Portofolio Mulok
BAB 4 Dan 5
Nama: Salwa Acintya Nadin
Kelas: X-A
BAB 4 Dan 5
Nama: Salwa Acintya Nadin
Kelas: X-A
BAB 4 Tiong Mas dan Cucak Ijo
Burung Tiong Mas
Ciri-ciri Tiong Mas
Burung tiong emas (Gracula religiosa) atau yang juga dikenal sebagai beo, memiliki beberapa ciri khas, antara lain:
Ukuran: Berukuran besar, sekitar 30 cm.
Warna bulu: Bulu berwarna hitam mengkilap, dengan bercak putih pada sayap yang jelas terlihat saat terbang.
Pial: Memiliki pial kuning cerah pada sisi kepala.
Paruh: Paruh melengkung berwarna oranye terang dengan ujung kekuningan.
Kaki: Kaki dan tungkai berwarna kuning.
Kemampuan meniru suara: Terkenal akan kemampuannya meniru suara, termasuk suara manusia.
Habitat: Ditemukan di hutan dataran rendah hingga dataran tinggi.
Selain ciri-ciri fisik, burung tiong emas juga dikenal dengan kemampuan menirukan suara manusia dan suara-suara lain di sekitarnya. Mereka juga memiliki koleksi suara yang luas, termasuk teriakan, decitan, kicauan, dan siulan.
Habitat Tiong Mas
Burung tiong emas (Gracula religiosa), atau yang juga dikenal sebagai beo, umumnya ditemukan di hutan hujan tropis dan subtropis, terutama di dataran rendah hingga ketinggian 1000-2000 meter di atas permukaan laut. Burung ini juga dapat dijumpai di hutan yang telah banyak merosot. Di Indonesia, burung ini ditemukan di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
3. Ancaman Tiong Mas
Burung Tiong Emas (Gracula religiosa) menghadapi ancaman utama dari penangkapan dan perdagangan liar untuk dijadikan hewan peliharaan, serta kerusakan habitatnya. Perdagangan yang berlebihan untuk burung berkicau ini menyebabkan penurunan populasi di berbagai wilayah persebarannya.
4. Melestarikan Tiong Mas
Pelestarian burung tiong emas atau burung beo sangat penting karena satwa ini terancam punah dan dilindungi undang-undang. Upaya pelestarian meliputi penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar, rehabilitasi dan relokasi burung yang disita, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi satwa liar.
Burung Cucak Ijo
Ciri-ciri Cucak Ijo
Ciri-ciri cucak ijo meliputi warna bulu hijau yang dominan, paruh bawah berwarna hitam, dan perbedaan antara jantan dan betina pada lingkar mata, bentuk bulu leher, dan kaki.
Perbedaan Cucak Ijo Jantan dan Betina:
Lingkar Mata:
Jantan memiliki lingkar mata kuning pekat, sedangkan betina berwarna putih.
Bulu Leher:
Jantan memiliki bulu leher kuning tua yang akan berubah menjadi hitam pekat saat dewasa, sedangkan betina memiliki bulu leher kuning pudar yang bisa menjadi putih saat dewasa.
Bentuk Bulu Leher:
Jantan membentuk huruf V, sedangkan betina membentuk huruf U.
Kaki:
Jantan memiliki kaki kering dan bersisik, sedangkan betina memiliki kaki basah.
Supit Udang:
Jantan memiliki supit udang yang keras dan rapat, sedangkan betina memiliki supit udang yang lunak dan lebar.
Ciri-ciri Lainnya:
Warna Bulu: Cucak ijo umumnya memiliki warna hijau yang cerah dan kuat.
Paruh: Paruh bawah berwarna hitam.
Mental: Cucak ijo dikenal memiliki mental yang kuat.
Perawatan: Perawatan cucak ijo meliputi penjemuran yang cukup untuk membantu pertumbuhan bulu baru.
Habitat Cucak Ijo
Cucak ijo (Chloropsis sonnerati) adalah burung yang habitatnya di hutan dataran rendah hingga perbukitan dengan ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut. Mereka menyukai puncak-puncak pohon yang tinggi di hutan primer dan sekunder, serta hutan bakau dengan tajuk pohon yang berdaun lebat.
Ancaman Cucak Ijo
Ancaman terhadap burung Cucak Ijo (Chloropsis sonnerati) terutama berasal dari perburuan liar untuk perdagangan, karena suaranya yang merdu membuatnya populer sebagai burung kicau. Selain itu, kerusakan habitat akibat deforestasi juga mengancam kelestariannya di alam liar.
Pelestarian Cucak Ijo
Pelestarian burung cucak ijo melibatkan penegakan hukum yang melarang pemburuan, penangkapan, dan perdagangan satwa ini tanpa izin. Selain itu, upaya pelestarian juga mencakup sosialisasi tentang pentingnya melindungi cucak ijo, serta pelepasliaran burung yang dipelihara untuk dikembalikan ke habitat aslinya.
BAB 5 Belibis Kembang Dan Bangau Tong-tong
Belibis Kembang
Ciri-ciri Belibis Kembang
Belibis kembang (Dendrocygna arcuata) memiliki ciri-ciri tubuh sedang, panjang 43-60 cm, dengan tubuh bawah berwarna kadru (abu-abu kehijauan). Sisi tubuhnya bercoret keputih-putihan tebal, penutup ekor atas berwarna putih, dan sayapnya gelap dengan bahu kadru.
Habitat Belibis Kembang
Belibis kembang (Dendrocygna arcuata) biasanya mendiami berbagai jenis habitat air tawar, seperti rawa, danau, laguna, dan payau. Mereka juga bisa ditemukan di daerah dengan semak-semak di tepi rawa dan di sawah. Habitat ini bisa ditemukan dari permukaan laut hingga ketinggian 1000 meter.
Ancaman Belibis Kembang
Ancaman utama terhadap belibis kembang (Dendrocygna arcuata) adalah perburuan dan perdagangan liar. Perburuan untuk konsumsi daging dan telur, serta perdagangan burung belibis kembang secara ilegal, mengurangi populasinya secara signifikan. Hilangnya habitat dan fragmentasi juga menjadi masalah, karena belibis kembang membutuhkan lahan basah yang luas untuk hidup.
Pelestarian Belibis Kembang
Pelestarian belibis kembang (Dendrocygna arcuata) dapat dilakukan melalui berbagai upaya seperti penegakan hukum terhadap perburuan, pengelolaan habitat, serta edukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi satwa ini. Perburuan yang berlebihan dapat mengancam keberadaan belibis kembang, sehingga upaya pengendaliannya sangat penting.
Bangau Tong-tong
Ciri-ciri Bangau Tong-tong
Bangau tongtong memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari burung bangau lainnya. Burung ini berukuran besar, dengan tinggi sekitar 110-120 cm dan rentang sayap hingga 2 meter. Ciri khas utamanya adalah kepala dan leher yang botak (tanpa bulu) dengan bulu kapas putih halus pada mahkota. Paruhnya panjang, kuat, dan berwarna pucat. Bagian atas tubuhnya berwarna hitam, sedangkan perut dan bagian bawah ekornya berwarna putih.
Habitat Bangau Tong-tong
Bangau tongtong umumnya mendiami lahan basah seperti hutan mangrove, rawa-rawa, tambak, persawahan, dan dekat pantai. Mereka juga sering ditemukan di padang rumput karena banyaknya makanan yang tersedia di sana.
Ancaman Bangau Tong-tong
Bangau tongtong atau Leptoptilos javanicus mengalami ancaman serius, terutama akibat hilangnya habitat alami dan perburuan. Burung ini sebelumnya masuk dalam kategori Rentan (Vulnerable) dan kini turun menjadi Mendekati Terancam Punah (Near Threatened).
Melestarikan Bangau Tong-tong
Melestarikan bangau tongtong dapat dilakukan melalui beberapa upaya, antara lain dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi satwa ini, menjaga habitatnya, dan memberikan bantuan kepada satwa yang membutuhkan perawatan medis dan rehabilitasi.