Selamat Datang di Website Si-MANIS (Sistem Manajemen Diabetes Mellitus)
Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang serius dan terjadi baik ketika pankreas tidak menghasilkan insulin yang cukup (hormon yang mengatur gula darah, atau glukosa), atau bisa terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan secara efektif insulin yang dihasilkan (World Health Organization, 2016).
Menurut Larasati et al., (2020), Diabetes Mellitus adalah penyakit kronis yang ditandai dengan kadar glukosa darah (gula darah) yang melebihi normal, yaitu kadar gula darah lebih dari 200 mg/dl, dan kadar gula darah puasa di atas 126 mg / dl.
Klarifikasi Diabetes Mellitus menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2014:
Diabetes Mellitus Tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM)
Diabetes Mellitus tipe 1 dapat terjadi dikarenakan adanya kerusakan pada sel beta yang parah, sehingga pankreas kehilangan fungsinya dalam menghasilkan insulin.
Diabetes Mellitus Tipe 2 atau Non Insulin Dependent Diabetes mellitus (NIDDM)
Diabetes Mellitus Tipe 2 (NIDDM) adalah gangguan metabolisme yang terjadi bukan karena kekurangan insulin, tetapi disebabkan oleh berbagai faktor genetik. Ini melibatkan resistensi sel terhadap insulin, terutama di hati, yang mengakibatkan peningkatan gula darah.
Diabetes Mellitus karena sebab yang lain
Diabetes terjadi pada beberapa orang karena kondisi medis lain atau akibat pengobatan kondisi medis yang menyebabkan kadar glukosa darah tidak normal.
Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes Mellitus Gestasional merupakan jenis DM yang muncul pada saat individu sedang dalam masa hamil dan sebelumnya tidak mengidap diabetes, mempunyai sifat sementara, tetapi merupakan faktor risiko untuk Diabetes Mellitus tipe 2.
Menurut Riyadi (2008) faktor penyebab dari diabetes mellitus adalah:
1. Kelainan Genetik
Adanya keluarga yang mengidap penyakit Diabetes Mellitus.
2. Usia
Pada umumnya manusia mengalami penurunan secara fisiologis dengan cepat sekitar pada usia 40 tahun keatas
3. Gaya Hidup Stres
Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar adrenal yaitu adrenalin & kortikosteroid. Hormon adrenalin akan mengakibatkan terjadinya kenaikan kebutuhan gula darah.
4. Pola Makan yang salah
Kelebihan berat badan atau kekurangan gizi akan berdampak pada peningkatan risiko diabetes.
5. Infeksi
Masuknya virus atau bakteri ke dalam pankreas dapat menyebabkan rusaknya sel-sel pada pankreas, dengan terjadinya kerusakan tersebut akan berakibat pada penurunan fungsi pankreas.
6. Obesitas
Terjadinya obesitas akan menyebabkan sel-sel pankreas mengalami hipertrofi (pembesaran otot) yang bisa berpengaruh terhadap penurunan produksi insulin.
Beberapa tanda dan gejala yang muncul pada penderita Diabetes Mellitus berupa :
Gejala Klasik:
pasien mengalami keseimbangan kalori negatif, sehingga timbul rasa lapar yang sangat besar.
Karena sifatnya, kadar gula darah yang tinggi akan banyak kencing
Rasa haus amat sangar dialami penderita karena banyaknya cairan yang keluar melalui kencing
Penurunan berat badan yang berlangsung dalam relatif singkat harus menimbulkan kecurigaan.
Gejala Lainnya:
Gangguan saraf tepi/kesemutan
Penderita mengeluh rasa sakit atau kesemutan terutama pada kaki saat malam hari, sehingga mengganggu tidur.
Gangguan penglihatan
Pada fase awal diabetes sering dijumpai gangguan penglihatan yang mendorong penderita untuk mengganti kacamatanya berulang kali agar tetap dapat melihat dengan baik.
Gatal atau bisul
Kelainan kulit berupa gatal dan Sering pula dikeluhkan timbul bisul dan luka yang lama sembuhnya. Luka ini dapat timbul karena akibat hal yang sepele seperti luka lecet karena sepatu atau tertusuk paku.
Gangguan Ereksi
Gangguan ereksi ini menjadi masalah tersembunyi karena sering tidak secara terus terang dikemukakan penderitanya.
Keputihan Pada wanita
keputihan taua gatal-gatal merupakan keluhan yang sering ditemukan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejalayang dirasakan.
Faktor risiko Diabetes Mellitus Menurut Febrinasari (2020), antara lain:
Faktor resiko yang tidak dapat di modifikasi:
Ras dan etnik
Riwayat keluarga dengan DM (genetik)
Usia diatas 45 tahun (meningkat seiring dengan peningkatan usia)
Diabetes mellitus gestasional: Riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir bayi > 4000gram atau riwayat menderita DM saat masa kehamilan dan riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2500 gram).
Faktor resiko yang dapat di modifikasi:
Obesitas atau Berat badan lebih (IMT ≥ 23 kg/m2)
Diet yang tidak sehat (tinggi gula dan rendah serat).
Kurangnya aktivitas fisik
Tekanan darah tinggi atau hipertensi (> 140/90 mmHg)
Peningkatan kolestrol darah, gangguan profil lemak dalam darah (HDL < 35 mg/dL, dan atau trigliserida > 250 mg/dL)
Perokok.
Penanganan Diabetes mellitus dapat di kelompokkan dalam 5 pilar penatalaksanaan, yaitu edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani, intervensi farmakologis dan pemeriksaan gula darah. Terapi yang dilakukan bertujuan untuk mencegah atau meminimalkan komplikasi akibat dari lamanya penyakit DM (Suciana et al., 2019).
Memberikan pendidikan dan pelatihan kepada penderita Diabetes Mellitus tentang penyakit Diabetes Mellitus dan perawatannya, memberikan motivasi kepada keluarga dan penderita bahwa perawatan secara rutin pada penderita Diabetes Mellitus penting dilakukan untuk menghindari komplikasi, serta mengadakan follow up secara berkala setiap bulan yaitu 2 kali kunjungan rumah.
Penderita DM ditekankan pada pengaturan dalam 3J yakni keteraturan jadwal makan, jenis makan, dan jumlah kandungan kalori. Komposisi makanan yang dianjurkan terdiri dari karbohidrat yang tidak lebih dari 45-65% dari jumlah total asupan energi yang dibutuhkan, lemak yang dianjurkan 20-25% kkal dari asupan energi, protein 10 20% kkal dari asupan energi (Febrinasari et al., 2020).
Olahraga atau latihan jasmani seharusnya dilakukan secara rutin yaitu sebanyak 3-5 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit dengan jeda latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut. Kegiatan sehari-hari atau aktivitas sehari-hari bukan termasuk dalam olahraga meskipun dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. Olahraga yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan berenang (Febrinasari et al., 2020)
Obat-obatan hipoglikemik oral (OHO)
Obat-obatan Hipoglikemik Oral (OHO) adalah obat penurun gula darah untuk diabetes tipe 2 yang diminum, dengan Metformin (golongan Biguanid) sebagai pilihan utama. Golongan OHO utama meliputi Sulfonilurea (Glibenclamide, Glimepiride), Tiazolidinedion (Pioglitazone), Penghambat DPP-4 (Sitagliptin, Linagliptin), Penghambat SGLT2 (Dapagliflozin, Empagliflozin), dan Penghambat Alfa-glukosidase (Acarbose).
Terapi Insulin
Terapi Kombinasi
Pemberian terapi kombinasi artinya diberikan terapi campuran obat untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan kadar gula darah puasa dan glukosa 2 jam setelah makan yang bertujuan untuk mengetahui keberhasilan terapi. Selain itu pada pasien yang telah mencapai sasaran terapi disertai dengan kadar gula yang terkontrol maka pemeriksaan tes hemoglobin terglikosilasi (HbA1C) bisa dilakukan minimal 2 kali 1 tahun.
Makanan yang terbuat dari biji-bijian utuh atau karbohidrat kompleks, seperti nasi merah, ubi panggang, oatmeal, roti gandum, dan sereal dari biji-bijian utuh
Daging tanpa lemak atau ayam tanpa kulit
Sayuran, seperti brokoli dan bayam, serta diproses dengan cara direbus, dikukus, dipanggang, atau dikonsumsi mentah
Buah-buahan segar. Bila ingin mengolahnya menjadi jus, sebaiknya jangan ditambah gula
Kacang-kacangan, termasuk kacang kedelai dalam bentuk tahu atau tempe yang dikukus, dimasak untuk sup,atau ditumis
Telur dan Produk olahan susu rendah lemak, seperti yoghurt
Berbagai jenis ikan,seperti tuna, salmon, sarden dan makarel, tetapi hindari ikan dengan kadar merkuri tinggi,misalnya ikan tongkol
Roti tawar putih
Makanan yang terbuat dari tepung terigu
Sayuran yang dimasak dengan tambahan garam, keju, mentega, dan saus dalam jumlah banyak
Buah-buahan kalengan yang mengandung banyak gula
Sayuran kalengan yang mengandung garam tinggi
Daging berlemak dan kulit ayam
Produk susu tinggi lemak
Makanan yang digoreng, seperti ayam goreng, ikan goreng, pisang goreng, dan kentang goreng
Makanan dan minuman mengandung gula tinggi, seperti kue, madu, sirop, dan soda
Metformin
Glibenclamide
Glimepiride
Insulin
Inovator: Ns.Abdul Haris, S.Kep
BLUD PUSKESMAS WERA