Skizofrenia, sebuah gangguan mental yang kompleks dan sering disalahpahami, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia dengan dampak yang mendalam terhadap pikiran, emosi, dan perilaku mereka.
Banyak yang bilang bahwa orang dengan skizofrenia itu orang gila/tidak waras, berbahaya dan tidak boleh terlalu dekat, bahkan menimbulkan pemikiran bahwa skizofrenia dianggap sebuah azab karena keluarganya melakukan hal yang buruk. Sehingga dari banyaknya stigma kepada penderita skizofrenia, mereka kerap dikucilkan di kalangan masyarakat.
Padahal penderita skizofrenia membutuhkan dukungan untuk pulih, jika tidak ditangani dengan tepat maka skizofrenia bisa merusak kemampuan seseorang dalam menggunakan potensinya dan menyebabkan disfungsi seluruh aspek kehidupan mereka. Dukungan penuh dari lingkungan dan pengobatan yang tepat mereka bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Apa itu Skizofrenia?
Skizofrenia, sebuah gangguan mental yang kompleks dan sering disalahpahami, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia dengan dampak yang mendalam terhadap pikiran, emosi, dan perilaku mereka.
Prevalensi di Indonesia
Menurut data Riskesdas 2018, prevalensi skizofrenia di Indonesia mencapai sekitar 6,7 per 1.000 rumah tangga, yang berarti terdapat enam hingga tujuh kasus skizofrenia dalam setiap 1.000 rumah tangga. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa pada tahun 2016, terdapat sekitar 400.000 orang menderita skizofrenia di Indonesia, dengan angka 1,7 per 1.000 penduduk.
Karakteristik Skizofrenia
Gejala Positif dan Negatif: Skizofrenia umumnya dibagi menjadi dua kategori gejala: positif (seperti halusinasi dan delusi) dan negatif (seperti penarikan diri dari lingkungan sosial dan kehilangan motivasi). Gejala positif mencakup perilaku abnormal yang tidak ada pada individu sehat, sedangkan gejala negatif mencerminkan hilangnya fungsi normal.
Empat A (4A): Bleuler mengidentifikasi empat gejala utama skizofrenia, yaitu asosiasi (gangguan dalam hubungan antar pikiran), afek (respon emosional yang datar), ambivalensi (perasaan campur aduk terhadap orang lain), dan autisme (penarikan diri ke dunia fantasi).
Jenis-jenis Skizofrenia
Skizofrenia Paranoid: Ditandai oleh halusinasi auditori dan delusi yang menyebabkan rasa ketakutan. Individu dengan tipe ini sering kali mengalami perasaan bahwa mereka sedang diawasi atau dikendalikan.
Skizofrenia Disorganisasi: Karakteristiknya mencakup perilaku yang tidak teratur dan kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif. Individu mungkin menunjukkan perilaku aneh atau tidak sesuai dengan situasi.
Skizofrenia Katatonik: Ditandai dengan perilaku motorik yang ekstrem, baik dalam bentuk kegelisahan atau kelumpuhan
Skizofrenia Residual: Ditandai dengan kondisi penarikan diri dari kehidupan sosial, kurangnya inisiatif, respon emosi datar atau tumpul, dan kurang mampu berkomunikasi dengan efektif.
Faktor Risiko Skizofrenia
Usia dan Jenis Kelamin: Usia dewasa, terutama antara 26-45 tahun, serta jenis kelamin laki-laki ditemukan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian skizofrenia.
Status Perkawinan: Individu yang belum menikah lebih rentan mengalami skizofrenia, kemungkinan karena kurangnya dukungan sosial yang sering kali diperoleh dari pasangan.
Faktor Genetik: Riwayat keluarga dengan skizofrenia meningkatkan risiko individu untuk mengalami gangguan ini. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan keturunan skizofrenia memiliki risiko lebih tinggi, dengan odds ratio (OR) mencapai 2,8 kali dibandingkan yang tidak memiliki riwayat keluarga.
Faktor Psikososial: Stresor psikososial, termasuk masalah hubungan interpersonal dan tekanan sosial, juga berkontribusi terhadap perkembangan skizofrenia
Status Ekonomi dan Pendidikan: Tingkat pendidikan yang rendah dan status ekonomi yang buruk dapat meningkatkan risiko terjadinya skizofrenia, di mana individu yang hidup dalam kemiskinan lebih rentan terhadap gangguan mental ini.
Terapi untuk Skizofrenia
Obat Antipsikotik:
Penggunaan antipsikotik merupakan terapi utama dalam pengobatan skizofrenia. Obat ini bekerja dengan memengaruhi neurotransmiter dopamin di otak untuk mengendalikan gejala positif seperti halusinasi dan delusi.
Terdapat dua generasi antipsikotik:
Generasi Pertama: Meskipun efektif, sering kali menyebabkan efek samping neurologis.
Generasi Kedua (Atipikal): Memiliki efek samping yang lebih rendah dan dianggap lebih efektif dalam mengelola gejala.
Dukungan Medis:
Dalam beberapa kasus, rawat inap mungkin diperlukan untuk memastikan keamanan pasien dan stabilisasi medikasi, terutama jika ada risiko bahaya bagi diri sendiri atau orang lain.
Terapi Psikososial
Psikoterapi:
Terapi kognitif perilaku (CBT) dan terapi kelompok dapat membantu pasien mengatasi stres, memahami tanda-tanda skizofrenia, serta meminimalkan gejala saat terjadi kekambuhan.
Pelatihan keterampilan sosial juga penting untuk meningkatkan komunikasi dan interaksi sosial pasien.
Terapi Keluarga:
Memberikan dukungan dan pendidikan kepada keluarga agar dapat menangani anggota keluarga yang mengalami skizofrenia. Ini termasuk psikoedukasi dan teknik penyelesaian masalah yang dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan.
Rehabilitasi Pekerjaan:
Fokus pada membantu individu dengan skizofrenia untuk mempersiapkan, mencari, dan mempertahankan pekerjaan, meskipun program ini masih terbatas di Indonesia.
Intervensi dalam Kasus Agitasi:
Pendekatan non-farmakologis seperti isolasi atau seklusi dapat diterapkan pada pasien yang berisiko tinggi melakukan kekerasan. Obat-obatan seperti antipsikotik atipikal atau benzodiazepin juga dapat digunakan untuk mengendalikan agitasi.
Kesimpulan
Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang memerlukan perhatian medis dan psikologis. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang karakteristik dan jenis-jenis skizofrenia, serta prevalensinya di masyarakat, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan penanganan terhadap individu yang menderita kondisi ini.
Informasi dan Pendaftaran:
Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa: dr. Reni Margiyanti Adiningsih, Sp.KJ.
Jadwal: Rabu (pkl: 17:00 s/d 19:00)
Pendaftaran Pasien RS Siti Miriam: 0813 5888 2030 (WhatsApp)
Customer Service: 0341 426057
IGD: 0341 421865
Daftar Pustaka
Amtarina, R. (2023). Mengenali Dan Tata Laksana Agitasi Pada Skizofrenia Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit. Jurnal Ilmu Kedokteran (Journal of Medical Science), 17(2), 97. https://doi.org/10.26891/jik.v17i2.2023.97-102
Eddy, F. N. E., Septa, T., & Angraini, D. I. (2017). Diagnosis dan Tatalaksana Skizofrenia Hebefrenik Putus Obat dengan Logorrhea. Jurnal Medula Unila, 7(3), 17–21.
Handayani, L., Rahmadani, A., & Saufi, A. (2015). Faktor Risiko Kejadian Skizofrenia dI Rumah Sakit Jiwa Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Humanitas, 13(2), 135–148.
Hariyadi, & Rusdianah, E. (2021). Faktor keturunan dengan kejadian Skizofrenia. Jurnal Keperawatan Jiwa (JKJ), 9(3), 685–692.
Jenifer. (2024). Penatalaksanaan Schizophrenia. ALOMEDIKA. https://www.alomedika.com/penyakit/psikiatri/schizophrenia/penatalaksanaan
Kemenkes. (2015). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.02.02/Menkes/73/2015 Tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa (1st ed.). Kemenkes. http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/KMK_No._HK_.02_.02-MENKES-73-2015_ttg_Pedoman_Nasional_Pelayanan_Kedokteran_Jiwa_.pdf
Ningsih, U. T. S., Saidah Syamsuddin, Wahidah Jalil, Irma Santy, & Mochammad Erwin Rachman. (2024). Karakteristik dan Angka Kejadian Skizofrenia Rawat Inap di RSKD Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2021. Fakumi Medical Journal: Jurnal Mahasiswa Kedokteran, 3(11), 843–852. https://doi.org/10.33096/fmj.v3i11.346
Putri, I. A., & Maharani, B. F. (2022). Skizofrenia : Suatu Studi Literatur. Journal of Public Health and Medical Studies, 1(1), 1–12.
Sari, P. (2019). Dinamika Psikologi Penderita Skizofrenia Paranoid Yang Sering Mengalami Relapse. Psikoislamedia Jurnal Psikologi, 4(2), 124–136. https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Psikoislam/article/view/5751
Trishna, A. R., & Muhdi, N. (2020). Clinical Manifestation Differences of Schizophrenia Patients Based on Gender. Jurnal Psikiatri Surabaya, 9(1), 14. https://doi.org/10.20473/jps.v9i1.16356
Wulandari, A., & Febriana, A. I. (2024). Kejadian Skizofrenia pada Pasien Rawat Inap di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal. HIGEIA (Journal of Public Health Research and Development), 7(4), 562–573. https://doi.org/10.15294/higeia.v7i4.69619