ASAM JAWA
(Tamarindus indica)
(Tamarindus indica)
Tanaman asam jawa.
Sumber : dokumen pribadi
Oleh Desy Rahmawati
Kingdom: Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae
Genus : Tamarindus
Spesies : Tamarindus indica
Lokal : Asam Jawa
Tanaman asam jawa.
Sumber : dokumen pribadi
Asam jawa (Tamarindus indica) merupakan tumbuhan keras berumur panjang yang dapat hingga umur hingga 200 tahun. Tinggi pohon asam jawa dapat mencapai 30 meter. Akar pohon asam jawa yang dalam, juga membuat pohon ini sangat tahan. Asam jawa (Tamarindus indica) berperawakan besar yang selalu hijau. Buahnya rasanya asam dan sering digunakan sebagi bumbu masakan atau minuman. Panen dilakukan melalui 2 tingkat, yaitu pada tingkat buah masih hijau atau setengah mateng (malasebo) dan pada tingkat buah matang penuh. Di Jawa Timur buah masak pada bulan Juni-September.
Meskipun disebut dengan nama asam Jawa, pohon asam Jawa (Tamarindus indica) aslinya berasal dari benua Afrika, tetapi juga tumbuh di daerah tropis lain. Orang-orang India mengembangkannya karena dianggap penuh manfaat. Nama asam Jawa sendiri merupakan sebutan dari orang-orang Melayu karena buah asam ini banyak digunakan sebagai bumbu masakan Jawa.
Akar tanaman asam jawa.
Sumber: https://www.facebook.com/572284892962105/posts/proses-cangkok-akar-asam-jawa/992891614234762/
Akar dari tanaman Tamarindus indica ini termasuk ke dalam golongan akar tunggang (radix primaria) yang menembus ke dalam tanah. Biasanya pada akar terdapat bagian-bagian seperti : leher akar (collum), ujung akar (apex radicis), batang akar (corpus rasicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla radicalis), rambut- rambut akar atau bulu-bulu akar (pilus radicalis), dan tadung akar (cayptra).
Akar T. indica terdapat 3 lapisan penyusun utamanya, yaitu:
a. Epidermis
Biasanya ditemukan derivatnya yaitu: rambut akar yang berfungsi untuk memburu tanaman mencari air dan mineral. Selain itu jika sudah tua akan digantikan oleh peridermis berupa jaringan gabus. Kadang juga berupe hipodermis sebagai derivatnya.
b. Korteks
Terdapat beberapa bagian yaitu eksodermis sebagai batas luar, parenkim korteks sebagai jaringan penguat dan endodemis sebagai batas tendalam. Endodermis merupakan selapis sel dengan penebalan pita Caspary yang di dalamnya terdapat sel-sel peresap.
c. Stele
Terdapat selapis sel parenkimuis yaitu perisikel dan berkas pengangkut. Pada tanaman T. indica ini jaringan xilem berkembang hingga ke tengah pusin lingkarun akar, sehingga sudah terdapat empahir di bagian tengah pusat lingkaran akar.
Batang tanaman asam jawa.
Sumber : dokumen pribadi
Daun pada tanaman Tamarindus indica termasuk daun majemuk, yang lebih spesifik lagi merupakan daun majemuk menyirip genap dan didukung oleh daun penumpu yang kecil. Daun penumpu cepat gugur. Panjang tangkai dan rakis daun 5 –16 cm, anak daun 10 – 20 pasang, jorong, panjang 8 – 30 cm dan lebar 3 – 10 mm. Pangkal helaian membundar dengan ujung yang juga membundar atau sedikit bertusuk (Silalahi, 2020).
Dalam tanaman Tamarindus indica ini termasuk ke dalam daun bertangkai yang memiliki bagian tangkai dan helaian daun saja, yaitu
1. Tangkai daun (petioulus)
Tangkai daun T. indica memiliki penampang melintang yang bulat dan kecil. Tangkainya juga memiliki panjang cm dan berwarna hijau.
2. Helaian daun (lamina)
a. Bangun (bentuk) daun (Circumscripto )
Memiliki bagian daun terlebar ditengah-tengah helaian daun, yaitu bangun memanjang (oblongus). T. indica memiliki panjang daun sampai 15 cm, lebar ya 0,5 cm.
b. Ujung Daun (Basi Folii)
Memiliki ujung daun yang tumpul atau obtusus.
c. Pangkal daun
Termasuk ke dalam jenis pangkal daun membulat (rotundatus)
d. Susunan tulang-tulang daun (Nervatio atau Vernatio)
Memiliki susunan pertulangan daun yang menyirip (penninervis), jadi biasanya disebut daun menyirip majemuk.
e. Tepi daun (Margo Folii)
Termasuk ke dalam tepi daun yang rata (integer).
f. Daging daun (Intervenium)
Memiliki daging daun yang tipis dan lunak
g. Warna daun
Memiliki warna daun hijau
h. Permukaan daun
Permukaan daun T. indica halus
Struktur anatomi daun T. indica terdiri dari 4 lapisan besar yang menyusunnya, yaitu lapisan epidermis atas, lapisan mesofil, lapisan pengangkut, dan lapisan epidermis bawah. Pada tanaman Tamarindus indica ini yang khusus ada pada daunnya mengandung flavonoid yang mengandung metabolit sekunder yang berkhasiat menjadi anti radang. Daunnya kaya akan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan diteliti dapat menurunkan kolesterol. Tingginya kadar flavonoid dalam ekstrak daun asam jawa dipengaruhi oleh proses ekstraksi (Fardhani, 2014).
Daun tanaman asam jawa.
Sumber : dokumen pribadi
Batang Tamarindus indica biasanya keras dan kuat. Pohon berbentuk bulat (teres) dengan banyak lentisel di permukaannya. Tumbuhan menggunakan alat pernapasan yang disebut lentisel, yang memiliki lubang di bagian batangnya. Arah pertumbuhan cabang hanya sedikit serong ke atas di pangkalnya tetapi kemudian hampir sejajar dengan batang pokok karena sudut yang sangat kecil antara batang dan cabang.
Kulit batang T. indica bersisik, kasar, dan memiliki warna coklat keabu-abuan. Kayu pada pohon ini keras, padat, dan berwarna pucat keputihan (Istiqomah, 2020). Batang T. indica mempunyai 4 lapisan yang menyusunnya, yaitu:
a. Epidermis
Dimana jika sudah tua akan digantikan oleh jaringan gabus atau peridermis.
b. Korteks
Lapisan ini merupakan lapisan pembatas antara lapisan epidermis dan stele atau berkas pengangkut. Lapisan ini mengandung jaringan parenkim yang banyak ditemukan variasi selnya baik sebagai parenkim penimbun, sel batu ataupun parenkim kelenjar. Di daerah ini juga banyak terdapat benda-benda ergastik seperti minyak atau lendir
c. Stele
Terdiri dari berkas pengangkut yaitu xilem dan floem. Xilem pada tanaman ini tersusun dari trakea, trakeida, serabut xilem dan parenkim kayu. Sedangkan floem tersusun dari unsur-unsur sel tapis, sel pengiring, parenkim floem dan serabut sklerenkim. Dimana berkas pengangkut tersebut dikelilingi oleh jaringan parenkim dengan lapisan kambium diantamaya atau eustele. Pada tanaman in termasuk tanaman berkayu yaitu jaringan korteks dan floem mudah untuk dipisahkan dari kayu batang sebagai kulit batang. Bagian kayu biasanya terdiri dari jaringan xilem dan empulur batang. Kayu Tamarindus indica keras, herwama kuning keputihan. Parenkim bersayap dan lingkaran tumbuh dibentuk oleh parenkim pita konsentris dan adanya lapisan yang tidak berpembuluh
d. Empulur dan jari-jari empulur
Termasuk ke dalam bagian kayu batang yang biasanya terdapat di bagian tengah.
Bunga tanaman asam jawa.
Sumber : https://steemitimages.com/640x0/https://img.esteem.ws/3lhhhzg2n5.jpg
Bunga Tamarindus indica termasuk bunga lengkap karena memiliki daun kelopak, daun mahkota, benang sari dan putik sebagai alat kelamin, dengan demikian juga disebut sebagai bunga hermaphrodite karena memiliki 2 alat kelamin bunga yaitu benang sari sebagai alat kelamin jantan dan putik sebagai alat kelamin betina. Bunga T. indica ini berukuran kecil. Selain itu bersimetri banyak (polysimetris), memiliki kelopak yang termasuk ke dalam polysepalus atau antara kelopak yang satu dengan yang lainnya saling lepas.
Pada mahkotanya saling lepas atau disebut polypetalus dengan warna kekuning-kuningan dan coretan merah muda, berjumlah 5–10 dalam tangkai sepanjang 3–5 cm dengan umumnya bermahkota kecil. Benang sarinya duduk di atas kelopak yang dinamakan Calyciflorae. Putiknya termasuk putik tunggal (simplex).
Bunga tersusun dalam tandan yang renggang, di ketiak daun atau ujung ranting, dengan panjang rangkaian perbungaan hingga 22 cm. Bunga dengan simetri tunggal, kelopak berjumlah 4, jorong, panjang 8 – 12 mm, mahkota 3 helai dengan ukuran yang berbeda. Segmen mahkota bundar telur, panjang 10 – 13 dan lebar 2 – 6 mm. Benang sari kurang dari 10 dan dengan kepala sari fertil berjumlah 3 dan steril berjumlah 4 atau 5. Bakal buah menumpang dan dengan bakal biji berjumlah antara 8 – 14 (Silalahi, 2020).
Tumbuhan asam Jawa termasuk tumbuhan angiospremae. Angiospermae adalah tumbuhan berbiji tertutup, tumbuhan berbunga, atau Magnoliophyta adalah kelompok terbesar tumbuhan yang hidup di daratan. Namanya diambil dari cirinya yang paling khas, yaitu menghasilkan organ reproduksi dalam bentuk bunga. Memiliki ciri bakal biji berada dalam bakal buah (ovarium). Bakal buah adalah putik yang membesar yang tersusun oleh daun buah. Pada tumbuhan angiospermae juga memiliki ciri kayu yang keras dengan daun yang lebar dan tipis. Dan ciri tumbuhan Angiospermae ada pada asam Jawa
Kulit buah (eksokarp) mengeras berwarna kecoklatan atau abu-abu bersisik, dengan urat-urat yang mengeras dan liat serupa benang. Daging buah putih kehijauan ketika muda, merah kecoklatan hingga hitam ketika sangat masak, asam manis dan melengket. Biji kecoklatan, mengkilap dan keras dan agak persegi.Buah bertipe polong yang tidak pecah. Polong berbentuk lonjong dengan Panjang 5 – 15 cm dan lebar 1 – 3 cm. Buah bertipe polong yang tidak pecah. Polong berbentuk lonjong dengan panjang 5 – 15 cm dan lebar 1 – 3 cm (Silalahi, 2020). Biji per polong dengan jumlah hingga 10, berbentuk bundar telur sungsang-membundar dan memipih. Panjang biji antara 11 – 17 mm dan lebar 10 – 12 mm (Silalahi dan Mustaqim 2020)
Tamarindus indica adalah spesies pohon berbuah. Setiap bagian dari tumbuhan ini, baik dari akar hingga daunnya, dapat digunakan untuk berbagai macam tujuan (Bhadoriya dalam Putri, 2014). Masyarakat percaya bahwa Tamarindus indica dapat bermanfaat dalam bidang kesehatan seperti menyembuhkan konstipasi, menurunkan demam, diabetes, mual pada kehamilan, pelangsing tubuh, penyakit asma, dan juga pengobatan untuk paru-paru (Candra, 2014).
Pohon asam mempunyai banyak khasiat dan manfaat yang membantu kehidupan manusia. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah buah asam. Daging buah asam biasanya dibuat sirup atau manisan. Asam jawa berkhasiat sebagai obat batuk, sariawan, jerawat, bisul, dan borok. Sifat kandungan kimia daging buah, daun, dan batang pohon asam mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Hutapea dalam Agus, 2018). Kandungan yang bisa membantu dalam penyembuhan luka yang memiliki aktivitas antiseptik kuat sehingga efektif mencegah timbulnya infeksi. Selain itu juga berpotensi sebagai antioksidan dan, antivirus, antikarsinogenik, anti radang dan anti-inflamasi. Daun muda berguna sebagai obat luar untuk borok, encok, bisul, eczema atau eksim.
Habitat Asam Jawa termasuk tumbuhan tropis. Pohon ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian hingga 1500 m dpl. Dapat tumbuh pada tanah berpasir atau tanah liat, khususnya pada wilayah yang musim keringnya jelas dan cukup panjang. Tanaman asam Jawa merupakan jenis tanaman tepi jalan yang lazim dijumpai di beberapa kota di Indonesia seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur termasuk Madura, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan dan Bali (Utami, 2016).
Tamarindus indica, atau tamarind dalam bahasa Inggris Sebagian besar literatur saat ini mengatakan bahwa tanaman ini berasal dari Afrika Barat dan kemudian pergi ke India. Ini dibuktikan dengan penemuan arang tanaman asam di Narhan, di antara wilayah sungai Gangga (Blench dalam Utami, 2016).
Agus, C., Adriyanti, D. T., Syahbudin, A., & Basori, A. F. (2018). Tanaman Langka Indonesia: di KP4 UGM. UGM PRESS.
Candra, R.H Putri. 2014. Potensi dan Pemanfaatan Tamarindus indica Dalam Berbagai Terapi. Jurnal Ilmiah Kedokteran, Vol. 3(2): 40-54.
Fardhani, H. L. (2014). Pengaruh Metode Ekstraksi Secara Infundasi dan Maserasi Daun Asam Jawa (Tamarindus indica L.) Terhadap Kadar Flavonoid Total (Doctoral dissertation, Universitas Gadjah Mada).
Gambar akar asam jawa : https://www.facebook.com/572284892962105/posts/proses-cangkok-akar-asam-jawa/992891614234762/ diakses pada 15 Oktober 2023 pukul 16.54 WIB.
Gambar buah asam jawa: https://www.alodokter.com/manfaat-asam-jawa-tidak-seasam-rasanya diakses pada 15 Oktober 2023 pukul 16.55 WIB.
Gambar bunga asam jawa: https://steemitimages.com/640x0/https://img.esteem.ws/3lhhhzg2n5.jpg diakses pada 15 Oktober 2023 pukul 16.55 WIB.
Gambar tanaman asam jawa : https://images.app.goo.gl/Su5NeuUhLrbMghxh9 diakses pada 15 Oktober 2023 pukul 15.54 WIB.
Istiqomah, A. 2020. Etnobotani tumbuhan obat di Desa Ataman Kecamatan Wonorejo Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Disertasi. UIN Sunan Ampel Surabaya.
Putri, C. R. H. (2014). Potensi dan pemanfaatan Tamarindus indica dalam berbagai terapi. Jurnal Ilmiah Kedokteran, 3(2), 40-54.
Silalahi, M. (2020). Bioaktivitas Asam Jawa (Tamarindus Indica) dan Pemanfaatannya. Florea: Jurnal Biologi dan Pembelajarannya, 7(2), 85-91.
Silalahi, M. dan Mustaqim, W.A. 2020. Tumbuhan berbiji di Jakarta Jilid 1: 100 jenis-jenis pohon terpilih. UKI Press, Jakarta.
Utami, N. W. B., & Krisnandika, A. A. K. (2016). Pendekatan Fisik dan Ekologis Penggunaan Pohon Asam Jawa Sebagai Tanaman Tepi Jalan di Sekeliling Trotoar Lapangan Puputan Badung, Denpasar. E-Jurnal Arsitektur Lansekap, 2(2), 177-186.
Jurusan Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Ponorogo
Jalan Pramuka No. 156, Ronowijayan, Siman, Tonatan, Kec. Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur 63474, Indonesia. (0352) 481277
Email : ipa@iainponorogo.ac.id