Teori yang dikemukakan adalah : “Aliran Darah dan Persepsi rasa nyeri”. Para Ahli berpendapat bahwa Ion Negatif diyakini dapat merangsang aliran darah berjalan lancar dan memberikan efek anestesia. Efek ion negatif ini ditransmisikan lewat pembuluh darah ke otak, yang kemudian menghasilkan edorfin, suatu zat alamiah penghilang rasa nyeri.
Mempelajari pola-pola gelombang otak dan menemukan bukti bahwa Ion Negatif dapat mengurangi rasa sakit. Bersama kepala bedah RS. Northeastern, Dr. J.R. Minehart dan koleganya, Kornblueh, mencoba terapi Ion Negatif pada pasien pasca operasi bedah. Dari 138 pasien uji coba, maka 79 pasien diantaranya merasakan sakitnya berkurang bahkan menghilang rasa sakitnya.
Ion negatif memiliki dampak penyembuhan luar biasa dan menyeimbangkan pada system syaraf otomatis yang mengontrol semua organ, kelenjar, pembuluh darah dan organ lain yang memerlukan kontrol sadar yang merupakan reaksi refleks. Fungsi saraf otomatis dapat ditingkatkan melalui penyerapan ion negatif dalam tubuh. Ion negatif membantu menyeimbangkan syaraf otomatis dalam tubuh, dengan mengatur endokrin.
Figur yang dikenal di dunia dibidang kimia, Dr. Maki Takada dari Universitas Toho Jepang, menyatakan bahwa Ion Negatif memiliki efek yang mengagumkan pada cairan tubuh, sel dan saraf manusia. Hal ini tidak hanya meningkatkan fungsi dari organ tubuh namun juga mengatur fungsi jaringan tubuh serta saraf otonom.
Penelitian Prof. Arudoman dari University Of German mengenai pengaruh ion terhadap tubuh manusia telah menghasilkan hipotesis yang menunjukkan empat ( 4 ) manfaat Ion Negatif terhadap tubuh manusia, yaitu :
Membantu fungsi saraf otonom.
Memperkuat kolagen ( jaringan ikat lentur yang tahan ketegangan ).
Meningkatkan permeabilitas membrane protoplasma sel / meningkatkan metabolisme.
Memperkuat system kekebalan tubuh.
Efek dari Ion Negatif juga sangat mengagumkan, antara lain adalah :
Darah menjadi murni, sirkulasi darah menjadi lancar.
Metabolisme sel bertambah, aktifitas sel bertambah.
Sistem kekebalan tubuh meningkat jadi kita tidak mudah sakit atau terkena influenza.
Kerja saraf otonom menjadi teratur sehingga kita menjadi tambah sehat.
Ion negatif juga dapat membunuh bakteri E.Coli (K. H. Kingdon, 1960), Micrococcus Pyogenes dan virus Influenza (A. P. Krueger, 1976). Baik Kindon maupun Krueger mempergunakan konsentrasi ion negatif sebanyak 50.000-5.000.000 per cm3 dalam berbagai eksperimennya tersebut. Mekanisme dari proses membunuh bakteri ini juga dijelaskan oleh N. I Goldstein (1992) sebagai berikut, reaksi dari dua buah ion negatif O2- dan dua buah ion positif H+dapat menghasilkan Hydrogen peroksida. Hydrogen peroksida dikenal memiliki energi potensial yang tinggi dan mampu untuk membunuh virus dan bakteri. Lebih lanjut H. Nojima dari Sharp Corp. (2002) menjelaskan reaksi dari ion negatif dalam membunuh bakteri E.Coli. Menurut Nojima pembentukan Hydrogen peroksida terjadi pada lapisan luar sel bakteri E.Coli, untuk kemudian merusak lapisan sel tersebut sekaligus membunuhnya.