OLEH : GENDIS LASTRI
Denting jam penanda pukul empat sore bernyanyi nyaring di telingaku. Aku tetiba bangun dari tidurku. Tidur siang yang sedikit kebablasan, mungkin karena terlalu capek mengikuti kuliah daring. Kubuka mata perlahan, langsung tertumbuk pada sebuah pot petunia yang duduk rapi di mulut jendela. Warna bunganya jingga, merah tua, dan merah muda berbingkai putih. Aku tersenyum, terlintas rupa pengirim pot cantik itu.
Ya, pot bunga itu baru datang tadi pagi. Dikirim oleh seorang tukang ojek online. Sebuah pot petunia yang membawa bahagia, dengan secarik catatan cinta. Tertulis di kertas merah jambu, “Dik, aku merindukanmu, petunia ini mewakiliku menemanimu. Taruh di pinggir jendela, agar selalu bisa melihatmu saat kau terbangun hingga lelap.” Sungguh ungkapan termanis yang pernah kudapat. Asfa, caranya melipat jarak amat tak terduga.
Anganku terputus oleh suara bel, bergegas ku langkahkan kaki, kubuka pintu rumah. Tampak seraut wajah menyembul indah. Nia, sahabatku terkasih. Dia membawa sebuah pot petunia berwarna jingga sambil tersenyum ceria. “ Taraaaa, lihat apa yang kubawa, tahu dari mana bunga elok ini? Mas Asfa pengirimnya.” Duerrr, duniaku menjadi gelap seketika. Terkejut aku segera berlari ke kamar, ku buang pot petunia keluar jendela. Dadaku sesak, seketika ku tersadar, ternyata bukan untukku saja. Masih ada Nia, mungkin juga Ina atau Ani. Semuanya dikirimi petunia oleh Asfa, profesor buaya.
Tulungagung, 30 Januari 2021
BUAYA
OLEH : GENDIS LASTRI
Sore yang dingin, tepat lima tahun kepulangan suamiku ke pangkuan Allah. Gerimis terus menjatuhkan dirinya ke bumi. Tiada jemu, melupa sakit dan membiarkan dirinya diserap begitu saja oleh tanah yang sebelumnya kering. Di sudut kamar aku masih menatap layar laptopku. Mengamati beberapa foto, email dan tangkapan layar dari percakapanku dengan Gusfani. Orang yang beberapa bulan belakangn elah membawaku pada perjalanan hati penuh warna, meski berselimut bingung, resah, dan entah rasa apa lagi.
Suara rengekan anakku mengalihkanku. Ku melangkahkan kaki ke ranjang. Ku elus puncak kepalanya sambil bertanya, “ Ada apa Dek, bangun tidur kok nangis?” Biji mataku itu bercerita, dia bermimpi dikejar buaya. Aku tertawa, seumur-umur dia belum pernah melihat buaya. Bisa-bisanya ia memimpikannya. Aku pun menenangkannya. Ku katakan kalau Tuhan selalu melindungi kami. Buaya, hanya salah satu makhluk ciptaan-Nya. Lagi pula, rumah kami sangat jauh dari sungai, danau, dan rawa. Ku ajak dia berdoa agar dijauhkan dari segala bahaya. Gadis kecilku mulai menghentikan tangisnya.
Percakapan kami terhenti ketika terdengar suara aneh berulang-ulang dari sudut kamar. Kami serentak menoleh ke meja. Rupanya laptopku berbunyi, memberikan tanda kalau baterainya sudah menipis. Aku beranjak mendekat, diikuti oleh anakku. Tetiba ia menunjuk seraya berkata,” Ini Ma buayanya, tadi aku bermimpi dia mengejar-ngejarku.” Aku pun bingung. Melihat kebingunganku, anakku yang sangat cerdas itu pun melanjutkan kalimatnya, “ Buayanya berkepala manusia, Ma. Ini kepalanya, persis foto di laptop Mama.” Aku terhenyak, pantas saja anakku ketakutan. Buaya berkepala manusia. Segera kupegang mouse dan menghapus semua fotonya dari laptopku. Terima kasih Tuhan, inilah jawaban dari kebingunganku
Tulungagung, 31 Januari 2021