Perkenalkan, saya Siti Halimatus Sakdiyah, atau yang lebih akrab dipanggil Diyah. Saya lahir di Bangkalan, kota yang hangat dengan julukan kota shalawat pada 11 Agustus 2001. Kini, di usia yang sedang bertumbuh menuju 25 tahun, saya berada di fase kehidupan yang penuh pencarian, pembelajaran, dan penguatan jati diri.
Saya adalah anak pertama sekaligus satu-satunya perempuan dalam keluarga, sebuah posisi yang tanpa saya sadari telah membentuk saya menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, sekaligus penuh tanggung jawab. Sejak kecil, saya terbiasa belajar banyak hal bukan karena dituntut sempurna, tetapi karena ingin memahami dunia dengan cara saya sendiri.
Perjalanan saya tidak hanya berjalan di satu arah. Saya menemukan diri saya tumbuh di berbagai bidang. Menari saat kata tak cukup mewakili rasa, bernyanyi saat ingin mengekspresikan jiwa, bergerak dalam olahraga untuk menjaga semangat, dan berpikir dalam dunia akademik untuk memahami makna. Bagi saya, setiap bidang bukan sekadar kemampuan, melainkan cara berbeda untuk mengenal dan mencintai diri sendiri.
Ada satu hal yang selalu saya yakini bahwa hidup bukan tentang menjadi paling hebat dalam satu hal, tetapi tentang berani mencoba, terus belajar, dan menemukan makna di setiap prosesnya. Dari sanalah saya belajar bahwa setiap langkah, sekecil apa pun, tetap memiliki arti.
E-portofolio ini bukan hanya kumpulan tugas atau pencapaian. Ini adalah ruang cerita tentang perjalanan, proses, jatuh dan bangkit, serta mimpi yang terus saya rawat. Mungkin tidak sempurna, tetapi di dalamnya ada bagian dari diri saya yang terus tumbuh dan berproses menjadi lebih baik.
Background Pendidikan
Menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan Tamat pada tahun 2017
Menempuh pendidikan Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan Tamat pada tahun 2020
Menempuh pendidikan Perguruan Tinggi Strata-1 di Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan Tamat pada tahun 2024
Lokasi LPTK dan PPLT Saat Ini
Sebuah kampus yang berdiri di tanah Madura sejak 1981 sebagai Universitas Swasta pada awalnya dan beralih menjadi Universitas Negeri sejak 2001. Nama "Trunodjoyo" diambil dari pangeran sekaligus raja Madura yang gagah berani, "Pangeran Trunodjoyo", yang berjuang melawan penjajahan. Memiliki nuansa yang khas dan penuh makna. Dikelilingi oleh lingkungan yang tenang namun tetap semangat belajar, tempat ini menjadi ruang bertumbuh bagi calon pendidik dalam menapaki perjalanan akademik dan profesionalnya.
Tidak hanya sebagai institusi pendidikan, Universitas Trunodjoyo Madura juga menjadi saksi bagaimana proses belajar berkembang dari sekadar memahami teori, hingga mengimplementasikannya dalam kehidupan nyata. Suasana kampus yang bersahaja justru menghadirkan kehangatan, kedekatan, dan ruang refleksi yang mendalam bagi setiap mahasiswa.
Di sinilah langkah-langkah kecil dirangkai menjadi perjalanan besar, tempat mimpi tentang masa depan pendidikan mulai ditata, dan harapan perlahan menemukan bentuknya.
Terletak jauh dari riuhnya kota, SDN Pendabah 2 berdiri tenang di dataran tinggi, memeluk hamparan bukit kapur yang menjulang sederhana namun memikat. Angin berhembus lebih jujur di sini, membawa sunyi yang tidak sepi melainkan penuh makna.
Sekolah ini berada di tengah pedesaan yang masih terpencil, jauh dari gemerlap fasilitas dan kemudahan. Aliran listrik yang terbatas, ruang belajar yang sederhana, serta jumlah murid yang tidak banyak, justru menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan pendidikan di tempat ini.
Namun, di balik segala keterbatasan, tersimpan kekuatan yang sering kali tak terlihat semangat belajar yang tetap menyala, tawa anak-anak yang menghangatkan ruang kelas, serta harapan yang tumbuh perlahan di antara dinding-dinding sederhana.
Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang paling murni bukan tentang kelengkapan fasilitas, melainkan tentang ketulusan dalam belajar dan mengajar.