Studio Daluang percaya bahwa teater adalah ruang pertemuan antara gagasan dan tubuh, antara kata dan diam, antara penonton dan kehidupan itu sendiri. Setiap pertunjukan lahir dari proses kolektif yang organik—eksploratif secara artistik dan mendalam secara emosional.
Sorotan Lampu Teater Klasik Kolonial Kembali Menyala di Surabaya pada pembukaan POS BLOC Surabaya.
Dalam Sorotan Lampu Teater yang Menghidupkan Sejarah, Studio Daluang menampilkan drama klasik kolonial yang menggugah tetapi juga tragis dan ironis. Pada pembukaan POS BLOC Surabaya, Studio Daluang membawa penonton masuk ke dalam perjalanan emosional yang mendalam melalui pertunjukan teater klasik kolonial yang berjudul Menunggu Badai Reda karya Yusril Ihza F.A. Naskah keramat yang pernah dipentaskan di panggung Cak Durasim pada tahun 2018 silam Kembali hadir di Surabaya. Penonton percaya bahwa Menunggu Badai Reada bukan hanya sekadar sebuah pertunjukan tetapi perjalanan meresapi sejarah kemerdekaan yang penuh tragedi dan romantisme.
Menyelami Narasi Klasik Menggugah yang Memori Kolektif mengenai perjuangan merebut kemerdekaan uniknya adalah pada pertunjukkan tersebut menggunakan setting pengaturan panggung dengan artistik yang sederhana, seragam perawat yang tergantung menghidupkan nuansa perjuangan yang kuat selama pertunjukkan berlangsung. Studio Daluang berhasil menciptakan atmosfer yang memikat. Naskah Menunggu Badai Reda menggambarkan perjuangan dan pengorbanan di tengah kekacauan perang untuk merebut kemerdekaan. Cerita ini meresap dalam jiwa penonton, terutama bagi mereka yang mengalami langsung tragedi perang di era 45-an. Banyak dari mereka tidak dapat menahan air mata saat menghadapi ingatan pahit yang hidup kembali.
Aktor-aktor yang terlibat seperti Arum Purbo sebagai Laksmi dan Alief sebagai Kardi menampilkan penampilan yang baru, menyampaikan setiap emosi dengan tulus. Suara, gerakan, dan ekspresi mereka mampu menggambarkan rasa sakit dan harapan yang saling bertabrakan. Ketegangan yang terbangun dalam setiap adegan membuat penonton terhanyut dalam cerita, seolah-olah mereka juga berada di tengah peristiwa bersejarah itu.
Reaksi penonton yang mencolok adalah terdengar isak tangis dari berbagai sudut auditorium. Penonton yang berasal dari angkatan 50-an, yang pernah merasakan dampak langsung dari perjuangan untuk kemerdekaan, tampak tersentuh. Momen-momen tertentu membawa mereka kembali ke kenangan yang terlupakan, menambah dimensi emosional dalam pertunjukan.
Banyak yang merasakan bahwa teater adalah medium yang dapat menyampaikan sejarah dengan cara yang lebih mendalam dan personal. Melalui Menunggu Badai Reda penonton diingatkan akan nilai pengorbanan dan cinta tanah air.
Studio Daluang menciptakan lebih dari sekadar pertunjukan, mereka telah membangun ruang refleksi. Teater memberikan kesempatan untuk berdialog tentang masa lalu, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk merenung tentang perjalanan bangsa ini. Melalui kisah yang diangkat, mereka mengajak penonton untuk tidak melupakan sejarah, melainkan memahami dan menghargainya.
Pembukaan POS BLOC Surabaya menjadi momen penting, tidak hanya untuk merayakan seni, tetapi juga untuk merayakan warisan budaya dan sejarah bangsa. Teater, dalam bentuk paling murni, adalah tentang koneksi—koneksi dengan sejarah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.
Studio Daluang merupakan laboratorium seni budaya dan media kreatif yang didirikan pada 17 Januari 2023 di Surabaya. Studio Daluang mengutamakan riset, pengkajian, dan proses kreatif dalam pembuatan suatu karya sebagai upaya mempublikasikan kerja kreatif yang bertujuan mengedukasi, menumbuhkan inovasi, dan menginspirasi masyarakat umum terkait industri kreatif. Keanggotaan aktif Studio Daluang terdiri atas sekumpulan muda-mudi dari berbagai genre kesenian seperti Sastra, Film, Teater, Tari dan Konten Kreator. Sementara ini, Studio Daluang bekerja secara kolaboratif di bidang seni pertunjukan, film, konten kreatif, serta kajian sastra dan budaya.
Pada produksi kreatif kali ini, Studio Daluang menggarap Monolog Musikal "Adisaroh; Pengakuan Cinta Putri Mataram di Bumi Mangir" karya sutradara Yusril Ihza F.A. Produksi pementasan teater tersebut merupakan hasil dari seleksi Program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Dapur LTC yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) yang bekerja sama dengan Lab Teater Ciputat (LTC) program Kelas Napak Tilas yang bertujuan merevitalisasi kekayaan budaya melalui medium seni teater di Yayasan Bali Purnati Gianyar, Bali 28 Agustus sanpai 4 Septrmber 2024. Pementasan Monolog Musikal "Adisaroh; Pengakuan Cinta Putri Mataram di Bumi Mangir" akan digelar di Balai Budaya Surabaya pada hari Rabu, 4 Desember 2024.
Monolog musikal "Adisaroh" menggali nilai-nilai historis dan kebudayaan yang terinspirasi dari kisah klasik Jawa tentang Ki Ageng Mangir, Panembahan Senopati, dan Putri Pambayun (Adisaroh). Pementasan ini menjadi medium edukasi yang merangkum narasi tentang kekuasaan, cinta, dan pengorbanan perempuan di tengah konflik besar antara dua wilayah, Mataram dan Mangir.
Singkat cerita Ki Ageng Mangir Wanabaya III adalah pewaris tanah perdikan Majapahit di pedukuhan Mangir. Pedukuhan Mangir hanyalah desa, bukan kerajaan, maka oleh Mataram yang saat itu adalah kerajaan baru, Mangir diminta untuk tunduk dan mengakui kekuasaan Mataram. Oleh karena Ki Ageng Mangir muda merasa tidak memiliki kepentingan, terjadilah perang dingin tak berkesudahan antara Mangir dengan Mataram. Ketika Mataram mulai kehabisan strategi untuk menguasai pedukuhan Mangir, pihak Mataram mengirim rombongan wayang dan tayub ke Mangir sebagai telik sandi. Salah satu penari tayub adalah Pambayun, putri dari Panembahan Senopati Mataram. Penyamaran berhasil, Ki Ageng Mangir tertarik lalu menikah dengan Pambayun, keduanya ternyata saling mencintai. Lambat laun seluruh rahasia terbongkar, Pambayun yang sedang hamil tua diketahui sebagai telik Mataram oleh Ki Ageng Mangir. Sebab Ki Ageng Mangir adalah pendekar pilih tanding dan sangat mencintai istrinya, Ki Ageng Mangir berniat menghadap ke Panembahan Senopati sebagai menantu, meminta restu karena sudah menikahi Pambayun. Akan tetapi, siasat berjalan lancar, kedatangan Ki Ageng Mangir ke Mataram menjadi peristiwa sejarah yang sampai saat ini masih terbilang misteri, dimana dalam berbagai versi kedatangan rombongan Mangir menjadi petaka bagi Ki Ageng Mangir. Pun tidak hanya soal kematian, tetapi tragedi kematian Ki Ageng Mangir yang dapat dikatakan sebagai sesuatu ‘yang tragis’ dan ‘yang ironi’, karena sesampainya Ki Ageng Mangir menghadap untuk sembah sujud ke Panembahan Senopati, kepala Ki Ageng Mangir dibenturkan di batu selo gilang, selain itu sebagian tubuhnya dikuburkan di dalam benteng, sebagian lain di luar benteng Mataram sebagai penanda bahwa Ki Ageng Mangir adalahmusuh sekaligus menantu.
‘Saya memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan. Saya menyusun jadwal, materi, referensi, dan rute perjalanan dari Surabaya ke Yogyakarta untuk mendatangi langsung beberapa lokasi yang berkaitan dengan peristiwa antara Mataram dan Mangir, Ucap Yusril Ihza F.A, Penulis sekaligus sutradara dalam pentas produksi kali ini.
Melalui pementasan ini, Studio Daluang tidak hanya ingin mempersembahkan hiburan, tetapi juga membawa penonton pada perjalanan reflektif mengenai nilai kemanusiaan, peran perempuan dalam sejarah, dan warisan budaya yang sering terlupakan. Kisah Pambayun, sebagai tokoh sentral, merepresentasikan ketegangan antara cinta, eksploitasi, dan keteguhan hati dalam menghadapi intrik kekuasaan.
Seperti pentas produksi sebelumnya, Studio Daluang masih mengusung koonsep kolaborasi dengan berbagai pelaku seni yang kompeten pada bidang masing-masing.
‘Saya akan menunjukkan hasil kolaborasi Musik modern dan tradisi, Tari Kontemporer dan tradisional, dan visual hasil AI (Artificial Intelligent),’ tambahnya.
Produser pementasan Adisaroh, Syah Laksmi, juga mengatakan bahwasanya proyek ini dirancang dengan perhatian lebih pada setiap detail visual (artistik), mulai dari tata panggung hingga elemen musikal. Sebagai produser yang mampu dengan peka menangkap value produk pementasan, Laksmi tidak mau menyiakan kesempatan.
‘Saya yakin, gedung pertunjukan Balai Budaya yang berkapasitas 700-an itu tidak akan tersisa satu pun kursi kosong,’ katanya.
Kesuksesan "Adisaroh" tidak akan tercapai tanpa dukungan dari berbagai sponsor, kolaborator, dan media partner. Para sponsor yang terlibat, seperti Ayam Suramadu, Rizqia Dish, Kedai Kita, ON Label (layanan tiket), dan Imperial Digital Printing, memberikan kontribusi besar terhadap penyelenggaraan acara ini.
Selain itu, kolaborasi dengan Esto Theatre dan Fonemik (videografer) semakin memperkuat aspek visual dan dokumentasi pertunjukan. Sementara media partner seperti Pers Mahasiswa GENTA, Artchemist, Wara-wara Project, Sawiji Books, Rumah Budaya Malik Ibrahim, dan RRI Surabaya turut mendukung promosi dan penyebaran informasi.
Gayung bersambut setelah pementasan produksi Adisaroh tanggal 07 Desember 2024 akan diadakan Workshop Keaktoran yang bertujuan untuk memperkenalkan pengajaran seni peran di kalangan pelajar dan umum. Program ini hadir sebagai langkah dalam meningkatkan potensi pelajar di bidang seni peran. Workshop tersebut merupakan proyek keberlanjutan dari Yayasan Studio Daluang Surabaya dan termasuk dalam program tahunan Daluang Creator Academy (DCA).
Tanggal 25-26 Oktober 2024, UPT. Taman Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur kembali menyelenggarakan acara kesenian bergengsi dalam bidang teater bertajuk Parade Teater Jawa Timur. Event rutin tahunan tersebut bertujuan untuk menyemai kontinuitas dan intensitas seniman-seniman dalam memproduksi karya, dengan mengusung tema besar ‘Membaca Ulang Platform Teater Jawa Timur’. Proses kurasi yang dilakukan cukup ketat dan berat. Pasalnya, dari ratusan kelompok teater di Jawa Timur hanya dipilih enam kelompok terbaik yang ditampilkan di acara itu. Enam kelompok teater tersebut diantara-Nya; Teater Poro Bungkil (Kab. Banyuwangi), Arek Teater (Kota Surabaya), Granggang Teater (Kab. Ponorogo), Dialektika Teater (Kab.Sumenep), Sandur Sedhet Srepet (Kab. Bojonegoro), dan penampil dari Studio Daluang (Kota Surabaya).
Studio Daluang sendiri merupakan laboratorium seni budaya dan media kreatif yang didirikan pada 17 Januari 2023 di Surabaya. Studio Daluang adalah kolektif seni yang mengutamakan riset, pengkajian, dan proses kreatif dalam pembuatan suatu karya. Hal tersebut sebagai upaya mempublikasikan kerja kreatif yang bertujuan mengedukasi, menumbuhkan inovasi, dan menginspirasi masyarakat umum terkait industri kreatif.
Di megahnya panggung Parade Teater Jawa Timur, Studio Daluang menyajikan Naskah Klothek’an karya sutradara Yusril Ihza F.A. Naskah tersebut singkatnya berkisah tentang kehidupan politik di suatu desa yang disebut Sugihwaras, polemik yang terjadi mulai dari proses jual-beli jabatan setelah terpilihnya Pak Widodo sebagai kepala desa hingga permainan mitos menjadi senjata kepada para warga untuk membengkakkan dana pembangunan Jembatan Piyak Kali Gedhe.
“Suatu kehormatan bagi saya pribadi dan tim dapat melalui serangkaian kurasi, hingga dapat berkesempatan menyampaikan agenda karya kami bersama di panggung Parade Teater Jawa Timur, ungkap Yusril Ihza Fauzul Azhim selaku penulis naskah sekaligus sutradara.
Berangkat dari keresahan terkait maraknya isu korupsi di Indonesia yang makin merajalela di antara riuhnya pesta demokrasi saat ini, Studio Daluang optimistis penampilannya dapat menjadi rambu kepada masyarakat sebagai refleksi terhadap isu politik kekuasaan yang sedang berlangsung di negara kita.
"Kami berusaha menawarkan pembacaan ulang tentang pentingnya generasi muda untuk kembali bersikap antikorupsi. Yakni, melalui pementasan drama berbentuk Opera Komedi Satire dengan judul "Klothek'an", ucap Produser Studio Daluang Syah Laksmi Adabi.
Meskipun naskah ini sudah pernah dipentaskan di pentas produksi Studio Daluang, Klothek’an kali ini memuat banyak perubahan. Aktor yang memerankan tokoh dalam naskah juga banyak yang baru. Salah satunya mahasiswa yang telah menjuarai lomba monolog di Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS 2022), Nabila Permatasari yang memerankan tokoh Bu Wati.
“Saya sangat senang bisa berproses dengan Studio Daluang di Parade Teater Jawa Timur kali ini. Meski penggarapan tidak lebih dari dua bulan, bagi saya, itu malah menjadi tantangan untuk menguji keaktoran saya,” kata Nabila.
Oktaviany Claudia B, konten kreator Surabaya yang menghidupkan tokoh Juan Maharani juga mengatakan hal yang sama. Meskipun baru pertama kali menginjak panggung teater, dia mengaku sangat senang dengan latihan dan kekeluargaan yang erat yang terjalin selama proses.
“Baru kali ini saya merasakan akting di panggung teater, di sini saya langsung punya banyak keluarga baru. Sebelumnya pernah di film, Sih, beberapa kali. Menurut saya proses latihan yang lumayan lama hanya untuk ditampilkan sekali di panggung, memicu semangat saya untuk lebih detil mendalami seni peran,” jelas Okta.
Co-Produser Studio Daluang, Arum Purbohesthining Tyas menjelaskan, ada beberapa tantangan dalam proses produksi Pementasan Klothek'an ini. Yakni terkait jadwal latihan aktor yang notabene merupakan kolaborator dari berbagai latar belakang yang berbeda, ada pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik, karyawan, dan masyarakat umum lainnya.
“Sedikit sulit menyesuaikan jadwal latihan bersama. Namun, permasalahan itu dapat cepat diantisipasi dengan kemauan dan kemampuan aktor untuk latihan mandiri sesekali waktu.” pungkasnya.
Susunan Tim pementasan Klothek'an kali ini adalah Sutradara| Yusril Ihza F. A. Produser :Syah Laksmi Adabi, Arum Purbohesthining Tyas, Lailatus Saadah. Artistik |Rafi Sirajuddin Ahmad , Alfaen Billy Najmi, Kamal Fahrudin, Bayu Dwi Setiawan, Ita Pamungkas Sari, Novaldo Stanley Morgan, Alfian Pratama, Fayruz. Penata Musik |Atmaja Bintang Bhaskara, Yoseph Orlando, Muhammad Rizky Robby. Penata Make Up dan Busana| Okky Basuki Irawan, Daffa Risky, Indy Maharani. Penata Cahaya|Moch. Danuar Indar Moslem.Penata Gerak|Eggy Junessa. Aktor |Moh. Rehan Rizky Nazaruddin, Nabila Permatasari, Simon Manuel Akely, M. Alief Sahrul Ashar, Rico Darmawan, Octaviany Claudia Bamut, Varra Zahira, Rio Dwi Febriansyah. Sinematografi| Bryan, Farit. Dokumentasi |Putri Nurrahma, Dika
Surabaya, 30 September 2023 — Pementasan teater bertajuk Klothek’an yang digelar oleh Studio Daluang bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan juga menjadi medium edukatif yang menyuarakan pentingnya integritas dan bahaya korupsi. Menggunakan format opera tradisional, Studio Daluang menghadirkan karya yang sarat pesan sosial sekaligus berupaya melestarikan seni pertunjukan warisan budaya.
Opera dipilih sebagai bentuk utama pertunjukan karena dinilai mampu menyampaikan pesan secara kuat dan menarik secara visual maupun emosional. Dalam proses produksinya, Studio Daluang juga menunjukkan kemandirian finansial dengan tidak mengandalkan sponsor atau institusi besar. Sebagai gantinya, mereka membuka ruang partisipatif bagi masyarakat umum yang ingin menjadi donatur maupun relawan.
Hal unik lainnya adalah seleksi penonton yang dilakukan melalui pertanyaan seputar isu korupsi. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa audiens yang hadir memang memiliki kepedulian terhadap tema yang diangkat.
Pertunjukan yang berlangsung di Gedung Teater STKW Surabaya ini mendapatkan respons positif dari penonton dan media. Studio Daluang berharap bahwa Klothek’an dapat menjadi pemicu kesadaran publik, khususnya di kalangan generasi muda, untuk aktif menolak praktik korupsi.
Dalam proses kreatifnya, para aktor yang terlibat juga mengikuti pelatihan intensif melalui kerja sama dengan dua ruang kolektif seni di Surabaya: Esctacy of Dialectica dan Estotheatre. Esctacy of Dialectica berfokus pada pengembangan karakter melalui pendekatan “Belief System” dan eksplorasi naskah, sedangkan Estotheatre memperkuat aspek gerak tubuh melalui metode Movement Body.
Yusril Ihza Fauzul Azhim selaku sutradara menjelaskan bahwa pendekatan penyutradaraan yang digunakan bertujuan untuk menciptakan visual yang epik sekaligus menanamkan pesan moral yang kuat kepada publik. Meski menghadapi tantangan karena aktor berasal dari latar belakang yang beragam, hal tersebut justru memperkaya dinamika panggung.
Salah satu aktor, Sherly Sinatra, yang sebelumnya aktif di dunia modeling, berhasil menampilkan adegan lagu dangdut dengan energi yang khas. Sementara Febrian Lingga HL Toruan, seorang pelajar yang memerankan tokoh Kepeng, mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru. Ia menyadari bahwa menjadi aktor bukan sekadar menghafal naskah, tetapi juga memahami metode untuk mendalami karakter.
Studio Daluang berharap pesan antikorupsi yang mereka bawa melalui Klothek’an dapat terus digaungkan, baik melalui karya seni maupun kegiatan sosial lainnya. Seni, bagi mereka, adalah salah satu jalan paling jujur untuk membangun kesadaran kolektif dan perubahan.