Semangat Kuda Lumping
Langit senja di sebuah desa di Jawa Tengah mulai memerah, menandakan malam akan segera tiba. Di tengah lapangan desa, suara gamelan menggema, mengiringi tarian Kuda Lumping yang tengah dipersiapkan untuk acara sedekah bumi malam ini. Roni, seorang remaja berusia 15 tahun, berdiri di tepi arena dengan mata penuh harap.
"Roni, kamu sudah siap?" tanya Pak Wiryo, pemimpin kelompok seni Kuda Lumping di desanya.
Roni mengangguk mantap. Sejak kecil, ia selalu terpesona melihat para penari Kuda Lumping menari gagah, seolah berada di medan perang sungguhan. Tapi, ini adalah pertama kalinya ia akan tampil bersama kelompoknya.
Tak lama, pertunjukan pun dimulai. Para penari memasuki arena dengan kuda anyaman di tangan, meliuk dan melompat dengan lincah mengikuti irama kendang dan gong. Roni mengikuti setiap gerakan yang diajarkan kepadanya. Namun, di tengah pertunjukan, ia mulai merasa tubuhnya semakin ringan, langkahnya semakin cepat, dan kesadarannya seolah menghilang. Ia tersadar bahwa ia mengalami kesurupan, sesuatu yang biasa terjadi dalam tradisi Kuda Lumping.
Para penonton bersorak, menganggap itu sebagai bagian dari pertunjukan. Pak Wiryo segera mendekat dan merapalkan doa untuk menyadarkan Roni. Perlahan, tubuhnya kembali normal, dan ia bisa mengendalikan gerakannya lagi.
Usai pertunjukan, Roni duduk di tepi panggung sambil meneguk segelas air putih yang diberikan oleh ibunya. "Nak, kamu luar biasa! Ini adalah bagian dari warisan budaya kita. Kamu sudah menunjukkan bahwa kamu siap menjadi bagian dari tradisi ini," kata ibunya sambil tersenyum bangga.
Malam itu, Roni merasa lebih percaya diri. Ia sadar bahwa Kuda Lumping bukan sekadar tarian, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur dan budaya yang harus terus dilestarikan. Dan ia berjanji, akan terus menari dengan penuh semangat.