat jelas bila dilihat dengan mata. Untuk melihat organisme renik dapat menggunakan alat bantu seperti mikroskop. Berikut ini beberapa jenis pakan alami yang menjadi pakan alami benih ikan.a. Phytoplankton
Phytoplankton merupakan organisme yang berukuran renik, memiliki gerakan yang sangat lemah, bergerak mengikuti arah arus air dan dapat melakukan proses fotosintesis karena memiliki klorofil dalam tubuhnya. Phytoplankton merupakan produsen primer di perairan karena dapat mengolah bahan-bahan anorganik yang ada dilingkungannya menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis. Perkembangannya sangat cepat melalui pembelahan sel sehingga pertumbuhannya dapat didorong melalui pemupukan. Pupuk yang digunakan dapat berupa pupuk organik maupun pupuk anorganik. Phytoplankton sangat baik untuk makanan burayak dan benih ikan. Jenis-jenis phytoplankton yang tumbuh dikolam dan sebagai sumber pakan benih ikan antara lain Skeletonema, Chaetoceros, Tetraselmis, Dunaliella, Isochryis, Chlorella, Nannochloropis dan Spirulina.b. Zooplakton
Zooplankton merupakan hewan renik yang hidup melayang-layang didalam air. Akan tetapi, ada juga yang berukuran agak besar sehingga dapat dilihat bentuknya secara kasat mata. Beberapa jenis hewan yang merupakan zooplankton, di antaranya Infusoria, Brachionus, Artemia, Daphnia, Moina, Cyclop dan calanus.c. Benthos
Benthos adalah binatang yang hidup didasar perairan. Habitat organisme benthos di balik tanah dasar dan merayap di atas tanah dasar. Organisme yang hidup di balik tanah dasar adalah bangsa cacing, seperti cacing sutera atau cacing rambut (Tubifex sp) dan cacing lur (Nereis sp). Untuk mendorong berkembang-nya binatang benthos, dasar kolam perlu di pupuk dengan pupuk organik. Semua organisme benthos sangat disukai oleh hampir seluruh benih ikanPakan alami untuk benih ikan mempunyai beberapa kelebihan karena ukurannya relatif kecil dan sesuai dengan bukaan mulut benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah dibudidayakan gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat berkembang biak dengan cepat sehingga ketersediaannya dapat terjamin dan biaya pembudidayaannya relatif murah.Jika dalam awal hidupnya benih ikan dapat menemukan pakan yang mempunyai ukuran sesuai dengan bukaan mulutnya maka benih ikan tersebut diperkirakan dapat meneruskan hidupnya. Namun, jika dalam waktu singkat benih ikan tidak dapat menemukan pakan yang sesuai dengan bukaan mulutnya maka benih ikan itu akan menjadi lemah dan selanjutnya mati. Selain beberapa kelebihan tersebut, pakan alami juga tidak mencemari media pemeliharaan sehingga dapat diharapkan menekan angka mortalitas benih ikan akibat kondisi air yang kurang baik. Jenis pakan alami yang dapat dimakan benih ikan tergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Semakin besar ukuran benih ikan maka jenis pakannya juga berubah.Pakan buatan
Pakan buatan (artificial feed) adalah pakan yang sengaja disiapkan dan dibuat. Pakan ini terdiri dari ramuan beberapa bahan baku yang kemudian diproses lebih lanjut sehingga bentuknya berubah dari bentuk aslinya. Pakan buatan dapat digunakan, baik sebagai pakan tambahan (supplementary feed) maupun sebagai pakan pelengkap (complete feed). Pakan tambahan adalah pakan yang digunakan untuk melengkapi kebutuhan ikan peliharaan selain pakan alami.Bentuk-bentuk pakan buatan juga sangat beragam, baik dalam bentuk kering maupun lembab. Pakan kering dalam bentuk pelet, remah (crumble), butiran (granular), tepung (meal/mash), dan lembaran (flake). Pakan lembab dapat berbentuk bola (ball), dan roti kukus (cake). Untuk pakan basah umumnya berbentuk bubur atau pasta. Pelet dapat dibuat dalam beragam bentuk, seperti batang, bulat atau gilik. Ukuran panjang dan diameternya disesuaikan dengan ukuran ikan yang akan diberi makan.Kandungan gizi pakan buatan dapat disusun formulasinya supaya kandungan gizinya lebih lengkap dibandingkan dengan pakan alami. Gizi utama yang harus terkandung dalam ramuan pakan buatan adalah protein, lemak dan karbohidrat. Selain itu, dalam menyusun ramuan pakan juga diperhatikan nilai ubahnya (konversinya). Apabila makanan tersebut hanya dimaksudkan sebagai makanan tambahan maka kandungan gizinya dapat lebih rendah dibandingkan jika akan digunakan sebagai makanan pokok.Menghitung Kebutuhan Pakan
Feeding Rate
Pakan diberikan kepada benih ikan sesuai dengan kebutuhan dan dapat memberikan pertumbuhan dan efisiensi pakan yang paling tinggi. Kebutuhan pakan harian dinyatakan sebagai tingkat pemberian pakan (feeding rate) per hari yang ditentukan berdasarkan persentase dari bobot ikan. Tingkat pemberian pakan ditentukan oleh ukuran ikan. Semakin besar ukuran ikan maka feeding rate-nya semakin kecil, tetapi jumlah pakan perharinya semakin besar.Secara berkala, jumlah pakan harian ikan disesuaikan (adjusment) dengan pertambahan bobot ikan dan perubahan populasi. Informasi bobot rata-rata dan populasi ikan diperoleh dari kegiatan pemantauan ikan dengan cara sampling. Untuk menghitung kebutuhan pakan harian ikan dapat menggunakan rumus sebagai berikut :Jumlah pakan harian (kg) = FR x BM
FR = feeding rate (%)
BM = bobot biomasa (kg)
Contoh : FR = 5%, BM = 20 kg, pakan yang diberikan perhari adalah 5% x 20 kg = 1 kg per hari.
FCR (Feed Conversion Ratio)
Dari jumlah makanan yang dimakan oleh ikan, kurang lebih hanya 10% saja yang dapat digunakan untuk pertumbuhan atau penambahan bobot badan. Selebihnya makanan tersebut digunakan untuk pemeliharaan tubuh atau memang tidak dapat dicerna. Jumlah bobot makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan atau penambahan bobot badan itu disebut nilai ubah makanan atau konversi makanan.Suatu ukuran yang menyatakan rasio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg daging ikan adalah feed conversion ratio. Apabila untuk menambah bobot 1 kg daging ikan dibutuhkan 6 kg pakan, berarti faktor konversi pakannya adalah 6. Tergantung dari jenis pakannya, faktor konversi pakan pada ikan berkisar antara 1,5 – 8. Secara umum, suatu jenis pakan dikatakan cukup efisien jika faktor konversinya sekitar 1,7. Faktor konversi bahan pakan nabati lebih besar daripada pakan hewani. Demikian pula makanan basah, mempunyai faktor konversi yang lebih tinggi dibandingkan dengan makanan kering.FCR sering kali dijadikan indikator kinerja teknis dalam mengevaluasi suatu usaha budidaya ikan. Faktor yang digunakan dalam perhitungan FCR bukan penambahan berat daging ikannya, melainkan bobot panennya yang merupakan bobot hidup/ bobot basah ikan pada waktu panen.FCR = jumlah kg pakan / jumlah kg ikan yang dihasilkan
Misalnya, sebuah kolam dapat dipanen ikan sebanyak 1250 kg. Untuk ikan sebanyak itu telah digunakan pakan sebanyak 2000 kg selama masa pemeliharaan maka nilai FCR dari pakan yang diberikan adalah 2000 kg / 1250 kg = 1,6Frekuensi dan waktu pemberian pakan
Frekuensi pemberian pakan adalah berapa kali pakan yang diberikan pada benih ikan dalam sehari. Frekuensi ini terkait dengan waktu pemberian pakan. Umumnya semakin besar ukuran ikan maka frekuensi pemberian pakannya semakin jarang atau kurang. Ikan kecil sebaliknya diberi pakan lebih sering dibandingkan ikan besar. Frekuensi pemberian pakan benih ikan berkaitan dengan laju evakuasi pakan di dalam lambung dan ini tergantung pada ukuran dan jenis ikan yang dibudidayakan, serta suhu air.Waktu pemberian pakan ditetapkan dengan memperhatikan nafsu makan benih ikan. Di pemeliharaan benih ikan di jaring terapung, nafsu makan benih ikan mas tinggi dengan kandungan oksigen terlarut tinggi dan suhu air hangat. Pada saat itu, porsi pakan yang diberikan relatif banyak. Namun demikian, sering kali waktu pemberian pakan disesuaikan dengan kepraktisan operasional usaha sehingga waktu makan umumnya ditetapkan siang hari. Selain ukuran dan biomasa ikan, jenis ikan yang dipeliharan juga menentukan frekuensi dan waktu pemberian pakan.Cara pemberian pakan
Untuk benih ikan yang masih kecil, pakan diberikan dengan menyebarkannya secara merata di seluruh permukaan air. Pakan dalam bentuk tepung dan remah dapat diberikan dengan cara ditaburkan menggunakan tangan. Penaburan pakan dengan tangan harus memperhatikan arah angin. Pelet untuk ikan-ikan besar diberikan dengan keadaan yang tetap, baik tempat maupun waktunya. Dengan waktu dan tempat yang tetap itu maka benih ikan akan terbiasa untuk menunggu pakan di tempat tersebut pada waktu-waktu tertentu. Dengan demikian akan memperkecil jumlah pakan yang tercecer.Pakan diberikan secara sedikit demi sedikit sesuai dengan kebiasaan ikan dalam mencaplok dan menelan habis pakannya. Apabila kira-kira 30 % dari jumlah ikan yang ada sudah tidak mau lagi menyambar pakan yang dilemparkan maka pemberiannya segera dihentikan. Dalam budidaya ikan yang intensif, pemberian pakan jangan sampai berlebih dan juga berkurang. Pemberian pakan yang berlebih akan mengakibatkan : air wadah tercemar, dasar kolam cepat kotor, pemborosan. Dan juga jika pemberian pakan yang kurang akan berakibat : pertumbuhan ikan bervariasi, pertumbuhan terhambat, daya tahan tubuh menurun, terjadi kanibalisme.Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan air bertujuan untuk menyediakan lingkungan hidup yang optimal bagi larva untuk bisa hidup, berkembang, dan tumbuh sehingga diperoleh kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva yang maksimum. Bentuk kegiatan pengelolaan air dalam wadah pemeliharaan larva antara lain pemberian dan pengaturan aerasi, pemeriksaan/pemantauan kualitas air dan pergantian air. Pemberian aerasi dilakukan untuk meningkatkan kadar oksigen dalam air wadah pemeliharaan. Selain itu, aerasi juga bertujuan untuk mendistribusikan pakan, terutama pakan buatan yang berbentuk mikrokapsul. Adanya aerasi bisa menyebabkan pakan buatan tersebut terdistribusi dan selalu bergerak sehingga memudahkan larva untuk menangkap makanannya Untuk meningkatkan difusi oksigen, udara yang dimasukkan ke dalam air dibuat menjadi gelembung kecil dengan bantuan batu aerasi. Oleh karena itu, beberapa faktor untuk menciptakan efisiensi dan efektivitas aerasi perlu diperhatikan 1) kekuatan (tekanan dan volume) aerasi, 2) jumlah titik aerasi, 3) kedalaman titik aerasi dalam badan air.Kondisi kualitas air optimum akan memberikan produksi yang optimum pula. Kualitas air yang optimum akan menambah nafsu makan ikan, dan bebas dari hama dan penyakit ikan. Parameter kualitas air yang optimum bagi pemeliharaan benih ikan dimana kelangsungan hidupnya mencapai (SR) 87.7%,Pertumbuhan hariannya (GR) 0.14/hari pada kisaran kualitas air adalah sebagai berikut :
DO : 5.12 – 6.40 ppm
CO2 : 3.25 – 4.20
N-NH3 : 0.03 ppm
CaCO3 (alkalinitas) : 46.40 – 58.00 ppm
Suhu : 19 -28 0C
SR 87.76 : menunjukkan angka yang cukup tinggi
1). Suhu
Keadaan suhu air sangat berpengaruh terhadap pemberian pakan. Hal ini ada hubungannya dengan nafsu makan benih ikan yang bersangkutan. Semakin tinggi suhunya maka laju metabolisme ikan akan bertambah. Bertambahnya laju metabolisme mengakibatkan naiknya tingkat konsumsi pakan karena nafsu makan ikan juga meningkat. Akan tetapi jika suhu lingkungan terlalu tinggi sehingga tidak dapat ditolerir oleh benih ikan maka tingkat konsumsi pakan ikan juga menurun. Suhu air terlalu rendah atau terlalu tinggi mengakibatkan nafsu makan benih ikan akan terganggu sehingga pakan yang diberikan banyak yang tidak termakan.2). Oksigen terlarut
Selain suhu, oksigen terlarut juga berpengaruh terhadap pemberian pakan benih ikan. Apabila kadar oksigen kurang dari 6 mg/liter (6 ppm) maka nafsu makan ikan dapat hilang. Turunnya kadar oksigen dalam air dapat disebabkan oleh berbagai macam hal antara lain adanya proses pembusukan, air tidak mengalir, benih ikan dalam kolam terlalu padat dan kenaikan suhu. Proses pembusukan yang menghebat karena banyak tertimbunnya sisa-sisa bahan organik dapat menghabiskan persediaan oksigen. Berbagai macam usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penurunan kadar oksigen antara lain adalah :1). Suhu Air
Suhu dalam air setiap hari selalu berfluktuasi (naik/turun) sesuai dengan suhu udara atau terik matahari pada saat iru. Frekuensi suhu antara siang dan malam hari sebaiknya tidak lebih dari 50 Celcius. Pada daerah tropis, perbedaan suhu antara siang dan malam hari jarang terjadi perbedaan yang mencolok, kalaupun ada mungkin karena dalam kondisi yang ekstrim.2). Kecerahan / Kekeruhan Air
Kecerahan air dan kekeruhan air (turbiditas) sangat berkaitan erat. Apabila nilai kecerahan tinggi maka turbiditasnya rendah. Air yang keruh akibat partikel zat padat dalam jumlah besar sering menghalangi penetrasi cahaya ke dalam suatu perairan. Kekeruhan air yang disebabkan oleh koloid lumpur harus ditanggulangi agar cahaya sinar matahari yang diperlukan oleh phytoplankton untuk kegiatan fotosintesa tidak terhalang. Cara untuk menanggulangi kekeruhan air tersebut, antara lain adalah dengan menggunakan bahan organik pupuk kandang sebanyak + 2.000 kg/Ha pada kolam budidaya; atau cara lain yang praktis dengan menggunakan penambahan Alumunium Sulfat 25-–30 ppm. Namun penggunaan bahan Alumunium Sulfat tersebut, sifatnya sementara dan tidak dapat menghilangkan faktor penyebabnya.3). pH. Air
Puissance negative de hidrogen (pH) atau biasa disebut : “Derajat keasaman” merupakan suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan menunjukkan suasana air apakah bereaksi “ Asam” atau “Basa”.Nilai pH dibawah 7,0 adalah asam dan diatas 7,0 = basa.Kondisi pH air yang baik untuk pemeliharaan ikan berkisar antara 6,5 – 8,5. Terjadinya perubahan pH air kolam menjadi asam disebabkan meningkatnya pembusukan dari sisa-sisa pakan atau bahan organik yang dipengaruhi oleh konsentrasi karbondioksida. Phytoplankton dan tanaman air selama dalam proses fotosintesa akan mengambil CO2 dan air sehingga mengakibatkan goncangan pH antara siang dan malam hari. Peningkatan pH air akan naik secara drastis jika pertumbuhan phytoplankton sangat cepat pada media air yang memilki alkalinitas total tinggi dan kesadahan total rendah. Sebagai upaya dalam penanggulangan keadaan seperti ini dapat dapat dilakukan dengan penambahan kapur pertanian sebanyak 500 kg/Ha yang berguna sebagai “Buffer” (kondisi normal).4). Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen)
Masalah utama yang sering timbul dalam pemeliharaan ikan di kolam air tenang yaitu kekurangan O2 terlarut didalam air kolam terutama pada malam hari. Untuk mengatasi kekurangan oksigen dalam kolam budidaya dapat dilakukan dengan jalan mengalirkan air baru dengan menggunakan alat mekanis (misal : pompa air) atau dengan memasang kincir air dalam kolam tersebut.5). Gas Cemar
Gas-gas cemar yang berbahaya bagi kehidupan ikan terutama adalah NH3 dan H2S. Konsentrasi kedua gas cemar tersebut akan meningkat apabila terjadi kematian phyto- plankton; sehingga konsentrasi CO2 menjadi naik. Dengan meningkatnya konsentrasi CO2 maka akan diikuti turunnya pH air. Sebagai upaya untuk menanggulangi keadaan ini yaitu dengan jalan menetralkan pH.Teknik Sampling / Pemantauan Pertumbuhan Ikan
Selama pemeliharaan , pertumbuhan ikan pada setiap periode waktu tertentu perlu dilakukan “pengukuran” dengan tujuan untuk mengetahui perkembangan tiap individu ikan dan mengetahui tingkat kelangsungan hidupnya. Adapun manfaat dilakukan pengukuran tersebut adalah untuk dijadikan pedoman dalam menentukan jumlah kebutuhan pakan yang harus diberikan serta menafsirkan jumlah produksi ikan yang akan didapat. Pengukuran pertumbuhan ikan umumnya dikerjakan pada tiap 1 minggu atau 2 minggu sekali dengan cara “Sampling” lalu diukur panjang tubuh ikan dan ditimbang bobotnya. Cara melakukan teknik sampling adalah dengan menggunakan “Anco” apabila ikan yang diambil sebagai sample (contoh) masih berukuran kecil, atau dengan menggunakan “ jala” jika ikan yang disampling ukurannya besar.Dalam pengerjaannya, contoh ikan diambil dari beberapa tempat yang berbeda pada kolam tersebut. Selanjutnya diukur panjang tubuh dan ditimbang bobotnya, kemudian dirata-ratakan untuk memperoleh panjang dan berat badan rata-rata per-ekor ikan.Berikut ini disajikan contoh pelaksanaan teknik sampling dan data yang diperoleh adalah, sebagai berikut :Sampling benih ikan
Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan
Ikan dikatakan sakit bila terjadi suatu kelainan baik secara anatomis maupun fisiologis. Secara anatomis terjadi kelainan bentuk bagian-bagian tubuh ikan seperti bagian badan, kepala, ekor, sirip dan perut. Secara fisiologis terjadi kelainan fungsi organ seperti; penglihatan, pernafasan, pencernaan, sirkulasi darah dan lain-lain. Gejala yang diperlihatkan dapat berupa kelainan perilaku atau penampakan kerusakan bagian tubuh ikan.Adapun ciri-ciri ikan sakit adalah sebagai berikut;1). Kerusakan organ luar
Kelainan bentuk organ ini disebabkan oleh parasit tertentu yang menyebabkan kerusakan organ seperti pada kulit, sirip, insang dan lain-lain. Pada insang dapat menyebabkan insang terlihat pucat atau adanya bercak merah. Pada ikan sehat mempunyai korelasi antara bobot (M) dan panjang (L) ikan yang seimbang yaitu dengan rumus sebagai berikut :Dropsy
Dropsy merupakan gejala dari suatu penyakit bukan penyakit itu sendiri. Gejala dropsy ditandai dengan terjadinya pembengkakan pada rongga tubuh ikan. Pembengkakan tersebut sering menyebabkan sirip ikan berdiri sehingga penampakannya akan menyerupai buah pinus.Dropsy pada Platty
Kelainan Gelembung Renang
Gelembung renang (swimbladder) adalah organ berbentuk kantung berisi udara yang berfungsi untuk mengatur ikan mengapung atau melayang di dalam air, sehingga ikan tersebut tidak perlu berenang terus menerus untuk mempertahankan posisinya. Organ ini hampir ditemui pada semua jenis ikan.Beberapa kelainan atau masalah dengan gelembung renang, yang umum dijumpai, adalahIkan yang terserang "white spot"
Pengobatan Ikan yang Terserang Penyakit
Pengobatan ikan sakit dapat dilakukan beberapa metoda. Metoda yang dilakukan dengan mempertimbangkan antara lain; ukuran ikan, ukuran wadah, bahan kimia atau obat yang diberikan dan sifat ikan. Beberapa metoda pengobatan adalah sebagai berikut ;Melalui suntikan dengan antibiotika.
Metoda penyuntikan dilakukan bila yang diberikan adalah sejenis obat seperti antibiotik atau vitamin. Penyuntikan dilakukan pada daerah punggung ikan yang mempunyai jaringan otot lebih tebal. Penyuntikan hanya dilakukan pada ikan yang berukuran besar terutama ukuran induk. Sedangkan yang kecil tidak dapat dilakukan.Melalui makanan.
Obat atau vitamin dapat diberikan melalui makanan. Akan tetapi bila makanan yang diberikan tidak segera dimakan ikan maka konsentrasi obat atau vitamin pada makanan akan menurun karena sebagian akan larut dalam air. Oleh karena itu metoda ini afektif diberikan pada ikan yang tidak kehilangan nafsu makannya.Perendaman.
Metoda perendaman dilakukan bila yang diberikan adalah bahan kimia untuk membunuh parasit maupun mikroorganisme dalam air atau untuk memutuskan siklus hidup parasit. Pengobatan ikan sakit dengan metoda perendaman adalah sebagai berikut;Kalium Permanganat (PK)
Kalium permanganat (PK) dengan rumus kimia KMnO₄sebagai serbuk maupun larutan berwarna violet. Sering dimanfaatkan untuk mengobati penyakit ikan akibat ektoparasit dan infeksi bakteri terutama pada ikan-ikan dalam kolam. Bila dilarutkan dalam air akan terjadi reaksi kimia sebagai berikut;KMnO₄à K+ + MnO₄-
MnO₄-à MnO₂ + 2On On - Oksigen elemental. (Oksidator)
Manfaat
Klorin
Klorin dan kloramin merupakan bahan kimia yang biasa digunakan sebagai pembunuh kuman (disinfektan) di perusahan-perusahan air minum. Klorin (Cl2) merupakan gas berwarna kuning kehijauan dengan bau menyengat. Perlakuan klorinasi dikenal dengan kaporit.Sedangkan kloramin merupakan senyawa klorin-amonia (NH4Cl).Cl2 + H2O à H2ClO3à Cl2 + H2O
NH4Cl + H2O à NH4+ + ClO3-
Sifat Kimia
Tanda-tanda Keracunan
Metil Biru / Methylene Blue
Metil biru diketahui efektif untuk pengobatan Ichthyopthirius multifilis (white spot) dan jamur. Selain itu, juga sering digunakan untuk mencegah serangan jamur pada telur ikan. Metil biru biasanya tersedia sebagai larutan jadi di toko-toko akuarium, dengan konsenrasi 1 - 2 persen. Selain itu tersedia pula dalam bentuk serbuk.Sifat Kimia
Dosis dan Cara Pemberian
Malachyte green
Malachite Green merupakan pewarna triphenylmethane dari group rasamilin. Bahan ini merupakan bahan yang kerap digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dan parasit dari golongan protozoa, seperti: ichtyobodo, flukes insang, trichodina, dan white spot, serta sebagai fungisida. Penggunaan bahan ini hendaknya dilakukan pada sistem tertutup seperti akuarium atau kolam ikan hias. Malachytegreen diketahui mempunya efek sinergis apabila diberikan bersama-sama dengan formalin. Hindari penggunaan malachytegreen dalam bentuk serbuk (tepung). Disarankan untuk menggunakan malachytegreen dalam bentuk larutan jadi dengan konsentrasi 1% dan telah terbebas dari unsur seng.Dosis dan Cara Pemberian