Kumpulan Renungan Harian
di Bulan September 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan September 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 18 September 2022
Hari Minggu Biasa XXV
Bacaan Liturgi:
Ams. 8:4-7; Tim. 2:1-8; Luk. 16:1-13
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih
Perumpamaan dalam Injil yang baru saja kita dengarkan tadi, menampilkan seorang bendahara yang licik dan tidak jujur. Ia dituduh menyia-nyiakan barang tuannya dan karena itu ia akan dipecat. Dalam situasi sulit ini, dia tidak mengeluh; dia tidak mencari pembenaran atau membiarkan dirinya berkecil hati, tetapi memikirkan jalan keluar untuk memastikan masa depan yang tenang bagi dirinya. Pertama-tama bendahara yang tidak jujur itu menyadari keterbatasannya sendiri dengan berkata di dalam hati, “Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu”. Setelah itu, dengan cerdik ia kemudian bertindak.
Bendahara itu “satu per satu orang yang berutang kepada tuannya” dan mengurangi hutang mereka. Dengan cerdik ia mencoba untuk mengambil hati orang-orang yang berutang pada tuannya, menghapuskan sebagian utang mereka untuk menjamin masa depan dirinya sendiri. Sungguh mengherankan bahwa tindakan dari sang bendahara yang tidak jujur itu ternyata malah dipuji oleh tuannya. Tuannya tidak mengajukan sang bendahara yang tidak jujur ke pengadilan. Sebaliknya, tuannya itu justru memuji kecerdikan sang bendahara dalam mengatasi situasi sulit yang sedang dia hadapi. Yesus kemudian menutup perumpamaannya itu dengan sebuah ajakan kepada para murid-Nya dengan berkata, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”.
Saudara-saudari yang terkasih
Melalui perumpamaan-Nya perihal bendahara yang tidak jujur namun dipuji oleh tuannya, maksud Yesus sentu saja bukan untuk mendorong agar para murid-Nya menjadi orang-orang yang tidak jujur, melainkan menjadi orang-orang yang bijaksana dalam berpikir dan bertindak. Artinya ialah menyadari bahwa bernilai atau tidaknya suatu kehidupan bukan terletak dalam mengumpulkan harta benda dan menimbun itu smua sebanyak-banyak, melainkan dalam penggunaannya.
Harta benda dapat mendorong seseorang untuk membangun tembok, menciptakan perpecahan dan diskriminasi. Yesus sebaliknya. Ia meminta para murid-Nya untuk menggunakan harta benda untuk menjalin dan mengikat tali persahabatan dengan sesama. Faktanya, dalam hidup, bukan mereka yang memiliki begitu banyak kekayaan yang menghasilkan buah, tetapi mereka yang menciptakan dan mempertahankan hidup begitu banyak ikatan, begitu banyak hubungan, begitu banyak persahabatan melalui pelbagai jenis "kekayaan" yang dikaruniakan Allah kepada mereka. Kekayaan itu tentu saja tidak hanya berupa harta benda yang berkecupan dan dan berlimpah, melainkan juga bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian yang telah dikaruniakan Allah secara cuma-cuma kepada setiap kita.
Pelbagai jenis kekayaan itu tidak hanya berguna dan berdampak positif bagi hidup kita saat ini, tetapi juga untuk kehidupan kekal di dunia yang akan datang. Tuhan Yesus berkata, “Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur, supaya jika mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi”. Artinya ialah bahwa bila kita mampu menjadikan harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian untuk menjalin persaudaraan dan solidaritas dengan sesama, maka sesungguhnya kita sudah tidak jauh lagi dari surga. Di surga kita tidak hanya disambut oleh Tuhan sendiri, tetapi juga mereka yang telah merasakan manfaat dan kebaikan dari harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian yang telah Tuhan letakkan ke tangan kita masing-masing dalam kehidupan ini.
Saudara-saudari yang terkasih
Menjadikan harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian untuk menjalin persaudaraan dan solidaritas dengan sesama juga bukan hal yang tidak mudah. Harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian juga dapat membuat kita menjadi orang yang tidak setia kepada Allah dan egois terhadap sesama. Karena itu, Yesus mengingatkan kita bahwa “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan”, yakni kepada Allah dan kepada kekayaan. Harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian akan dapat menjalin persaudaraan dan solidaritas di antara kita bila kita mencintai dan mengabdi Tuhan di atas segala sesuatu. Bila kita mencintai dan mengabdi Tuhan di atas segala sesuatu, maka kita akan dimampukan untuk menyadari bahwa harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian itu berasal dari Tuhan dengan tujuan agar kita dapat saling berbagi dan melayani satu sama lain.
Maka, saudara-saudari, berdoa, membaca Sabda Allah dan merenungkannya, serta merayakan Ekaristi, tidak boleh dilihat sebagai sebuah pilihan atau kegiatan sambilan, melainkan sebagai suatu kebutuhan dan bagian yang amat penting dari kehidupan kita. Penulis Kitab Amsal pernah berkata, “Permulaan pengetahuan ialah takut akan Tuhan”. Artinya ialah kesalehan hidup yang lahir dari iman memainkan peran yang menentukan dalam hidup kita. Mencintai dan mengabdi Tuhan di atas segala sesuatu akan membuat kita menjadi orang yang bijaksana karena mengarahkan kita kepada semua yang baik, suci, dan mulia serta membantu kita untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kepalsuan dan kebenaran dari segala sesuatu yang dunia tawarkan kepada kita setiap hari.
Saudara-saudari, hari ini Tuhan mengundang dan meminta kita untuk menjadikan harta benda, bakat, ketrampilan, kemampuan, kepandaian untuk menjalin persaudaraan dan solidaritas dengan sesama. Karena itu, agar itu semua tidak menjauhkan hidup kita dari Allah dan sesama, Tuhan Yesus juga meminta kita agar jangan “mendua hati”, melainkan memilih Tuhan, mencintai dan mengabdi-Nya di atas segala sesuatu. Tuhan memberkati.
P. Hilario D.N. Nampar, Pr.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI