TEKS VISUALISASI JALAN SALIB KISAH
SENGSARA YESUS KRISTUS
( Tablo )
TEKS VISUALISASI JALAN SALIB KISAH
SENGSARA YESUS KRISTUS
( Tablo )
Pelakon :
1. N1 : Narator1
2. N2 : Narator2
3. Y : Yesus
4. Pt : Petrus
5. Yh : Yohanes
6. Yd : Yudas
7. M : Maria
8. KP : Kepala Prajurit
9. Pr.1 : Prajurit 1
10. Pr.2 : Prajurit 2
11. IA : Imam Agung
12. IK : Imam Kepala
13. HI : Hamba Imam Besar
14. B : Barabas
15. PI : Pilatus
16. WY : Wanita Yerusalem
17. V : Veronika
18. Sm : Simon dari Kirene
19. R : Rakyat 4 orang
KISAH SENGSARA YESUS KRISTUS
Kata Pengantar
N1 : Bapak, Ibu, Saudara / i, umat Allah, para peziarah yang dikasih Allah...
Kisah Golgota adalah kisah tragis 2000-an tahun lalu.
Tragedi Golgota adalah sebuah sejarah yang layak disimak.
Sebuah kisah yang patut ditulis ulang di dalam hati kita
Tragedi Golgota adalah suatu kebenaran yang tak dapat disangkal oleh kita,
yakni peristiwa wafatnya Yesus Kristus merupakan pengalaman yang paling tragis dalam hidupNYA.
Peristiwa yang tidak kita alami secara langsung ini, namun sangat mengiris hati dan perasaan manusiawi kita.
Bapak, Ibu, Saudara – saudariku yang dikasih Allah..
Sambil menatap dan membayangkan Zaitun serta mengenang kenangan Golgota, yang telah menyulam wajah Kristus, yang carut – marut, berlumuran darah, marilah kita menatap seluruh dosa dan kesalahan kita.
Karena dosa – dosa kitalah, Dia datang.
Karena kesalahan kitalah, Ia wafat....
Mari menapak Jalan salib Tuhan yang adalah tanda solidaritas Allah akan penderitaan manusia...
Scene 1
LATAR : TAMAN GETZEMANI
Lagu : ( Diiringi Musik Instrumental )
N2 : Kegelapan menyelimuti kota Yerusalem. Lalu pergilah Yesus berjalan menyusur lembah Sedron menuju ke taman Getzemani. Yesus masuk ke taman itu dengan membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus, Yohanes dan Yakobus. Adapun Yudas yang mengkhianati Yesus juga mengetahui tempat itu, karena Yesus sering berkumpul di situ bersama dengan murid-murid-Nya.
Adegan :
(Yesus berjalan dengan sangat pelan. Terlukis kesedihan di wajah-Nya, sementara para murid-Nya mengikuti dari belakang, sambil menolah ke kiri dan ke kanan karena ada kecemasan di hati mereka, terutama Petrus)
N2 : Sesampainya di taman itu, Yesus pun berbicara kepada para murid-Nya
Y : Tinggalah di sini,
Berdoa dan berjaga-jagalah supaya engkau tidak jatuh ke dalam percobaan.
Adegan :
( Yesus mengambil jarak sedikit jauh dari murid-muridNya untuk berdoa, dengan menatap kelangit dan menunduk )
Y : Jiwaku sedih hingga mau mati rasanya. Ya Bapa….
Aku berdoa kepadaMU, Ya Bapa..
Ya Bapa jikalau sekiranya mungkin biarlah cawan ini lalu darpada-Ku tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.
N2 : Setelah itu Yesus bangun berdiri lalu kembali menghampiri murid-murid-Nya dan
didapatinya mereka sedang tidur nyenyak. Ia menatap dalam murid-murid-Nya dan segera membangunkan mereka.
Adegan :
( Yesus bangun dan berdiri lalu menghampiri ke tiga murid nya yang sedang tidur nyenyak. Ia menatap lalu membangunkan mereka dan murid-murid Nya serentak Bangun )
Y : Petrus….. Yohanes….. Yakobus bangunlah …..
Memang bebanmu begitu berat, tetapi tidak sanggupkah engkau berjaga-jaga bersamaku sebentar saja..?
Roh memang kuat namun daging lemah.
Dan Lihatlah..
Saatnya sudah tiba, bahwa Anak manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa. Bangunlah mari kita pergi, dan
Dia yang menyerahkan Aku sudah dekat.
N1 : Tak lama setelah Yesus membangunkan ketiga murid Nya, datanglah Yudas, salah
seorang dari kedua belas murid itu, bersama dengan serombongan orang-orang dan prajurit yang membawa pedang dan tombak, dan mereka pun Berteriak, ribut, gaduh.
Adegan :
( Yudas, para Prajurit, Hamba imam besar, Rakyat mendatangi Yesus, sambil berteriak dan gaduh )
R1 : Tangkap Dia..!
R2 : Tangkap Yesus..!
R3 : Yesus, kau penipu..!
R4 : Ya, Tangkap Dia..!
Y : "Siapakah yang kalian cari ?"
Pr1 : "Yesus dari Nazaret"
Y : "Akulah Dia."
N1 : Mereka semua disuruh oleh imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat serta para tua-tua.
Yudas yang menyerahkan Yesus telah memberitahukan tanda-tanda kepada mereka,
"Orang yang akan kucium, itulah Dia,
Maka tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat."
Adegan :
( Yudas mendekati Yesus, dan memeluk nya )
Y : "Hai Yudas, untuk inikah engkau datang ?
apakah engkau menyerahkan Anak Manusia dengan ciuman?"
Yd : "Salam, Ya Rabi..." (sambil mecium pipi Yesus)
Pt : "Pengkhianat !!" (Petrus Menarik dan Mendorong Yudas)
Adegan :
( Petrus mendorong Yudas dan mengeluarkan pedang nya sambil mengarahkan ke orang banyak )
N2 : Terjadilah perlawanan dari murid-murid Yesus yang akhirnya Petrus pun mengeluarkan
sebuah pedang dan memotong telinga salah seorang hamba Imam Besar hingga putus.
Adegan :
( Petrus memotong telinga seorang hamba imam besar )
Hi : Aaaaaaaa….( Berteriak sambil memengang telinga )
Adegan :
( Setelah memotong telinga, Petrus tetap mengarhkan pedangnya kearah banyak )
Y : "Petrus... Petrus... sarungkanlah pedangmu !
Adegan :
(seketika itu pula petrus berhenti melawan dan menyarungkan pedangnya. Setelah berkata demikian, mendekatlah Yesus ke arah hamba imam besar dan menyembuhkan telinga nya dengan memegang bagian telinganya. Melihat kejadian itu, hamba imam besar hanya bisa terdiam)
N2 : Tanpa ada sedikit rasa ampun, para prajurit tetap menangkap Yesus dan menggiringnya
menyeret nya kehadapan Imam Besar.
Pr1 : Tangkap Dia..!!!
LATAR : Tempat Mahkamah Agama
N2 : Para imam-imam kepala dan ahli taurat berkumpul di Mahkamah Agama untuk mencari
kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati. Tetapi mereka tidak menemukan kesalahan apapun pada-Nya, walaupun banyak saksi dusta yang menghakimi Yesus, dan akhirnya imam kepala bertanya kepadanya
IA : Apakah Benar..? Engkau mengatakan..
“Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya dalam waktu 3 hari”
Adegan :
( Yesus terdiam sambil memandang wajah mereka dan tidak menjawab semua pertanyaan dari Imam Agung dan Imam Kepala)
IK : Tidakkah engkau memberi jawab atas semua tuduhan-tuduhan saksi-saksi terhadap
Engkau ?
IK : Demi Allah yang Hidup, katakanlah kepada kami..!!
Apakah Engkau Mesias Anak Allah ?
Y : Engkau sendiri yang mengatakannya.
N2 : Mendengar kesaksian Yesus itu, membuat Imam Agung, Imam Kepala dan Orang-orang
semakin murka, dan menyatukan suara yng bulat, mereka menginginkan Yesus untuk dihukum mati. Sementara itu Petrus duduk di luar halaman, melihat yesus dari kejauhan, dan di situlah Petrus menyangkal Yesus sebanyak 3 kali
R1 : Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus orang Galilea itu ?
Pt : Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud…
R2 : Iya..
Orang ini yang selalu bersama-sama dengan Yesus,
orang Nazaret itu ?
Pt : Aku tidak kenal orang itu..!!
R3 : Pasti engkau salah seorang dari mereka,
itu nyata dari bahasamu…
Pt : Tidak..
Aku tidak mengenal orang itu..!!
Lagu : ( Diiringi Instrumental Suara Ayam Berkokok )
Adegan :
( setiap sesudah menjawab Petrus berpindah dan akhirnya Petrus lari bersembunyi menyesali yang di perbuatnya )
N2 : Pada saat itu berkokoklah ayam, Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan
Yesus kepadanya : “Sebelum ayam berkokok, engkau petrus telah menyangkal Aku Sebanyak 3 kali. Lalu petrus pergi ke luar dan menangis dengan penuh sedih, Mengingat akan apa yang pernah dikatakan Yesus, kepadanya sungguh membuat hati Petrus hancur dan menyesal”
N1 : Pagi-pagi benar, para imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat serta
seluruh Mahkamah Agama yang sudah bulat mupakatnya untuk mereka, tetap membelenggu Yesus lalu membawa-Nya ke istana Pilatus dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus.
IK : Bawa dia kepada Pilatus.
LATAR : ISTANA PILATUS
Perhentian I : YESUS DIHUKUM MATI
Adegan :
( Prajuri, Imam Agung dan Imam Kepala serta Rakyat membawa Yesus menghadap Pilatus )
IA : Gubernur Pilatus... Gubernur Pilatus..!
Kami membawa orang ini untuk engkau Adili….
KP : Hai kalian orang Yahudi..!!
Sepagi ini kalian sudah ribut.. !!
Apa yang kalian ributkan…?
IK : Kami disini untuk mengadili orang yang menentang kaisar..
dan Dia mengaku dirinya putra Allah..
KP : Kami lihat beberapa hari yang lalu kalian mengelu-elukan Dia sebagai Raja Agung..
Kenapa sekarang berbalik melawan Dia…?
Adegan :
( Pilatus Keluar dan Dalam Istana nya )
IA : Karena itulah, kami membawa orang ini untuk diadili dan dihukum mati…!
Pl : Siapakah orang yang kalian bawa kemari ?
R7 : Tuan harus menghukum orang ini..!!
Pl : Apakah tuduhanmu atas orang ini ?
R2 : Sebab orang ini telah menghasut rakyat dengan ajaran sesatnya...!!
R3 : Orang ini mengatakan bahwa diri-Nya adalah raja, maka Ia melawan Kaisar..!!!
R4 : Orang ini mengakui diri-Nya adalah Putra Allah, Ia menghujat Allah! Hukum Dia!!!
IK : Tentu saja orang ini tidak kami serahkan kepada Tuan, seandainya Ia tidak berbuat
suatu kesalahan.
Pl : Ambillah Dia dan hakimilah Dia menurut hukum Tauratmu.
IA : Kami tidak diperbolehkan untuk menjatuhkan hukuman mati.
Pl : Baiklah, aku akan bertanya pada orang ini
Adegan :
( Pilatus Menghampiri dan Mendekati Yesus )
Pl : Apakah Engkau Raja orang Yahudi..?
Y : Apakah engkau katakan hal itu dari hatimu sendiri, atau adakah orang lain yang
mengatakannya kepadamu tentang Aku?
Pl : Apakah aku seorang Yahudi..?
Bangsamu sendiri, serta Imam Kepala menyerahkan Engkau kepadaku..?
Y : Kerajaan-Ku bukan di dunia ini. Jika itu benar, para hamba-Ku akan melawan atas
penangkapan ini. Tapi kerajaan-Ku berada di tempat lain.
Pl : Jadi benar, engkau Raja ?! ( Penekanan cara bicara )
Y : Kau sendiri yang mengatakannya…
Aku terlahir dan datang ke dunia ini untuk bersaksi tentang kebenaran…
Adegan :
( Pilatus berjalan Menghampiri Para Rakyat )
Pl : Aku tidak menemukan kesalahan atas orang ini…
Apa yang kalian kehendaki padaku terhadap Rajamu ini…?"
R1 : Dia bukan raja kami…!!!!
R2 : Iya..
Dia bukan raja kami….!!!!
R3 : Kami tidak memiliki Raja seperti Dia…!
Hukum Dia….!!!
IK : Raja kami adalah Kaisar, Tuan ku..
Salibkan Dia…!!!!!
Jika engkau tidak menghukumnya, engkau bukanlah sahabat Kaisar….!!
Pl : Aku tidak mendapati kesalahan apapun dari orang ini…
Tetapi bawalah Dia dan cambuklah Dia…
Lalu aku akan membebaskan-Nya….
Adegan :
( Pilatus berjalan Kembali ke Altar nya )
KP : Prajurit Bawa Dia..!!!
Adegan :
( Yesus di bawa untuk di cambuk dan di siksa serta Yesus menjerit menahan rasa sakit saat di cambuk serta di tampat oleh prajurit)
KP : Cambuk Dia..!!!
Adegan :
( Yesus dikenakan jubah ungu dan mahkota berduri oleh prajurit )
Pr2 : Ayo! beri Dia jubah serta mahkota kepadaNya ( jubah ungu dikenakan pada Yesus)
Pr3 : Wah, rupanya Engkau sungguh cocok menjadi Raja!!
( prajurit Mengangkat dagu Yesus dan memasang mahkota duri)
Pr2 : Salam, hai Raja orang Yahudi..!!
Apakah Engkau tidak mendengar salamku? ( prajuri menampar yesus )
Adegan :
( Setelah menyiksa Yesus para prajurit membawa Yesus untuk untuk menghadap Pilatus )
KP : Angkat Dia..!!!
N1 : Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari
raya itu, menurut permintaan orang banyak. Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan. Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya Barabas untuk dibebaskan.
Pl : Dengar..
Biasanya menjelang Hari Raya Paskah Yahudi,
Aku akan membebaskan seorang tahanan bagimu…
Biarlah aku membebaskan Orang ini...
Lihatlah Dia..
Aku telah menghukumnya..
IA : Jangan Dia, melainkan Barabas….!! ( Dengan Suara Keras dan Lantang )
Adegan :
( disambung dengan Rakyat yang berteriak )
R1, R2, R3, R4 : Bebaskan Barabas…!! Bebaskan Barabas…!! Bebaskan Barabas…!!
Pl : Prajurit, bawa Barabas kemari.
KP : Baik Yang Mulia.
Adegan :
( Dua orang prajurit membawa Barabas kehadapan Pilatus; Barabas dengan wajah angkuh nan sombong serta meronta-ronta ketika digiring oleh prajurit )
Pl : Sekali lagi aku berkata kepadamu, mana yang Engkau kehendaki untuk aku bebaskan..?
Barabas, ataukah Yesus, Raja bangsa Yahudi ini…??
R1 : Bebaskan Barabas…!!
R2 : Iya, Bebaskan Barabas…!!
Pl : Barabas, Kamu dengar sendiri..
Hari ini kamu Bebaskan…
Prajurit, lepaskan Barabas..!!
Pr3 : Baik Yang Mulia.
Adegan :
( Barabas menghampiri Yesus )
B : Hahaha... Dasar orang-orang bodoh..
Kalian menginginkan aku bebas…? ( Barabas menunjuk ke arah rakyat )
Apa kalian tidak takut, aku akan membunuh dan mencuri harta kalian..?
Hai kau…! ( Barabas menepuk Pundak Yesus )
Kau akan merasakan sendiri betapa kejam orang-orang ini akan menyiksa Engkau. Puih!" ( Barabas meludah di depan Yesus )
ha..ha..ha..ha..ha.. aku bebas….
R3 : Salibkan dia..!!
Kami tidak mempunyai raja seperti dia ! Bunuh dia !
R4 : Iya, Bunuh dia …!!
Dia harus di hukum Mati..!
Pl : Lihat orang ini..!
Aku memberi Dia cambukan dan membawa Dia kepadamu supaya kalian tahu bahwa aku tidak menemukan kesalahan apapun untuk menghukum orang ini.
Adegan :
( Pilatus berjalan ke dua kali nya Menghampiri Yesus )
Pl : Dari manakah asal Mu..?
Engkau tidak mau berbicara kepadaku…?
Apakah Engkau tidak tahu, bahwa aku berkuasa untuk melepas atau menyalibkan Engkau…? ( Pilatus mendekat dan berbicara pada Yesus dengan suara sedikit gemas )
Y : Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku,
Jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas.
Maka orang orang yang menyerahkan Aku kepadamu, lebih besar dosanya.
N1 : Tidak ada alasan bagi Pilatus untuk menghukum Yesus. Akan tetapi, karena desakan
dari rakyat dan Imam Kepala akhirnya hal itupun ia lakukan.
Adegan :
( Pilatus berjalan Kembali ke Altar nya )
IK : Jika tuan membebaskan orang ini, maka tuan bukanlah sahabat Kaiser.
Setiap orang yang menganggap dirinya raja, ia melawan Kaiser.
Enyalah Dia,.......!!
Salibkanlah Dia.....!!
R1 : Yaa… benar…Buang dia..!!!
R2 : Salibkan Dia..!!! Salibkan Dia..!!!
Adegan :
( Pilatus mencuci tangan nya )
Pl : Aku tidak bertanggung jawab atas darah orang ini.
Prajurit…!!
Bawa orang ini kepada orang Yahudi untuk disalib..!
KP : Baik Yang Mulia..
Adegan :
( Prajurit menyeret Yesus keluar dari istana Pilatus dan adegan Pilatus melempar gulungan)
Pl : Prajurit…!
Jangan lupa tempelkan tulisan ini di kayu salib tempat Raja Yahudi ini.
Pr2 : Baik Yang Mulia..
Scene 2
LATAR : Yesus memanggul Salib
Perhentian II : YESUS MEMANGGUL SALIBNYA
Adegan :
( Prajurit memberikan salib untuk dipanggul Yesus menuju bukit golgota )
( Perjalanan Yesus memanggul salib )
N1 : Yesus yang tidak bersalah namun tetap dijatuhi hukuman mati.
Setelah cambuk, di pukuli, diolok-olok, di ludahi, dan dimahkotai duri,
Yesus tetap di bawa keluar dari balai pengadilan untuk disalibkan.
Sambil memikul salibnya, Yesus pergi ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, yang dalam bahasa Hibrani disebut “GOLGOTA”.
Adegan :
( Prajurit membuka Jubah Ungu Yesus dan menaruh salib untuk di pikul Yesus menuju bukit golgota )
KP : Ayo prajurit…!!
Buka jubah ungu itu, Paksakan Dia pikul salibnya sampai kepuncak golgota.
Adegan :
( Yesus mulai memikul salib, dan mulai berjalan )
N2 : Dengan penuh kerelaan Yesus mengulurkan tanganNya dan menerima salib yang berat
itu. Yesus hanya berdiam diri dan tetap berteguh hati untuk menerima keputusan yang tidak adil itu, namun oleh karena kasih dan cinta-Nyalah yang mendorongNya untuk tetap tabah.
Walaupun Raga itu harus tertindih salib dan ternyata Yesus bukan manusia kuat dan perkasa dan beratnya salib itu telah meletihkan ragaNya.
Berjuta mata tak lagi melihatNya, tak seorangpun yang peduli akan penderitaan Nya, namun Yesus telah menunjukkan bahwa sesungguhnya derita itu oleh karena kitalah IA di salib, semua kelemahan – kelemahan kita ditanggungNya dan segala dukacita kita dipanggulNya, serta oleh segala dosa dan kesalahan kitalah IA pikul salib itu,
Perhentian III : YESUS JATUH PERTAMA KALI NYA DI BAWAH SALIB
N1 : Di tengah perjalanannya Yesuspun Jatuh untuk pertama kalinya
Adegan :
( Yesus terjatuh dibawah salib Prajurit memukul, mencambuk Yesus )
Pr1 : Bangun..!!
baru berjalan sudah jatuh
Bangun..!!, Bangun…!! ( Prajurit membangunkan Yesus yang terjatuh dengan paksa )
Perhentian IV : YESUS BERJUMPA DENGAN IBUNYA
N1 : Yesuspun terjatuh lagi dengan posisi berlutut. Kemudian dari kerumunan Maria ibu Nya
datang menghampiri Yesus. Dengan wajah menangis, Maria memegang wajah Yesus dan memandangNya penuh arti.
Adegan :
( Yesus terjatuh lagi dengan posisi berlutut dan ada 2 atau 3 orang berdiri melihat Yesus kemudian maria berlutut )
Y : Ibu mengapa Engkau menangis…?
Bukankah Kau mengajarkanKu untuk tetap setia dan bertekun di jalanNya..?
Saat ini Aku melaksanakan perintahNYA, ibu…
Adegan :
( Maria menahan air matanya, mengusapnya dan Menyentuh Pundak Yesus)
Pr2 : Ayo, Jalan…!!
semua minggir…!
Ayo, berdiri…
Jalan….!!!!!
Adegan :
( Prajurit memisahkan mereka dan menyuruh Yesus untuk memanggul salibNya lagi. Sedangkan Maria, tetap berlutut )
Perhentian V : YESUS DITOLONG SIMON DARI KIRENE
N1 : Karena tempat yang dituju masih jauh, dan Yesus yang tengah berjalan tertatih-tatih,
akhirnya membuat para prajurit menjadi khawatir jika Yesus tak mampu melanjutkan perjalanan ke Golgota. Salah satu Kepala prajuritpun mencekal tangan Simon, seorang peladang dari Kirene yang tengah berpapasan disitu.
Adegan :
( ada 2, 3 orang berdiri Bersama simon dari kirene untuk melihat Yesus kemudian Simon diminta membantu Yesus )
Pr1 : Hei Kamu, kesini…!!! (mendatangi Simon)
Sm : Tidak..!
Jangan Aku….!! Yang lain saja.
KP : Cepat kesini! Bantu Dia…..!!!
Adegan :
( 2 prajurit menangkap Simon dan memaksanya memikul Salib untuk membantu yesus )
Sm : Mengapa harus aku…???
Ada banyak orang di sini, mengapa aku yang membantu Dia….?
Aku sudah lelah seharian bekerja.
Aku pun juga bukan orang sini.
Adegan :
( 2 prajurit menangkap Simon dan memaksanya memikul Salib untuk membantu yesus )
KP : Jangan banyak bicara, Ayo bantu angkat salib ini..!
Adegan :
( Para prajurit menyerahkan salib kepada Simon. Wajah Simon menampakkan perasaan tidak ikhlas. Ia dipaksa memanggul salib Yesus, Sesekali, Simon memandang Yesus )
Perhentian VI : VERONIKA MENYAPU WAJAH YESUS
N2 : Simon memanggul salib untuk Yesus, sementara Yesus berjalan sempoyongan
di depannya. Caci maki, tendangan, dan cambukan masih menghujam badannya. Wajah Yesus terlihat sangatlah kotor penuh keringat dan debu, Ia dihina dan dihindari orang sehingga orang menutup muka terhadap Dia. Dari banyaknya kerumunan orang disana terlihat salah seorang wanita keluar dari kerumunan, wanita itu ialah Veronica.
Adegan :
( ada 1, atau 2 orang berdiri Bersama Veronika, mengambil sapu tanganNya dan mengusapkan ke wajah Yesus.)
Vr : Wajah ini penuh luka dan darah, perkenankan hamba mengusap wajahMu, Tuhan ku.
Semoga dengan perbuatan kecilku ini bisa sedikit meringankan penderitaanMu
Y : Janganlah engkau bersedih. Biarlah semua ini aku pikul sendiri.
Kalian tidak akan mengerti rencana dan rancangan dari Bapa-Ku.
Adegan :
( setelah mengusap wajah Yesus, Veronika membuka sapu tanganNya dan nampak wajah Yesus di sapu tangannya )
Pr1 : Ayo Jalan…!
Adegan :
( sambil tertatih – tatih Yesus kembali berdiri dan melanjutkan perjalananNya )
Perhentian VII : YESUS JATUH KEDUA KALINYA
N2 : Meskipun sudah ditolong oleh Simon dari Kirene, tubuh Yesus tidak bertambah segar.
Perjalanan masih jauh. Yesus semakin payah untuk kedua kalinya Yesus jatuh. Meskipun begitu Ia bangun lagi meneruskan perjalanan tanpa mengeluh.
Adegan :
( Yesus terjatuh dan berusaha untuk bangkit berdiri sambil dibantu oleh Simon Kirene)
Sm : Kita hampir tiba.
Apa Kau masih bisa melanjutkannya ? (sambil membantu Yesus untuk berdiri )
Perhentian VIII : YESUS MENGHIBUR WANITA – WANITA YANG MENANGIS
Adegan :
( ada 2, 3 orang berdiri Wanita untuk melihat Yesus dengan menangis dan memberikan air )
N1 : Setelah dengan susah payah Yesus untuk berdiri, IA pun melanjutkan perjalananNya,
dan Yesuspun pada saat itu melewati beberapa kerumunan wanita yang mulai melihat dirinya disiksa. Yesuspun berhenti didepan mereka dan memandang wanita-wanita itu dengan penuh arti.
WY : Kenapa orang ini hingga dihukum begitu hebatnya..? ( memberikan air )
Apa salahnya?
Hingga begitu berat siksa yang diterimanya. Dosa apakah orangtuanya, hingga anaknya menderita seperti ini..
Adegan :
( Wanita memberikan air untuk Yesus namun di buang oleh Prajurit dan menyuruh Yesus melanjutkan perjalanan. )
Pr2 : minggir…! ( membuang tempat air Wanita Yerusalem )
Cepat minggir…!
Ayo jalan…! ( Mendorong Yesus )
Perhentian IX : YESUS JATUH KETIGA KALINYA
N1 : Tubuh Yesus semakin lemah, tidak mampu menahan beban yang begitu berat, dengan
Jalan menuju ke puncak Kalvari bukit tengkorak itu tidaklah mudah, Maka Untuk ketiga kalinya lah Yesus Kembali terjatuh. Tetapi Yesus tetap bangkit dan berdiri, berusaha untuk bangun karena Ia harus terus berjuang untuk melanjutkan dan menyelesaikan perjalananNya walaupun hanya dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
Adegan :
( Yesus terjatuh dan berusaha untuk bangkit berdiri sambil dibantu oleh Simon Kirene)
Sm : Tujuan kita sudah terlihat..
Adegan :
( Saat mau membantu Yesus berdiri, prajurit mendorong Simon dan menyeret serta mengusir Simon )
Pr3 : Sudah cukup tugasmu sampai disini..
Pergi engkau sekarang..!!
Sm : Semoga engkau dikuatkan dan dapat melewati semua siksaan ini.
( 2 Prajurit menyeret Simon keluar)
Scene 3
LATAR : Di Tempat Penyaliban
Perhentian X : PAKAIAN YESUS DITANGGALKAN
N2 : Akhirnya tibalah di puncak Golgota, Yesus dengan tubuh yang sudah lemah tak berdaya
sampai di Golgota dan prajurit menyeret yesus dengan paksa, lalu secara kasar menanggalkan Jubah Yesus yang melekat pada tubuhNya yang penuh luka. Luka – lukaNya terasa amat pedih dan sakit. Yesus dicampakkan sendiri. Hal Ini merupakan saat-saat yang paling memalukan. Dia ditelanjangi didepan umum. PribadiNya yang Luhur Mulia, direndahkan. Dia dicemoohkan, semua Penghinaan itu bukan hanya menimpah tubuhNya, tetapi juga mengoyahkan kehormatan, serta wibawa dan harga diriNya.
Adegan :
( Jubah Yesus di robek dan di lucuti dari Tubuh nya )
N1 : Para Prajurit pun sudah mempersiapkan tempat penyaliban sedangkan prajurit yang
lainnya sibuk untuk memperebutkan jubah Yesus yang Akhirnya, mereka pun bermain undi agar bisa menentukan siapa yang dapat memiliki Jubah Yesus dan dari hasil permainan undi itu ada seorang Prajurit menang dalam undian. Seperti ada dan sudah tertulis pada Kitab Suci.
Adegan :
( Yesus di seret ke salibNya dan Prajurit Berebut Jubah Yesus )
P1 : Dari pada kita saling berebut, adilnya kita undi saja.
Adegan :
( Prajurit memgundi Jubah Yesus )
P2 : Aku Menang….
Ha..ha..ha..ha..ha..
KP : Mari kita selesaikan tugas kita.
Perhentian XI : YESUS DIPAKU DI KAYU SALIB
N2 : Puncak Golgota sudah didaki oleh Putera Manusia.
Dan kini, tiba saatnya Dia akan dibantai di mimbar salib.
Keringat bercucuran membasahi tubuh.
Dan darah meleleh seakan meminta dikasihi oleh mahklukNya.
Namun mahklukNya tega membiarkan tangan dan kakiNya dipaku di palang penghinaan.
Adegan :
( Yesus di paku kaki dan tangan nya, setiap dipasang paku Yesus berteriak dan menjerit kesakitan )
N1 : Tangan yang selama 33 tahun Penuh kesucian, sekarang dipaku karena kesalahan umat
manusia. KakiNya yang kudus, yang telah mengembara ke banyak tempat untuk menolong orang, kini dipaku karena seluruh Dosa manusia.
Pada saat itu, terdapat 2 penjahat yang juga akan disalibkan, Bersamaan dengan Yesus Yang seorang di sebelah kanan dan yang lainnya di sebelah kiri Yesus dan salah satu penjahat itu berkata kepada Yesus “Bukankah Engkau Kristus..? Selamatkan lah diri-Mu dan kami, lalu salah satu dari Imam Agung pun berkata Kembali kepada Yesus.
Adegan :
( Salib Yesus di dirikan dengan ditarik menggunakan tali tambang )
IA : Hei…Engkau yang ingin merobohkan bait Allah, dan
Dapat membangunnya kembali dalam waktu 3 hari…..
Turunlah Engkau Mesias dari salib itu, jikalau Engkau sungguh anak Allah..!
Y : Bapa, Ampuni mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
N2 : Kemudian berkata lah salah satu dari penjahat yang akan di salib Bersama Yesus,
sudah selayaknya aku dihukum, sebab aku pantas menerima balasan yang setimpal atas semua perbuatan ku, tetapi Engkau tidak berbuat sesuatu yang salah,
Ya.. Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.
Y : Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama
dengan Aku di dalam Firdaus.
Perhentian XII : YESUS WAFAT DI SALIB
N1 : Memandang dari kayu salib, Yesus melihat orang yang dikasihi-Nya, yaitu Ibu-Nya,
Bunda Maria, saudara ibunya Maria istri Kleopas, Maria Magdalena, dan murid-Nya yang terkasih, Yohanes. Di detik-detik akhir hidupNya Yesus merasa lemah dan tak berdaya serta merasa haus dengan menahan rasa sakit yang begitu sangat menyakitkan.
Y : Aku haus…..
Adegan :
( Maria dibawah salib Yesus dan mencium kaki Yesus sambil menangis )
N2 : Mendengar perkataan Yesus, salah seorang prajurit pun mengambil bunga karang yang
ditusukkannya pada sebatang buluh kemudian mencelupkannya ke wadah yang berisikan anggur asam, dan mengarahkannya didepan mulut Yesus. Dengan sisa-sisa nafas-Nya, Yesus memberikan pesan terakhirnya kepada Ibu dan murid kesayangannya yang tengah bersimpu di bawah kayu salibNya. Mendengar perkataan Yesus, Yohanes menerima Maria sebagai Ibunya dan begitu juga sebaliknya.
Adegan :
( Prajurit Membasahi Tubuh Yesus dan mengarahkan air ke muka yesus )
Y : Ibu.. Inilah anakmu. Dan kau Yohanes, Inilah Ibumu…
Adegan :
( Maria masih dibawah salib Yesus dan mencium kaki Yesus sambil menangis )
M : Daging dari dagingku… Hati dari hatiku… Biarkan aku mati bersamamu.
N1 : Yesus sadar, bahwa segala sesuatu sudah terlaksana, untuk menepati yang sudah
dijanjikan, dan waktunya sudah dekat Yesus pun menengadah wajahNya ke langit dan IA pun berteriak dengan suara nyaring dengan berkata :
Y : Eli…, Eli…., lama sabakhtani…..
Ya Bapa, ke dalam tanganMu kuserahkan hidupKu.......
Instrumen : ( Suara Petir )
Adegan :
( Semua orang berlarian ketakutan )
N2 : Akhirnya Yesus menyerahkan nyawa-Nya, Kejadian itu disaksikan dengan jelas oleh
para prajurit dan semua orang yang berada disekitar salib Yesus. Para prajurit dan orang-orang pun berlarian ketika merasakan adanya getaran gempa bumi dan suara petir, Bait Allah pun terbelah 2 yang tersisa didekat salib Yesus, hanyalah Kepala Prajurit, dengan penuh rasa heran
Kepala prajurit memutuskan untuk menusuk lambung Yesus untuk membuktikan apakah Yesus
sudah mati. Seketika keluarlah darah dan air dari lambung Yesus.
Kepala Prajurit terus menatap Yesus yang tergantung di kayu salib.
KP : Sungguh... orang ini Anak Allah
Perhentian XIII : JENASAH YESUS DITURUNKAN DARI SALIB
Instrumen : ( Musik Sedih )
N1 : Dekat salib Yesus berdirilah Maria Ibunya, saudara ibunya, Maria istri Kleopas dan
Maria Magdalena. Karena hari itu menjelang hari Paskah. Maka Yusup dari Arimatea meminta kepada Kepala Prajurit untuk menurunkan jenasah Yesus. Dan Nikodemus, juga datang pada saat itu ke tempat itu, pada saat penurunan jenasah Yesus.
Para murid Yesus mengambil jenasah Yesus untuk di kafani dengan kain lenan dan meminyaki-Nya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi. Mereka akan memakamkan jenasah Yesus, Di sini dibenarkan tentang sabda Yesus bahwa benih yang ditanam harus mati dahulu agar dapat menghasilkan buah yang banyak.
Perhentian XIV : YESUS DIMAKAMKAN
Instrumen : ( Musik Sedih )
N2 : Tuhan Yesus, Engkau menebus Dosa kami dengan Salib MU, Engkau Ditabur kedalam kefanaan,
dibangkitkan dalam keadaan baka, Engkau Ditabur dalam kelemahan, dan dibangkitkan dalam kekuatan. Semoga dengan jalan salibMu ini, kami Umat MU pun, dapat dikuatkan untuk memikul salib tanggung jawab atas hidup kami di bumi ini. Teguhkanlah iman kami agar tetap setia dan percaya kepadaMu serta selalu hidup dalam namaMu sampai akhirnya kami pun dapat turut bangkit bersama Dikau.....
Adegan :
( 3 Prajurit mengangkat jenasah Yesus sampai ke dalam Gereja )
Adegan :
( Perarakan jenasah sampai ke dalam Gereja dan disemayamkan di depan altar )
( Di ikuti oleh Pastor, Seluruh Pemain dan Umat )
PASTOR : Doa Penutup dan Berkat Tuhan
2025
Dalam beberapa bulan lagi Tahun Yubileum akan berakhir, tetapi kita tetap dapat merenungkan apa pesan Paus Fransiskus dalam Bulla “Spes Non Confundit” (Harapan Tidak Mengecewakan). “Bagi semua orang, semoga Yubileum ini menjadi momen perjumpaan pribadi yang sejati dengan Tuhan Yesus, “pintu” (lihat. Yoh. 10:7,9) keselamatan kita, yang selalu diwartakan oleh Gereja sebagai “pengharapan kita” (1Tim. 1:1), kepada siapa saja dan di mana saja (SNC 1). Orang yang percaya kepada Kristus hidup dalam damai sejahtera dengan Allah dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Pengharapan ini tidak mengecewakan karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rm. 5:1-2,5). Wafat dan kebangkitan Yesus adalah inti iman kita dan dasar pengharapan kita. Kristus mati, dikuburkan, dibangkitkan, dan menampakkan diri. Demi kita, Yesus mengalami drama kematian. Pengharapan Kristiani justru terletak pada hal ini: bahwa dalam menghadapi kematian yang tampaknya merupakan akhir dari segalanya, kita mempunyai kepastian bahwa, berkat
kasih karunia Kristus yang diberikan kepada kita melalui pembaptisan, “kehidupan diubah, bukan berakhir,” selamanya. Apa yang akan terjadi pada kita setelah kematian? Bersama Yesus, melampaui ambang batas ini, kita akan menemukan kehidupan kekal, yang merupakan persekutuan penuh dengan Tuhan. Apa yang menjadi ciri kepenuhan persekutuan ini..?
Menjadi Bahagia. Kebahagiaan adalah panggilan kemanusiaan kita, sebuah tujuan yang dicita-citakan semua orang. Berkaitan dengan kehidupan kekal, kita perlu mengingat penghakiman Allah, baik pada akhir kehidupan kita, maupun pada akhir sejarah (SNC 21). Kita memang harus mempersiapkan diri secara sadar dan bijaksana untuk menghadapi saat ketika hidup kita akan diadili, namun dari sudut pandang pengharapan kita harus selalu melakukan Kebajikan teologis yang menopang hidup kita dan melindunginya dari ketakutan yang tidak berdasar. Penghakiman Allah, yang adalah kasih (lihat 1Yoh. 4:8:16), pasti akan didasarkan pada kasih, dan khususnya pada semua yang telah berhasil atau gagal kita lakukan sehubungan dengan mereka yang membutuhkan, yang di tengah-tengahnya Kristus, sang Hakim sendiri, hadir (lihat. Mat.25:31-46).
Harus diakui bahwa selama hidup di dunia ini manusia tidak lepas dari kecenderungan untuk berdosa. Paus Fransiskus mengajak para Misionaris Belas Kasih untuk menghidupkan kembali pengharapan dan menawarkan pengampunan setiap kali ada orang berdosa yang datang kepada merekadengan hati terbuka dan kehendak untuk bertobat (SNC 23). “Di Tahun
Yobel ini semoga semua orang dapat menerima pengampunan dan penghiburan dari Tuhan” (SNC 23). Orang yang bertobat dan menerima pengampunan dipanggil menjalani kehidupan mereka seperti yang dikehendaki oleh Allah, yaitu hidup dalam kasih dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang bertindak demikian dapat disebut sebagai orang yang menjalani pembaruan hidup: ia meninggalkan dosa dan kejahatan yang telah dilakukannya, lalu menjalani kehidupan yang dikehendaki oleh Allah, kehidupan yang diwarnai dengan kasih.
Dalam Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2025 ini, kita akan merenungkan nubuat dua orang nabi yang berkarya di zaman sesudah pembuangan, yaitu Zakharia dan Maleakhi. Kedua nabi ini menyampaikan seruan tentang pembaruan hidup kepada orang-orang Yahudi, bangsa yang dipilih oleh Tuhan menjadi Umat-Nya. Sebagai bangsa pilihan TUHAN, mereka diingatkan untuk hidup sesuai jatidiri mereka dengan hidup menurut kehendak TUHAN, Allah mereka.
Allah, Sumber Pembaruan Relasi
Ketika orang Israel diperbudak di Mesir, mereka berteriak minta tolong karena tidak tahan menanggung penderitaan karena perbudakan (Kel.2:23). Allah mendengar rintihan orang Israel lalu memperhatikan mereka (Kel. 2:24). Ia melihat betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka (Kel.3:9). Karena itu, Allah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan membawa mereka ke negeri yang luas dan subur (Kel. 3:8). Allah menjumpai Musa untuk mengutusnya membawa orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 3:10). Lalu, dengan perantaraan Musa, Allah berbagai tulah untuk memaksa orang Mesir membiarkan orang Israel pergi dari negeri mereka. Demikianlah, Musa membawa orang Israel keluar dari negeri yang telah memperbudak mereka. Seperti yang diperintahkan oleh Allah (Kel. 3:12), Musa membawa orang Israel ke Sinai. Di gunung ini TUHAN, mengadakan perjanjian dengan orang Israel. Dalam Perjanjian Sinai TUHAN mengangkat Israel menjadi umat-Nya (Kel. 19:5-6). Dengan demikian, Ia menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat TUHAN. Mereka mendapatkan jatidiri yang baru :
Sebelumnya mereka adalah bangsa budak, yang ada di bawah kekuasaan orang Mesir. Setelah diikat dalam perjanjian dengan TUHAN, mereka bukan lagi budak melainkan bangsa yang merdeka; mereka bukan lagi budak Mesir, melainkan bangsa pilihan TUHAN. Antara TUHAN dan orang Israel terbentuk relasi yang eksklusif, yaitu relasi antara Allah dan Umat-Nya. TUHAN melakukan semua itu kepada orang Israel karena Ia mengasihi mereka (Ul. 7:8; bdk. Ul. 4:37).
TUHAN yang telah membangun relasi dengan orang Israel menghendaki agar mereka memperhatikan relasi mereka dengan Allah mereka dan dengan sesama mereka. Kehendak TUHAN ini diungkapkan dalam Hukum Taurat yang diberikan kepada orang Israel menjadi pedoman hidup bagi mereka.
Pada dasarnya hukum ini bertumpu pada dua hal, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat. 22:34-40; Ul. 10:12-20). Dengan kata lain, kehidupan umat TUHAN itu diwarnai relasi penuh kasih dengan Allah dan dengan sesama.
Orang Israel menyatakan kesanggupan untuk menjadi umat TUHAN dan kesanggupan untuk hidup menurut jati dirinya sebagai umat-Nya dan kesanggupan untuk melakukan firman yang telah disampaikan oleh TUHAN kepada mereka (Kel. 19:8; 24:3,7). Kehidupan Umat Israel dikatakan tidak sesuai dengan jatidirinya, bila mereka tidak setia kepada Allah atau memberontak melawan Dia dan bila mereka berlaku tidak adil kepada sesama. Dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang Israel kepada TUHAN dan kepada sesama ini merusak relasi mereka dengan Allah dan sesama mereka. Kehidupan orang Israel selama hidup di padang gurun dipahami sebagai masa yang indah dalam hubungan mereka dengan TUHAN. Tetapi, dalam perjalanan sejarah mereka, orang Israel berulang kali melanggar hukum Allah. Mereka berlaku tidak setia kepada Allah dengan meninggalkan Dia dan menyembah dewa-
dewi dan melakukan berbagai kejahatan kepada sesama.
Setiap kali orang Israel melakukan berlaku tidak setia kepada Allah dan berlaku jahat kepada
sesama, TUHAN mengutus para nabi kepada mereka. Nabi diutus oleh Allah untuk mengingatkan umat Israel supaya meninggalkan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan lalu hidup sesuai dengan jatidiri mereka sebagai umat pilihan Allah. Para nabi harus berjuang keras untuk menyampaikan peringatan kepada umat Israel.
Mereka melakukan hal ini dengan berbagai cara:
• mengingatkan orang Israel pada kasih Allah yang telah mengangkat
mereka yang dulunya budak menjadi umat-Nya.
• mengingatkan mereka akan jatidiri mereka sebagai umat TUHAN
supaya mereka hidup menurut jatidiri mereka dengan hidup menurut hukum TUHAN.
• menyampaikan seruan pertobatan: mengingatkan mereka untuk
menghentikan kejahatan yang mereka lakukan (Yeh. 18:31).
• menyampaikan ancaman hukuman atau konsekuensi yang harus
mereka tanggung bila mereka menolak peringatan Allah yang mereka sampaikan.
Ketika menyembah berhala, orang Israel meninggalkan TUHAN dan pergi
kepada para berhala itu. Hati mereka tertuju kepada para berhala lalu mereka pergi ke
kuil untuk menyampaikan persembahan kepada berhala.
Para nabi mengingatkan mereka tentang kesalahan itu dan mengajak mereka untuk kembali kepada TUHAN: mengarahkan hati mereka kepada TUHAN dan beribadah kepada-Nya. Demikian juga, ketika orang Israel berdosa kepada sesamanya, mereka telah meninggalkan TUHAN dengan mengabaikan relasi mereka dengan TUHAN dan dengan sesama dan mengabaikan kehendak-Nya. Para nabi menyampaikan seruan agar orang Israel meninggalkan berhala-berhala mereka lalu kembali kepada TUHAN, meninggalkan dosa dan kejahatan mereka lalu hidup menurut kehendak TUHAN. Ketika umat TUHAN meninggalkan para berhala dan dosa mereka lalu kembali kepada TUHAN itu disebut sebagai pertobatan.
Setelah mendengar seruan pertobatan yang disampaikan oleh para nabi, TUHAN mengharapkan orang Israel meninggalkan pelanggaran, dosa, dan kejahatan mereka, lalu kembali kepada Allah dan hidup menurut kehendak- Nya. Tetapi, peringatan para nabi sering diabaikan, bahkan mereka menolak ucapan para nabi dengan menganiaya atau membunuhnya. Karena orang Israel menolak peringatan TUHAN, mereka harus menanggung hukuman atas dosa dan kejahatan yang mereka lakukan. Sesungguhnya TUHAN tidak ingin menghukum umat-Nya. Ia menghendaki agar Umat Israel senantiasa hidup sesuai dengan jatidirinya sebagai umat pilihan, yaitu hidup dalam relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Ketika mereka berlaku tidak setia kepada-Nya dan memperlakukan sesamanya secara tidak adil, Allah menghendaki agar mereka memperbarui hidup mereka dengan memperbaiki relasi dengan Allah dan sesama.
Pembaruan Relasi Dalam Hidup
Seruan yang disampaikan oleh para nabi untuk memperbarui relasi dalamkehidupan itu tidak hanya berlaku untuk umat Allah di Perjanjian Lama, tetapi juga untuk umat Allah sepanjang zaman. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah mengasihi manusia dan menghendaki manusia hidup dalam kemuliaan abadi bersama dengan Dia
(Yoh. 3:16). Karena itu, Allah mengaruniakan Anak Tunggal-Nya untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Kasih Allah kepada manusia itu tampak jelas dalam diri Yesus, yang mengasihi manusia dengan kasih yang paling besar, yaitu dengan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 15:13). Dengan cara demikian, Allah membuka relasi dengan manusia, bukan hanya dengan orang Israel.
Orang yang telah mengambil keputusan untuk percaya kepada Allah yang mengasihi manusia ini masuk dalam relasi dengan Allah. Karena Allah telah mengasihi dia, dia pun mengasihi Allah. Karena telah mengasihi manusia dengan kasih yang paling besar, Yesus menyampaikan perintah yang baru, yaitu supaya para murid-Nya mengasihi sesama seperti Ia telah mengasihi mereka (Yoh. 13:14; 15:12). Karena itu, orang yang percaya kepada Kristus senantiasa menyesuaikan hidupnya dengan kehendak Allah. Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah adalah kehidupan yang diwarnai dengan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Seluruh anggota Gereja, umat Allah yang baru, dipanggil untuk memperbarui relasi dengan Allah dan dengan sesama. Supaya dapat menjalani kehidupan seperti ini, orang perlu mempelajari siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan tentang Allah ini
menolong orang untuk masuk dalam pengenalan akan Allah. Orang yang mengenal Allah membina relasi dengan Allah: Ia merasakan bagaimana Allah telah mengasihi dia dan sebaliknya, ia pun mengasihi Allah. Berdasarkan pemahaman dan pengenal akan Allah yang dimilikinya, umat memeriksa diri mereka berdasarkan pemahaman tentang Allah dan kehendak-Nya. Dalam pemeriksaan diri itu, mereka melihat bagaimana mereka telah bersikap kepada Allah dan kepada sesama. Mereka dapat melihat yang benar dan yang salah
dalam perbuatan mereka. Kesadaran akan kasih Allah akan mendorong dia untuk tidak lagi melakukan hal- hal yang salah, baik kepada Allah maupun kepada sesama. Sesudah itu, ia akan mengarahkan hidupnya semata-mata untuk melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Allah dan mengusahakan semua yang diperlukan supaya ia berpikir, berbicara, dan bertindak benar, sesuai dengan Dalam beberapa bulan lagi Tahun Yubileum akan berakhir, tetapi kita tetap dapat merenungkan apa pesan Paus Fransiskus dalam Bulla “Spes Non
Confundit” (Harapan Tidak Mengecewakan). “Bagi semua orang, semoga Yubileum ini menjadi momen perjumpaan pribadi yang sejati dengan Tuhan Yesus, “pintu”
(lihat. Yoh.10:7,9) keselamatan kita, yang selalu diwartakan oleh Gereja sebagai “pengharapan kita” (1Tim. 1:1), kepada siapa saja dan di mana saja (SNC 1). Orang yang percaya kepada Kristus hidup dalam damai sejahtera dengan Allah dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Pengharapan ini tidak mengecewakan
karena kasih Allah telah dicurahkan dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rm. 5:1-2,5). Wafat dan kebangkitan Yesus adalah inti iman kita dan dasar pengharapan kita. Kristus mati, dikuburkan, dibangkitkan, dan menampakkan diri.
Demi kita, Yesus mengalami drama kematian. Pengharapan Kristiani justru terletak pada hal ini: bahwa dalam menghadapi kematian yang tampaknya merupakan akhir dari segalanya, kita mempunyai kepastian bahwa, berkat kasih karunia Kristus yang diberikan kepada kita melalui pembaptisan, “kehidupan diubah, bukan berakhir,” selamanya. Apa yang akan terjadi
pada kita setelah kematian? Bersama Yesus, melampaui ambang batas ini, kita akan menemukan kehidupan kekal, yang merupakan persekutuan penuh dengan Tuhan. Apa yang menjadi ciri kepenuhan persekutuan ini? Menjadi Bahagia. Kebahagiaan adalah panggilan kemanusiaan kita, sebuah tujuan yang dicita-citakan semua orang. Berkaitan dengan kehidupan kekal, kita perlu mengingat penghakiman Allah, baik pada akhir kehidupan kita, maupun pada akhir sejarah (SNC 21). Kita memang harus mempersiapkan diri secara sadar dan bijaksana untuk menghadapi saat ketika hidup kita akan diadili, namun dari sudut
pandang pengharapan kita harus selalu melakukan Kebajikan teologis yang menopang hidup kita dan melindunginya dari ketakutan yang tidak berdasar. Penghakiman Allah, yang adalah kasih (lihat 1Yoh. 4:8:16), pasti akan didasarkan pada kasih, dan khususnya pada semua yang telah berhasil atau gagal kita lakukan sehubungan dengan mereka yang membutuhkan,
yang di tengah-tengahnya Kristus, sang Hakim sendiri, hadir (lihat. Mat. 25:31-46).
Harus diakui bahwa selama hidup di dunia ini manusia tidak lepas dari kecenderungan untuk berdosa. Paus Fransiskus mengajak para Misionaris Belas Kasih untuk menghidupkan kembali pengharapan dan menawarkan pengampunan setiap kali ada orang berdosa yang datang kepada mereka dengan hati terbuka dan kehendak untuk bertobat (SNC 23). “Di Tahun Yobel ini semoga semua orang dapat menerima pengampunan dan penghiburan dari Tuhan” (SNC 23). Orang yang bertobat dan menerima pengampunan dipanggil menjalani kehidupan mereka seperti yang dikehendaki oleh Allah, yaitu hidup dalam kasih dengan Allah dan dengan sesama. Orang yang bertindak demikian dapat disebut sebagai orang yang menjalani pembaruan hidup: ia meninggalkan dosa dan kejahatan yang telah dilakukannya, lalu menjalani kehidupan yang dikehendaki oleh Allah, kehidupan yang diwarnai dengan kasih. Dalam Bulan Kitab Suci Nasional tahun 2025 ini, kita akan merenungkan nubuat dua orang nabi yang berkarya di zaman sesudah pembuangan, yaitu Zakharia dan Maleakhi. Kedua nabi ini menyampaikan seruan tentang pembaruan hidup kepada orang-orang Yahudi, bangsa yang dipilih oleh Tuhan menjadi Umat-Nya. Sebagai bangsa pilihan TUHAN, mereka
diingatkan untuk hidup sesuai jatidiri mereka dengan hidup menurut kehendak TUHAN, Allah mereka.
Allah, Sumber Pembaruan Relasi
Ketika orang Israel diperbudak di Mesir, mereka berteriak minta tolong karena tidak tahan menanggung penderitaan karena perbudakan (Kel.2:23). Allah mendengar rintihan orang Israel lalu memperhatikan mereka (Kel. 2:24). Ia melihat betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka (Kel.3:9). Karena itu, Allah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan membawa mereka ke negeri yang luas dan subur (Kel. 3:8). Allah menjumpai Musa untuk mengutusnya membawa orang Israel keluar dari Mesir (Kel. 3:10). Lalu, dengan perantaraan Musa, Allah berbagai tulah untuk memaksa orang Mesir membiarkan orang Israel pergi dari negeri mereka. Demikianlah, Musa membawa orang Israel keluar dari negeri yang telah memperbudak mereka. Seperti yang diperintahkan oleh Allah (Kel. 3:12), Musa membawa orang Israel ke Sinai. Di gunung ini TUHAN, mengadakan perjanjian dengan orang Israel. Dalam Perjanjian Sinai TUHAN mengangkat Israel menjadi umat-Nya (Kel. 19:5-6). Dengan demikian, Ia menjadi Allah Israel dan Israel menjadi umat TUHAN.
Mereka mendapatkan jati diri yang baru:
sebelumnya mereka adalah bangsa budak, yang ada di bawah kekuasaan orang Mesir. Setelah diikat dalam perjanjian dengan TUHAN, mereka bukan lagi budak melainkan bangsa yang merdeka; mereka bukan lagi budak Mesir, melainkan bangsa pilihan TUHAN. Antara TUHAN dan orang Israel terbentuk relasi yang eksklusif, yaitu relasi antara Allah dan Umat-Nya. TUHAN melakukan semua itu kepada orang Israel karena Ia mengasihi mereka (Ul. 7:8; bdk. Ul. 4:37). TUHAN yang telah membangun relasi dengan orang Israel menghendaki agar mereka memperhatikan relasi mereka dengan Allah mereka dan dengan sesama mereka. Kehendak TUHAN ini diungkapkan dalam Hukum Taurat yang diberikan kepada orang Israel menjadi pedoman hidup bagi mereka. Pada dasarnya hukum ini bertumpu pada dua hal, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama (Mat. 22:34-40; Ul. 10:12-20). Dengan kata lain, kehidupan umat TUHAN itu diwarnai relasi penuh kasih dengan Allah dan dengan sesama. Orang Israel menyatakan kesanggupan untuk menjadi umat TUHAN dan kesanggupan untuk hidup menurut jati dirinya sebagai umat-Nya dan kesanggupan untuk melakukan firman yang telah disampaikan oleh TUHAN kepada mereka (Kel. 19:8; 24:3,7).
Kehidupan Umat Israel dikatakan tidak sesuai dengan jatidirinya, bila mereka tidak setia kepada Allah atau memberontak melawan Dia dan bila mereka berlaku tidak adil kepada sesama. Dosa dan kejahatan yang dilakukan oleh orang Israel kepada TUHAN dan kepada sesama ini merusak relasi mereka dengan Allah dan sesama mereka. Kehidupan orang
Israel selama hidup di padang gurun dipahami sebagai masa yang indah dalam hubungan mereka dengan TUHAN. Tetapi, dalam perjalanan sejarah mereka, orang Israel berulang kali melanggar hukum Allah. Mereka berlaku tidak setia kepada Allah dengan meninggalkan Dia dan menyembah dewa-dewi dan melakukan berbagai kejahatan kepada sesama. Setiap kali orang Israel melakukan berlaku tidak setia kepada Allah dan berlaku jahat kepada sesama, TUHAN mengutus para nabi kepada mereka. Nabi diutus oleh Allah untuk mengingatkan umat Israel supaya meninggalkan kejahatan dan dosa yang mereka lakukan lalu hidup sesuai dengan jatidiri mereka sebagai umat pilihan Allah. Para nabi harus berjuang keras untuk menyampaikan peringatan kepada umat Israel.
Mereka melakukan hal ini dengan berbagai cara:
• mengingatkan orang Israel pada kasih Allah yang telah mengangkat
mereka yang dulunya budak menjadi umat-Nya.
• mengingatkan mereka akan jatidiri mereka sebagai umat TUHAN
supaya mereka hidup menurut jatidiri mereka dengan hidup menurut hukum TUHAN.
• menyampaikan seruan pertobatan: mengingatkan mereka untuk menghentikan kejahatan yang mereka lakukan (Yeh. 18:31).
• menyampaikan ancaman hukuman atau konsekuensi yang harus mereka tanggung bila mereka menolak peringatan Allah yang mereka sampaikan.
Ketika menyembah berhala, orang Israel meninggalkan TUHAN dan pergi kepada para berhala itu. Hati mereka tertuju kepada para berhala lalu mereka pergi ke kuil untuk menyampaikan persembahan kepada berhala. Para nabi mengingatkan mereka tentang kesalahan itu dan mengajak mereka untuk kembali kepada TUHAN: mengarahkan hati mereka kepada TUHAN dan beribadah kepada-Nya. Demikian juga, ketika orang Israel berdosa kepada sesamanya, mereka telah meninggalkan TUHAN dengan mengabaikan relasi mereka dengan TUHAN dan dengan sesama dan mengabaikan kehendak-Nya. Para nabi menyampaikan seruan agar orang Israel meninggalkan berhala-berhala mereka lalu kembali kepada TUHAN, meninggalkan dosa dan kejahatan mereka lalu hidup menurut kehendak TUHAN. Ketika umat TUHAN meninggalkan para berhala dan dosa mereka lalu kembali kepada TUHAN itu disebut sebagai pertobatan. Setelah mendengar seruan pertobatan yang disampaikan oleh para nabi, TUHAN mengharapkan orang Israel meninggalkan pelanggaran, dosa, dan kejahatan mereka, lalu kembali kepada Allah dan hidup menurut kehendak-Nya. Tetapi, peringatan para nabi sering diabaikan, bahkan mereka menolak ucapan para nabi dengan menganiaya atau membunuhnya. Karena orang Israel menolak peringatan TUHAN, mereka harus menanggung hukuman atas dosa dan kejahatan yang mereka lakukan. Sesungguhnya TUHAN tidak ingin menghukum umat-Nya. Ia menghendaki agar Umat Israel senantiasa hidup sesuai dengan jatidirinya sebagai umat pilihan, yaitu hidup dalam relasi yang benar dengan Allah dan dengan sesama. Ketika mereka berlaku tidak setia kepada-Nya dan memperlakukan sesamanya secara tidak adil, Allah menghendaki agar mereka memperbarui hidup mereka dengan memperbaiki relasi dengan Allah dan sesama.
Pembaruan Relasi Dalam Hidup
Seruan yang disampaikan oleh para nabi untuk memperbarui relasi dalam kehidupan itu tidak hanya berlaku untuk umat Allah di Perjanjian Lama, tetapi juga untuk umat Allah sepanjang zaman. Dalam Injil Yohanes Tuhan Yesus menyatakan bahwa Allah mengasihi manusia dan menghendaki manusia hidup dalam kemuliaan abadi bersama dengan Dia
(Yoh. 3:16). Karena itu, Allah mengaruniakan Anak Tunggal-Nya untuk membebaskan manusia dari dosa dan kematian. Kasih Allah kepada manusia itu tampak jelas dalam diri Yesus, yang mengasihi manusia dengan kasih yang paling besar, yaitu dengan menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 15:13). Dengan cara demikian, Allah membuka relasi dengan manusia, bukan hanya dengan orang Israel.
Orang yang telah mengambil keputusan untuk percaya kepada Allah yang mengasihi manusia ini masuk dalam relasi dengan Allah. Karena Allah telah mengasihi dia, dia pun mengasihi Allah. Karena telah mengasihi manusia dengan kasih yang paling besar, Yesus menyampaikan perintah yang baru, yaitu supaya para murid-Nya mengasihi sesama seperti Ia telah mengasihi mereka (Yoh. 13:14; 15:12). Karena itu, orang yang percaya kepada
Kristus senantiasa menyesuaikan hidupnya dengan kehendak Allah. Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah adalah kehidupan yang diwarnai dengan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Seluruh anggota Gereja, umat Allah yang baru, dipanggil untuk memperbarui relasi dengan Allah dan dengan sesama. Supaya dapat menjalani kehidupan seperti ini, orang perlu mempelajari siapa Allah dan apa yang dikehendaki-Nya. Pengetahuan tentang Allah ini menolong orang untuk masuk dalam pengenalan akan Allah. Orang yang
mengenal Allah membina relasi dengan Allah: Ia merasakan bagaimana Allah telah mengasihi dia dan sebaliknya, ia pun mengasihi Allah.
Berdasarkan pemahaman dan pengenal akan Allah yang dimilikinya, umat memeriksa diri mereka berdasarkan pemahaman tentang Allah dan kehendak-Nya. Dalam pemeriksaan diri itu, mereka melihat bagaimana mereka telah bersikap kepada Allah dan kepada sesama. Mereka dapat melihat yang benar dan yang salah dalam perbuatan mereka. Kesadaran akan kasih Allah akan mendorong dia untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang salah, baik kepada Allah maupun kepada sesama. Sesudah itu, ia akan mengarahkan hidupnya semata-mata untuk melakukan hal-hal yang dikehendaki oleh Allah dan mengusahakan semua yang diperlukan supaya ia berpikir, berbicara, dan bertindak benar, sesuai dengan firman Allah