PANGGUNG KARYA
PANGGUNG KARYA
CERPEN
Angelica Lintang A - Pemenang Lomba Cerpen Hari Kartini Tahun 2026.
Perkenalkan, namaku Angelica. Aku ingin menceritakan sebuah pengalaman yang sampai sekarang masih kuingat jelas. Pengalaman ini terjadi sekitar satu tahun yang lalu, saat aku baru pindah ke rumah lama keluargaku.
Waktu itu aku baru masuk kelas 1 SMP di SMPN XXXX. Aku merasa sangat senang karena mengira hidupku akan berubah menjadi lebih baik. Sebelumnya, sejak kecil aku lebih sering tinggal bersama nenek tanpa ayah dan ibu. Karena itu, saat pindah ke rumah baru bersama keluarga, aku merasa seperti memulai lembaran baru.
Rumah itu berada di daerah perbatasan desa, dekat kebun dan bukit. Suasana di sana sangat sepi dan tenang. Tidak banyak kendaraan yang lalu-lalang. Awalnya aku menyukai suasana itu, apalagi aku memang sering sendirian di rumah.
Suatu sore sepulang sekolah, sekitar pukul dua siang, aku sedang memasak di dapur lantai bawah sambil memutar musik kesukaanku. Aku bernyanyi mengikuti lagu yang terputar dari ponselku. Namun, saat lagu berhenti karena iklan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki keras dari lantai atas.
Bunyi itu seperti seseorang sedang berjalan mondar-mandir. Padahal, saat itu tidak ada siapa-siapa di rumah selain aku dan seekor kucing peliharaanku. Aku mencoba berpikir positif. Mungkin hanya suara kayu rumah atau benda yang bergeser sendiri.
Malam harinya setelah salat Magrib, aku naik ke lantai atas menuju kamarku. Lantai atas rumah itu belum sepenuhnya jadi. Ada tiga ruangan di sana. Dua ruangan dipakai menyimpan barang seperti gudang, sedangkan satu ruangan dijadikan kamarku.
Kamarku masih sangat sederhana. Belum ada lemari maupun tempat tidur. Aku hanya tidur di atas kasur tipis di lantai. Beberapa minggu kemudian, ayahku pernah bertanya,
“Kamu tadi salat sambil nangis, Kak?”
Aku kaget dan langsung menggeleng. Aku sama sekali tidak menangis. Saat itu aku hanya diam dan mencoba menganggap ayah salah dengar. Namun, kejadian aneh kembali terjadi.
Suatu malam ayah berkata, “Kalau malam jangan menggambar atau belajar di ruang tamu. Di sana dingin.”
Aku semakin bingung karena aku sama sekali tidak pernah turun ke ruang tamu saat malam hari. Aku selalu berada di kamar atas. Sejak saat itu, aku mulai merasa tidak nyaman tinggal di rumah tersebut.
Puncaknya terjadi saat kenaikan kelas 8. Malam itu aku bertengkar hebat dengan ayah soal uang sekolah. Suasana rumah menjadi panas karena melibatkan ibu dan nenekku juga.
Setelah selesai bertengkar, aku menangis dan mengurung diri di kamar sambil menggambar hingga akhirnya tertidur.
Sekitar pukul satu malam, aku terbangun dan turun ke kamar mandi. Sambil membawa ponsel, aku kembali menangis karena kesal dan sedih. Namun tiba-tiba, aku mendengar suara tangisan lain. Suara itu mirip denganku.
Awalnya kupikir hanya gema dari suaraku sendiri. Namun, suara itu masih terus terdengar. Aku terdiam. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku hanya menutup layar ponsel sambil menahan napas. Suara itu perlahan menjauh, tetapi masih terdengar jelas seperti seseorang sedang menangis di dalam rumah. Aku bertahan di kamar mandi sampai hampir pukul setengah tiga pagi. Lalu, ibuku mengirim pesan.
“‘Kamu di kamar mandi, Kak? Kok lama sekali?’”
Aku langsung membalas pesan itu.
“Bu, aku takut.”
Aku meminta ibu menjemputku di kamar mandi. Setelah memberanikan diri keluar, aku berlari menuju kamar. Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali. Keesokan paginya, aku mencoba melupakan semua kejadian itu. Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi tinggal di sana.
Namun, entah mengapa sampai sekarang aku masih sering bertanya-tanya …
Jika malam itu bukan aku yang menangis, lalu siapa?
TAMAT