Awal Mula Berdirinya Kerajaan Kalingga
Kerajaan Kalingga diperkirakan berdiri di pesisir utara Jawa Tengah, sekitar wilayah Jepara atau Pekalongan. Berdiri sekitar abad ke-6 hingga ke-7 Masehi, Kalingga menjadi pusat penyebaran agama Hindu-Buddha dan perdagangan maritim. Kerajaan ini dikenal memiliki sistem pemerintahan yang tertib dan masyarakat yang menjunjung tinggi hukum.
Meskipun sumber lokal tidak mencatat secara langsung siapa pendiri Kerajaan Kalingga, sejumlah ahli sejarah dan arkeologi meyakini bahwa kerajaan ini didirikan oleh tokoh awal dari Dinasti Syailendra, yaitu Dapunta Syailendra. Nama ini muncul dalam Prasasti Sojomerto yang ditemukan di daerah Batang, Jawa Tengah, dan ditulis dalam aksara Pallawa serta bahasa Melayu Kuno. Prasasti tersebut menyebut Dapunta Syailendra sebagai tokoh penting yang beragama Hindu Siwa dan memiliki pengaruh besar di wilayah pesisir utara Jawa.
Kerajaan Kalingga lahir dari pertemuan budaya dan perdagangan internasional. Pedagang dari India membawa ajaran Hindu dan Buddha, sementara pelaut dari Tiongkok membawa barang-barang mewah dan pengetahuan. Masyarakat lokal menyambut pengaruh luar ini dengan membentuk sistem sosial yang tertata, membangun pusat-pusat perdagangan, dan mengadopsi nilai-nilai spiritual yang memperkuat identitas budaya mereka.
Awal mula berdirinya Kalingga tidak ditandai oleh perang atau perebutan kekuasaan, melainkan oleh transformasi sosial dan budaya. Wilayah pesisir utara Jawa yang strategis menjadi titik temu berbagai bangsa, dan dari sinilah lahir sebuah kerajaan yang menjunjung tinggi keadilan, keterbukaan, dan moralitas.
Dalam tradisi masyakat nama kerajaan Maharani Shima adalah Kalingga sebenarnya keyakinan ini tidak berdasar. Ka-ling/Ho-ling/He-ling sebenarnya adalah hasil dari kekeliruan Dinasti Tang saat mengidentifikasi Jawa sebelum abad 7. Biasanya orang Tiongkok menggunakan kling atau Kalinga untuk menyebut imigran India. Mungkin karena warna kulit dan pakaian orang yang menjadi utusan Jawa yang datang ke Tiongkok mirip dengan orang india disangka imigran dari India. Menurut sejarawan Belanda Groeneveldt, penyebutan nama “Kalingga” sebagai nama kerajaan di Jawa adalah keliru. Dalam karyanya Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources (1887), Groeneveldt meneliti sumber-sumber Tiongkok yang menyebut kerajaan di Jawa sebagai Ho-Ling atau Holing. Menurut Groeneveld setelah orang Tiongkok datang langsung ke Jawa mereka baru menyebut pulau tersebut dengan sebutan “Jawa” dari di kronik kedua Dinasti Tang tercatat bahwa Ka-ling dikenal juga dengan Ja-va/Ja-po, jadi sejak saat itu kata Jawa sering dipakai walaupun saat Dinasti Tang masih banyak yang menggunakan kata Kaling. Di Prasasti kita sendiri Kling/Keling juga mengacu pada suku Indian dan masuk kumpulan warga kilalan. Tetapi salah penyebutan Ka-ling/Ho-ling ini yang sudah direvisi oleh orang Tiongkok malah diubah lagi oleh orang Nusantara atau oleh orang kita menjadi Kalingga. Tidak ada yang tau kebenaran nama kerajaan ini karena kenyataannya memang kerajaan-kerajaan sebelum abad 7 tidak diketahui namanya. Seperti nama "Kutai Kuno" sebenarnya hanya usulan sejarawan modern.
Kerajaan Kalingga dikenal sebagai salah satu kerajaan awal di Jawa yang menjunjung tinggi hukum, etika, dan keteraturan sosial. Meskipun peninggalan fisiknya sangat terbatas, sejumlah catatan asing dan tradisi lokal memberikan gambaran tentang karakter masyarakat dan sistem pemerintahannya. Catatan dari Dinasti Tang menyebut bahwa kerajaan ini memiliki struktur pemerintahan yang teratur dan pemimpin yang bijaksana. Tokoh paling terkenal adalah Ratu Shima, yang dikenal karena menerapkan hukum secara tegas dan adil. Dalam kisah yang populer, ia menghukum anaknya sendiri karena menyentuh barang milik asing yang dilarang, menunjukkan bahwa hukum berlaku untuk semua lapisan masyarakat, tanpa pengecualian. Masyarakat hidup dalam harmoni menjungjung tinggi kejujuran dan disiplin.
Sobat Seserahan, apakah Kerajaan ini struktur kekuasaannya dinasti atau kolektif ya? Sobat Seserahan daftar raja Kalingga menunjukkan adanya garis keturunan, namun juga terdapat tumpang tindih tahun pemerintahan, seperti antara Prabhu Wasudewa dan Prabhu Kirathasingha. Hal ini membuka kemungkinan bahwa:
Pemerintahan dijalankan secara bersama (co-regency) oleh pasangan atau kelompok elite.
Kekuasaan mungkin tidak sepenuhnya terpusat, melainkan berbasis pada keluarga bangsawan atau tokoh spiritual yang berpengaruh.
Kerajaan maharani Shi-ma adalah monarki ke-tiga Nusantara yang memasuki panggung Sejarah, dua monarki sebelumnya yaitu Kutai Kuno dan Taruma. Kerajaan Shi-ma dipuji kaya raya oleh catatan Dinasti Tang. Komoditasnya emas, perak, tempurung penyu, cula, dan gading. Bangunan di negeri ini dari balok kayu dengan istana bertingkat dua dan beratap rumbia. Corak keagamaannya tidak jelas, namun kaum cerdik pandainya mengenal aksara dan astronomi, juga menggunakan jam matahari.
Nah, Sobat Seserahan tau ga si para pria di Kalingga pada saat itu gemar minum arak dan ada sekelompok wanita yang jago di ranjang tetapi dikatakan berbisa apabila orang mengadakan hubungan kelamin dengan perempuan-perempuan itu ia akan luka bernanah dan akan mati tetapi mayatnya tidak membusuk. Sebagian sejarawan mengartikan catatan tersebut sebagai indikasi adanya praktik prostitusi di wilayah Kerajaan Kalingga dan pekerja seks komersial yang telah terjangkit penyakit menular. Penduduk Kerajaan Kalingga sudah mengenal tulisan, tetapi hanya sedikit tahu tentang ilmu perbintangan.
Menurut catatan Dinasti Tang awalnya Kerajaan Shi-ma ini berada di sebelah timur dengan ibukotanya Ba-lu-ga-si. Sebelum Maharani Shi-ma ada beberapa penguasa lain yang bertahta salah satunya Ji-yan yang memindahkan ibukota ke Ja-po karena dia suka melihat keindahan laut dari perbukitan Lang-bi-ya.
Kalingga menjadi mandala tertua yang tercatat di Nusantara. Majapahit dikagumi hingga saat ini karena diyakinin pada masanya Ia memiliki mandala terbesar di Asia Tenggara yang seluas Nusantara. Nah Sobat Seserahan dari informasi yang kami dapatkan melalui channel YouTube ASISI CHANEL bahwa mandala sangat berbeda dengan kerajaan style Eropa yang kita kenal, kerajaan-kerajaan Asia Tenggara di masa Hindu Budha memang menerapkan sistem mandala akan tetapi rekaman tertua yang gamblang menggambarkan mandala di Nusantara adalah kerajaan Shi-ma dalam catatan Dinasti Tang.
Kalingga tercatat dikelilingi oleh 28 negara yang mengakui kekuasaannya inilah yang menjadikan mandala kemaharajaan, jauh sebelum Sanjaya mengungkapkan Cakra Mandala dalam prasasti gunung wukir 732 Masehi.
Sistem pemerintahan Kerajaan Kalingga sungguh melampaui zaman, catatan Dinasti Tang bahkan menegaskan pada tahun 674 penduduk negeri ini mengangkat seorang wanita bernama Xi-ma menjadi ratu mereka. Hal ini mengartikan bahwa Maharani Shi-ma tidak memperoleh kekuasaan karena faktor keturunan akan tetapi karena dipilih oleh rakyat, hal ini yang membuat catatan mengenai demokrasi yang tertua di Nusantara, Seribu tahun mendahului lahirnya Amerika Serikat sebagai kampiun demokrasi.