Nagari Jambak adalah Nagari yang tertua sekali di Lubuk Sikaping Ibu kota Kabupaten Pasaman, adatnya adat lamo pusako usang, adat koto piliang dan adat budi caniago, budi caniago nan mangato koto piliang nan malancarkan bajalan bakulindam samo dijalankan di alam minang kabau dan disetujui oleh luhak nan tigo lareh nan duo, indak dapek dipisahkan. Susunan adat nan bajalan di Nagari Jambak adalah susunan adat barajo rajo baanak bakamanakan dan lain lainnya.
Barumah gadang babiliak dalam baanak kunci nan bagewang sati, manaruah rantai nan batimbun, mangadokan pasungan nan balantak basayok kida jo kanan mahukum maadokan bandiang manimbang. Nagari Jambak terdiri dari 3 jorong yaitu Jorong Induk Gadang, Jorong Kampung Alai, dan Caniago. Nagari Jambak terdiri dari lima kampuang, yaitu :
kampuang Lubuak Baik.
kampuang Tengah.
kampuang Pasir.
kampuang Alai.
kampuang Caniago.
Menurut sejarah, tatkala masa dahulunya Raja Syahbandar dengan saudaranya yang bernama Putri Intan Baludu bersuku Jambak, dari nama suku inilah nama Nagari ini berasal, yang pada masa dahulunya berasal dari Pagaruyuang, hanya Kampung Caniago yang bersuku piliang karna berasal dari kaduduak Rao, dan sekarang menjadi Lima buah kampung karena bertambahnya Anak dan Kemenakan.
Kampuang Alai.
Penghulunya Datuak Rang Kayo Basa,disebut sayap kanan pegangannya sepanjang adat, rantai nan batimbun dan pasungan nan balantak, disebut pihak kamanakan, di dalam kampuang nan bajumpak aua nan babarih parik nan balingka manuruik adat.
Jorong Caniago.
Penghulunya Datuak Mangkuto disebut sayap kiri, pegangannya suluah bendang dalam nagari lampu nan indak lindok suluah nan indak padam, disebut anak menurut adat bersuku piliang, dari pada itu tak luput dipengaruhi ajaran Islam. maka dari itu dijadikan Kari Ibrahim sebagai pucuak bulek syarak yang mamakai sayap kiri dan kanan. Sayap kirinya Imam Basa, Kampuang Alai, sayap kanannya Khatib Sutan, Kampuang Caniago yang basuku Piliang. Nan Bagadiang sebagai urang tuo di adat.Tempat bersejarah dan balai-balai adat di Nagari Jambak. Satu bukit sangka puyuah, tempat yang mula-mula di tempati di Jambak / Lubuk Sikaping oleh Rajo Syahbandar.
Dua Rumah Gadang Basa Nan Sambilan di Jambak, Payuang Panji Marawa Basa yang tersimpan dalam Peti Gewang Sati di rumah Datuak Basa sebagai Pucuak Bulek Urek Tunggang dalam Nagari Jambak. Pemangku-pemangku Adat dan Alim Ulama dalam ke Nagarian Jambak. Datuak Basa,bersuku Jambak berkedudukan sebagai Pucuak Adat. Datuak Simangkuto,bersuku Piliang sebagai suluah bendang dalam nagari. Datuak Rangkayo Basa, bersuku Jambak merupakan anak Kunci Nan Banimbun. Nan Bagadiang, bersuku Jambak dalam adat sebagai urang tuo adaik Datuak Basa. Majo Datuak, bersuku Jambak di dalam adat sebagai urang tuo adaik Kari Ibrahim. Kari Ibrahim,basuku Jambak sebagai pucuak syarak dalam nagari, Khatib Sutan,bersuku piliang sebagai suluah bendang menurut Syarak. Imam Basa,bersuku Jambak adalah anak kunci menurut Syarak Bilal,bersuku Piliang, kedudukan dalam adat urang tuo Kari Ibrahim menurut Syarak.
Nagari Jambak, jika kita lihat dari keterangan-keterangan yang kita perdapat dari orang tua-tua secara ringkas dapat kami sampaikan pada kesempatan ini sebagai berikut :
Berdasarkan sejarah penduduk Nagari Jambak berasal dari pagaruyung melalui Luhak Agam, yaitu seorang bergelar Rajo syahbandar dan adik nya perempuan intan Baludu bersuku Jambak dan seorang lagi bergelar Sutan Nuralam dan adiknya perempuan bernama Putri sangka Bulan Bersuku Mandahiling,mereka adalah bermamak berkemenakan (beripar bisan).
Mereka berempat dan beberapa rombongan berjalan pergi kenegeri lain,setelah sampai di Balairung koto Laweh Puar Datar,mereka itu berhenti di daerah tersebut untuk istirahat.
Kemudian mereka meneruskan perjalannya menuruti puncak Bukti Barisan arah ke utara, setelah berjalan mereka sampai pada suatu tempat (Bertemu) suatu pondok tinggal bekas orang berhenti, setelah berhenti istirahat melepas lelah mereka turun kebawah arah ke Barat, sesampai dibawah mereka bertemu Pincuran Duyung, yang sekarang dalam kelarasan Sundatar, hampir dari suatu kampung Tanjung makilan yang jadi kepala disitu bergelar Rajo Sangat bauang. Setelah mereka bertemu dengan raja sangat bauang, maka raja sangat bauang ingin mengawini salah seorang dari mereka. Mereka tidak ingin dengan permintaan Rajo Sangat bauang tersebut maka mereka dengan rombongannya meninggalkan tempat tersebut menuju arah ke Barat, yang sekarang Adalah Nagari Sundatar. Ditempat inilah mereka tinggal membuat perkampungan, Rajo Syahbandar kawin dengan Putri Sangkar Bulan dan sutan Nuralam kawin dengan putri Intan Baludu. Setelah beberapa lama mereka tinggal di Kampung Banio Tinggi, mereka masing-masing telah mempunyai anak, maka timbul pikiran oleh sutan nuralan untuk mencari tempat baru yang akan di jadikan tempat tinggal, maka mereka serombongan berangkat dari Banio Tinggi menuju arah ke Barat dengan memudikan Batang Sumpur. Sebab mereka beri nama Batang Sumpur karena mereka serombongan berangkat, mereka namakan SEUMPU, jadi dasar kata seumpu tersebut selanjutnya bernama batang sumpur sampai sekarang.
Setelah lama berjalan mereka bertemu dengan sebuah Bukit yang menyerupai Pekuburan, disini mereka berhenti untuk istirahat makan sirih, maka bukit tersebut diberi nama Bukit Kubua Panjang, yang kebetulan kebawahnya sebuah Lubuak yang sangat dalam.
Selama mereka istirahat disitu mereka memakan sirih, pada waktu itu terjatuh tutup tempat sedahnya Kelubuk yang dalam tersebut, lalu mereka istilahkan dengan jatuhnya Kapuran Sedahnya tersebut dengan Sakapiang, maka mereka memberi nama LUBUK SIKAPING. Ditempat inilah mereka tinggal membuat perkampungan, Rajo Syahbandar kawin dengan Putri Sangkar Bulan dan Sutan Nuralam kawin dengan Putri Intan Baludu. Inilah sampai sekarang yang menjadi dasar nama Lubuk sikaping, setelah selesai istirahat mereka melanjutkan perjalanan arah ke barat dan sampai pada suatu tempat yang mereka beri nama Bukit Sangkar Puyuh, disinilah mereka membuat perkampungan dan selanjutnya Bukit Sangkar Puyuh inilah Nagari Jambak sekarang, sebab mereka yang datang bersuku Jambak dengan dasar tersebut mereka beri nama Jambak. Anak dari Sutan Nuralam dan Putri Intan Baludu inilah keturunan Pucuk Adat Nagari Jambak dan Pucuk Adat Basa nan Sambilan dari Lima kenagarian di Lubuk sikaping yaitu Jambak, Tanjung Beringin, Durian Tinggi, Pauh dan Aia Manggih.
Maka dengan telah adanya Nagari Jambak maka berdatanganlah orang dari tempat lain ke Nagari Jambak seperti dari Si Kaduduak Rao dll. Dengan telah ramainya Nagari Jambak maka Datuak Basa bermusyawarah menyusun Nagari dan Ninik Mamak Adat dan Syarak seperti berikut :
1. Datuak Basa sebagai Pucuk Adat dalam Nagari Jambak.
2. Datuak Rangkayo Basa sebagai Pangulu Adat yang bersuku Jambak.
3. Datuak Simangkuto sebagai Pangulu Adat yang bersuku Piliang.
4. Kari Ibrahim sebagai Pucuk Syarak dalam kenagarian Jambak.
5. Imam Basa sebagai Ninik Mamak Syarak di Suku Jambak (Pengulu Syarak).
6. Khatib Sutan sebagai Ninik Mamak Syarak di Suku Piliang (Pengulu Syarak).
7. Nan Bagadiang Urang Tuo Adat Datuak Basa.
8. Majo Datuak Urang Tuo Adat Kari Ibrahim.
9. Bakal Ninik Mamak Syarak.
Dengan berdatangan dari luar Nagari Jambak Adat diisi, Limbago diTuang maka inilah masyarakat Jambak yang ada sekarang, dengan mempunyai dua suku yaitu: Jambak dan Piliang dengan hanya Dua Suku tersebut maka Kerapatan Adat dan Syarak Nagari Jambak membuat Keputusan bahawa orang bersuku Jambak dari penduduk kampung Alai dibolehkan kawin dengan orang bersuku Jambak di Induak Gadang, dan untuk keluar dari Nagari Jambak di larang oleh Adat, maka itu lah yang berlaku sampai sekarang.
Nagari Jambak, yang terletak di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, dikenal sebagai salah satu daerah pertanian yang subur di Sumatera Barat. Dengan tanah yang kaya akan mineral dan curah hujan yang memadai, Jambak memiliki potensi besar untuk memproduksi berbagai komoditas pertanian.
Salah satu komoditas unggulan di Nagari Jambak adalah padi. Dengan berbagai varietas lokal yang ditanam, para petani di sini menghasilkan beras berkualitas tinggi, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga berpotensi untuk dipasarkan ke daerah lain. Salah satu varietas padi milik masyarakat Nagari Jambak adalah Sikuriak. Keunggulan Padi Sikuriak adalah berasnya putih, rasanya enak, dan bentuknya kecil lonjong sehingga sebagian besar masyarakat lebih suka menanam benih padi Sikuriak ini. Selain itu, karena keunggulannya, harga beras ini lebih mahal dari beras lainnya.
Selain padi, Nagari Jambak juga dikenal dengan produksi sayuran dan buah-buahan. Berbagai jenis sayuran seperti cabai, terong, dan kangkung tumbuh subur di lahan pertanian yang dikelola oleh masyarakat setempat. Buah-buahan seperti durian, dan pisang juga menjadi andalan, menarik perhatian konsumen di pasar lokal.
Masyarakat Jambak memiliki tradisi agraris yang kuat, di mana pertanian menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Melalui kerja sama antar petani, mereka saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk meningkatkan hasil pertanian. Dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk penyuluhan dan pelatihan juga membantu petani untuk mengadopsi teknik pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Nagari Jambak menawarkan pesona alam dan kekayaan budaya yang memikat para pengunjung. Dikenal dengan pemandangan alam yang indah, Nagari Jambak menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi mereka yang ingin merasakan keindahan alam dan kearifan lokal.
Salah satu daya tarik utama di Nagari Jambak adalah Masjid Surau Lamo. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Pasaman. Masjid ini memiliki desain arsitektur yang masih asli dan menampilkan keindahan seni konstruksi tradisional Minangkabau. Masjid ini memiliki atap seperti limas khas Minangkabau, serta ukiran dan ornamentasi yang indah.
Sebagai masjid tertua, Surau Lamo menyimpan banyak cerita sejarah dan menjadi saksi perkembangan Islam di daerah tersebut. Banyak generasi telah melaksanakan ibadah di sini, menjadikannya pusat spiritual bagi masyarakat. Masjid ini sering digunakan untuk berbagai kegiatan keagamaan, termasuk pengajian, shalat berjamaah, dan perayaan hari besar Islam. Ini memperkuat peran masjid sebagai pusat kehidupan komunitas. Masjid Surau Lamo bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga merupakan simbol sejarah dan identitas budaya Nagari Jambak. Dengan keindahan dan makna yang dimiliki, masjid ini menjadi salah satu tujuan wisata yang menarik bagi pengunjung yang ingin merasakan kedamaian dan kearifan lokal.
Daya tarik berikutnya adalah keindahan alam yang dikelilingi oleh perbukitan hijau dan sawah yang subur, menjadi latar belakang yang sempurna untuk berbagai aktivitas luar ruangan. Bagi wisatawan yang suka menjelajah alam, Nagari Jambak menawarkan pesona wisata air terjun yang menakjubkan, salah satunya adalah Air Terjun Murai. Terletak sekitar 3 km dari perumahan penduduk, air terjun ini menjadi salah satu tujuan yang populer bagi para pencinta alam. Wisatawan dapat menjangkau air terjun ini dengan berjalan kaki dan menjadikannya sebagai pengalaman petualangan yang menyenangkan. Selain itu, Air Terjun Murai bisa menjadi tempat yang ideal bagi para fotografer, baik pemula maupun profesional. Keindahan air terjun dan latar belakang alam yang dramatis memberikan banyak peluang untuk mengambil gambar yang menakjubkan.
Masyarakat Nagari Jambak memiliki tradisi budaya yang kaya, salah satunya adalah Mamasang Kaua dan Malapeh Kaua. Budaya ini terkait erat dengan siklus pertanian, khususnya dalam masa tanam dan panen padi. Mamasang Kaua dilakukan sebelum masa tanam padi. Masyarakat berkumpul untuk berdoa dan memohon keberkahan serta kelancaran dalam proses pertanian. Ritual ini mencerminkan rasa syukur dan harapan agar hasil panen melimpah. Setelah panen, masyarakat kembali berkumpul untuk merayakan keberhasilan mereka dengan Malapeh Kaua. Malapeh kaua adalah momen untuk bersyukur atas hasil panen yang diperoleh. Kegiatan ini biasanya diwarnai dengan doa bersama, makan bersama, dan berbagai acara sosial lainnya. Kedua tradisi ini tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga memperkuat tali persaudaraan di antara masyarakat. Berkumpul bersama dalam suasana kekeluargaan menciptakan ikatan yang lebih erat di antara warga Nagari Jambak. Tradisi ini juga berperan penting dalam pelestarian budaya Minangkabau. Masyarakat secara aktif melibatkan generasi muda untuk mengenal dan menghargai nilai-nilai budaya yang ada.
Kemudian, masyarakat Nagari Jambak memiliki tradisi unik dalam menyambut bulan suci Ramadan hingga malam menjelang Hari Raya Idul Fitri. Aktivitas yang dilakukan di dalam Rumah Gadang serta peran Tokoh Tigo Tungku Sajarangan menjadi bagian penting dari prosesi budaya ini. Selama bulan Ramadan, Rumah Gadang menjadi pusat kegiatan sosial dan spiritual. Masyarakat berkumpul untuk melaksanakan ibadah, berbuka puasa bersama, serta mengadakan pengajian dan tadarus Al-Qur’an. Suasana kebersamaan di dalam rumah gadang menciptakan rasa kekeluargaan yang kuat.
Tokoh Tigo Tungku Sajarangan merupakan tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari niniak mamak (pemuka adat), alim ulama, dan cadiak pandai—turun ke janjang rumah gadang. Kehadiran mereka menandakan pentingnya peran tradisi dan spiritual dalam kehidupan masyarakat. Bunyi dari Tabuah menjadi tanda bahwa prosesi budaya akan berlangsung. Tabuah bukan hanya berfungsi sebagai pengingat waktu untuk shalat dan acara adat, tetapi juga menjadi bagian integral dari permainan anak-anak. Suara Tabuah yang menggema menandakan semangat dan keceriaan menyambut bulan suci.
Map Nagari Jambak