Berbagi Pengalaman
"Saya Yuniarti, ibu dari 3 anak. 2 putri dan 1 putra. Putri pertama bernama Pelita Tsuraya biasa dipanggil teteh Aya. Usia 7 tahun. Putra kedua bernama Sabit Al Fatih biasa dipanggil akang Sabit. Usia 4 tahun. Putri ketiga bernama Kanaya Haura Shalihah biasa dipanggil Naya atau Naynay. Usia 10 bulan.
Saya mahasiswa bunda shalihah regional Bandung. Saya tergabung di Yy team bersama teh Yessi Pujiyanti mahasiswi bunda shalihah regional Bekasi. Kami bersama membentuk forum Rubii (Ruang Bicara Ibu) untuk berbagi ilmu dan pengalaman mendampingi ananda yang mengalami masalah dan kendala dalam perkembangan bahasa dan sosial emosional di usia dini.
Saya ingin berbagi cerita tentang perkembangan putra kedua saya, Sabit dalam hal kemampuan bahasa dan sosialnya. Saat usianya menginjak 18 bulan, Sabit belum mampu merangkai kata. Hanya 3 kata yang bisa diucapkan, yaitu kata abah, mam, dah. Saya coba bandingkan dengan tetehnya, di usia segitu, Aya sudah mampu merangkai kata menjadi satu kalimat penuh. Banyak kawan bilang itu hal wajar untuk anak laki-laki mengalami keterlambatan bicara.
Tapi saya tetap penasaran, ini hal yang wajar atau tidak. Saya coba bertanya kepada kawan yang berprofesi dokter anak. Beliau mengatakan jika Sabit mengalami keterlambatan dalam berbicara atau istilahnya adalah Speech delay. Bisa diterapi, konsul ke Rumah Sakit yang ada klinik tumbuh kembangnya katanya.
Saya coba ikuti saran kawan saya itu. Karena saya ingin menggunakan BPJS, jadi saya konsul ke faskes pertama dulu yaitu di puskesmas Panyileukan. Di puskesmas saya disarankan untuk lebih banyak menstimulasi Sabit untuk banyak berbicara dan menambah kosa kata baru setiap hari. Kalau dalam 1 bulan tidak ada perubahan bisa kembali lagi. Atau jika mau tunggu sampai usia Sabit 2 tahun katanya.
Saya ikuti saran pertama. Setelah hampir 2 bulan saya ikuti saran dari puskesmas dan saran orang-orang disekitar saya, tidak ada penambahan kata yang Sabit ucapkan. Hanya tiga kata itu saja. Malah, Sabit jadi semakin aktif bergerak dan kadang tantrum.
Akhirnya saat usia Sabit 21 bulan saya datang lagi ke puskesmas untuk minta rujukan ke Rumah Sakit atau klinik tumbuh kembang anak, karena Sabit masih belum ada penambahan kata. Singkat cerita, Sabit menjalani terapi okupasi dan terapi wicara di Klinik Tumbuh Kembang anak di RSIA Hermina Arcamanik. Saya sempat ditanya oleh dr. Rehabilitasi medik apakah Sabit saat lahir menangis. Saya bilang Sabit ada jeda sedikit tidak langsung menangis dan tangisannya pun tidak keras karena lahir prematur. Saya sempat bertanya apakah ada hubungannya bayi lahir prematur dan tidak langsung menangis dengan keadaan Sabit yang speech delay. Dokter bilang ada hubungannya. Sembilan bulan Sabit terapi alhamdulillah ada perkembangan dalam bicaranya, ada tambahan kata walau masih belum sempurna pengucapannya. Dan saat dokter cek langit-langit mulutnya, katanya langit-langitnya jauh. Jadi agak sulit untuk pelafalan huruf L, terutama huruf R. Harus melatih otot-otot lidahnya. Dokter bilang cadel-cadel sedikit ga apa apa lah. Hahaha dokter nih bikin mamak sedih.
Belum genap setahun Sabit terapi terhalang pandemi. Akhirnya terapi via video call. Karena tidak efektif akhirnya saya putuskan berhenti terapi. Sabit masih punya PR dalam adaptasi lingkungan baru dan bersosialisasi. Saya coba alternatif lain. Saya coba masukkan Sabit ke les baca tulis di Bimba. Agar Sabit ada interaksi dengan orang lain. Sekarang Sabit saya lihat sudah bisa berkomunikasi sedikit-sedikit dengan teman di kelasnya walau masih cenderung bermain sendiri. Masih berfikir lagi apakah perlu melanjutkan terapi okupasi dan terapi wicara Sabit.
Sekian kisah putra kedua saya Sabit."
"Anak saya, usia hampir 5 tahun, sekarang sudah TK A. Sudah konsul ke psikolog, disarankan terapi fokus dan terapi wicara, tapi belum lanjut lagi. Bicaranya belum jelas. Misalnya seperti susah mengucapakan kata tertentu, buka jadi terdengar buta... Kosa kata cukup banyak, hanya pengucapan yg sulit, karena blum jelas. Kemarin sudah psikotes juga di sekolah, hasil IQ nya bagus. Hanya hasil pengamatan yg belum optimal. Sudah pernah terapi 10x dengan psikolog di TK, hanya belum lanjut lagi dan belum terapi wicara secara khusus.
Sepertinya penyebabnya ini mungkin dari susah makan... Susah makan dari 9 bulan. Sampai sekarang makannya belum stabil, naik turun. Susu mau, ada yang masuk dan mau dimakan tergantung anaknya, dulu mau kentang, roti, cemilan biskuit, cilok, makaroni, chiki, bolu pelangi, karoket bihun. Musiman gitu, kadang sekarang mau, nanti gak mau.. Sekarang juga masih mood-moodan kalo makan... kadang semangat minta makan, kadang disediakan makan, mingkem terus gak mau makan. Jadi banyak minum susu. Mungkin otot rahang/mulutnya jadi kurang terlatih."
-Ibu dari anak GHM-