Adakah kebahagiaan di dalam Pemberitaan Injil?
Judul Kotbah : “Menikmati Allah”
Pembicara : Pdt. Samuel Evins
Hari/Tanggal : Minggu, 19 Januari 2025
Lukas 10:17-20
Kembalinya ketujuh puluh murid
17 Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: ”Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.”
18 Lalu kata Yesus kepada mereka: ”Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit.
19 Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.
20 Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.”
Kita dapat menemukan kata "gembira" dan "bersukacita" di dalam teks ini, yang mengartikan bahwa pemberitaan Injil seharusnya membawa sukacita bagi pemberitanya. Ini berarti kita bisa menikmati Allah di dalamnya. Lalu, bagaimana kita bisa merasakan kegembiraan dalam pemberitaan Injil? Jawabannya adalah dengan mengerjakan pemberitaan Injil itu sendiri. Jika kita tidak pernah memberitakan Injil, kita akan kesulitan memahami maksud Tuhan yang tertulis dalam Firman-Nya, karena dalam pemberitaan Injil, kita terus belajar mengenal Allah. Semakin kita belajar, semakin kita mengerti bagaimana seharusnya kita mencintai Allah.
Jika kita hanya tahu konsep memberitakan Injil tetapi tidak pernah melakukannya, kita tidak akan pernah tahu betapa gembiranya memberitakan Injil. Perasaan ini hanya bisa kita nikmati ketika kita mau melakukannya, dan tidak akan pernah kita rasakan hanya dengan memikirkannya. Kebahagiaan tidak tergantung pada hasil penginjilan. Lukas 10:17 menceritakan bahwa murid-murid merasa gembira karena setan-setan takluk kepada mereka saat mereka memberitakan Injil, padahal seharusnya kegembiraan mereka terletak pada kenyataan bahwa nama mereka sudah terdaftar di surga (Lukas 10:20).
Jadi, pemberitaan Injil seharusnya menjadi bagian dari hidup anak-anak Allah, karena nama mereka sudah terdaftar di surga. Pemberitaan Injil adalah tugas yang harus dikerjakan oleh anak-anak Allah. Banyak orang yang berbicara hebat tentang hasil pelayanan mereka, seakan mereka yang memiliki pelayanan tersebut. Namun, kita harus ingat bahwa sukacita sejati berasal dari kenyataan bahwa kita adalah anak-anak-Nya dan kita suka melakukan pekerjaan-Nya. Kebahagiaan kita bukan datang dari hasil, tetapi dari bagaimana kita bisa mengerjakan pekerjaan-Nya.
Kita adalah anak-anak Allah, dan bagian hidup kita adalah memberitakan Injil. Bukankah seharusnya saat kita pergi memberitakan Injil, itu menjadi sebuah kesenangan bagi kita? Jika kita adalah anak-anak Allah, bukankah menyenangkan hati Tuhan seharusnya menjadi kesenangan bagi kita juga, seperti seorang anak yang selalu ingin menyenangkan hati orang tuanya? Oleh karena itu, kebahagiaan dalam penginjilan bisa kita nikmati sejak saat pertama kita mau memberitakan Injil. Jika kebahagiaan juga diberikan dalam pemberitaan Injil, apakah masih ada alasan bagi kita untuk tidak memberitakan Injil?