Matahari Bengkulu mulai tenggelam di ufuk barat, meninggalkan jejak jingga yang mewarnai langit senja. Andi menghentikan mobil Toyota Rush hitamnya di depan sebuah café yang sudah sangat familiar baginya. Tempat ini menyimpan banyak kenangan – tempat di mana dia pertama kali bertemu Dina dua tahun lalu, dan ironisnya, tempat yang sama di mana semua akan berakhir hari ini.
“Paket sudah sampai, Pak,” suara driver ojek online membuyarkan lamunannya.
Andi tersenyum, mengambil buket mawar merah yang dia pesan. “Makasih, Mas.” Dia membayar lewat aplikasi dan memberikan tip tambahan.
Sejak pagi tadi, ponselnya dipenuhi chat dari teman-temannya yang memperingatkan tentang Dina. Video dan foto kekasihnya dengan pria lain tersebar di grup alumni kampus mereka. Namun Andi memilih menghadapi ini dengan kepala dingin. Sebagai pengusaha muda yang berhasil membangun bisnis fashion online dari nol hingga kini memiliki tiga toko offline, dia sudah terbiasa menghadapi masalah dengan tenang.
Di dalam café, Dina sudah menunggu. Cantik seperti biasa dengan dress putih favoritnya, tapi kali ini ada kegelisahan yang terpancar dari wajahnya.
“Hai,” sapa Andi, meletakkan buket mawar di meja. “Pesanan seperti biasa?”
Dina terlihat kaget dengan sikap tenang Andi. “An… aku…”
“Ice caramel macchiato dengan extra shot dan less sugar kan?” Andi memanggil pelayan dan memesan minuman favoritnya dan Dina. Sikapnya santai, seolah ini hanya pertemuan biasa mereka.
Setelah pelayan pergi, Andi mengeluarkan iPadnya, membuka galeri foto. “Jadi, mau mulai dari mana? Dari foto kamu sama Reza di Bali minggu lalu, atau dari transferan uang yang dia kirim ke rekening kamu setiap bulan?”
Wajah Dina memucat. “Kamu… udah tau?”
“Sejak tiga bulan lalu,” Andi tersenyum tipis. “Tapi aku pengen liat sejauh mana kamu bisa terus berpura-pura.”
Air mata mulai menggenang di mata Dina. “Aku bisa jelasin…”
“Nggak perlu,” potong Andi tenang. “Aku paham kok. Reza lebih mapan kan? Pengusaha properti sukses, punya koneksi dimana-mana. Jauh lebih menjanjikan dibanding aku yang masih struggle membangun bisnis sendiri.”
“Bukan gitu…” Dina terisak. “Aku cuma… aku butuh kepastian. Kamu terlalu fokus sama bisnis kamu. Reza… dia bisa kasih aku apa yang aku mau.”
Andi mengangguk paham. Tangannya membuka tas kerja, mengeluarkan sebuah kotak beludru merah. “Lucu ya? Padahal hari ini aku mau melamar kamu.”
Dia membuka kotak itu, menampilkan cincin berlian yang sudah dia siapkan sejak dua bulan lalu. “Aku fokus sama bisnis karena pengen pastiin masa depan kita. Tiga bulan terakhir kerja extra keras buat buka cabang baru, supaya pas nikah nanti kita nggak perlu kuatir soal finansial.”
Dina terdiam, air matanya mengalir deras sekarang.
“Tapi ternyata,” Andi menutup kotak cincin itu, “kamu lebih milih jalan pintas. Padahal kalau kamu sabar sedikit aja, kamu bisa liat seberapa besar usaha aku buat kamu.”
“Andi… maafin aku… aku khilaf…” Dina mencoba meraih tangan Andi, tapi Andi menghindar.
“Tau nggak bedanya kamu sama aku?” Andi menyesap kopinya yang baru datang. “Aku cinta prosesnya. Aku nikmati tiap perjuangan membangun sesuatu dari nol. Sementara kamu? Kamu cuma mau hasil instan.”
Andi mengeluarkan amplop dari tasnya. “Ini bukti transfer DP rumah yang udah aku booking buat kita. Lokasinya di BSD, kompleks yang kamu bilang bagus itu. Lucu ya? Kamu sibuk nyari sugar daddy, padahal aku di sini udah nyiapin semuanya buat masa depan kita.”
“An… please… kita bisa perbaiki semua ini…” Dina memohon, makeup-nya sudah luntur oleh air mata.
“Sorry, Din. Tapi buat aku, trust issue itu sama kayak gelas pecah. Sebagus apapun kamu mencoba memperbaiki, retakannya akan selalu ada.” Andi berdiri, merapikan jasnya. “Oh ya, soal transferan dari Reza tiap bulan itu… mulai besok nggak akan ada lagi. Aku udah kirim semua bukti ke istrinya tadi pagi.”
Dina tersentak kaget. “Kamu… apa?”
“Karma itu nyata, Din. Sama kayak hasil dari sebuah proses, pasti akan ada balasannya.” Andi tersenyum, kali ini senyum tulus. “Makasih ya udah ngajarin aku banyak hal. Semoga kamu bisa lebih menghargai ketulusan seseorang next time.”
Andi melangkah keluar café, meninggalkan Dina yang masih terpaku dengan air mata yang mengalir. Di parkiran, dia memandang cincin berlian di tangannya sebelum memasukkannya kembali ke dalam tas. Mungkin suatu hari nanti, akan ada seseorang yang lebih pantas menerimanya. Seseorang yang tidak hanya mencintai hasil akhir, tapi juga menghargai setiap proses perjuangan.
Mobilnya melaju membelah jalanan Bengkulu yang mulai sepi. Ada rasa sakit, tentu saja. Tapi Andi tahu ini bukan akhir. Ini hanya bagian dari proses kehidupan yang akan membuatnya lebih kuat. Besok, dia akan kembali fokus membangun bisnisnya. Karena baginya, kesuksesan sejati bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan dengan cara instan, tapi tentang proses perjuangan yang membentuk karakter kita.
Di dashboard mobilnya, foto mereka berdua masih terpajang. Andi melepasnya pelan, lalu memasukkannya ke laci. Bukan untuk dibuang, tapi untuk disimpan sebagai pengingat bahwa setiap pengalaman, bahkan yang menyakitkan, adalah guru terbaik dalam hidup.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Andi merasa benar-benar bebas. Bebas dari kebohongan, bebas dari kepura-puraan. Dan yang paling penting, bebas untuk memulai lembar baru dalam hidupnya.
By Muhammad Sholihin, S.Pd. & Syakilah, S.Pd.