Syafatain & Al-Khoisyum


1. Asy-Syafatain (Dua Bibir)

A. Definisi

Secara bahasa, "Asy-Syafatain" berarti dua bibir. Sedangkan secara istilah, ia adalah tempat keluarnya huruf yang melibatkan pertemuan atau keterlibatan dua bibir, baik atas maupun bawah.

B. Pendapat Ulama

Para ulama qiraโ€™at seperti Ibn al-Jazari dan Asy-Syatibi menjelaskan bahwa dari makhraj Asy-Syafatain keluar empat huruf, yaitu: ู (fa), ุจ (ba), ู… (mim), dan ูˆ (wau).

Ibn al-Jazari dalam Tuhfah al-Athfal menulis:

ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽููŽุชูŽุงู†ู ุงู„ู’ููŽุง ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ูˆูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู’ู…ููŠู…ู’

ูˆูŽุจูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูŽูŠู’ู†ูู‡ูู…ูŽุง ู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌูู‡ู ุงู„ู’ู‚ูŽูˆููŠู…ู’

โ€œDua bibir mengeluarkan huruf fa, wau, dan mim.

Sedangkan huruf ba keluar dari pertemuan keduanya secara sempurna.โ€

C. Pembagian Makhraj Asy-Syafatain

Ujung gigi atas dengan bibir bawah โ€” menghasilkan huruf ู (fa).

Cara mengucapkannya: bibir bawah sedikit menyentuh ujung gigi atas sambil menghembuskan udara.

Contoh: ููŽู„ูŽุงุญูŒ (falaahun).

Pertemuan dua bibir (tertutup penuh) โ€” menghasilkan huruf ุจ (ba).

Cara mengucapkannya: kedua bibir menutup rapat lalu dibuka dengan suara pendek.

Contoh: ุจูุณู’ู…ู (bismi).

Pertemuan dua bibir (tertutup lembut) โ€” menghasilkan huruf ู… (mim).

Cara mengucapkannya: kedua bibir menutup lembut dengan aliran suara melalui rongga hidung.

Contoh: ู…ูŽู„ููƒู (maliki).

Bibir bertemu lembut tanpa tekanan kuat โ€” menghasilkan huruf ูˆ (wau).

Cara mengucapkannya: kedua bibir menonjol ke depan (membulat) tanpa menutup penuh.

Contoh: ูˆูŽุงู„ู„ู‡ู (wallฤhu).

D. Analisis Fonetik

Huruf ุจ dan ู… keduanya bilabial (dua bibir), tapi berbeda pada aliran udara.

Huruf ุจ tertutup sempurna tanpa suara hidung, sedangkan ู… terbuka sedikit dan disertai resonansi hidung.

Huruf ู termasuk frikatif karena ada gesekan udara.

Huruf ูˆ adalah semi-vokal (antara huruf dan bunyi).

2. Al-Khoisyum (Rongga Hidung)

A. Definisi

Al-Khoisyum secara bahasa berarti hidung bagian dalam.

Secara istilah, ia adalah rongga di bagian dalam hidung yang menjadi tempat keluarnya suara dengung (ghunnah).

B. Pendapat Ulama

Menurut Imam Ibn al-Jazari:

ูˆูŽุงู„ู’ุฎูŽูŠู’ุดููˆู…ู ู…ูŽุฎู’ุฑูŽุฌู ุงู„ู’ุบูู†ู‘ูŽุฉู

โ€œAl-Khoisyum adalah tempat keluarnya suara ghunnah.โ€

Al-khoisyum bukan tempat keluarnya huruf tertentu, melainkan tempat keluarnya sifat suara, yaitu ghunnah (dengung lembut dari hidung).

C. Huruf yang Mengandung Ghunnah

Suara ghunnah muncul terutama pada dua huruf:

ู† (nun)

ู… (mim)

Namun dalam praktik tajwid, ghunnah juga muncul pada hukum-hukum tertentu seperti:

Idghฤm bighunnah

Ikhfฤโ€™

Iqlฤb

D. Cara Membaca

Letakkan jari di pangkal hidung ketika membaca ู†ู‘ atau ู…ู‘. Jika terasa getaran halus di hidung, berarti ghunnah keluar dengan benar.

Durasi ghunnah biasanya dua harakat (sekitar dua ketukan atau dua ketukan pendek dalam irama bacaan).

E. Contoh Praktis

ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู โ€” terdapat ghunnah pada huruf ู†ู‘.

ุซูู…ู‘ูŽ โ€” terdapat ghunnah pada huruf ู…ู‘.

ู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู’ โ€” huruf ู† bertemu ูŠ menghasilkan idghฤm bighunnah.

ุณูŽู…ููŠุนูŒ ุจูŽุตููŠุฑูŒ โ€” ghunnah muncul pada nun sukun bertemu huruf ba (iqlฤb).

F. Analisis Fonetik

Ghunnah berasal dari getaran di rongga hidung, bukan dari mulut.

Jika hidung tertutup (misal flu berat), suara ghunnah akan hilang atau terdengar berat.

Maka latihan pengucapan huruf ู… dan ู† sangat membantu dalam melatih resonansi hidung yang alami.

Kesimpulan

Asy-Syafatain adalah makhraj bagi empat huruf: ูุŒ ุจุŒ ู…ุŒ ูˆ dengan karakter yang berbeda dalam cara udara dan bibir bekerja.

Al-Khoisyum bukan makhraj huruf, tapi tempat keluarnya sifat ghunnah yang khas pada ู… dan ู†.

Penguasaan dua makhraj ini sangat penting agar bacaan Al-Qurโ€™an terdengar alami, fasih, dan tidak cacat artikulasi.

Guru MI hendaknya membiasakan latihan pengucapan disertai kesadaran fonetik โ€” bukan sekadar meniru suara, tetapi memahami asal bunyinya.

Ciamis, 13 Oktober 2025

Derry Ridwan Maoshul