MOHAMAD NATAR MOHUNE,M.Pd
NIP 198210192011011001
MOHAMAD NATAR MOHUNE,M.Pd
NIP 198210192011011001
Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia hidayah dan taufik-Nya serta kesehatan sehingga kita masih mampu beraktivitas dengan nyaman sampai hari ini. Shalawat teriring salam kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para sahabatnya dan umatnya sampai akhir zaman.
Pendidikan adalah aset terbesar yang berperan dalam membangun negara yang tinggi peradabannya. Dalam rangka ikut berperan dalam bidang pendidikan, SD Negeri 12 Dungaliyo, memberikan informasi perkembangan kegiatan Sekolah Sistem Informasi Manajeman dan Tata Kelola Satuan Pendidikan (SIMTAKS). SIMTAKS ini diharapkan dapat menjadi sarana informasi dan komunikasi yang efektif antara sekolah, orang tua, dan Peserta didik.
Saya berterima kasih kepada seluruh tim yang telah bekerja keras dalam merancang dan membangun website ini.
Wabillahi taufik wal hidayah wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
SD Negeri 12 Dungaliyo merupakan salah satu Sekolah Dasar di Kabupaten Gorontalo yang berdiri pada tahun 1981 beralamat di Jl. Moerad Kakoe Desa Botubulowe Kecamatan Dungaliyo Kabupaten Gorontalo, yang terletak di pusat pemerintahan kecamatan Dungaliyo Kabupaten Gorontalo. Di sekitar sekolah terdapat bebarapa sarana yang dapat menunjang penyelenggaraan pendidikan antara lain Kantor Camat Dungaliyo, Puskesmas, Balai Penyuluhan Pertanian dan lapangan sepak bola Kecamatan Dungaliyo.Secara geografis SDN 12 Dungaliyo berada di dataran rendah dengan dan jauh dari pegunungan apalagi pesisir pantai yang dibangun di atas tanah dengan luas keseluruhan + 3.322 M2 adapun batas-batas sebagai berikut:
a Sebelah Utara berbatasan dengan rumah warga
b Sebelah Timur berbatasan dengan Lahan Perkebunan milik Masyarakat
c Sebelah Selatan berbatasan dengan Kantor Camat Dungaliyo
d Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan raya.
Pada dasarnya, peserta didik yang terdaftar di SD Negeri 12 Dungaliyo hanya berasal dari satu desa saja yakni desa Botubulowe Kecamatan Dungaliyo Kabupaten Goronalo. Desa Botubulowe merupakan pusat pemerintahan kecamatan Dungaliyo atau merupakan ibukota kecamatan. SD Negeri 12 Dungaliyo memiliki wilayah zonasi yang sangat luas dibandingkan dengan sekolah lainnya.
Kondisi sosial budaya masyarakat di sekitar sekolah dapat berpengaruh terhadap tujuan dan fungsi proses pendidikan disekolah serta proses enkulturasi nilai para peserta didik. SD Negeri 12 Dungaliyo berada di lokasi perdesaan dan memiliki nilai-nilai tradisional yang kuat. Tradisi dan nilai-nilai budaya lokal mungkin memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Ini dapat mempengaruhi pendekatan pendidikan yang diambil oleh sekolah, dengan menekankan pentingnya melestarikan warisan budaya lokal dalam kurikulum dan kegiatan ekstrakurikuler.
Masyarakat yang ada disekitar SD Negeri 12 Dungaliyo cenderung memiliki ikatan keluarga yang kuat dan berperan besar dalam mendidik anak-anak. Hal ini bisa mempengaruhi pola pendidikan di sekolah, dengan mendorong kolaborasi antara guru dan orang tua dalam mendukung proses belajar anak-anak. Interaksi antara generasi berbeda sering terjadi. Nilai-nilai dan pengetahuan turun temurun dapat diintegrasikan ke dalam proses pendidikan, sehingga mengenalkan peserta didik pada perspektif sejarah dan budaya lokal.
Mata pencaharian utama masyarakat di lingkungan sekolah adalah pertanian atau kerajinan tradisional, pendidikan akan diarahkan untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan pekerjaan tradisional tersebut. Adapun komoditas pertanian yang menonjol pada masyarakat sekitar adalah jagung dan kelapa. Sementara kerajinan tradisional terdapat beberapa orang tua yang mata pencahariannya sebagai pengrajin atau penenun karawo.
Dilihat dari pemanfaatan teknologi Kondisi SD Negeri 12 Dungaliyo merupakan wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi yang disebabkan oleh tingkat SDM masyarakat yang belum memadai serta ekonomi yang belum dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga pendekatan pendidikan mengakomodasi situasi ini, Pembelajaran lebih mengandalkan metode-metode pembelajaran tradisional namun sumber mangajar guru diakses dari teknologi yang tersedia melalui platform merdeka mengajar secara umum dan sumber lain yang relevan dengan dimensi serta capaian pembelajaran.
Pelaksanaan pendidikan di SD Negeri 12 Dungaliyo menekankan pada Nilai-Nilai Lokal Pendidikan dapat bertujuan untuk mengajarkan nilai-nilai budaya dan tradisi lokal, serta membantu siswa memahami dan menghargai warisan budaya mereka. Penerapan pendidikan inklusif dengan cara Memahami tuntutan sosial budaya di sekitar sekolah agar dapat membantu dalam merancang pendidikan yang inklusif dan relevan, yang mampu mengakomodasi kebutuhan semua peserta didik, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang budaya yang beragam.
Pengembangan karakter yang akan dilaksanakan pada proses pendidikan di SD Negeri 12 Dungaliyo dapat yang memperkuat karakter peserta didik, termasuk nilai-nilai seperti kerja keras, tanggung jawab, dan rasa sosial yang lebih mendalam, sejalan dengan nilai-nilai masyarakat sekitar. Dengan memahami kondisi sosial budaya di sekitar sekolah, proses pendidikan dapat diarahkan untuk memberikan dampak yang lebih positif dan relevan pada peserta didik, serta mendukung mereka dalam memahami dan menghargai nilai-nilai yang ada dalam masyarakat mereka.
Sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang memengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan suatu system sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi diantara para anggotanya yang bersifat unik, hal ini dikarenakan setiap sekolah memiliki aturan tata tertib, kebiasaan, upacara-upacara, mars/hymne sekolah, pakaian seragam dan lambang-lambang yang lain yang memberikan corak khas kepada sekolah.
Walaupun kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas. Namun mempunyai ciri-ciri yang khas sebagai suatu subculture. Sekolah bertugas untuk menyampaikan kebudayaan kepada generasi baru dan harus selalu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan umum. Akan tetapi disekolah itu sendiri timbul pola-pola kelakuan tertentu. Ini mungkin sekolah mempunyai kedudukan yang agak terpisah dari arus umum kebudayaan.
Budaya sekolah merupakan kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma, ritual, mitos yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah yang dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, dan peserta didik serta orang tua sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
Ciri khas atau tradisi yang ada di SD Negeri 12 Dungaliyo, secara turun temurun tidak lepas dari tradisi daerah. Namun, tradisi yang dilaksanakan di kecamatan Dungaliyo yang cukup kuat adalah tujai, wunungo, longgo. Tarian tradisional serta perayaan hari besar seperti maulid Nabi Muhammad SAW, Dzikir Bersama dan perayaan hari Ketupat sminggu setelah lebaran Idul Fitri setiap tahunnya dilaksanakan.
Pada tahun ajaran 2024/2025 SD Negeri 12 Dungaliyo akan melaksanakan kegiatan ektrakurikuler dalam pengembangan tradisi dan menyesuaikan dengan kebutuhan peserta didik yang menonjol di daerah. Dalam pelaksanaan kegiatan akstrakurikuler tradisi kearifan lokal, ada beberapa tadisi yang akan dilaksanakan antara lain, Tujai, Longgo, Dana-dana, paiya hungo lopoli, tarian tradisional seperti Tari Saronde dan Tari Tidi Lo Bituo tarian adat khas Gorontalo atau tarian lainnya yang relevan dan tradisi lainnya yang akan disesuaikan seiring dengan kegiatan dan keanekaragaman tradisi daerah Gorontalo.
Tradisi laiinya yang cukup kuat di daerah Gorontalo adalah sosialisasi budaya Gorontalo di sekolah-sekolah serta perayaan hari besar agama yang nantinya akan masuk dalam pengembangan esktrakurikukuler dan sebagian masuk pada kegiatan intrakurtikuler melalui capaian pembelajaran yang relevan dengan mata pelajaran seni budaya dan prakarya.
Lima budaya dari Gorontalo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Hal itu terungkap dalam sidang penetapan di Direktorat Internalisasi Nilai Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kelima budaya itu adalah paiya lo hungo lo poli, tujai, wunungo, tidi lo polopalo dan palebohu. Selain kelima budaya takbenda ini, Provinsi Gorontalo mengajukan beberapa jenis budaya lainnya. “Kami mengusulkan juga dikili, turunani, buruda, dana-dana, bandayo poboide, ilabulo, tiliaya, namun yang ini tidak lolos dalam sidang penetapan,” kata Afandi Lakoro, Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga Gorontalo, Rabu (23/8/2017). Afandi menjelaskan, paiya lo hungo lo poli adalah berbalas pantun yang biasanya dimainkan oleh sepasang muda-mudi dengan irisan alat musik gambusi.
Pantun berbalas ini dilakukan secara spontan. Biasanya memakan waktu lama bergantung pada kemampuan orang untuk menyusunnya secara cepat. “Dikili biasa dilakukan di masjid saat acara walima atau perayaan Maulid Nabi, masyarakat membaca riwayat nabi dengan menggunakan bahasa Gorontalo maupun Arab,” tuturnya. Penetapan 5 budaya takbenda ini memberi semangat pada penggiat budaya Gorontalo untuk melakukan kajian terhadap warisan budaya asli.
Adat Istiadat Gorontalo merupakan sebuah tatanan kebudayaan dan tradisi dari para leluhur Gorontalo terdahulu yang terus diwariskan dari generasi ke generasi sehingga menjadi sebuah peradaban yang berkarakter dan berkepribadian luhur. Adat Istiadat Gorontalo itu sendiri tidak hanya terbentuk dari warisan kebudayaan Persekutuan 5 Kekeluargaan Kerajaan atau "Duluwo Limo lo Pohala'a", tetapi juga terbentuk dari pengaruh kebudayaan luar seperti Budaya Melayu, Budaya Arab, dan Budaya Tionghoa.
Dari sekian banyak pengaruh budaya luar yang ada di Gorontalo, pengaruh kebudayaan Islam dari masyarakat Arablah yang paling kuat dan paling mudah diterima oleh masyarakat Gorontalo. Oleh karena itu, setiap adat istiadat masyarakat Gorontalo pasti memiliki kaitan dan warna keagamaan islam yang sangat kuat.
Situasi ini pun yang membuat Jazirah Semenanjung Gorontalo dijuluki sebagai "Bumi Serambi Madinah", karena masyarakatnya dikenal memegang teguh dan mempraktekkan agama Islam dalam setiap sendi-sendi kehidupan dan adat tradisi sehari-hari (dikenal dengan filosofi Gorontalo beragama Islam, Islam adalah Orang Gorontalo) serta dikenal pula dengan sifat terbuka, ramah dan toleran terhadap para pendatang yang hijrah merantau di Gorontalo, layaknya Kaum Ansar Madinah yang ikhlas menerima kedatangan Kaum Muhajirin
Falsafah Hidup Gorontalo Payu Limo Totalu, Lipu Pe’i Hulalu mengandung makna 5 (lima) prinsip dasar bangsa Gorontalo yang wajib dihayati, dan diamalkan, yaitu:
1. Bangusa Talalo = Bangsa atau keturunan dijaga,
2. Lipu Poduluwalo = Negeri Dibela
3. Batanga Pomaya = Raga atau badan diabdikan
4. Nyawa Podungalo = Nyawa atau Jiwa dipertaruhkan
5. Harata Potombulu = Harta diwakafkan/Dibagi ke sesama yang membutuhkan
Adati hula-hula'a to sara'a, sara'a hula-hula'a to kuru'ani, artinya adat bersendikan syara', dan syara' bersendikan Al-Qur'an.