Disiplin merupakan suatu kegiatan yang dilakukan agar tidak melanggar peraturan yang berlaku demi terciptanya suatu tujuan. Disiplin tidak hanya dilakukan di rumah tapi disiplin juga bisa dilakukan di sekolah. Dengan adanya disiplin di sekolah murid-murid akan melakukan segala sesuatu dengan tertib dan teratur sehingga tercapainya impian dan tujuan dalam hidup.
Kegiatan sekolah merupakan salah satu bentuk dari disiplin seperti guru maupun murid berperilaku sopan santun, bahasa yang baik dan benar. Dan murid menerima teguran atau hukuman yang adil. Serta guru dan murid bekerjasama dalam membangun, memelihara dan memperbaiki aturan-aturan dan norma-norma.
Disiplin dan tata tertib sekolah dibuat untuk menciptakan suasana sekolah yang aman dan tertib sehingga akan terhindar dari kejadian-kejadian yang bersifat negatif. Terkadang tak semua siswa melakukan disiplin di sekolah misalnya, sering terlambat sekolah, lupa mengerjakan PR sekolah, dll. Akibatnya murid tersebut diberikan hukuman. Hukuman yang diberikan ternyata tak ampuh untuk menangkal beberapa bentuk pelanggaran, malahan akan bertambah keruh permasalahan.
Ada empat yang bisa dilakukan untuk menanggulangi/menangkal pelanggaran disiplin dan tata tertib sekolah menurut Dr.D.J Schwart diantaranya :
Pelajari kemunduran untuk menempuh jalan ke arah kebersihan.
Jangan sekali-kali menyalahkan nasib buruk.
Gabungkan ketekunan dan eksperimen-eksperimen baru.
Ingat, bahwa dalam setiap situasi selalu ada segi baik dan positif . Temukan segi positif itu dan buang keputusasaan.
Keempat cara diatas bisa membantu siswa memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya dan menjauhi melakukan larangan yang dilarang oleh sekolah. Siswa harus belajar bagaimana cara mentaati tata tertib sekolah, dengan membiasakan diri untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan bermanfaat bagi dirinya serta lingkungan disekitarnya.
Membaca tak hanya menjadi cara untuk menambah pengetahuan. Ada sejumlah rahasia di balik kebiasaan ini. Sejumlah tokoh dunia dikenal punya kegemaran rutin membaca, bahkan di setiap pagi sembari meminum kopi. Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, adalah salah satu tokoh yang setiap pagi rutin membaca media massa utama. Pendahulu Obama, Bill Clinton, juga diketahui suka membaca novel. Karya Ralph Ellison masuk daftar bacaan favoritnya.
Di antara sekian rahasia kebiasaan membaca adalah manfaatnya bagi kecerdasan otak. Membaca juga tak selalu berarti dari buku atau media cetak. Perkembangan teknologi telah memungkinkan aktivitas tersebut dilakukan lewat dunia maya. Misalnya, memakai peranti bergerak seperti Samsung Galaxy Tab S2.
Mobilitas yang semakin tinggi, memungkinkan perangkat teknologi mobile memberikan andil lebih besar dalam kehidupan keseharian. Membaca bukan perkecualian. Terlebih lagi, layar Super AMOLED maupun dimensi dengan ketebalan tak lebih dari 5,6 milimeter seperti yang dipasang pada tablet tersebut, memberikan ketajaman warna dan membuatnya gampang dijinjing yang bisa memudahkan kebiasaan membaca.
Berikut ini adalah berapa manfaat yang bisa didapat dari kebiasan membaca:
Perspektif dalam berpikir
Clinton berpendapat, membaca merupakan cara dia mendapatkan referensi, dari literatur hingga aneka sudut pandang atas sebuah persoalan. Dalam konteks Clinton, misalnya, dia mengaku mendapatkan sudut pandang sebagai politisi tentang diskriminasi ras dari novel The Invisible Man dan I Know Why the Caged Bird Sing.
Kemampuan menulis dan berbicara
Banyak orator besar dikenal sebagai sosok kutu buku. Sebut saja Soekarno, Nelson Mandela, juga Abraham Lincoln. Mereka mengembangkan kemampuan berbicara dan mempengaruhi audiens berbekal kegemaran membaca.
Membantu pembelajaran
Thorndike, ahli pembelajaran asal Amerika Serikat, menyatakan belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respons. Menurut dia, perubahan tingkah laku bisa berwujud sesuatu yang dapat diamati atau yang tidak dapat diamati. Membaca, kata Thorndike, membantu proses pembelajaran dengan merangsang otak merespons materi bacaan.
Mengasah otak
Dalam buku The New IQ, ingatan jangka panjang bisa dilatih, salah satunya lewat membaca. Bahkan, membaca disebut sebagai latihan terbaik untuk otak dan daya ingat. Setiap halaman dan chapter yang biasa dibaca akan mengendap dalam ingatan. Untuk menantang kemampuan otak dan daya ingat, ada baiknya menjajal beragam buku, pengarang, dan gaya penulisan.
Tanggal 2 Mei bagi bangsa Indonesia sangat mempunyai arti. Sebab di hari itu selalu diperingati hari pendidikan nasional (Hardiknas). Yang sangat spesial adalah penentuan 2 Mei sebagai Hardiknas diambilkan dari hari lahir seorang tokoh bangsa bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat yang berganti nama pada 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara (KHD) yang lahir di Pakualaman 2 Mei 1888.
Kenapa KHD diabadikan sebagai tokoh pendidikan? Ialah yang berani mendobrak sistem pendidikan pribumi. KHD memperjuangkan hak pendidikan para warga pribumi dengan perjuangan yang luar biasa.
Jiwa kritisnya terhadap kolonial Belanda menjadikannya diusir dari Jawa dan diasingkan ke Bangka hingga ke Belanda (1913). Bersama tiga serangkai KHD, Ernest Doewes dan Cipto Mangunkusumo ini ide-ide pendidikan untuk kamu pribumi itu muncul.
Sepulang dari Belanda pada bulan September 1919, KHD mulai konsentrasi di bidang pendidikan. KHD kemudian bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922.
Karena sukses dalam membina dunia pendidikan, KHD pernah menjabat sebagai Menteri Pengadjaran jaman Soekarno pada 2 September 1945 -14 November 19458. Itulah yang menjadikan ia mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional kedua.
Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Semboyan berbahasa Jawa itu berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).
Prinsip-prinsip dalam semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia hingga sekarang. Dimana dengan pola itu, kita semua akan mendapatkan hikmah dari pola pendidikan yang berbasis pada akhlaqul karimah.
Siapa semestinya KHD itu? KHD adalah seorang santri Nusantara yang sangat kukuh memperjuangkan pendidikan Indonesia. Zainul Milal Bizawie dalam “Masterpiece Islam Nusantara: Sanad dan Jejaring Ulama-Santri 1830-1945)” menegaskan bahwa KHD adalah santri.
Bahkan ketika ditanya oleh penulis via WA, Milal menjawab dengan penjelasan seperti ini: “Salah satu gurunya adalah seorang Kyai namanya Kyai Sulaiman Zainuddin, berada di Kawasan Prambanan. Santrinya banyak, salah satunya beliau mempunyai santri namanya Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). KHD itu dulu belajar Al-Qur’an, dia seorang santri. Tapi sayang sejarahnya Ki Hajar Dewantara dulu belajar Al-Qur’an tidak pernah diterangkan oleh guru-guru di sekolah”.
Dalam konteks inilah perlu sekali kita mengungkap lebih mendalam kesantrian KHD. Milal menegaskan juga bahwa yang mengatakan Kyai Sulaiman Zainuddin mempunyai murid Suwardi Suryaningrat mengaji di sana itu, ada di Sejarah Taman Siswa. Selain itu, Ki Hajar juga keturunan Ki Ageng Giring.
Jadi, sebagai refleksi Hardiknas 2016 ini patut kiranya bangsa Indonesia meneladani kesantrian KHD dan menjadikan pendidikan sebagai basis akhlak mulia dan pembangunan visi agama.
Tidak benar jika Hardiknas hanya berisi pawai, upacara dan lomba-lomba yang isinya tidak edukatif. Bangkitkan pendidikan Indonesia dengan visi kemajuan dan perdamaian.