Susastra
Karya sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai sarananya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi.
Karya sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai sarananya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi.
Aku tak lagi memiliki Hak
Hati kecil yang mulai terasa sesak
Gerak terbatas dalam bertindak
Arogansi buatku tak bijak
Situasi semakin mendesak
"Jangan dulu Beranjak"
Aku masih mampu memberikan gelak
Meski hati terkoyak
Tidak masalah kembali menapak
Mengumpulkan Niat yang terlanjur berserak
Asalkan kau Jangan dulu Beranjak.
Aku ingin menjadi Puisi
Jangan tanya kenapa, aku akan menjelaskan nya.
Aku ingin menjadi Puisi
Yang membuat mu jatuh hati ketika Membaca nya
Karena aku bagai Rima yang membuat mu jatuh cinta.
Aku ingin menjadi Puisi
Yang tidak membuat mu bosan membaca nya
Meski berulang ulang, dirimu akan jatuh lebih dalam
Jatuh lebih ke dalam Makna yang sudah urai dalam Puisi tentang mu
Sudah aku katakan!
Aku ingin menjadi Puisi
Sebab apa, hanya dengan puisi aku berani mengungkapkan nya.
Kamu bisa membacanya kapanpun kamu mau,
Menerjemahkannya sesukamu..
Atau bahkan kamu bisa menghapusnya dengan tinta biru yang kau simpan dalam laci masa lalu..
Karena yang aku percaya, beginilah bagaimana cintaku bekerja..
Apa yang aku tulis, dan apa yang kamu baca..
Adalah dua hal yang berbeda..
Memang benar,
Mencintai seseorang itu sama aja memberi kesempatan padanya untuk menyakitimu,
Dan kamu tidak pernah menyianyiakan kesempatan itu.
Tak apa, aku terima..
Duka terbuat dari air mata yang diusir dari kediamannya.
Seperti mata yang tenang menunggu sesuatu yang seharusnya pulang.
Akan sesak dadamu jika yang datang hanyalah aku sebagai Kenangan.
Tak bisakah kita berhenti sejenak, mencoba menyadari Rasa yang mungkin tak tereja oleh Mata.
Sang Warsa, kian perkasa yang leluasa berkuasa.
Merekayasa Metamorfosa, semasa ada ia bernuansa Romansa.
Sang Warsa, bersikeras bergegas. Beri bias, melepas cemas yang membekas.
Merampas identitas dengan tangkas.
Rusak batas begitu antusias.
Sang Warsa, punya daya magnetis menarik kita dalam cerita realistis saling menjalin simbiosis begitu realistis nan eksotis.
Begitu harmonis alur sinopsis. Sisi romantis dibangun dalam garis manis yang sudah terlukis.
Biar aku tulis kesedihan ku hari ini.
Diam dan baca lah.
Tak perlu kau mengerti, aku tak meminta nya.
Lari dari Lara
Belakangan, aku ingin cari cara.
Bagaimana Lari dari Lara.
Sebabnya, aku tak lagi Selera.
Untuk menikmati kisah Asmara.
Menurut mu ini pertunjukkan Opera?
Awalnya aku anggap kau sebagai Juara.
Memberikan semua hal Mesra.
Nyata nya kau hanya Sandiwara.
Batin yang mengalami Cedera.
Tapi disana kau Pesta Pora.
Aku jadi tak ingin banyak Bicara.
Aku sudah kehilangan Suara.
Dengan amarah yang Membara.
Ingin ku balas dendam dengan Segera.
Tapi untuk apa mencari Perkara?
Biar saja aku tersesat di Belantara.
Menyendiri tanpa Lentera.
Aku harap kau tidak mendapatkan hal yang Setara.
Ini hanya Sementara.
Biar aku yang di dera.
Silahkan bergembira.
Aku ingin Lari dari Lara.
Menyendiri Tanpa Indra.
Tenggelam dalam Samudera.
Terbang dan Mengudara.
Yang penting aku ingin Lari dari Lara.
Terima Kasih sudah memberikan ku Bara.
Apa kau masih belum juga Jera?
Akankah aku dan kamu menjadi Frasa yang Esa?
Kita adalah kata empat aksara.
Tiap huruf membutuhkan teman untuk menjadi kata.
Pun aku, membutuhkanmu untuk menjadi kita.
Dalamnya mengandung dua hal, sama dan rasa.
Apakah ragu itu muncul di saat yang sama?
Ataukah ketakutan luka lama yang kembali menjelma?
Benarlah kata Joko Pinurbo,
"Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma"
Dan..
Akankah aku dan kamu menjadi Frasa yang Esa?