Padukuhan Soka Martani merupakan salah satu wilayah yang berada di Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Padukuhan ini masih menjaga nuasa pedesaan dengan kehidupan masyarakat yang berakar kuat pada tradisi sekaligus terbuka terhadap perubahan. Kondisi geografis yang relatif subur menjadikan pertanian sebagai penopang perekonomian warga. Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, Soka Martani juga ditopang oleh ikatan sosial dan budaya yang kokoh.
Di antara lebatnya pohon salak di Soka Martani, tersimpan kisah panjang yang tak hanya berbicara soal buah, tetapi juga tentang perjalanan waktu, pilihan petani, hingga tantangan zaman. Dulu, Salak Pondoh menjadi pilihan utama dalam budidaya pertanian warga. Namun kini, namanya perlahan mulai tenggelam, tergantikan oleh varietas yang lebih manis dan lebih diminati pasar, yakni Salak Madu Probo.
Penghijauan adalah salah satu upaya krusial untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tidak selalu harus melalui penanaman pohon besar, penghijauan juga dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana yang langsung memberikan manfaat kepada warga. Dengan melakukan kegiatan kecil seperti menanam sayuran, warga Padukuhan Soka Martani menciptakan inovasi yang ramah lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
The aroma of warm wax welcomed us that morning. In the warm weather, we gathered at the Batik Merdiko production house. A man we called Mas Kukuh was the one who invited us there to see the batik-making process. With his characteristic calm voice, Mas Kukuh told us how batik is created, enchanting us with his extraordinary stories.
Padukuhan Soka Martani memiliki beragam potensi ekonomi yang berakar pada keterampilan dan kearifan lokal masyarakatnya. Aktivitas ekonomi di padukuhan ini berkembang melalui inisiatif warga yang memanfaatkan sumber daya sekitar, mulai dari mengolah hasil pangan, mengembangkan produk olahan rumahan, hingga menjalankan usaha berbasis layanan.
Pada tanggal 20 Juni 2025, tujuh mahasiswa sarjana dari Universitas Gadjah Mada memulai perjalanan KKN mereka di Padukuhan Soka Martani, Merdikorejo. Perjalanan ini akan berlangsung selama 50 hari, dan siapa sangka, pengalaman yang diawali oleh pertemuan antar orang asing yang hanya terhubung oleh rasa takut dan ragu yang sama akan berakhir dengan perpisahan di antara sahabat dan wajah-wajah yang basah oleh air mata.
Di tengah meningkatnya volume sampah rumah tangga dan persoalan pengelolaannya, hadirnya Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS 3R) Kenanga Merdiko menjadi angin segar dalam upaya membangun desa yang bersih dan berkelanjutan. TPS 3R ini tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga simbol kesadaran dan pemberdayaan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
"Jejak Tradisi Hidup Bersih dalam Budaya Lokal" merupakan sebuah panduan kecil dalam menilik kembali tradisi hidup bersih dan sehat yang telah ada jauh sebelum kita lahir. Dibagi menjadi tiga bagian, yaitu alat, bahan, dan obat-obatan, modul ini menjadi pengingat bahwa alam dan kita tumbuh dekat, dengan alam menjaga kehidupan kita, dan kita yang bertugas merawatnya.
Batik Merdiko merupakan komunitas pengrajin batik yang berdiri sejak tahun 2016 di Kalurahan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Komunitas ini tumbuh dari pelatihan membatik tingkat desa yang diikuti oleh perwakilan berbagai dusun. Dari kegiatan tersebut, terbentuklah kelompok batik kemudian mengembangkan hasil latihannya menjadi karya yang dipasarkan melalui berbagai event, seperti Pameran Potensi Daerah (PDD). Sejak saat itu, Batik Merdiko terus bertahan dan berkembang dengan semangat kolaboratif dan inovatif.