Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia yakni dengan memodifikasi kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Di samping itu, transformasi kurikulum juga diperlukan sebagai tanda bahwa suatu negara senantiasa menyesuaikan diri dalam menghadapi tantangan global.
Kurikulum sendiri dapat dipahami sebagai seperangkat perencanaan dan pengaturan yang dijadikan sebagai pedoman dalam proses kegiatan belajar mengajar yang memiliki tujuan tertentu. Parker (2019) mengemukakan bahwa kurikulum memiliki 4 komponen yang saling berkaitan satu sama lain, di antaranya komponen tujuan, isi, metode, dan evaluasi.
Kurikulum dalam ranah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jarang sekali dibicarakan oleh khalayak. Sebab, sebagian masyarakat Indonesia banyak yang menganggap bahwa pendidikan bagi anak usia di bawah 6 tahun bukanlah suatu kewajiban, utamanya yang bertempat tinggal di daerah terpencil. Mereka masih menanggap bahwa wajib belajar yang harus ditempuh tiap individu yaitu hanya 12 tahun saja (SD-SMA). Bahkan masih banyak pula yang tidak menuntaskan "wajib belajar 12 tahun" tersebut.
Kurikulum PAUD sendiri banyak mengalami perubahan baik dari segi istilah maupun konteks. Meski seringkali dianggap tidak-terlalu-penting-penting-amat, atau bahkan diyakini terlalu mudah materi pembelajarannya, sesungguhnya kurikulum PAUD jika dirancang sedemikian rupa dan menjadi prioritas pemerintah untuk berbenah dapat menjadi tonggak kemajuan dalam sektor pendidikan. Bukankah masa keemasan dalam tumbuh kembang manusia dimulai dari 5 tahun pertama?
Back to the topic. Tulisan ini akan berisi lini masa perkembangan kurikulum pendidikan bagi anak usia dini khususnya di negara kita tercinta. Here we go:
Kurikulum Periode Orde Lama
Sejarah perkembangan kurikulum PAUD diawali pada era pasca kemerdekaan. Pada saat itu, kurikulum lebih dikenal dengan istilah "Rentjana Pelajaran" yang disahkan pada tahun 1947. Kurikulum tersebut ditetapkan sebagai pengganti sistem pendidikan Belanda dan Jepang yang dikembangkan sebagai perkembangan konformisme, yakni menekankan pada pembentukan karakter Indonesia. Pada masa ini, kurikulum tidak membahas ranah PAUD secara signifikan mengingat akses mendapat pendidikan hanya bisa didapatkan kalangan tertentu saja.
Dokumen "Rentjana Pelajaran" senantiasa mengalami banyak penyempurnaan hingga berganti nama menjadi "Rentjana Pendidikan" pada tahun 1964. Kurikulum tersebut memuat tentang sistem pendidikan Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, emosional atau artistik, kecerdasan, jasmani, dan keterampilan. Kurikulum tersebut juga memperhatikan materi pembelajaran yang harus dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari pada masa itu.
Empat tahun kemudian ---tepatnya pada 1968, Sistem Pendidikan Pancawardana mengalami perombakan dengan menambahkan poin-poin seperti pembinaan jiwa Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Oh, iya, pada masa ini lembaga PAUD mulai bermunculan (Fyi, PAUD tertua di Indonesia sudah ada sejak tahun 1919, lho!). Bahkan pedoman resmi bagi penyelenggaraan pendidikan prasekolah juga disahkan langsung oleh presiden Soekarno.
Penerbitan pedoman resmi bagian pendidikan prasekolah tersebut merupakan sebuah langkah awal dalam meninjau konsep dan praktik penyelenggaraan PAUD secara khusus. Adapun konteks kurikulum yang dibahas meliputi segala sesuatu yang dibutuhkan dalam melaksanakan pembelajaran secara universal yaitu penyusunan silabus, pelaksanaan pembelajaran, organisasi internal dan ekternal dalam ranah PAUD, kesejahteraan tenaga pendidik dan kependidikan, fasilitas, administrasi, dan evaluasi (Herlina & Indrati, 2010).
Kurikulum Periode Orde Baru
Seiring dengan pergantian orde lama menuju orde baru, kurikulum PAUD di Indonesia turut mengalami perubahan. Pada tahun 1975, kurikulum secara umum menekankan orientasi pada tujuan, menganut pendekatan integratif, menekankan pada efisiensi dan efektivitas pembelajaran, dan dipengaruhi oleh psikologi tingkah laku. Pada tahun tersebut, kurikulum di Indonesia menganut sistem instruksional yang dikenal dengan sebutan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).
Kemudian, terbitlah keputusan Mendikbud Nomor 054/U/1977 Pasal 6 yang menjelaskan bahwa pendidikan dimulai sejak Taman Kanak-kanak (TK) yang berintegrasi pada pendidikan moral Pancasila. Pada tahun yang sama, ditetapkan pula bahwa bahasa daerah menjadi bahasa pengantar pendidikan dan persiapan calistung (baca, tulis, dan hitung) wajib dilakukan sebagai bekal anak usia dini sebelum masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD).
Delapan tahun berlalu, kurikulum PAUD mulai disesuaikan pada bakat, minat, kebutuhan, dan kemampuan setiap individu. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat memilih berbagai macam kegiatan pembelajaran yang dapat menunjang tumbuh kembangnya. Oleh sebab itu, pada tahun 1984 kurikulum PAUD lebih menekankan pada sistem Cara Siswa Belajar Aktif (CBSA). Hingga pada tahun 1994, pemerintah pusat mengesahkan keputusan Mendikbud RI Nomor 0486/ZU/1992 yang membahas kurikulum PAUD lebih spesifik dari tahun-tahun sebelumnya.
Implementasi pembelajaran pada masa sebelum reformasi tersebut mulai menekankan pada sistem tema dan subtema yang akan dikembangkan lebih lanjut oleh masing-masing lembaga pelaksana pendidikan. Adapun penentuan tema pembelajaran wajib disesuaikan dengan lingkungan atau kondisi terdekat bagi siswa.
Kurikulum Pasca Reformasi Hingga Kini
Pada tahun 2004, kurikulum PAUD di Indonesia dikenal dengan istilah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Jika kurikulum pada tahun 1994 masih menggunakan sistem caturwulan, maka pada kurikulum 2004 ini sudah menggunakan sistem semester. Di samping itu, KBK menuntut siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran demi mencapai tumbuh kembang yang optimal. Pada dasarnya, guru tidak hanya bertugas sebagai fasilitator pembelajaran, akan tetapi juga sebagai motivator bagi siswa.
Beberapa tahun kemudian, pemerintah menetapkan Standar Nasional PAUD Nomor 58 Tahun 2010. Standar Nasional PAUD ini memuat tentang 3 aspek perkembangan individu sejak lahir hingga usia 6 tahun yakni aspek fisik-motorik, sosioemosional, dan kognitif. Pengembangan kurikulum pada tahun tersebut disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang mana pembelajaran di dalamnya mulai menggunakan pendekatan tematik.
Habis KTSP, terbitlah Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 ini memiliki tiga aspek utama dalam mengevaluasi siswa, yakni aspek pengetahuan, keterampilan, serta sikap dan perilaku. Dalam kurikulum 2013, rancangan pembelajaran bagi anak usia dini didasarkan pada Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA), Kompetensi Inti (KI), Kompetensi Dasar (KD), Indikator Capaian Perkembangan (ICP), dan berbagai program pembelajaran yang terdiri dari program tahunan, semester, mingguan, hingga harian (iya, kurikulum yang-menurut-kebanyakan-guru-terlalu-administratif-ituh~).
Di tengah peralihan Kurikulum 2013 menuju Kurikulum Merdeka (kurikulum terbaru hingga tulisan ini terbit), pemerintah menerbitkan Keputusan Kemendibud RI Nomor 719/P/2020 mengenai Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus. Kurikulum yang berlaku pada masa itu disebut dengan Kurikulum Darurat akibat adanya pandemi Covid-19.
Kurikulum Darurat merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional yang sedang berjalan, dalam artian pemerintah melakukan pengurangan kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran sehingga siswa dapat fokus pada kompetensi esensial dan prasyarat bagi pembelajaran lanjutan di jenjang berikutnya. Kemendikbud juga turut menyediakan berbagai modul pembelajaran yang diharapkan dapat membantu guru maupun siswa untuk belajar secara sinkronus maupun asinkronus.
Di samping menerbitkan Kurikulum Darurat, Kemendikbud juga menyiapkan Kurikulum Merdeka pada tahun 2020. Bagi ranah PAUD, Kurikulum Merdeka memiliki beberapa 2 struktur penting yang hingga saat ini masih terus dikembangkan, antara lain pembelajaran intrakurikuler dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
Pembelajaran intrakurikuler mengacu pada kegiatan belajar yang berpusat pada siswa, memberikan pengalaman secara langsung dan nyata dari lingkungan terdekat siswa, serta guru bertindak sebagai fasilitator. Sedangkan, P5 merupakan kegiatan khusus di luar pembelajaran intrakurikuler yang dimaksudkan untuk memperkuat upaya dalam mencapai perwujudan pelajaran yang memiliki kompetensi global dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Nah, demikianlah perkembangan kurikulum pendidikan bagi anak usia dini di Indonesia dari waktu ke waktu dan akan terus berkembang seiring dengan perubahan yang ada dalam kehidupan ini. Kompasianer, menurut Anda apakah hal paling esensial yang harus dibenahi pada kurikulum di negara kita tercinta?
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengenal Perkembangan Kurikulum Pendidikan bagi Anak Usia Dini di Indonesia", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/afif-auliya-nurani/63b19cd14addee444a71a642/mengenal-perkembangan-kurikulum-pendidikan-bagi-anak-usia-dini-di-indonesia?page=all
Kreator: Afif Auliya Nurani
Pendidikan merupakan salah satu upaya kita untuk menanggulangi kebodohan dan kemiskinan yang terjadi di Negara kita yaitu Indonesia. Yang mana kita ketahui bersama, bawasannya dengan seseorang mengenyam bangku sekolah maka, orang tersebut telah mengetahui berbagai hal yang ada di dunia ini.
Sebenarnya pendidikan itu dapat kita perolah dimana saja dan kapan saja. Oleh karenaitu, kita sebagai manusia hendaknya mau menyadari hal tersebut. Pendidikan sangat berdampak besar bagi pengaruh perkembangan masa depan. Tidak hanya untuk diri sendiri, bahkan dapat pula berpengaruh bagi bangsa dan Negara Repubik Indonesia.Pendidikan itu ada bersifat formal , non formal dan informal.
Adapun contohnya bersifat formal yaitu : TK, SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi . dan pendidikan non formal Yaitu dengan cara mengikuti kursus atau bimbingan belajar dan lain sebaginya.
Bagaimanapun cara kita menempuh pendidikan tersebut, asal kita mau serius dalam menjalaninya maka, sangat berdampak besar bagi masa depan diri sendiri maupun orang lain. Sehingga dengan pendidikan orang akan mampu untuk menata masa depanya dengan bijaksana, dan dapat berfikir lebih kritis dalam memecahkan suatu masalah yang terjadi didalam kehidupannya.
Dengan kita mengerti tentang pendidikan, maka kita akan mampu untuk membantu pemerintah untuk menciptakan suatu lapangan pekerjaan sehingga tidak banyak pengangguran yang ada di Indonesia. begitu banyak hal penting yang didapat dari kita mengetahui makna pentingnya pendidikan tersebut.
Oleh karena itu, hendaknya kita mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan tersebut bagi kelangsungan masa depan kita. dan kita sebagai manusia terpelajar hendaknya mau memahami betul hal tersebut. adapun pengertian , fungsi,dan macam – macam pendidikan itu sendiri.
Sumber ;
Seringkali anak sekolah terpaksa libur dadakan karena banjir yang terjadi di depan gerbang sekolah, ini merupakan masalah yang serius dan memengaruhi proses belajar mengajar. Banjir yang tiba-tiba dan intens dapat menyebabkan kerusakan jalan dan membuat jalan menuju sekolah tidak layak digunakan, sehingga anak didik terpaksa libur.
Hal ini sangat merugikan bagi perkembangan dan pendidikan anak. Mereka kehilangan waktu belajar dan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mereka.
Oleh karena itu, perbaikan dan pengelolaan jalan yang baik sangat penting untuk memastikan anak didik dapat bersekolah dengan nyaman dan tanpa kendala banjir. Untuk sekolah swasta, pihak yayasan harus mengambil tindakan dan memprioritaskan perbaikan jalan dan drainase yang efektif agar anak didik tidak lagi terpaksa libur hanya karena genangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perbaikan jalanan antara lain:
1.Drainase: Drainase yang baik dan efektif sangat penting untuk memastikan air genangan dapat dikelola dengan baik dan jalan tetap kering.
Drainase adalah suatu sistem atau proses untuk mengalirkan air atau air limbah dari suatu daerah yang terkena air hujan atau air limbah untuk mencegah masalah lingkungan seperti banjir atau kerusakan lingkungan. Drainase biasanya terdiri dari jaringan saluran, terowongan, dan sumur resapan yang dirancang untuk memindahkan air dengan cepat dan efisien.
Drainase juga dapat membantu menjaga kualitas air dan meminimalisir kerusakan lingkunan. Drainase merupakan bagian penting dari sistem pengelolaan air dan sangat penting bagi kesejahteraan lingkungan dan masyarakat.
2.Elevasi: Elevasi jalan harus diperbaiki agar jalan tidak mudah tergenang air dan tetap layak digunakan saat banjir.
Elevasi adalah ketinggian suatu titik atau objek terhadap datum referensi tertentu, biasanya permukaan laut. Dalam bidang geografi, elevasi sering digunakan untuk menentukan ketinggian gunung, bukit, atau daerah lainnya. Dalam bidang arsitektur atau konstruksi, elevasi sering digunakan untuk menentukan ketinggian bangunan atau struktur dari tanah atau permukaan jalan.
Elevasi juga dapat digunakan untuk menentukan ketinggian suatu titik dari permukaan air, misalnya dalam survei geologi atau pemetaan air laut. Elevasi dapat ditentukan menggunakan peralatan seperti theodolite, GPS, atau altimeter dan dinyatakan dalam satuan seperti meter atau kaki.
3.Material bahan: Pemilihan bahan material yang tahan air dan kuat akan memastikan bahwa jalan tetap kuat dan tidak mudah rusak saat terkena dampak banjir.
Material yang digunakan untuk perbaikan jalan akan bervariasi tergantung pada kondisi jalan, lingkungan, dan tujuan perbaikan. Seorang insinyur jalan harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti biaya, keandalan, dan daya tahan untuk memilih material yang tepat untuk setiap proyek.
Berikut adalah beberapa bahan material yang biasa digunakan untuk perbaikan jalan:
a. Aspal - Aspal adalah bahan dasar untuk pembuatan lapisan permukaan jalan, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki jalan rusak dan membuat permukaan jalan lebih halus dan licin.
b. Batu bahan - Batu bahan adalah bahan dasar untuk pembuatan lapisan dasar jalan, dan memiliki kekuatan dan stabilitas yang tinggi.
c. Pasir - Pasir digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan jalan aspal dan membantu meningkatkan stabilitas dan kekuatan jalan.
d. Tanah - Tanah dapat digunakan sebagai bahan dasar untuk jalan tanah atau jalan rumput, dan memiliki kemampuan untuk memperbaiki masalah tanah yang tidak stabil.
e. Agregat - Agregat adalah bahan material yang terdiri dari batu, kerikil, atau pasir, dan digunakan untuk memperkuat lapisan permukaan jalan dan membantu mengatasi masalah jalan rusak.
f. Binder - Binder adalah bahan yang digunakan untuk mengikat bahan-bahan seperti pasir, batu, atau agregat, dan membantu memperkuat jalan.
g. Beton - Beton dapat digunakan untuk memperbaiki jalan beton rusak atau membuat jalan baru.
h. Aspal Cair - Aspal cair digunakan untuk memperbaiki jalan rusak atau membuat jalan baru dan memiliki kemampuan untuk mengikat bahan-bahan seperti pasir dan batu.
4.Perencanaan: Perencanaan yang baik dan matang akan memastikan bahwa solusi yang diterapkan efektif dan sesuai dengan kebutuhan.
Perencanaan adalah proses menentukan tujuan, mengidentifikasi alternatif solusi, dan membuat pilihan untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Perencanaan diterapkan dalam berbagai bidang, seperti bisnis, manajemen, teknologi, pemerintahan, dan lain-lain.
Beberapa hal penting dalam perencanaan meliputi:
a. Penentuan Tujuan: Menentukan tujuan dan sasaran yang ingin dicapai melalui perencanaan.
b. Analisis situasi: Mengidentifikasi masalah atau kendala yang mungkin muncul dan memahami konteks lingkunan.
c. Alternatif solusi: Mengembangkan berbagai alternatif solusi untuk memecahkan masalah atau mencapai tujuan.
d. Evaluasi alternatif: Menilai alternatif solusi dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti biaya, efektivitas, dan dampak lingkunan.
e. Pembuatan keputusan: Membuat pilihan terbaik dari alternatif solusi yang tersedia.
f. Pelaksanaan: Menerapkan solusi yang dipilih dan melaksanakan rencana.
g. Monitoring dan evaluasi: Mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan rencana untuk memastikan bahwa tujuan tercapai dan membuat perubahan jika diperlukan.
Perencanaan yang baik harus melibatkan berbagai pihak terkait dan mempertimbangkan faktor-faktor seperti biaya, efektivitas, dan dampak lingkunan. Perencanaan juga harus fleksibel dan dapat diperbarui sesuai dengan perubahan situasi atau kondisi.
5. Monitoring dan evaluasi: Monitoring dan evaluasi secara berkala akan memastikan bahwa perbaikan jalan tetap dalam kondisi baik dan sesuai dengan harapan.
Monitoring dan evaluasi adalah proses untuk mengawasi dan mengevaluasi pelaksanaan suatu rencana atau program untuk memastikan bahwa tujuan tercapai dan membuat perubahan jika diperlukan. Monitoring dan evaluasi membantu dalam memperoleh umpan balik yang berguna dan memastikan bahwa rencana atau program berjalan sesuai dengan rencana.
Beberapa hal penting dalam monitoring dan evaluasi meliputi:
a. Pemantauan pelaksanaan: Mengawasi dan memantau pelaksanaan rencana atau program untuk memastikan bahwa pelaksanaan sesuai dengan rencana.
b. Pengumpulan data: Mengumpulkan data dan informasi untuk membantu dalam mengevaluasi pelaksanaan rencana atau program.
c. Analisis data: Menganalisis data dan informasi yang dikumpulkan untuk menentukan apakah pelaksanaan rencana atau program sesuai dengan tujuan.
d. Penilaian hasil: Menilai hasil pelaksanaan rencana atau program untuk memastikan bahwa tujuan tercapai.
e. Umpan balik: Memberikan umpan balik kepada pihak yang terkait mengenai hasil dari monitoring dan evaluasi.
f. Rekomendasi perbaikan: Membuat rekomendasi perbaikan jika diperlukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan rencana atau program lebih efektif dan efisien.
Monitoring dan evaluasi harus dilakukan secara teratur dan sistematis untuk memastikan bahwa rencana atau program berjalan sesuai dengan tujuan. Monitoring dan evaluasi juga harus melibatkan berbagai pihak terkait, seperti pelaksana, pemantau, dan pembuat kebijakan, untuk memastikan bahwa umpan balik yang diterima akurat dan berguna.
Peran masyarakat juga sangat penting dalam hal ini. Masyarakat dapat berpartisipasi dalam program pengelolaan air dan pencegahan banjir, seperti pembangunan parit, pemeliharaan sumber air, dan lain sebagainya.
Dengan bekerja sama dan memprioritaskan perbaikan dan pengelolaan jalan yang baik, maka dengan ini kita dapat memastikan anak didik dapat belajar dan berkembang dengan optimal tanpa kendala banjir.
Kak Tii (TKIT QAI)
Memahami Potensi Anak Usia Dini
Tidak ada anak yang bodoh, setiap anak adalah individu yang unik, memiliki potensi luar biasa, dan mampu berkembang secara luar biasa.
Masa-masa awal kehidupan merupakan tahap kritis dalam pembentukan kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan dasar anak.
Penting bagi kita untuk menyadari betapa pentingnya memberikan pengakuan, dukungan, dan stimulasi yang tepat agar anak-anak usia dini dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Anak usia dini adalah seperti spons yang siap menyerap segala hal di sekitarnya, mereka memiliki daya serap yang tinggi dan kemampuan untuk menangkap informasi dengan cepat.
Oleh karena itu, peran orang tua, guru, dan lingkungan sekitar sangatlah penting.
Melalui interaksi positif, pujian, dan dorongan, anak-anak dapat membangun rasa percaya diri dan keberanian untuk mengeksplorasi dunia di sekitar mereka.
Penting untuk diingat bahwa setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, ada anak yang mengunggulkan kecerdasan logis-matematis, sementara yang lain lebih kuat dalam kecerdasan linguistik, kinestetik, interpersonal, intra personal, artistik, atau bahkan kecerdasan alam.
"Tidak Ada Anak Bodoh" mengajarkan kita untuk melihat keunikan ini sebagai potensi, bukan keterbatasan.
Mendukung perkembangan multiple-intelligence pada anak usia dini akan memungkinkan mereka menemukan dan mengasah bakat alaminya dengan baik.
Bermain adalah sarana utama bagi anak usia dini untuk belajar.
Saat bermain, mereka bereksperimen, berimajinasi, dan menemukan dunia di sekitar mereka, anak-anak belajar melalui tangan mereka, dengan berinteraksi langsung dengan objek dan lingkungan.
Mengizinkan mereka bermain dengan bebas dan kreatif adalah bagian penting dari pendekatan. Ini memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan sosial, kognitif, dan motorik yang akan mempersiapkan mereka untuk tantangan yang lebih besar di masa depan.
Menerapkan pendekatan holistik dalam mendukung anak usia dini juga merupakan elemen kunci. Mengintegrasikan pendekatan emosional, intelektual, fisik, dan sosial dalam pembelajaran mereka akan membantu mereka tumbuh secara menyeluruh dan seimbang.
Selain itu, kita perlu menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana setiap anak merasa diterima dan dihargai tanpa pandang bulu.
Selain peran lingkungan dan pendidikan, penting untuk mengakui bahwa setiap anak memiliki ritme dan pola perkembangan yang berbeda.
Beberapa anak mungkin mengalami kemajuan pesat dalam beberapa area sementara mereka mungkin membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkembang di area lain.
Menghindari menilai anak hanya berdasarkan kemajuan akademis saja adalah bagian integral tidak ada anak bodoh. Sebaliknya, kita perlu mengenali dan memahami kemajuan individual mereka, menghargai setiap langkah kecil yang diambil menuju perkembangan penuh potensi mereka.
Dalam konklusi, ini mengajarkan kita untuk memperlakukan setiap anak usia dini sebagai individu yang berharga, dengan potensi tanpa batas.
Dukungan, stimulasi, dan pengakuan terhadap kecerdasan mereka adalah investasi berharga dalam masa depan mereka. Dengan memberikan cinta, kesempatan, dan keyakinan pada anak-anak, kita dapat membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri, percaya diri, dan sukses di berbagai bidang kehidupan.
Jadi, sekali lagi "Tidak ada anak bodoh" melainkan mereka hanya tidak memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang dengan baik.
TK-IT Qurratu A'yun Al-Islami
https://t.me/kaktii_ta/1932