Alvia S. N. Aulia, S.Pd
Koordinator
Sekolah Siaga Kependudukan
Alvia S. N. Aulia, S.Pd
Koordinator
Sekolah Siaga Kependudukan
Tim Sekolah Siaga Kependudukan
Alvia S. N. Aulia, S.Pd
Pertumbuhan penduduk yang pesat, perubahan struktur umur, dan distribusi penduduk yang tidak merata membawa konsekuensi signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dalam konteks ini, penting bagi sekolah untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan kependudukan. Oleh karena itu, keberadaan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) menjadi sangat relevan. SSK berfungsi sebagai platform untuk memberikan pemahaman komprehensif kepada siswa mengenai isu-isu kependudukan dan membekali mereka dengan pengetahuan serta keterampilan yang diperlukan untuk berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan.
Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) merupakan salah satu upaya strategis untuk mengintegrasikan pendidikan kependudukan ke dalam kurikulum sekolah. Program ini bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan terkait isu-isu kependudukan, sehingga diharapkan mereka dapat memahami konsep dasar seperti pertumbuhan penduduk, kepadatan penduduk, struktur umur, serta fenomena kependudukan lainnya, yang memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mengintegrasikan pendidikan kependudukan, program keluarga berencana, dan pembangunan keluarga ke dalam kurikulum, tujuan SSK adalah untuk membentuk generasi muda yang menyadari pentingnya isu kependudukan dalam pembangunan nasional. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep dasar kependudukan, menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan dan masyarakat, serta membekali siswa dengan keterampilan hidup yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Selain itu, SSK juga berupaya membentuk karakter siswa yang bertanggung jawab dan mandiri. Melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam program ini, diharapkan siswa dapat menjadi agen perubahan yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat.
SELAYANG PANDANG SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN SMP NEGERI 1 SURADE
MEDIA PEMBELAJARAN SSK
ARSIP KEGIATAN PROGRAM SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN
Dokumentasi Kegiatan
Kegiatan Kerjasama
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 2 Surade
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 3 Surade
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 4 Surade
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 6 Surade
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 7 Surade
Kerjasama Sekolah Siaga Kependudukan dengan SMP Negeri 9 Surade
Dokumentasi Kegiatan Siswa
ARTIKEL SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN
DEFINISI :
Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) adalah sekolah yang mengintegrasikan pendidikan kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga ke dalam beberapa mata pelajaran dan atau muatan lokal khusus kependudukan (population corner) sebagai salah satu sumber belajar peserta didik sebagai upaya pembentukan generasi berencana (GenRe).
Pojok Kependudukan adalah salah satu sumber belajar dan informasi bagi peserta didik berisi materi-materi yang berkaitan dengan kependudukan yang ditujukan dalam upaya pembentukan generasi berencana.
POKOK-POKOK PELAKSANAAN SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN
A. PRINSIP-PRINSIP DASAR
SSK mengintegrasikan materi pendidikan kependudukan ke dalam mata pelajaran sesuai dengan pokok bahasan
SSK merupakan wadah dari program sebelumnya yaitu PIK Remaja dan GenRe Goes To School sehingga dapat berjalan berdampingan dan simultan
SSK berbasis kurikulum nasional
SSK bersifat gradual sehingga terus berkembang
SSK mengedepankan peran aktif peserta didik untuk mengamati, mengumpulkan, mengolah, menganalisa, serta mengomunikasikan data kependudukan di tempat tinggal sendiri.
Terdapat SK Pembentukan SSK yang dikeluarkan sekolah dan memiliki lokasi khusus sebagai pojok kependudukan.
B. MEKANISME OPERASIONAL
1.Guru Pengampu Mata Pelajaran
Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS) yang akan digunakan.
Menjelaskan kepada peserta didik mengenai prinsip-prinsip SS.
Menjelaskan kepada peserta didik cara analisis data demografi penduduk.
Aktif sebagai pembimbing dalam pojok kependudukan sebagai ruang konsultasi peserta didik.
2. Peserta Didik
Melakukan panggilan informasi kepada masyarakat di sekitarnya.
Membuat rekomendasi hasil analisis data kependudukan
Aktif berkegiatan dalam pojok kependudukan.
C. ALUR PELAKSANAAN SEKOLAH SIAGA KEPENDUDUKAN
Tahap Persiapan, dimulai dengan melakukan need assesment, rapat koordinasi kerja sama atau kemitraan, dan pemenuhan kebutuhan yang diperlukan. kemudian, Sekolah Siaga Kependudukan berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait seperti BKKBN, Kementerian Penduduk dan Kebudayaan serta Mitra kerja lainnya. Komite sekolah dan guru pengampu mata pelajaran juga terlibat dalam perencanaan RPP dan LKS.
Tahap Pelaksanaan, peserta didik akan melakukan berbagai kegiatan pembelajaran kependudukan seperti informasi melalui internet, observasi, survei, serta wawancara. Mereka juga dapat menggunakan fasilitas seperti pojok kependudukan.
Tahap Penilaian, laporan hasil kegiatan disampaikan kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di tingkat kota hingga kecamatan. Evaluasi dilakukan untuk melihat perubahan sikap dan perilaku peserta didi, apakah mereka menjadilebih responsif terhadap masalah kependudukan. Monitoring dan evaluasi terus dilakukan untuk memastikan keberhasilan program ini.
INDIKATOR KEBERHASILAN
INPUT (MASUKAN)
Tersusunnya RPP dan LKS yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar.
PROSES (KEGIATAN)
Penyusunan materi dan pelaksanaan proses belajar sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kerja peserta didik.
Meningkatnya keterampilan peserta didik dalam mempresentasikan dan menganalisis data-data kependudukan.
Ada kegiatan siswa yang bertema kependudukan misal lomba, pembuatan mading, dan sebagainya.
OUTPUT (KELUARAN)
Terjadinya data kependudukan yang valid dan selalu update di pojok kependudukan.
Terinternalisasinya pengetahuan mengenai isu kependudukan dalam kehidupan guru dan siswa.
REFERENSI:
Pedoman Pengelolaan Pendidikan Kependudukan melalui SSK di SMP, SMA sederajat.
SEKOLAH DAPAT MEMBENTUK SSK BERKOORDINASI DENGAN KANTOR KB KAB/KOTA SETEMPAT (BIDANG PENGENDALIAN PENDUDUK)
https://dp3ap2kb.blitarkota.go.id/page/409/sekolah-siaga-kependudukan-ssk-
Sangat memilukan melihat anak Anda mengalami rasa sakit fisik dan emosional dari bullying secara langsung atau cyberbullying (yang diterima saat online).
Beberapa orang tua tidak yakin bagaimana cara untuk memulai melindungi anak-anak mereka dari bullying dan kekerasan lainnya. Bahkan, beberapa orang tua mungkin tidak tahu apakah anak-anak mereka adalah korban, saksi, atau bahkan pelaku dari perbuatan berbahaya ini.
Berikut adalah beberapa tips tentang cara memulai percakapan dengan anak-anak Anda:
Apa itu bullying?
Anda biasanya dapat mengidentifikasi bullying melalui tiga karakteristik berikut: disengaja (untuk menyakiti), terjadi secara berulang-ulang, dan ada perbedaan kekuasaan. Seorang pelaku bullying memang bermaksud menyebabkan rasa sakit pada korbannya, baik menyakiti fisik atau kata-kata atau perilaku yang menyakitkan, dan melakukannya berulang kali. Anak laki-laki lebih mungkin mengalami bullying fisik, sedangkan anak perempuan lebih mungkin mengalami bullying secara psikologis, walaupun jenis keduanya tentu cenderung saling berhubungan.
Bullying adalah pola perilaku, bukan insiden yang terjadi sekali-kali. Anak-anak yang melakukan bullying biasanya berasal dari status sosial atau posisi kekuasaan yang lebih tinggi, seperti anak-anak yang lebih besar, lebih kuat, atau dianggap populer sehingga dapat menyalahgunakan posisinya.
Anak-anak yang paling rentan menghadapi risiko lebih tinggi untuk di-bully seringkali adalah anak-anak yang berasal dari masyarakat yang terpinggirkan, anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah, anak-anak dengan penampilan atau ukuran tubuh yang berbeda, anak-anak penyandang disabilitas, atau anak-anak migran dan pengungsi.
Bullying dapat terjadi baik secara langsung atau online. Cyberbullying sering terjadi melalui media sosial, SMS / teks atau pesan instan, email, atau platform online tempat anak-anak berinteraksi. Orang tua mungkin tidak selalu mengikuti apa yang dilakukan anak-anak mereka di platform ini, sehingga sulit untuk mengetahui kapan anak sedang terpengaruh.
Mengapa saya harus turun tangan jika anak saya di-bully?
Bullying dapat menimbulkan dampak yang berbahaya dan jangka panjang bagi anak-anak. Selain efek fisik dari bullying, anak-anak dapat mengalami masalah kesehatan mental dan emosional, termasuk depresi dan kecemasan, yang dapat menyebabkan penyalahgunaan narkoba dan penurunan prestasi di sekolah. Tidak seperti bullying secara langsung, cyberbullying dapat menjangkau korban di mana saja, kapan saja. Hal ini dapat menyebabkan bahaya besar, karena dapat dengan cepat menjangkau khalayak luas dan meninggalkan jejak permanen secara online untuk semua yang terlibat di dalamnya.
Anak anda memiliki hak atas lingkungan sekolah yang aman dan asri yang menghargai harkat martabat mereka. Konvensi Hak-Hak Anak menyatakan bahwa semua anak memiliki hak atas pendidikan, dan perlindungan dari semua bentuk kekerasan fisik, mental, kerusakan, atau perlakuan salah. Bullying harus dihentikan.
Bagaimana saya bisa membantu mencegah bullying di sekolah anak saya?
Langkah pertama untuk menjaga keamanan anak Anda, baik secara langsung atau online, adalah memastikan mereka mengetahui masalahnya.
Ajari anak-anak Anda tentang bullying. Begitu mereka tahu apa itu bullying, anak-anak Anda akan dapat mengidentifikasinya dengan lebih mudah, apakah itu terjadi pada mereka atau orang lain.
Bicaralah secara terbuka dan sering kepada anak-anak Anda. Semakin sering Anda berbicara dengan anak-anak Anda tentang bullying, semakin nyaman mereka memberi tahu Anda jika mereka melihat atau mengalaminya. Periksa anak-anak Anda setiap hari dan tanyakan tentang waktu mereka di sekolah dan aktivitas mereka secara online, menanyakan tidak hanya tentang kelas dan kegiatan mereka, tetapi juga tentang perasaan mereka.
Bantu anak Anda agar menjadi panutan yang positif. Ada tiga pihak yang terlibat dalam bullying: korban, pelaku, dan saksi. Bahkan jika anak-anak bukan korban bullying, mereka dapat mencegah bullying dengan bersikap positif, hormat, dan baik kepada teman sebayanya. Jika mereka menyaksikan bullying, mereka dapat membela korban, menawarkan dukungan, dan atau mempertanyakan perilaku bullying yang terjadi.
Membantu membangun kepercayaan diri anak Anda. Dorong anak Anda untuk mengikuti kelas atau bergabung dengan kegiatan yang ia sukai di lingkungan Anda atau di sekolahnya. Ini juga akan membantu membangun kepercayaan diri serta menambah teman dengan minat yang sama.
Jadilah teladan. Tunjukkan pada anak Anda bagaimana memperlakukan anak-anak lain dan orang dewasa dengan kebaikan dan rasa hormat, serta melakukan hal yang sama kepada orang-orang di sekitar Anda, termasuk cobalah membela ketika orang lain diperlakukan dengan tidak baik. Anak-anak melihat orang tua mereka sebagai contoh bagaimana cara berperilaku, termasuk memposting secara online.
Jadilah bagian dari pengalaman online mereka. Biasakan diri Anda dengan platform yang digunakan anak Anda, jelaskan kepada anak Anda bagaimana dunia online dan dunia offline terhubung, dan peringatkan mereka tentang berbagai risiko yang akan mereka hadapi secara online.
Saya tidak yakin apakah anak saya di-bully. Tanda-tanda apa yang harus saya perhatikan?
Perhatikan baik-baik. Amati keadaan emosi anak Anda, karena beberapa anak mungkin tidak mengungkapkan kekhawatiran mereka secara lisan. Tanda-tanda yang harus diwaspadai antara lain:
Tanda fisik seperti memar yang tidak dapat dijelaskan, goresan, patah tulang dan luka dalam penyembuhan.
Takut pergi ke sekolah atau mengikuti acara sekolah.
Menjadi cemas, gelisah, atau sangat waspada.
Memiliki beberapa teman di sekolah atau di luar sekolah. Kehilangan teman secara tiba-tiba atau menghindari situasi sosial
Pakaian, alat elektronik, atau barang-barang pribadi lainnya hilang atau hancur
Seringkali meminta uang untuk alasan yang mungkin kurang jelas atau mencurigakan
Prestasi yang rendah
Ketidakhadiran, bolos, atau menelepon dari sekolah meminta pulang
Mencoba terus menerus ingin dekat orang dewasa
Tidak tidur nyenyak dan mungkin mengalami mimpi buruk
Mengeluh sakit kepala, sakit perut atau penyakit fisik lainnya
Sering tertekan setelah menghabiskan waktu online atau memainkan telepon genggam atau komputer (tanpa penjelasan yang masuk akal)
Menjadi sangat rahasia, terutama dalam hal aktivitas online
Menjadi agresif atau memiliki ledakan kemarahan yang tiba-tiba
Bicaralah secara terbuka. Bicaralah dengan anak Anda tentang apa yang mereka anggap sebagai perilaku baik dan buruk di sekolah, di lingkungan sekitar dan online. Penting untuk memiliki komunikasi terbuka sehingga anak-anak Anda akan merasa nyaman memberi tahu Anda tentang apa yang terjadi dalam hidup mereka.
Apa yang harus saya lakukan jika anak saya di-bully atau diancam?
Jika Anda tahu anak Anda di-bully, ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk membantu mereka:
Dengarkan anak Anda secara terbuka dan tenang. Berfokuslah untuk membuat mereka merasa didengar dan didukung, alih-alih mencoba menemukan penyebab bullying atau mencoba menyelesaikan masalah. Pastikan mereka tahu bahwa itu bukan kesalahan mereka.
Beri tahu anak bahwa Anda mempercayai mereka; bahwa Anda senang mereka memberi tahu Anda; bahwa itu bukan kesalahan mereka; Anda akan melakukan yang terbaik untuk mendapatkan bantuan.
Bicaralah dengan guru atau pihak sekolah. Anda dan anak Anda tidak harus menghadapi bullying sendirian. Tanyakan apakah sekolah Anda memiliki kebijakan atau panduan mengenai perilaku bullying. Ini mungkin berlaku untuk bullying secara langsung dan online.
Jadilah sistem pendukung. Untuk anak Anda, memiliki orang tua yang suportif sangat penting untuk menghadapi efek bullying. Pastikan mereka tahu bahwa ia dapat berbicara dengan Anda kapan saja dan meyakinkannya bahwa semuanya akan menjadi lebih baik.
Apa yang bisa saya lakukan jika anak saya melakukan bullying kepada orang lain?
Jika Anda pikir atau tahu bahwa anak Anda sedang melakukan bullying kepada anak-anak lain, penting untuk diingat bahwa mereka pada dasarnya tidak jahat, tetapi mungkin bertindak karena sejumlah alasan. Anak-anak yang sering melakukan bullying hanya ingin menyesuaikan diri, membutuhkan perhatian atau hanya mencari tahu bagaimana menghadapi emosi yang rumit. Dalam beberapa kasus, pelaku bullying sendiri adalah korban atau saksi kekerasan di rumah atau di lingkungan mereka. Ada beberapa langkah yang harus Anda ambil untuk membantu anak Anda menghentikan bullying:
Komunikasikan. Memahami mengapa anak Anda bertingkah akan membantu Anda tahu bagaimana membantu mereka. Apakah mereka merasa tidak aman di sekolah? Apakah mereka berkelahi dengan teman atau saudara? Jika mereka kesulitan menjelaskan perilaku mereka, Anda dapat memilih untuk berkonsultasi dengan seorang konselor, pekerja sosial, atau profesional kesehatan mental yang dilatih untuk bekerja dengan anak-anak.
Menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang sehat dan baik. Minta anak Anda untuk menjelaskan skenario yang membuat mereka frustrasi, dan tawarkan cara-cara bereaksi yang konstruktif. Gunakan latihan ini untuk bertukar pikiran tentang kemungkinan skenario di masa depan dengan merespon secara baik. Dorong anak Anda untuk "menempatkan diri pada posisi orang lain" dengan membayangkan pengalaman orang yang di-bully. Ingatkan anak Anda bahwa komentar yang dibuat secara online bisa terasa sangat menyakitkan seperti di dunia nyata.
Berkaca pada diri sendiri. Anak-anak yang melakukan bullying seringkali meniru apa yang mereka lihat di rumah. Apakah mereka terpapar perilaku berbahaya secara fisik atau emosional dari Anda atau pengasuh lain? Lihatlah pada diri sendiri sebagai orang tua dan pikirkan dengan jujur tentang bagaimana Anda memperlakukan anak Anda.
Berikan konsekuensi dan peluang untuk menebus kesalahan. Jika Anda mengetahui bahwa anak Anda telah melakukan bullying, penting untuk memberikan konsekuensi yang tepat dan tanpa kekerasan. Misalnya bisa dengan membatasi aktivitas mereka, terutama kegiatan yang mendorong bullying (berkumpul bersama teman ‘geng’nya, waktu bermain media sosial atau online). Dorong anak Anda untuk meminta maaf kepada teman-temannya dan mencari cara agar mereka lebih positif di masa depan.
Selain menjadi sistem pendukung untuk anak Anda, Anda dapat bekerja sama dengan sekolah Anda dan bahkan pembuat keputusan lokal atau nasional dan pemimpin daerah Anda untuk mengubah kebijakan agar dapat mencegah dan mengatasi bullying!
Ruang Diskusi