Pada tahun 1994, Ibu Jro Made Padma berinisiatif untuk mengembangkan kacang tanah sebagai cemilan dan memulai dengan 5 kg di desa kecil yang bernama Nyanglan, kabupaten di Bangli, Bali. Ibu Jro merendam kacang nya dengan air panas, memisahkan kulit dari kacang nya secara manual satu persatu, diberikan bumbu , di packing dan dijual ke toko sekitar dengan bantuan suaminya disaat anak nya berusia 6 tahun.
Karena sang suami masih aktif bekerja di hotel yang berada di Kuta pada masa itu, dia membawa snack yang dibuat oleh Ibu Jero ke tempat kerjanya dan mengenalkan ke tamu yang menginap. Tanpa diduga, para pengujung itu sangat menyukai kacang olahan ibu Jro. Dengan kreatifitasnya , Ibu Jro membuat variasi rasa pedas selain rasa original, dan type kacang juga ditambahkan seperti kacang merah, kacang koro, kacang hijau dan beberapa lagi sebagai pilihan untuk customer pilih. Dengan kolaborasi bersama sang suami, Kacang olahan Ibu Jro tersebar di kota kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Jogjakarta, dan Surabaya.
Permintaan produk yang Ibu Jro produksi meningkat, baik kacang yang dijual secara bulk di sekitaran Bali maupun kacang untuk oleh-oleh yang dipesan di tempat kerja suaminya di hotel membuat Ibu Jro terus berinovasi dan menyediakan yang dibutuhkan customer.
Dengan konsistensinya, permintaan bertumbuh dengan awalan dari 5 kg, menjadi 25 kg per hari, sampai dengan menjadi 1.500 kg per hari di awal 2000 an. Dengan pertumbuhan permintaan yang sangat masif, keluarga dan relasi dari Ibu Jro banyak yang mengikuti untuk membuat kacang oleh-oleh serupa dengan rasa dan variasi yang mengikuti dari produk Ibu Jro. Dalam waktu sekejap, muncul lah brand baru yang mirip dengan produk yang Ibu Jro buat dan desa Nyanglan yang sekarang dikenal dengan Desa pembuat Kacang di Bali.
Perjalanan tidak selalu mudah untuk bisa bertahan bagi Sari Kesari. Pada 2014, ibu Jro harus bisa menerima fakta bahwa suaminya mengidap cancer. Ibu Jro dan anaknya yang saat itu memiliki bisnis lain ( Gustu Panji) harus membawa berobat ke Malaysia dan menghabiskan empat bulan disana. Suami Ibu Jro bertarung dengan cancer selama 2 tahun dan wafat pada tahun 2016.
Semenjak melakukan treatment cancer, kestabilan bisnis terganggu. Beberapa kewajiban yang seharusnya dibayarkan kepada supplier maupun cashflow sari kesari perlahan mengalami defisit. Banyak juga hasil yang telah dikumpulkan oleh ibu Jro dan suami sejak awal dari bisnis terkuras untuk bisa melakukan treatment dan membayar kewajiban kepada supplier dan harus memulai lagi dari awal.
Beruntungnya, sang anak (Gustu) mem-backup Ibu Jro. Gustu melepas beberapa aset maupun bisnis yang dia jalankan untuk menyelamatkan Sari Kesari dan fokus terlibat didalamnya.
Pukulan besar juga datang ketika kompetitor baru dengan capital yang besar menjual jenis kacang yang sama di sektor grosir dengan harga di bawah produksi. Ibu Jro harus menarik diri dari sektor grosir dan fokus kepada sektor retail dan oleh-oleh.
Sampai dengan saat ini, Sari Kesari masih menjadi kacang oleh-oleh khas Bali yang dicari oleh banyak pengunjung. Dan dengan itu, kami berfokus dan komitment untuk bemberikan standar tertinggi untuk tiap batch produksi kacang kapri berbumbu yang authentic dan original seperti pertama kali membuat yang rasanya kami sangat berani jamin sebagai yang ter enak dan dapat dibandingkan dengan produk kacang sejenis dari merek lain. Karena sekali sudah dapat mencoba kacang Sari Kesari, dijamin tidak ada kacang lain yang bisa memberikan kenikmatan seperti yang kacang kami berikan.
Founder, Owner , Quality Control
Management , Sales Marketing , Public Relation
2nd Generation, Owner , Production , Finance
Mon 9:00 PM – 6:00 PM
Tues 9:00 PM – 6:00 PM
Wed 9:00 PM – 6:00 PM
Thu 9:00 PM – 6:00 PM
Fri 9:00 PM – 6:00 PM
Sat 9:00 PM – 6:00 PM
Sun Closed