Nilai rata-rata Suhu 29,1 °C,
Baku mutu air PP No. 22 Tahun 2021 kelas 3 (deviasi ±3 °C )
Memenuhi baku mutu
Kondisi tersebut masih tergolong normal untuk perairan tropis dan belum menimbulkan tekanan termal. Suhu perairan yang stabil mendukung proses fisiologis organisme akuatik seperti metabolisme dan pertumbuhan. Menurut Souhoka (2013), kisaran suhu 28–32 °C masih sesuai bagi kehidupan ikan dan biota perairan.
Nilai padatan terlarut rata-rata sebesar 555,7 ppm
Baku mutu air PP No. 22 Tahun 2021 kelas 3 (1000)
Memenuhi baku mutu
Nilai kekeruhan rata rata sebesar 32,6 NTU
Kondisi tersebut menunjukkan tingginya masukan sedimen dan partikel halus ke sungai yang berasal dari aktivitas manusia, terutama limbah domestik. Menurut Rinawati (2016), padatan terlarut dalam perairan umumnya berasal dari limpasan pertanian, limbah rumah tangga, dan aktivitas industri yang dapat meningkatkan kekeruhan air sehingga menghambat penetrasi cahaya dan proses fotosintesis.
Nilai pH rata-rata sebesar 7,4
Baku mutu air PP No. 22 Tahun 2021 kelas 3 (6-9)
Memenuhi baku mutu
Kondisi tersebut tergolong normal, tingginya nilai pH dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis fitoplankton yang menyerap CO₂ sehingga pH meningkat (Sa’adah, 2018). Adanya pemukiman di sekitar sungai menyediakan nutrien yang mendukung pertumbuhan fitoplankton dan proses fotosintesis (Latuconsina, 2020). Nilai pH tersebut masih berada dalam kisaran yang mendukung kehidupan organisme akuatik, yaitu sekitar 7–7,5 (Djoharam, 2018).
Nilai salinitas yang terukur sebesar 0 g/L yang menunjukkan bahwa perairan sungai tersebut merupakan perairan tawar. Kondisi ini menunjukkan tidak adanya kandungan garam terlarut di dalam air sungai. Salinitas nol merupakan karakteristik umum perairan sungai di daerah daratan dan masih sesuai untuk mendukung kehidupan organisme air tawar.
Nilai DO rata-rata sebesar 3,5 mg/L
Baku mutu air PP No. 22 Tahun 2021 kelas 3 (3)
Memenuhi baku mutu
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketersediaan oksigen terlarut di perairan masih cukup untuk mendukung proses biologis dan kehidupan organisme akuatik, meskipun terdapat masukkan bahan organik dari aktivitas domestik di sekitar sungai. Masukan bahan organik tersebut belum memberikan tekanan yang signifikan terhadap penurunan kadar oksigen terlarut (Megawati, 2014).
Nilai CO₂ rata-rata sebesar 18,5 mg/L
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa adanya proses respirasi mikroorganisme dan penguraian bahan organik yang menghasilkan karbon dioksida. Pemanfaatan oksigen oleh mikroorganisme dalam proses oksidasi menyebabkan kadar oksigen terlarut menurun, sementara konsentrasi CO₂ meningkat (Alfatihah et al., 2022).
Nilai BOD rata-rata sebesar 5,1 mg/L
Baku mutu air PP No. 22 Tahun 2021 kelas 3 (6)
Memenuhi baku mutu
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa beban bahan organik di perairan masih berada dalam kisaran yang ditentukan. Keberadaan bahan organik, terutama yang berasal dari aktivitas domestik, tergolong wajar sehingga aktivitas mikroorganisme pengurai dalam proses dekomposisi belum memberikan tekanan terhadap kebutuhan oksigen terlarut di perairan (Djoharam, 2018).
Kesimpulan
Berdasarkan hasil monitoring kualitas air Sungai Mengkuli di beberapa titik pengamatan, memenuhi baku mutu PP No. 22 Tahun 2021 (kelas 3). Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas air Sungai Mengkuli masih berada dalam batas yang ditetapkan, ditandai dengan keseimbangan antara ketersediaan oksigen terlarut dan kebutuhan oksigen biologis di perairan.