Hiduplah Allah Tritunggal Mahakudus dalam Hati Semua Manusia
I. Pendahuluan
Pendirian Seminari Tinggi SVD Malang merupakan sebuah tanggapan terhadap kebutuhan akan tempat untuk mendidik para calon misionaris Serikat Sabda Allah Provinsi Jawa setelah dibukanya Novisiat SVD di Batu.
Novis angkatan pertama SVD Jawa mengawali masa novisiat mereka di biara SSpS St. Maria Batu pada tanggal 25 Agustus 1979.Mereka berjumlah 6 orang. Enam minggu kemudian,tepatnya tanggal 29 September 1979,mereka berpindah ke Novisiat SVD di Jalan Hasanudin 42 Batu. Di tempat yang baru itu 2orang Novis baru bergabung, sehingga jumlah mereka menjadi 8 orang yang terdiri dari 6 calon frater dan 2 calon bruder. Pembina pertama mereka adalah P. Anton Bakker, SVD dengan dibantu oleh Sr. Fransiska, SSpS dan Sr. Herminigildis, SSpS. Pembukaan rumah Novisiat ini mendapat berkat istimewa dari P. Amiro Werle, SVD, yang saat itu menjadi Asisten/Wakil Jendral SVD.
Setelah menyelesaikan masa Novisiat mereka, pada tanggal 17 Juli 1981, para novis mengikrarkan kaul pertama mereka dalam Serikat Sabda Allaah. Mereka yang berkaul perdana ada tujuh orang. Setelah itu dua orang bruder melanjutkan masa Yuniorat mereka di Ende-Flores, sedang lima frater melanjutkan pendidikan Filsafat Teologi mereka di Malang. Saat itu mulai 'sejarah mencatat' bagaimana mereka berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain sampai mereka mendapatkan 'labuan'mereka di Jl.Terusan Rajabasa 6:
II. JI. Puncak No. 1 (Ijen) - Malang (30Juni 1981-30 Juni 1982)
Berhubung pada saat itu Provinsi SVD Jawa belum memiliki sebuah gedung Seminari Tinggi atau rumah khusus bagi para frater yang belajar di STFT, maka mereka mendapat sebuah rumah kontrakan di jalan Puncak 1, tidak jauh dari Gereja Katedral Malang. Rumah itu dikontrak untuk satu tahun sejak 30 Juni 1981.Secara geografis rumah ini letaknya sangat strategis karena dekat dengan Gereja dan dengan tempat kuliah yang saat itu berada di Jl. Talang. Mereka hidup dan tinggal di situ tanpa prefek. Mereka harus mandiri. Mereka mencoba dan berusaha sekuat tenaga mengurus hidup bersama: doa bersama, rekreasi, makan bersama dll. Mereka hanya ditemani oleh para pater SVD yang kebetulan singgah atau beberapa waktu datang menemani mereka, seperti P. Anton Bakker, SVD, P. Frans Lamuri, SVD (imam baru kala itu), P. Jan Kersten, SVD dan P. Cornelis van Ierssel, SVD. Di tempat ini mereka juga melakukan praktek pastoral seperti memberi renungan di lingkungan, dalam kelompok doa kharismatik, membantu membagikan komuni di Gereja Ijen, membawakan komuni untuk orang sakit dll. Akhirnya setelah satu tahun, masa kontrak rumah itu habis. Sementara itu belum juga bisa dimulai pembangunan gedung Seminari Tinggi. Memperpanjang kontrak di Jl. Puncak tidak mungkin karena rumah itu kecil dan sesudah 18 Juli 1982 muncul wajah-wajah baru, mereka (angkatan II) yang baru berkaul perdana bergabung dengan angkatan I. Akhirnya, karena jumlah yang semakin banyak maka diputuskan untuk menumpang di Biara Frateran di Celaket 21 Malang sejak 30 Juni 1982.
III. JI. J.A. Suprapto No.21 Malang (30 Juni 1982-30 Juni1983)
Di Biara Frater-frater BHK ini para frater didampingi oleh P. Cornelis van Ierssel, SVD. Beliau adalah seorang pendamping yang bersemangat dalam menempa para frater. Meski dalam keadaan kurang sehat, beliau tetap memberikan masukan-masukan yang berguna untuk hidup panggilan dengan konferensi-konferensi. Di biara itu mereka mengikuti segala aturan harian biara yang ada. Namun kesempatan untuk berpastoral tetap mereka dapatkan, seperti membantu kegiatan mudika paroki, memberi renungan-renungan dalam kelompok doa, dan mengajar agama di sekolah-sekolah. Para frater dibekali sepeda pancal sebagai sarana transportasi ke tempat kuliah mereka di Jl. Talang dan melakukan kegiatan pastoral lainnya. Pada bulan Maret 1983 datanglah P. Eduard Sangsun, SVD untuk menggantikan P. Cornelis van Ierssel sebagai pendamping para frater. Sementara mereka tinggal di situ, rumah SVD yang ada di Jl.Terusan Rajabasa sudah mulai dipersiapkan,
Setelah setahun 'menumpang' di biara Frater-frater BHK, tiba saatnya untuk membongkar perkemahan mereka untuk melanjutkan perjalanan mereka 'menuju tanah terjanji'. Mengapa? Salah satu alasannya adalah karena tuan rumah telah melahirkan putra-putra yang baru, yakni para novis mereka. Di samping itu juga didorong oleh keinginan untuk menyelenggarakan irama hidup dan pembinaan khas SVD serta mengembangkan Spiritualitas SVD secara mandiri. Akhirnya didapatilah sebuah kontrakan baru di Jl. Mega Mendung No. 21 Malang. Mereka menempati rumah kontrakan baru itu mulai tanggal 30 Juni 1983.
IV. JI Mega Mendung No. 21 Malang (30Juni 1983-19 Desember 1983)
Ketika tinggal di Jl. Mega Mendung 21, komunitas baru terbentuk dengan tambahan 5 orang yang baru saja berkaul perdana (Angkatan III - P. YB Isdaryanto dkk.). Dengan demikian komunitas ini beranggotakan 13 orang di bawah bimbingan P. Eduardus Sangsun, SVD. Mereka mulai mandiri dalam mengatur kehidupan spiritualitas SVD sehingga Salve dan doa-doa khas SVD mulai dilakukan di tempat ini. P. Raymundus Sudhiarsa, SVD, angkatan I, mencatat pengalaman mereka dalam "Warta Wacana" Edisi Perdana 1985: “Sudah barang tentu Mega Mendung 21 memberikan pengalaman yang unik pula yang tidak dialami di tempat-tempat persinggahan yang lain. Selama kurang lebih dua bulan pertama kami mandi di sungai, campur baur dengan penduduk setempat. Kalau mandi harus pasang radar; soalnya waahh!! Habis di rumah enggak ada air! Penerangannya? Pakai lampu gas. Eh, listrik belum masuk kok! Bagaimana pendapat Anda? Asyiik enggak? Meskipun susah payah tidak sedikit, kami toh tidak mengeluh. Memang banyak orang yang "mengejek" kami. Yah, mau apa lagi. Misionaris memang harus bisa terima apa yang ada. Ini pun bagi kami suatu pengalaman yang tiada duanya. Melihat situasi kami ini, adakah orang yang bersimpati? Eh, "tak perlu sedu sedan itu!", kalau boleh pinjam istilah Chairil Anwar".
V. Seminari Tinggi SVD, Jl. Terusan Rajabasa 6 Malang (19 Desember 1983-sekarang)
Sementara para frater angkatan I-III bergulat dengan keterbatasan yang ada, pembangunan Seminari Tinggi “yang sesungguhnya” di Jl. Terusan Rajabasa 6 dalam proses penyelesaian. Dan akhirnya sejak 19 Desember 1983 mereka mulai menempati gedung baru yang ada di Jl. Terusan Rajabasa 6 Malang.
Seminari Tinggi ini diberi nama “Surya Wacana" oleh P. Pankratius Mariatma, SVD yang saat itu menjadi Provinsial SVD Jawa. Secara etimologis kata “wacana” berarti sabda dan “surya" berarti sinar atau matahari.
Bangunan yang ada pada awal seminari adalah Unit I, kamar makan dan Unit patres. Kalau dilihat dari segi bangunannya, gedung ini dibuat terpisah sama lain dan dikonsep oleh P. Pankratius Mariatma, SVD. Dengan kelakar beliau menerangkan bahwa kalau bangunannya terpisah nanti menjualnya jadi lebih mudah. Entah betul atau tidak, itulah gambaran mengenai bangunan Seminari Tinggi SVD Surya Wacana yang memang terpisah-pisah.
Dalam perkembangan berikutnya tembok Seminari ditinggikan dan dimulai pengembangan dan pembangunan Unit II, Unit III serta ruang laboratorium bahasa. Demikian juga mulai bertambah para Pembina di Seminari. Saat awal bangunan baru P. Eduardus Sangsun, SVD sebagai prefek dibantu oleh Br. Redemptus Kedang, SVD sebagai ekonom rumah sekaligus mengurus rumah tangga. P.Eduardus Sangsun, SVD mendampingi para frater sampai beliau terpilih sebagai Uskup Ruteng pada tanggal 15 Januari 1985. Setelah itu berturut-turut yang menjadi prefek di Seminari adalah P. Yohanes Jawa, SVD, lalu P. Alex Dato, SVD, P. Raymundus I Made Sudhiarsa, SVD, P. Yohanes Bosco Isdaryanto, SVD, P. Daniel Moa, SVD dengan tim prefek bersama Br. Yohanes Suyanto, SVD dan P. Stefanus Kumoro, SVD. Tercatat pula di masa lalu beberapa konfrater yang pernah menjadi Tim Pembina di Seminari Tinggi antara lain P. Sony Keraf, SVD, P. Damianus Weru, SVD, P. Peter Sarbini, SVD, P. Anton Rosari, SVD, P. Stefanus Kumoro Aji, SVD, P. Venantius Supriyono, SVD, P. Markus Situmorang, SVD. Demikian juga yang menjadi ekonom rumah seperti Br. Lukas I Ketut Sumiarsa, SVD dan Br. Yonas Tukan, SVD, Br. Yohanes Suyanto, SVD (sekaligus menjadi anggota tim prefek). Dan sejak tahun 2023 tim prefek Seminari Tinggi terdiri dari P. Agustinus I Gede Ardi Kurniawan, SVD sebagai koordinator dan dibantu oleh Br. Yosep Pai Himang, SVD (sebagai Prefek II) dan P. Kristo Bala, SVD (sebagai Prefek III). P. Daniel Moa, SVD diangkat menjadi Spiritual Director.
Rektor Seminari pada masa awal berdirinya Seminari Tinggi adalah P. Sylvester Pajak, SVD. Beliau juga sekaligus menjadi Magister Novisiat SVD dan tinggal di Batu. Rektor pertama yang tinggal di Seminari Tinggi “Surya Wacana” adalah P. Willy Lehmann, SVD. Setelah itu Rektor Seminari Tinggi berturut-turut adalah P. Yohanes Perason, SVD, P.Willy Lehmann, SVD (dipilih kembali), P. Paul Klein, SVD, P. Felix Kadek Sunartha, SVD, P. YB Isdaryanto, SVD, P. Agung Suhartana, SVD, P. Raymundus I Made Sudhiarsa, SVD dan saat ini P. Yohanes I Wayan Marianta, SVD.