Atas, Kiri - Kanan:
Saur Tua (adik ayah saya), br Tobing (sahabat Roni), Roslina (saya), Tiambun (adik ayah), Roni (kakak saya), Adelina (adik ayah) di Pearaja, Tarutung SUMUT., 1968.
Pada awal September 1947, seorang ibu menantikan kelahiran anak keduanya dengan penuh kecemasan dan ketakutan. Ia tidak didampingi oleh suaminya, yang saat itu sedang bertugas sebagai pendeta di Sibolga.
Akibat masa pendudukan Tentara Belanda di Balige, sang ibu diungsikan ke rumah orang tuanya di Onan Raja, Balige.
Pada tanggal 6 September 1947, bidan dipanggil karena tanda-tanda persalinan sudah mulai dirasakan. Namun, keadaan menjadi sangat mengkhawatirkan karena ia mengalami pendarahan hebat. Semua orang berdoa memohon pertolongan Tuhan, karena kondisinya semakin melemah. Harapan untuk melahirkan dengan selamat hampir pupus, tetapi Tuhan mengabulkan doa mereka.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia berhasil melahirkan anak keduanya, seorang putri—itulah saya.
Setelah lahir, saya mengalami demam tinggi yang berkepanjangan. Melihat keadaan saya, Mama sangat sedih dan khawatir karena merasa akan kehilangan putrinya yang baru saja dilahirkan dengan perjuangan besar.
Namun, Tuhan sekali lagi menyelamatkan saya, memberi saya kesempatan untuk menjalani kehidupan. Setelah Mama dan saya pulih, kami kembali ke Sibolga.
Atas dan bawah: Tentara Belanda di Pasar Balige (Onan Raja). 1947- 1949. Perang Kemerdekaan RI. Tentara Belanda menduduki Balige
Atas 1947-49: Tentara Belanda periksa rumah ke ruma di Balige. Opung dari Roslina sempat 2 kali di penjara Belanda karena di tuduh membela dan mendanai tentara RI.
1947
Pada tanggal 26 Desember 1947, aku dibaptis oleh bapakku sendiri dan diberi nama satu-satunya, yaitu Roslina.
Pada masa itu, kehidupan seorang pendeta cukup sulit jika hanya mengandalkan gaji. Namun, pendeta sangat dihormati dan diperhatikan oleh jemaatnya. Setiap hari, selalu ada yang mengantarkan hasil ternak atau hasil kebun sebagai bentuk dukungan. Kata orang, aku sangat senang jika ada yang mengantarkan ubi rambat. Proses merebus ubi yang cukup lama membuatku sudah merasa kegirangan. Ketika ubi diangkat dari periuk untuk dinikmati, aku langsung menyanyi dan menari sambil bertepuk tangan dengan riang.
Pada tahun 1951, bapak dipindah tugaskan ke Medan. Yang masih kuingat adalah saat acara perpisahan dan pemberangkatan di halaman gereja . Banyak jemaat yang menangis, sementara Roni dan aku duduk dengan sopan di antara mama dan bapak. Ketika bapak menyampaikan kata perpisahan, kami pun ikut berdiri dengan tertib.
Di Medan, kami tinggal di paviliun rumah Pendeta Boss (Pdt. Jan Boss adalah mantan pendeta dan mantri ressort HKBP Ambarita Samosir thn 1930an), seorang Belanda yang saat itu menjabat sebagai Praeses Medan. Rumah kami sangat kecil, dan kami sering bermain di luar. Namun, kami selalu kena marah oleh Pendeta Boss karena katanya kami terlalu ribut. Ketika keluarga Pendeta Boss tidur siang, kami semua dikurung di dalam kamar.
Pada Natal 24 Desember 1953, ketika jemaat merayakan Malam Kudus di gereja, kami, anak-anak, termasuk putri Pendeta Boss, bermain natalan di teras rumah. Kami juga membakar lilin sambil menyanyikan lagu-lagu Natal. Secara tidak sengaja, lilin yang dipegang oleh putri Pendeta Boss mengenai lengan saya. Kami panik, dan semua berusaha memadamkan apinya, tetapi tidak sempat menyelamatkan lengan baju saya. Karena sakitnya, saya berteriak-teriak. Seseorang keluar melihat kami dan memberitahu Mama, yang segera pulang dan tidak bisa melanjutkan acara di gereja. Setelah kebaktian, banyak jemaat datang untuk melihat keadaan saya.
Atas: Kiri-kanan: Roni, Tan dan Roslina di Kompleks HKBP, Jl Usukup Agung Sugiopranoto, Medan, 1950an.
Atas, ki-ka: Patar dan Tan, Medan 1950an
Atas: Kompleks Gereja HKBP jl Uskup Agung Sugiopranoto, Medan, 2024
Pada usia 7 tahun, saya dimasukkan ke SD Nasrani, karena di sekolah ini, kegiatan selalu dimulai dengan kebaktian pagi. Sekolah ini cukup jauh dari rumah. Kami, aku dan Roni, diantar oleh bapak naik brompit (sepeda motor jaman Belanda dulu) supaya tidak terlambat, tapi pulangnya kami berjalan kaki.
Kami sering diajak oleh tetangga yang punya mobil, karena anak mereka juga sekolah di SD Nasrani. Tetangga yang paling dekat dengan rumah kami adalah seorang komisaris polisi. Mereka sangat baik. Kami sering diajak naik mobilnya keliling kota, ke pasar malam, dan bermain dengan anak-anak mereka, karena mereka punya banyak mainan.
Pada tahun 1955, bapak pindah tugas menjadi dosen di STT Pematang Siantar. Karena perumahan di kompleks STT Nommensen hanya cukup untuk para dosen dari luar negeri, kami harus menyewa rumah di luar kompleks. Saya kembali dimasukkan ke SD Nasrani, langsung masuk ke kelas II. Sekolah ini jauh dari rumah. Selama dua minggu, saya diantar dan dijemput oleh mama dengan berjalan kaki.
SD ini terletak di daerah kampung Kristen, dan semua muridnya adalah orang Batak. Banyak dari mereka suka menakut-nakuti saya; mereka sering membawa pisau dan membentuk grup-grup. Kebetulan, ada seorang kakek penjual cendol yang tinggal searah dengan rumah kami. Setelah sekolah, saya sering ikut pulang bersamanya agar tidak diganggu oleh anak-anak nakal itu.
Ketika naik ke kelas IV, saya bilang kepada mama bahwa saya tidak mau lagi bersekolah di SD Nasrani. Akhirnya, saya dipindahkan ke SD Negeri 2, yang hanya berjarak 400 meter dari rumah. Di SD, saya sudah mulai menonjol dalam olahraga, terutama dalam permainan bola kasti.
Saya juga lebih suka permainan anak-anak laki-laki, seperti sepak bola, main perang-perangan, ketapel, memanjat pohon, dan main layangan. Namun, dengan anak-anak perempuan, saya juga bermain boneka-bonekaan, masak-masakan, dan main saga.
Saat SD, saya bahkan sudah mencoba merokok. Rokok yang saya pakai adalah rokok Pusuk, tanpa tembakau. Di belakang rumah, ada tangsi polisi yang memasak menggunakan kayu. Karena rokok saya tidak mengandung tembakau, sering kali mati, jadi saya bolak-balik menghidupkannya lagi.
Atas kiri-kanan depan: Patar, Batahan. Belakang ki-ka: Roslina, Tan, Roni. Siantar 1960.
Atas: Kantor Pusat STT HKBP Pematangsiantar. Ds. GHM Siahaan (ayah ) menjadi Dosen, Dekan / Rektor 1955 - 1962.
Di SD kelas IV, saya belajar bersepeda dan cepat pintar karena terus berlatih. Namun, saya sering dimarahi karena lupa mengerjakan tugas di rumah.
Setiap kali dimarahi, saya menangis lama hingga capek sendiri dan akhirnya ketiduran. Suatu ketika, saya dimarahi dan awalnya berdiri, lalu lama-lama duduk. Ketika itu, saya melihat ada alat yang lengket di dinding dan memiliki lobang. Saya korek dengan jari, dan tiba-tiba ada getaran. Saya kaget dan mengira ada yang menggoyang saya dari belakang. Baru setelah besar, saya tahu bahwa itu adalah colokan listrik.
Mama rajin mengunjungi keluarga Siahaan, Tambunan, Batubara, dan Marpaung yang sakit di rumah atau yang baru melahirkan. Kami bergantian diajak. Si Roni kurang suka, karena harus berjalan kaki. Apalagi ketika melihat orang yang baru melahirkan, karena harus membawa beras dalam tandok, akulah yang memegangnya. Di sana, pasti akan ada ayam kampung dan sayur bangun-bangun untuk dimakan. Sayur inilah yang paling saya sukai, meskipun direbus dengan kaldu ayam dan menggunakan asam jungga atau asam spesial.
Setiap hari Sabtu, kami sering membersihkan pekarangan. Pernah sekali, aku diganggu oleh si Tan (adik). Aku jengkel dan melemparnya dengan tanah, tetapi rupanya ada batu di dalamnya. Dia pun menangis karena keningnya berdarah. Tak lama kemudian, bapak keluar dari rumah dan menamparku. Mereka masuk ke dalam rumah, sementara aku pergi ke arah taman bunga, tidak jauh dari rumah, di sebelahnya ada lapangan tenis. Aku menonton tenis sampai sore.
Kemudian, aku melihat bapak lewat mencariku karena sudah mulai gelap. Namun, bapak tidak melihatku karena banyak orang yang menonton di sana. Ketika aku pulang, ternyata bapak sudah di rumah dan ada tamu. Rupanya Roni melihatku. Dia pun membukakan pintu, dan aku cepat-cepat masuk dan langsung ke kamar.
Besoknya, bapak bertanya ke mana aku pergi. Aku bilang, "Nonton tenis." Bapak mengatakan, "Aku lewat situ mencarimu, tapi tidak melihatmu." Aku menjawab, "Aku melihat bapak, tetapi aku takut." Bapak pun berkata, "Lain kali, jangan seperti itu ya." "Iya, pak."
Saat itu, T. Noak dan kawannya T. Lumongga dari Sibolga tinggal bersama kami. Mereka sekolah di SGKP. Setiap kali kami pulang sekolah, banyak anak muda di sana yang bilang, "Kirim salam ya untuk tantenya!"
Setelah tamat SD, kami pindah ke kompleks STT Nommensen karena sudah ada perumahan untuk kami. Saya kemudian masuk ke SMP N 1. Di kompleks kami, tidak banyak teman, karena mereka lebih sering tinggal di rumah.
Bapak suka bermain bulutangkis, sehingga dibuatlah lapangan bulutangkis. Kami sering bermain bulutangkis pada sore hari. Selain itu, kami juga banyak mengerjakan kebun dan pekarangan, di samping kegiatan memasak, mencuci, dan menyetrika.
Saat di SMP, saya menonjol dalam olahraga. Masih di kelas 1, saya sudah ikut berbagai pertandingan, seperti voli, lari, dan lompat tinggi.
Di kelas 2 SMP tahun 1962, saya melakukan sidi. Ayat sidi saya diambil dari Yeremia 51 ayat 50b: “Ingatlah dari jauh kepada Tuhan dan biarlah Yerusalem timbul lagi dalam hatimu.” Ternyata, kata-kata ini sangat benar. Saya pernah ke Jerman bersama keluarga OB, dan saya juga pernah pergi ke Yerusalem membawa namboru Donda dan Uda Charles.
Di kelas 2 SMP, saya dan Roni juga melakukan sidi. Ayat sidi saya tetap sama, yaitu Yeremia 51 ayat 50b: "Ingatlah dari jauh kepada Tuhan dan biarlah Yerusalem timbul lagi dalam hatimu."
Enam bulan sebelum ujian akhir SMP, bapak pindah ke Tarutung, sementara kami (saya dan Roni) harus tetap tinggal di P. Siantar. Ayah ditugaskan menjadi SekJen HKBP periode 1962 - 1968 di Pearaja, Tarutung.
Ada seorang dosen STT HKBP Siantar dari Jerman yang mendengar tentang situasi kami. Ia menawarkan kami untuk tinggal bersama mereka sampai ujian SMP selesai. Dosen itu baru menikah dengan seorang dosen sesama yang berasal dari Amerika. Mereka adalah Keluarga Dr. W. Lempp.
Kami pun mengikuti pola hidup mereka yang teratur, rapi, dan bersih. Di sana, kami mengenal sarapan dengan pembukaan berupa buah dingin, seperti pepaya, nanas, jeruk, pisang, dan jus terlebih dahulu, sebelum menyantap roti. Kami juga merasakan makanan seperti pizza, spaghetti, makaroni, dan havermout, yang masih asing di lidah kami.
Setelah makan malam, kami bersama-sama membereskan meja dan mencuci piring. Pada hari Minggu, kami naik becak ke gereja. Kami harus menggunakan dua becak: bapak bersama Roni, sedangkan ibu bersama saya.
Atas: Kel.DR.W.Lempp. Aku sempat tinggal dg mereka sampai SMP 1968-69, Siantar. Dititip, bapak saat dia tugas ke Tarutung. Waktu itu mereka blm punya anak.
Setelah tamat SMP, kami bergabung kembali dengan orang tua di Tarutung. Kakak saya, Roni, melanjutkan pendidikan ke Medan di SGKP, sementara saya melanjutkan ke SMA HKBP Tarutung. Sekolahnya jauh, sekitar 2 km, sehingga pulang pergi menjadi 4 km. Saya berjalan kaki ke sekolah.
Di SMA, saya adalah murid yang biasa saja, tetapi tetap menonjol di bidang olahraga. Suatu ketika, saat pelajaran olahraga, kami belajar lempar lembing. Teman-teman hanya bisa melempar sejauh 10-12 meter, dan ketika tiba giliran saya, saya melempar sekuat tenaga. Lembing itu pun menancap di atap kelas laboratorium. Guru saya sangat heran. Sejak saat itu, saya dilatih secara khusus. Kadang saya disuruh membawa lembing ke rumah agar bisa latihan di rumah, tetapi Mama ketakutan, khawatir saya melemparkannya ke mana-mana.
Dengan cabang ini, saya ikut pekan olahraga di Medan dan meraih juara 1 dengan lemparan sejauh 26,5 meter.
Di volley, saya juga menonjol. Namun, karena di tim volley sekolah saya, hanya saya yang menonjol, jadi sulit juga untuk mendapatkan juara pertama.
Pernah, dalam menyambut Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus, diadakan pertandingan volley. Komandan Kodim sebagai panitia selalu datang untuk melihat pertandingan, terutama jika yang bertanding adalah SMA HKBP. Dia sangat kagum dengan penampilan saya. Dalam pertandingan final, hujan pun turun, tetapi Pak Kodim tetap datang menonton dari mobilnya. Kami harus menerima kekalahan dan hanya mendapatkan juara kedua.
Saya merasa kesal, tetapi Pak Kodim datang menyalami saya. Pada tanggal 17 Agustus, saya tidak pergi ke tanah lapang untuk mengikuti acara. Rupanya, panitia waktu itu menyediakan hadiah khusus untuk pemain volleyball putri terbaik, dan itu adalah saya. Jadi, teman saya yang mewakili menerima hadiah tersebut. Setelah acara, teman-teman datang ke rumah menyampaikan hadiah saya.
Dengan prestasi saya di bidang olahraga, nilai-nilai pelajaran saya juga banyak terbantu.
Pada bulan Juni 1966, saya lulus dari SMA. Namun, karena kudeta 30 September, tahun ajaran berubah menjadi Januari 1967. Setelah lulus SMA, saya ingin masuk sekolah Polisi atau Maritim. Namun, orang tua membujuk saya untuk masuk ke FKIP HKBP Nommensen di P. Siantar. Menurut mereka, menjadi guru adalah pilihan terbaik untuk wanita pada masa itu. Bapak menyarankan saya mengambil jurusan Bahasa Jerman. Namun, karena dosennya belum lengkap dan mahasiswanya hanya satu orang, saya mengambil jurusan Bahasa Inggris.
Di kemahasiswaan, saya tidak terlalu pintar. Saya selalu dibantu teman-teman dalam grup belajar untuk mengerjakan PR. Bahkan saat membuat Thesis pun, dekan sekaligus dosen pembimbing saya tidak sabar dan sering berkata, “surat, surat, surat,” yang berarti tulis, tulis, tulis. Dia sendiri yang memperbaiki Thesis saya. Namanya Pak Jannes L. Tobing. Dia mendapatkan beasiswa dari HKBP untuk mengambil Master di Amerika. Istrinya adalah Br. Siahaan. Dia sangat menghormati Bapak.
Di FKIP, saya juga jago volleyball. Ketika ada pertandingan, lawan-lawan kami penasaran apakah saya ikut atau tidak. Saya juga sengaja agak bersembunyi sebelum pertandingan. Selain itu, saya ikut bermain tenis di klub tenis. Anggotanya adalah orang-orang Pemda, dokter, dan pejabat. Kami ada tiga orang mahasiswa FKIP yang sudah bisa bermain tenis. Kami dibelikan raket dan diantar jemput. Kami juga sering diajak ikut ke perkebunan untuk bermain tenis dengan pejabat-pejabat di sana.
Di kemahasiswaan, saya juga aktif dalam kesenian. Saya ikut koor, vokal grup, dan drama. Kami sering diminta untuk mengisi acara-acara. Pada saat Sinode Agung HKBP, kami diminta untuk mengisi acara di penutupan sinode. Saya ikut dalam drama yang menampilkan gaya anak-anak muda berandalan. Salah satu adegan yang lucu adalah ketika kami ingin rekreasi ke Parapat naik sepeda motor, dan kami berboncengan tiga orang, di mana saya yang mengendarai motornya. Setelah peserta sinode mengenali saya, mereka tertawa melihat reaksi Bapak, dan Bapak juga ikut tertawa.
Pada tahun 1970, saya lulus BA dan langsung diterima sebagai guru di SMA kampus FKIP. Bapak segera memasukkan saya menjadi guru di SMA kampus itu, supaya saya tidak mencari pekerjaan lain, meskipun saat itu ada kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan-perusahaan asing. Saya mendapatkan satu kamar sendiri, sementara mahasiswi lain harus berbagi satu kamar untuk empat orang. Mereka suka mengobrol di kamar saya dan sering membawa cemilan. Semua mahasiswa diwajibkan makan di Menza.
Ketika saya masih mahasiswa tingkat satu, saya tinggal di rumah Danres Marpaung. Di sini, saya belajar mengemudikan mobil dan dengan mudah mendapatkan SIM. Waktu itu, hanya ada tiga wanita yang bisa mengemudikan mobil, yaitu saya, istri Dr. Luhut L. Tobing, dan istri seorang dokter polisi. Mengemudikan mobil masih dianggap urusan laki-laki pada waktu itu.
Pada tahun 1971, saya berkesempatan berangkat ke Jerman, diajak oleh keluarga Uda OB, yang saat itu bertugas di sana. Saya menghabiskan waktu sekitar setahun bersama mereka sebelum mereka kembali ke Indonesia. Namun, saya masih ingin tinggal di Jerman.
Saat itu, saya masih mengikuti kursus bahasa Jerman tiga kali seminggu di malam hari. Untuk biaya hidup, saya harus bekerja, meskipun kemampuan bahasa saya masih terbatas. Sebenarnya, ketika Uda kembali ke Indonesia, Henri dan Coki masih tinggal di Jerman untuk melanjutkan sekolah mereka. Kami dititipkan kepada keluarga TB , yang menggantikan Uda tapi tidak lama. Saya pindah mencari tempat kos dan pindah.
Keinginan saya tinggal di Jerman sebenarnya adalah untuk bekerja, bukan hanya untuk sekolah. Namun, peraturan di sana tidak memberikan izin bagi orang asing untuk bekerja, kecuali untuk tujuan pendidikan. Saya terpaksa mendaftar di universitas agar bisa mendapatkan izin tinggal dan izin bekerja selama liburan. Di Jerman, terdapat banyak libur, sehingga saya memiliki banyak kesempatan untuk bekerja.
Pada saat itu, tidak sulit untuk mendapatkan pekerjaan, asalkan mau melakukan apa saja. Saya pernah bekerja di berbagai tempat, seperti perusahaan yang membuat rambu-rambu lalu lintas, di dapur umum, di toko, membagikan brosur, mencatat mobil yang lewat di jalan tol untuk statistik, di percetakan, di Philips, sebagai pembantu rumah tangga, menjaga anak, dan di restoran. Saya berhasil mengerjakan semua pekerjaan tersebut dengan baik, hingga beberapa perusahaan menginginkan saya untuk menjadi pekerja tetap. Namun, mereka terhambat oleh izin kerja untuk saya, karena orang asing tidak diizinkan bekerja tetap. Jadi, saya hanya bisa bekerja selama liburan. Seringkali, saya bekerja di luar jadwal liburan resmi mahasiswa, dan mereka tidak terlalu mempermasalahkan izin kerja, asalkan ada izin tinggal.
Atas: Rudy, Roslina, Nurmala, Duma, Sere, Ny Ida (i.uda), OBS (a.uda), Coki, Henry, Hamburg 1971
Foto Tahun baru 1968 di rumah op. Ronitua, Medan.
Berdiri Kiri ke Kanan: Sindak Siahaan, OB Siahaan dan Putri Sere (gendong), Djuara Siahaan, Ds. GHM Siahaan (ayah saya), Roslina Siahaan (saya), Henry Siahaan, Ronitua Siahaan, Pdt. O Simangunsong, P.R.O. Sihombing, J. Silitonga. - Duduk kiri-kanan: Ny. Sindak Siahaan br. Manurung, Ny. OBS br Tambunan, Ny. Djuara br Sitorus, Ny Ds. GHM Siahaan br Simanjuntak, Op. DM Siahaan (op. Ronitua Doli), Op. Purnama br Marpaung (Op. Ronitua Boru), Ny. O Simangunsong (Adelina br Siahaan), Ny. P.R.O. Sihombing (Tiurmaida br Siahaan), Ny. J Silitonga (Tiur Hasiholan br Siahaan), Nurmala br Siahaan, Erlina br Siahaan, Tiambun br Siahaan. Dan cucu-cucu dari Op. DM Siahaan (Op. Ronitua Doli). Berhalangan hadir: 3 (tiga) keluarga dari luar kota berhalangan hadir, mereka adalah adik dan adik ipar ayah, G.M, Marpaung SH dan Ny. G.M Marpaung (Saur Tua br Siahaan), TM Siahaan SH dan Ny. br manurung), Ojur Siahaan. (foto di bawah)
Atas: G.M. Marpaung SH dan Ny Marpaung br Siahaan (adik ayah: Saur Tua br Siahaan). Amangboru dr Roslina
Atas:
Kanan - kiri: T.M. Siahaan SH (adik ayah) dan Ny T.M. Siahaan br Manurung, Ny. Sindak Siahaan br Manurung, Sindak Siahaan SE (adik ayah). Duduk: Ny. OBS (adik ipar ayah); Jakarta 2012. Semua adalah uda dan inang uda dari Roslina Siahaan.
Atas: Sere S (adik), Catherin P, Roslina S, Rudy S (adik), Hamburg 1971
Atas. Catherine P, Sere S (adik), Duma P., Ros S, Musi P., Hamburg 1971
Atas: Rudy, (adik) Roslina, Nurmala (adik ayah), Duma, Sere (adik) , Ny Ida (i.uda), OBS (a.uda), Coki (adik), Henry (adik), Hamburg 1971
Atas: Roslina, Sere (adik), Hamburg 1971
Atas: Sere (adik) , Ny. Ida T (i.uda) , Roslina S, Hamburg 1971
Atas: Riki Siahaan (adik) dan Roslina Siahaan, Liturgi Natal, 25 Des, Hamburg 1971
Roslina S, Nelson N, Coki S (adik), Freddy P, Henri S (adik), Budi di Hamburg 1974
Atas: Foto di rumah Maria Nommensen, Putri Ephorus IL Nommensen. Lahir 1902 di Sigumpar. Lancar bahasa batak. Kanan ke kiri: Maria Nommensen, Adolf Siahaan, Roslina Siahaan (saya), Henri S (adik), keluarga dari Maria Nommensen di desa kelahiran Nommensen; Desa Norderhafen, Pulau Nordstrand, Jerman, 1975.
Atas: Ny. Ida T (i.uda) , Roslina S (saya), Heidelberg, Jerman 1978
Atas: Roslina (saya) , Ny. Ida T (i.uda), Heidelberg, Jerman 1978
Atas: Roslina dan Ny. Ida T, Heidelberg, Jerman 1978
Atas: Ny. Ida (i.uda), Roslina (saya), OBS (adik ayah), Henri (adik). Heidelberg, Jerman 1978
Atas, Roslina (saya), Ny. Ida T (i.uda), OBS (adik ayah) , Henri (adik), Heidelberg, Jerman 1978
Atas: Peresmian Jalan Ds. GHM Siahaan (ayah). Roslina Siahaan dan Patar Siahaan (adik) beserta istri Ny. Patar Siahaan br Hutabarat. Balige 2001. Terima Kasih!.
ATas: Roslina (saya) dan Patar (adik) dan Ny. Patar Siahaan br Hutabarat. Serta para keluarga dan pemda. Pengucapan syukur dan Kebaktian Peresmian jalan Ds. GHM Siahaan, gereja HKBP Balige, 2001
Atas: Kebaktian dan Ucapan Syukur. Roslina (saya) dan keluarga di gereja HKBP Balige. 2001.
Keluarga saya Kiri - kanan: Tobing (a.boru), Roslina (saya), Ny. Patar Siahaan br. Hutabarat dan Patar Siahaan (adik). Balige 2001.
Papan nama Jalan Ds. GHM Siahaan. Balige 2001. Terima Kasih!.
Atas: Peta jalan Ds. GHM Siahaan di Balige, 2001
Atas: Peletakan Batu Rumah Doa, STGH Sipoholon, 12 Aug. 2022.
Atas: Foto bersama dg pengurus dan Ephorus HKBP. Sipoholon 2022.
Atas: Roslina br Siahaan, baris ke 4 dari atas, no.2 dari kiri , baju hitam, Lb Gorat ,Balige 1986. Foto keluarga besar di tangga Sopo Gr. DM Siahaan (op Ronitua Boru)