SEPTUAGINTA (LXX)
Septuaginta (LXX) adalah manuskrip Kitab Suci Perjanjian Lama (PL) berbahasa Yunani Koine paling tua, diterjemahkan langsung dari naskah PL primer Ibrani yang sekarang sudah tidak ada.
Pekerjaan penerjemahan dimulai sekitar abad ke-3 SM, pada masa pemerintahan Raja Ptolemaios II Philadelphos di Aleksandria. Bagian pertama yang di terjemahkan adalah Pentateukh: (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Proses ini kemudian berlanjut hingga kitab-kitab lainnya, sehingga secara bertahap koleksi lengkap Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani rampung sekitar tahun 132-125 SM.
Bagian bawah kolom 18 (menurut E. Tov) Gulungan Kitab Nabi-nabi Kecil berbahasa Yunani dari Nahal Hever (8HevXII gr). Tanda panah menunjuk kepada nama kudus Allah dalam tulisan abjad Ibrani Kuno.
LXX dikerjakan oleh 72 ahli kitab Yahudi (6 orang dari masing-masing 12 suku) karena itu diberikan sebutan LXX (dalam angka Romawi yang artinya 70). Salah seorang penulis LXX adalah Js. Simeon Theodokhos (yang menerima Allah) yang diberikan karunia umur sangat panjang untuk bertemu bayi Sang Kristus (Lukas 2:25-35). Dalam kisah penterjemahan LXX, karena kebingungannya pada bagian kitab Yesaya 7:14 beliau pernah hampir menerjemahkan kata Ibrani הָעַלְמָ֗ה (ha-almah, sang perawan, anak perempuan dara/muda) sebagai γυνή (gyné, wanita) karena pikirnya tidak mungkin seorang perawan memiliki seorang anak. Tetapi malaikat datang kepadanya dan memberikan pencerahan bahwa memang nubuat itu merujuk kepada seorang perawan sehingga akhirnya ditulislah dalam LXX sebagai παρθενος (parthenos, perawan). Demikianlah kita dapat melihat bagaimana Allah menyertai dalam penerjemahan Kitab Suci Perjanjian Lama ke dalam LXX.
Yang menarik, LXX bukan hanya dipakai di kalangan Yahudi diaspora, tetapi juga menjadi Kitab Suci utama bagi Gereja Perdana. Yesus dan Para Rasul: mempelajari, mengingat, menggunakan, mengutip, dan membaca lebih sering dari LXX pada zaman mereka. Matius menulis terutama untuk meyakinkan orang Yahudi bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias yang dijanjikan, hal itu diikuti sebagaimana isi dari tujuan Injilnya yang dipenuhi dengan Kitab Suci Ibrani. Meskipun, ketika Yesus mengutip Perjanjian Lama dalam Matius, Ia hanya menggunakan 10% dari tulisan Ibrani, namun 90% *(jika dihitung kutipan longgar/parafrasa).
Dan juga dalam (Lukas 4:18-19) Yesus membaca kitab Yesaya dari Septuaginta, bagian terbesar kutipan ini berasal dari teks Yesaya 61:1-2 dari LXX. Merawat orang-orang yang remuk hati, adalah bagian dari sumber peninggalan naskah Lukas yang terbaik, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas berasal dari teks LXX dari Yesaya 58:6. Karena itulah, memperhatikan dan menghargai Septuaginta bukanlah sekadar menelusuri sejarah teks, melainkan juga menyelami bagaimana Allah bekerja dalam menjaga Firman-Nya di tengah umat-Nya sepanjang zaman.
REFRENSI:
Terjemahan ini diselesaikan sekitar tahun 250 – 125 SM dan disebut Septuaginta, yaitu dari kata Latin yang berarti 70 (LXX), sesuai dengan jumlah penerjemah. Kitab ini sangat populer dan diakui sebagai Kitab Suci resmi (kanon Alexandria) kaum Yahudi diaspora (=terbuang), yang tinggal di wilayah Asia Kecil dan Mesir. Pada waktu itu Ibrani adalah bahasa yang nyaris mati dan orang-orang Yahudi di Palestina umumnya berbicara dalam bahasa Aram. Jadi tidak mengherankan kalau Septuaginta adalah terjemahan yang digunakan oleh Yesus, para Rasul dan para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru.
Terjemahan Septuaginta segera digunakan menjadi Alkitab resmi dalam Yudaisme helenis di dalam sinagoga-sinagoga. Para penulis Perjanjian Baru lebih suka mengutip Perjanjian Lama dari naskah terjemahan itu.
Papyrus Rylands 458 (TM 62298; LDAB 3459),From Wikipedia
Fragmen tertua LXX yang telah ditemukan hingga saat ini adalah Papyrus Ryland 458, seperti namanya fragmen ini terbuat dari Papyrus (tumbuhan tertentu yang dikeringkan dan digunakan sebagai material kertas) dengan perkiraan berasal dari tahun 200 SM.
*Fragmen adalah bagian manuskrip yang tidak lengkap, entah beberapa bagian hilang, lubang, luntur atau rusak.
Beberapa manuskrip LXX berbentuk kumpulan kitab (Codex) yang cukup terkenal sampai saat ini antara lain:
The Codex Vaticanus, photographed during an exhibition in Warsaw (2015).
Codex Vaticanus
Diperkirakan berasal dari tahun 325 M, setelah kira-kira tahun 1445 M sampai sekarang.
ini adalah sebuah naskah Alkitab Yunani, yang memuat sebagian besar Perjanjian Lama Yunani dan sebagian besar Perjanjian Baru. Naskah ini diberi kode siglum B atau 03 dalam penomoran naskah Perjanjian Baru Gregory-Aland, dan δ 1 dalam penomoran naskah Perjanjian Baru von Soden.
Codex Sinaiticus, a 4th-century manuscript of the Septuagint, written between 330 and 350.
Codex Sinaitikus
Diperkirakan berasal dari tahun 360 M, ditemukan oleh Tischendorf (seorang Profesor Scholar Universitas Leipzig Jerman) pada tahun 1844 M di Biara Orthodox Timur Js. Katarina di gunung Sinai. Saat ini disimpan di Biara Orthodox Timur Js. Katarina di gunung Sinai, Perpustakaan Nasional Rusia di St.Peterburg, Perpustakaan Inggris, dan Universitas Leipzig Jerman, disimbolkan dalam kode huruf Ibrani א (alef).
Codex Alexandrinus, opened to the end of the gospel of Luke and start of John, Constantinople or Asia Minor, 5th century AD - British Library, London.
Codex Alexandrinus
Diperkirakan berasal dari tahun 440 M, dibawa oleh Patriarkh Alexandria Kyrillos Lukaris (1572 – 1638 M) dari Alexandria ke Konstantinopel, kemudian pada abad-17 diberikan kepada Raja Inggris Charles I yang akhirnya sampai sekarang disimpan dalam Perpustakaan Inggris, disimbolkan dalam kode huruf A.
Codex Ephraemi Rescriptus, di Bibliothèque Nationale, Paris, Département des manuscrits, Grec 9, fol. 60r (diputar)
Codex Efraemi Reskriptus
Codex Ephraemi Rescriptus adalah naskah Alkitab Kristen dalam bahasa Yunani yang diperkirakan berasal dari tahun 450 M dan merupakan anggota terakhir dari kelompok "Empat Naskah Uncial Agung", bersama Codex Sinaiticus, Alexandrinus, dan Vaticanus. Meskipun ditemukan dalam keadaan tidak utuh, naskah ini diyakini pada awalnya memuat keseluruhan Alkitab. Naskah ini mendapatkan namanya dari kondisi khususnya sebagai sebuah palimpsest yaitu, naskah aslinya yang ditulis di atas lembaran vellum dihapus ("rescriptus"), lalu pada abad ke-12 M, lembaran yang sama digunakan kembali untuk menuliskan terjemahan bahasa Yunani dari makalah Efrem orang Siria.
Untungnya, penghapusan naskah asli tersebut tidak sempurna. Di bawah teks karya Efrem, masih tersembunyi teks Alkitab lengkap yang memuat bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Pada tahun 1840-1843, pakar paleografi dan Alkitab, Tischendorf, menganalisis teks palimpsest yang hampir hilang ini dan berhasil menyuntingnya pada 1843-1845. Berkat upayanya, Codex Ephraemi Rescriptus pun menjadi salah satu fondasi penting dalam bidang kritik tekstual Alkitab. Saat ini, naskah bersejarah ini disimpan di Bibliothèque nationale de France (Grec 9) di Paris.
Washington Manuscript III - The Four Gospels (Codex Washingtonensis)
Codex Washingtonianus
Diperkirakan berasal dari tahun 500 M, dibeli oleh Charles Lang Freer (Kolektor Seni Amerika) di Mesir pada tahun 1906 M dan sekarang disimpan di Galeri Seni Freer di Washington DC (Amerika Serikat). Disimbolkan dalam kode huruf W.
Daftar kitab yang termuat dalam Kanon Perjanjian Lama Septuaginta adalah sebagai berikut:
Kejadian
Keluaran
Imamat
Bilangan
Ulangan
Yosua
Hakim-Hakim
Rut
1 Samuel (1 Raja-Raja)
2 Samuel (2 Raja-Raja)
1 Raja-Raja (3 Raja-Raja)
2 Raja-Raja (4 Raja-Raja)
1 Tawarikh (1 Paraleipomenon)
2 Tawarikh (2 Paraleipomenon)
Doa Manasye*
1 Ezra (1 Esdras)*
Ezra (2 Ezra/2 Esdras)
Nehemia
Tobit*
Yudit*
Ester
1 Makabe*
2 Makabe*
3 Makabe*
Mazmur (151* Pasal)
Ayub
Amsal
Pengkhotbah
Kidung Agung
Kebijaksanaan Salomo*
Sirakh*
Hosea
Amos
Mikha
Yoel
Obaja
Yunus
Nahum
Habakuk
Zefanya
Hagai
Zakharia
Maleakhi
Yesaya
Yeremia
Barukh*
Ratapan
Surat Yeremia*
Yehezkiel
Daniel (versi panjang*)
(*) Bagian dari kategori kitab Anagignoskomena (layak baca).
Pada Pertemuan di Yamnia (Yavne) sekitar tahun 90 M, para Rabbi Yahudi mulai membuat standar ukur (Kanon) bagi kitab-kitab yang boleh disebut sebagai Kitab Suci dan menolak keabsahan LXX sebab tidak sesuai dengan kriteria:
Tradisi Yahudi harus berbeda dengan Tradisi Kristen.
Tidak berbahasa Ibrani, bahasa Ibrani dipandang sebagai bahasa yang memiliki otoritas Ilahi, dengan demikian membuang semua kitab Anagignoskomena yang ada dalam LXX karena dipandang tidak ada asal naskah Ibraninya pada saat itu.
Dianggap memiliki kesalahan dalam penerjemahan Yesaya 7:14 dan beberapa bagian lainnya.
Tidak sama dengan manuskrip Ibrani yang beredar saat itu (yang sekarang diturunkan sebagai manuskrip Masoretik/MT).
Namun di kemudian hari ketika terjadi penemuan naskah Gulungan Laut Mati (Dead Sea Scroll, DSS) di gua Qumran itu ternyata terdapat beberapa naskah Anagignoskomena yang berbahasa Ibrani, antara lain:
Kitab Yesus bin Sirakh (2Q18 dan 11Q5)
Kitab Tobit (Papyri 4Q)
Mazmur 151 (11QPs-a)
Dengan meneruskan kebiasaan Tuhan Yesus Kristus, Para Rasul dan Para Bapa Gereja, manuskrip LXX inilah yang sampai sekarang digunakan oleh Gereja Orthodox Timur sebagai acuan standar Kitab Suci Perjanjian Lama.