Bandung, Kemendikbud --- Kompetisi Sains Nasional (KSN) 2020 bertemakan ‘Melejitkan Talenta dan Prestasi Seni di Masa Pandemi’, dan diselenggarakan secara bertahap. Seleksi tingkat provinsi sudah dilakukan pada tanggal 6 s.d. 11 Oktober 2020 untuk jenjang SD dan tanggal 13 s.d. 18 Oktober 2020 untuk jenjang SMP. Sementara itu, untuk tingkat nasional, jenjang pendidikan dasar (SD dan SMP) berlangsung pada tanggal 1 s.d 6 November 2020. Sedangkan seleksi nasional untuk jenjang pendidikan menengah (SMA dan SMK) telah diselenggarakan pada tanggal 11 s.d 17 Oktober 2020 lalu.
Salah satu peserta KSN jenjang SD asal SD Islam Al Azhar 19, Sentra Primer, Jakarta, Aurelia Shafina mengutarakan antusiasnya mengikuti ajang ini. “Saya bersemangat karena telah melalui banyak persiapan dan banyak yang mendukung, yang terpenting adalah jaringan koneksinya harus baik,” tuturnya pada pembukaan KSN, di Bandung, Jawa Barat, (1/11).
Tak ketinggalan, peserta lain dari SMPN 1 Tolongohula, Gorontalo, Aprilia Putri, yang juga berkompetisi di bidang IPA, memberikan saran dalam mengatasi tantangan. “Karena baru kali ini menjalankan kompetisi secara daring maka harus dibawa santai,” ungkap Aprilia.
Adapun bidang sains yang dilombakan dalam KSN Tahun 2020 untuk jenjang SD meliputi dua bidang lomba yaitu IPA dan Matematika. Untuk jenjang SMP mengikuti tiga bidang lomba yaitu IPA, IPS, dan Matematika.
Dari masing-masing bidang lomba, para pemenang KSN di jenjang SD memperebutkan 5 medali emas, 10 medali perak, dan 15 medali perunggu; serta sertifikat dan piagam penghargaan dari Puspresnas, Kemendikbud. Untuk jenjang SMP, panita masing-masing bidang lomba menyediakan 10 Medali emas, 15 medali perak, 20 medali perunggu serta sertifikat.
Para juri yang akan terlibat dalam proses tes dan penilaian merupakan akademisi yang berasal dari beberapa perguruan tinggi, di antaranya adalah Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Semarang, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan UIN Syarif Hidayatullah.
Pelaksana tugas (Plt.) Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kemendikbud, Asep Sukmayadi, mengatakan, perkembangan zaman membuat talenta peserta didik meningkat kian pesat. Melalui penyelenggaraan KSN, peserta diharapkan mampu menjadikan kompetisi ini sebagai daya dorong yang membentuk karakter berprestasi, jujur, disiplin, sportif, tekun, kreatif, tangguh, dan cinta tanah air. “Tetap berprestasi dari rumah, jujur itu juara, semangat menolak menyerah,” pungkas Asep.
Turut hadir menyaksikan kegiatan ini secara virtual, Direktur SD Kemendikbud, Sri Wahyuningsih; Direktur SMP Kemendikbud, Mulyatsyah, Para Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota maupun Provinsi, perwakilan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), para guru pendamping, pembina, dan orang tua siswa. Berikut jumlah partisipan pada KSN jenjang pendidikan dasar.
Bandung, 3 November 2020 --- Sangat bangga, ketika melihat hasil karya anak berkebutuhan khusus (ABK) memamerkan keterampilannya dalam Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) Tahun 2020. Berjejer bunga papan ucapan selamat, gaun pesta, hantaran pernikahan dengan seni lipat tekstil tanpa potong, satu set aksesoris pesta dari limbah kain yang sudah bisa dijual, ini sungguh luar biasa.
“Saya sangat bangga, karena namanya anak berkebutuhan khusus itukan anak yang istimewa, anak yang memiliki kekurangan, tetapi lihat hasilnya. Saya sangat senang sekali,” ujar Sri Hastuti, salah juri pembuatan aksesoris pesta saat menilai hasil karya peserta di Bandung, pada Selasa (02/11/2020).
Hal yang sama juga diungkapkan oleh salah satu panitia LKSN 2020, Remilasari mengatakan Meski di tengah pandemi Covid-19 yang mengharuskan belajar dari rumah, peserta didik berkebutuhan khusus ini telah membuktikan bahwa mereka masih bisa berkarya dengan baik dari rumah.
“Gak nyangka mereka menghasilkan karya yang luar biasa di rumahnya. Kalau mereka datang itu belum tentu kreatifitasnya seperti ini. Mereka benar-benar mengeluarkan keterampilannya dengan memanfaatkan limbah-limbah yang ada sehingga menjadi cantik seperti ini dan ada nilai jualnya,” ujarnya.
Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menyelenggarakan LKSN 2020 untuk ABK secara dalam jaringan (daring). Ajang ini bertujuan untuk menggali potensi peserta didik berkebutuhan khusus bidang non akademik, khususnya bidang keterampilan untuk mencapai kemandirian setelah menyelesaikan pendidikan pada pendidikan khusus.
Sebanyak 306 peserta didik disabilitas tuna rungu (B),grahita (C), daksa (D), dan autis yang berasal dari 34 provinsi pada jenjang SMPLB dan SMALB dengan usia peserta didik yang lahir setelah 1 Juni 1997, telah menyerahkan hasil karyanya untuk diberikan penilaian oleh dewan juri. Bidang non akademis yang dilombakan pada ajang ini antara lain membatik, kriya kayu, tata boga, kecantikan, merangkai bunga, menjahit, teknologi informasi, hantaran dan kreasi barang bekas.
Seluruh peserta mengikuti lomba dari rumah dengan didampingi oleh orang tua atau dari unsur sekolah atau pelatih setempat yang diprakarsai oleh Dinas Pendidikan setempat. Seluruh mekanisme pelaksanaan perlombaan wajib mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19.
Selain kreatifitas, kata Sri Hartati, yang menjadi kriteria penilaian dewan juri terhadap karya siswa ini adalah memiliki nilai jual. “Ini kan merangsang anak-anak nanti nya untuk dikembangkan, untuk bisa mencari tambahan dari kreasi-kreasi ini. Harapan kami selain indah, cantik, rapih, kreasinya bagus, ada nilai jualnya yang tinggi,” tutur perempuan yang berprofesi perias pengantin di Jakarta ini.
Juri lain mengungkapkan, selain kreatifitas dan nilai jual, kriteria lain yang menjadi penilaian adalah inovasi. “Masukan tahun depan agar karya yang dibuat itu lebih berinovasi karena kebanyakan hasil karya yang dinilai ini hampir sama seperti yang ada di pasaran,” tutur Ni Luh Putu yang berprofesi sebagai praktisi pimpinan Lembaga Kurus dan Pelatihan (LKP) Cendil, Jawa Tengah.
Namun, kata Ni Luh, untuk tahun ini kemampuan pembimbing membaca petunjuk teknis lebih baik dari pada tahun lalu. “Misalnya pengunaan limbah minimal 80 persen. Itu hampir semuanya terpenuhi, jadi memang bahan dasar dari yang digunakan memang 80 persen memang betul-betul dari limbah khas daerah,” ujar Ni Luh Putu.
Seluruh peserta akan memperebutkan medali juara I, II, dan III, serta juara harapan I, II, dan III. Selain medali, seluruh juara akan menerima piala, sertifikat serta uang kejuaraan. Tema yang diangkat pada ajang ini adalah “Berkarya, Berprestasi, dan Mewujudkan Mimpi”.