Kumpulan Renungan Harian
di Bulan November 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan November 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
RENUNGAN HARI INI
Homili Minggu Biasa XXXII
(Mak.7:1-2.9-14; 2Tes. 2:16-3:5; Luk. 20:27-38)
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil hari ini menampilkan kepada kita ajaran Yesus yang luar biasa tentang kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki yang diceritakan di dalam Injil hari ini tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Karena itu, mereka mencobai Yesus yang seringkali berkhotbah tentang kehidupan sesudah kematian dengan mengajukan suatu pertanyaan. Latar belakang dari pertanyaan orang-orang Saduki itu adalah hukum perkawinan lewirat yang berlaku di kalangan orang Yahudi. Hukum perkawinan lewirat itu mengatur bahwa bila seorang laki-laki tertua kawin dan kemudian mati dengan tidak meninggalkan anak, maka saudaranya harus menikahi istri dari kakaknya itu dan memberi keturunan kepada kakaknya yang telah meninggal itu. Dalam bacaan Injil, ada tujuh bersaudara yang menikahi perempuan yang sama. Mereka semua mati tanpa memberi satu orang anak pun sebagai keturunan. Maka pertanyaan orang-orang Saduki kepada Yesus adalah, pada hari kebangkitan, siapakah suami dari wanita yang kawin dengan tujuh orang pria yang berbeda di bumi ini?
Saudara-saudari yang terkasih,
Yesus tidak jatuh ke dalam perangkap orang-orang Saduki dan menjawab bahwa “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagaian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan orang-orang mati, tidak kawin dan dikawinkan”. Perkawinan perlu untuk melanjutkan keturunan di dunia ini. Tanpa perkawinan punahlah umat manusia. Namun, dalam kehidupan sesudah kematian hal seperti itu tidak diperlukan lagi karena manusia tidak akan mati lagi. Dari sebab itu, tidak perlu ditanyakan siapakah di antara ketujuh laki-laki itu akan menjadi suami perempuan itu. Itu adalah pertanyaan yang bodoh. Mereka semua sudah menjadi anak-anak. Mereka sama seperti malaikat-malaikat atau pelayan-pelayan Allah. Mereka tidak perlu kawin lagi.
Jawaban Yesus kepada orang-orang Saduki dalam Injil hari ini jelas merupakan juga pengajaran bagi kita tentang arti dan makna kebangkitan orang mati yang merupakan salah satu pokok iman kita sebagai orang Katolik. Kita diciptakan untuk hidup abadi, hidup di hadapan Allah. Hidup abadi, hidup di hadapan Allah bukanlah bukanlah hidup yang begitu saja melanjtukan kehidupan di dunia ini, tetapi sebuah hidup yang sama sekali baru. Iman memberitahu kita bahwa keabadian sejati yang kita cita-citakan bukanlah ide, konsep, tetapi hubungan persekutuan penuh dengan Allah yang hidup: itu ada di tangan-Nya, dalam cinta-Nya, dan menjadi satu dengan-Nya. dan saudara perempuan yang Dia ciptakan dan tebus, dengan seluruh ciptaan. Hidup abadi itu, sesungguhnya, telah dimulai sejak kita berada di dunia. Melalui sakramen-sakramen inisiasi, Baptis, Krisma, dan Ekaristi, kita senantiasa dibawa untuk mengalami hidup abadi itu, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah yang telah dimulai dan dialami di dunia ini, akan mencapai puncak kepenuhannnya kelak, dalam hidup setelah kematian, dalam hidup abadi.
Saudara-saudari yang terkasih,
Kita tentu saja bertanya, apa makna dari ajaran Yesus tentang kebangkitan orang mati dan hidup abadi? Apa gunannya berbicara tentang hal-hal yang jauh dari realita hidup saat ini seperti kematian, keabadian, dan kebangkitan? Kita baru saja merayakan dua perayaan liturgi penting dalam Gereja, yakni Hari Raya semua Orang Kudus dan Peringatan arwah semua orang beriman. Kedua perayaan ini dan injil yang kita dengarkan hari ini hendak mengajarkan dan menegaskan bahwa kita manusia membutuhkan keabadian sebab tanpa berpikir sedikit pun tentang keabadian kehidupan kita saat ini dengan sendirinya akan kehilangan maknanya yang mendalam. Kadang-kadang seperti orang-orang Saduki kita hidup seolah-olah tidak ada kehidupan kekal. Kita bekerja dan menghabiskan energi untuk memupuk kekayaan supaya hidup lebih enak dan nikmat. Kita enggan menghidupi nilai-nilai injil karena nilai-nilai tersebut membutuhkan pengorbanan dan menggangu keamanan dan kenyamanan hidup kita.
Iman akan hidup abadi dan kebangkitan badan menyadarkan kita bahwa kehidupan itu jauh lebih kuat dari kematian ketika dibangun di atas hubungan dan ikatan kesetiaan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Sebaliknya, tidak ada kehidupan abadi bagi orang yang hidup untuk dan bagi dirinya sendiri. Ketika manusia menjadi egois, hidup untuk dan bagi dirinya sendiri, maka saat itu dimulailah kematian bagi hidupnya. dalam sikap ini kematian menang. Ini adalah keegoisan. Jika dalam hidup ini kita hidup bagi dan untuk diri sendiri, maka semenjak hidup di dunia ini, kita sesungguhnya telah menabur benih-benih kematian dalam hati dan hidup kita. Namun, jika kita hidup bagi Allah dan sesama, kita tidak akan pernah sendirian baik dalam kehidupan maupun bahkan dalam kematian. Tuhan akan berkata kepada kita, “Aku adalah Allah orang hidup dan Aku, sekarang dan selalu akan bersamamu. Di mana pun kamu jatuh, kamu akan jatuh ke dalam Tanganku dan Aku akan hadir bahkan di pintu kematian. Di mana tidak ada yang bisa menemanimu lagi dan di mana kamu tidak bisa membawa apa-apa, disana Aku menunggumu dan akan mengubah kegelapan menjadi terang untukmu.” Tuhan memberkati.
R.D. P. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi
Mak.7:1-2.9-14
2Tes. 2:16-3:5
Luk. 20:27-38
RENUNGAN HARI INI
Minggu Biasa XXXII
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil hari ini menampilkan kepada kita ajaran Yesus yang luar biasa tentang kebangkitan orang mati. Orang-orang Saduki yang diceritakan di dalam Injil hari ini tidak percaya akan kebangkitan orang mati. Karena itu, mereka mencobai Yesus yang seringkali berkhotbah tentang kehidupan sesudah kematian dengan mengajukan suatu pertanyaan. Latar belakang dari pertanyaan orang-orang Saduki itu adalah hukum perkawinan lewirat yang berlaku di kalangan orang Yahudi. Hukum perkawinan lewirat itu mengatur bahwa bila seorang laki-laki tertua kawin dan kemudian mati dengan tidak meninggalkan anak, maka saudaranya harus menikahi istri dari kakaknya itu dan memberi keturunan kepada kakaknya yang telah meninggal itu. Dalam bacaan Injil, ada tujuh bersaudara yang menikahi perempuan yang sama. Mereka semua mati tanpa memberi satu orang anak pun sebagai keturunan. Maka pertanyaan orang-orang Saduki kepada Yesus adalah, pada hari kebangkitan, siapakah suami dari wanita yang kawin dengan tujuh orang pria yang berbeda di bumi ini?
Saudara-saudari yang terkasih,
Yesus tidak jatuh ke dalam perangkap orang-orang Saduki dan menjawab bahwa “Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagaian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan orang-orang mati, tidak kawin dan dikawinkan”. Perkawinan perlu untuk melanjutkan keturunan di dunia ini. Tanpa perkawinan punahlah umat manusia. Namun, dalam kehidupan sesudah kematian hal seperti itu tidak diperlukan lagi karena manusia tidak akan mati lagi. Dari sebab itu, tidak perlu ditanyakan siapakah di antara ketujuh laki-laki itu akan menjadi suami perempuan itu. Itu adalah pertanyaan yang bodoh. Mereka semua sudah menjadi anak-anak. Mereka sama seperti malaikat-malaikat atau pelayan-pelayan Allah. Mereka tidak perlu kawin lagi.
Jawaban Yesus kepada orang-orang Saduki dalam Injil hari ini jelas merupakan juga pengajaran bagi kita tentang arti dan makna kebangkitan orang mati yang merupakan salah satu pokok iman kita sebagai orang Katolik. Kita diciptakan untuk hidup abadi, hidup di hadapan Allah. Hidup abadi, hidup di hadapan Allah bukanlah bukanlah hidup yang begitu saja melanjtukan kehidupan di dunia ini, tetapi sebuah hidup yang sama sekali baru. Iman memberitahu kita bahwa keabadian sejati yang kita cita-citakan bukanlah ide, konsep, tetapi hubungan persekutuan penuh dengan Allah yang hidup: itu ada di tangan-Nya, dalam cinta-Nya, dan menjadi satu dengan-Nya. dan saudara perempuan yang Dia ciptakan dan tebus, dengan seluruh ciptaan. Hidup abadi itu, sesungguhnya, telah dimulai sejak kita berada di dunia. Melalui sakramen-sakramen inisiasi, Baptis, Krisma, dan Ekaristi, kita senantiasa dibawa untuk mengalami hidup abadi itu, yaitu hidup dalam persekutuan dengan Allah. Persekutuan dengan Allah yang telah dimulai dan dialami di dunia ini, akan mencapai puncak kepenuhannnya kelak, dalam hidup setelah kematian, dalam hidup abadi.
Saudara-saudari yang terkasih,
Kita tentu saja bertanya, apa makna dari ajaran Yesus tentang kebangkitan orang mati dan hidup abadi? Apa gunannya berbicara tentang hal-hal yang jauh dari realita hidup saat ini seperti kematian, keabadian, dan kebangkitan? Kita baru saja merayakan dua perayaan liturgi penting dalam Gereja, yakni Hari Raya semua Orang Kudus dan Peringatan arwah semua orang beriman. Kedua perayaan ini dan injil yang kita dengarkan hari ini hendak mengajarkan dan menegaskan bahwa kita manusia membutuhkan keabadian sebab tanpa berpikir sedikit pun tentang keabadian kehidupan kita saat ini dengan sendirinya akan kehilangan maknanya yang mendalam. Kadang-kadang seperti orang-orang Saduki kita hidup seolah-olah tidak ada kehidupan kekal. Kita bekerja dan menghabiskan energi untuk memupuk kekayaan supaya hidup lebih enak dan nikmat. Kita enggan menghidupi nilai-nilai injil karena nilai-nilai tersebut membutuhkan pengorbanan dan menggangu keamanan dan kenyamanan hidup kita.
Iman akan hidup abadi dan kebangkitan badan menyadarkan kita bahwa kehidupan itu jauh lebih kuat dari kematian ketika dibangun di atas hubungan dan ikatan kesetiaan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama. Sebaliknya, tidak ada kehidupan abadi bagi orang yang hidup untuk dan bagi dirinya sendiri. Ketika manusia menjadi egois, hidup untuk dan bagi dirinya sendiri, maka saat itu dimulailah kematian bagi hidupnya. dalam sikap ini kematian menang. Ini adalah keegoisan. Jika dalam hidup ini kita hidup bagi dan untuk diri sendiri, maka semenjak hidup di dunia ini, kita sesungguhnya telah menabur benih-benih kematian dalam hati dan hidup kita. Namun, jika kita hidup bagi Allah dan sesama, kita tidak akan pernah sendirian baik dalam kehidupan maupun bahkan dalam kematian. Tuhan akan berkata kepada kita, “Aku adalah Allah orang hidup dan Aku, sekarang dan selalu akan bersamamu. Di mana pun kamu jatuh, kamu akan jatuh ke dalam Tanganku dan Aku akan hadir bahkan di pintu kematian. Di mana tidak ada yang bisa menemanimu lagi dan di mana kamu tidak bisa membawa apa-apa, disana Aku menunggumu dan akan mengubah kegelapan menjadi terang untukmu.” Tuhan memberkati.
R.D. P. Hilario D.N. Nampar.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
MINGGU BIASA XXXIII
(Mal. 4:1-2a; 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19)
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Di Yerusalem Bait Allah adalah kebanggaan orang Israel, yang digaguminya keindahannya. Yesus pun tak terkecuali, tetapi Ia melihat-nya dengan pandangan lebih jauh: "Akan datang harinya segala yang kamu lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada satu batu pun dibiar-kan terletak di atas batu yang lain". Yang digambarkan Yesus itu adalah suatu bentuk pesan Yesus tentang apa yang akan terjadi pada akhir zaman. Karena itu, para murid bertanya kepada Yesus, “Guru, bilamanakah itu akan terjadi?”
Saudara-saudari yang terkasih,
Berbicara tentang akhir zaman berarti berbicara tentang masa depan. Masa depan adalah suatu masa yang penuh dengan ketidakpastian. Karenanya, salah satu ketakutan yang menghantui kehidupan manusia adalah ketidakpastian mengenai masa depan yang akan dihadapinya. Jangankan akhir zaman, kita juga tidak tahu kapan dan bagaimana kita akan meninggalkan dunia ini dan beralih ke kediaman abadi kita di surga. Akhir dunia atau kematian adalah realita kehidupan yang pasti akan terjadi, namun yang membuat kita kerapkali menderita ialah ketidaktahuan kita kapan dan bagaimana sesuatu itu akan terjadi atas kita.
Yesus dalam bacaan Injil tidak memberi waktu yang pasti perihal bagaimana akhir zaman atau kematian itu akan datang menghampiri kita dan dunia yang kita diami ini. Yesus sudah dengan tegas sering mengatakan, bahwa tidak ada orang tahu kapan dipanggil Tuhan. Memang sejauh bisa dan berguna, kita dapat menggunakan pemikiran, usaha atau penyelidikan untuk mengetahui banyak hal, tetapi sangat terbatas! Kita harus bersedia dan berjaga, supaya bila dipanggil Tuhan kita sudah siap. Ia hanya meminta kita untuk berjaga dan berdoa. Sebab bencana atau kejadian yang dahsyat bisa datang di luar dugaan atau perhitungan kita.
Karena itu, Yesus, dalam bacaan Injil hari ini, memberikan amanat yang penting supaya kita tidak bingung, gelisah, dan takut ketika berpikir tentang masa depan, akhir zaman, dan kematian. Ia berkata, "Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu". Arti dari kata-kata Tuhan Yesus itu ialah bahwa kita tidak akan selamat, hanya karena kita tahu seperti apa masa depan kita, melainkan kita hanya akan selamat apabila, dalam kesempatan hidup yang kita miliki saat ini, kita bertobat, berbuat baik dan berdoa!
Saudara-saudari yang terkasih,
Seperti apa masa depan yang akan kita alami, tidak ada seorang pun yang tahu. Bahkan hari esok pun, tidak ada seorang pun diantara kita yang tahu pasti. Namun, satu hal yang pasti bagi kita ialah bila kita kokoh beriman, senantiasa bertobat, berbuat baik dan berdoa, kita pasti akan selamat di dunia ini dan kelak dalam keabadian. Semoga, apa yang kita dengar melalui Injil hari ini juga menjadi satu momentum untuk mengubah arah hidup kita. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Sam. 5:1-3
Kol. 1:12-20
Luk. 23:35-43
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil yang baru saja kita dengarkan bersama tadi rasa-rasanya bertentangan dengan apa yang kita rayakan hari ini. Pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini kita bukannya mendengarkan kehebatan dan kekuasaan Yesus sebagai seorang raja, tetapi justru kelemahan dan ketidakberdayaan-Nya di atas kayu salib. Bukannya kisah Yesus yang dimahkotai dan duduk di atas singgasana yang kita dengarka, tetapi Yesus yang bermahkotakan duri, disalibkan dan ditempatkan di antara dua orang penjahat. Bukannya dipuja dan dipuji, tetapi Yesus yang dikisahkan dalam Injil hari ini adalah Ia yang menjadi sasaran dari olokan dan hujatan orang-orang. Lantas, apa maksud Gereja menempatkan kisah penyaliban Yesus sebagai bacaan Injil dalam Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini?
Saudara-saudari yang terkasih,
Di dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan tadi, tiga kali Yesus diolok dan ditantang untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Mesias, Putra Allah dan Raja pilihan Allah yang dirindukan bangsa Israel. Para pemimpin bangsa Yahudi, para prajurit roma yang menyalibkan Yesus, dan bahkan seorang penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus silih berganti menghujat seraya menantang Yesus untuk membuktikan keallahan-Nya di hadapan mereka semua: jika Yesus benar-benar Putra Allah dan Raja yang diutus oleh Allah, harusnya Ia dapat menyelamatkan diri-Nya dari salib dan penderitaan. Jika Yesus dapat menyelamatkan diri dengan KuasaNya, barulah mereka semua akan percaya bahwa Yesus benar-benar adalah Mesias, Putra Allah dan Raja yang dipilih dan dikehendaki oleh Allah.
Terhadap ejekan dan tantangan yang diterima-Nya, Yesus justru diam dan tidak berbuat apa-apa. Sejatinya, Yesus bisa saja melakukan itu semua bahkan tidak perlu harus menunggu sampai disalibkan. Sejak di taman Getsemani, Yesus sudah tahu apa yang akan menimpa diriNya dan memilih untuk menyelamatkan diri. Tak perlu pedang Petrus untuk membelaNya, tetapi sebagai putra Allah, Yesus dapat meminta kepada BapaNya dua belas pasukan malaikat untuk membelaNya. Mengapa, Yesus tidak melakukan itu semua? Mengapa Yesus tidak mau membuktikan keallahan-Nya tatkala kesulitan dan penderitaan justru menimpaNya?
Yesus tidak melakukan itu semua karena Ia adalah Allah dan Allah adalah Kasih. Kasih yang sejati, kasih yang benar bukanlah kasih yang egois, tetapi kasih yang selalu terarah kepada orang lain bahkan berani mengorbankan diri demi kebahagiaan dan keselamatan orang yang dikasihi itu. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari seorang sahabat yang memberikan nyawa bagi sahabat-sahabatnya”. Karena itu, dari awal hidupNya hingga penyaliban dan wafatNya, Yesus berusaha untuk memberi hidup hingga Dia tidak pernah hidup untuk dirinya sendirinya sendiri. Yesus memilih untuk tetap tinggal menderita di atas kayu salib karena dia tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri. Dia tidak mencari selamat sendiri karena yang Ia cari hanya satu, yakni keselamatan orang lain, keselamatan kita sendiri. Seluruh hidupNya diberikan bagi sesama. Dengan itu, Yesus mau memperlihatkan kepada kita bahwa identitas dan kuasaNya sebagai Putra Allah nampak bukan karena Ia mampu menyelamatkan diriNya sendiri, tetapi ketika karena kasih Ia rela memberikan hidupNya yang berharga bagi kebaikan dan keselamatan kita, orang-orang berdosa yang amat dikasihiNya.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pesan dari Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam ini amat jelas bagi kita. Melalui pembaptisan, saya dan anda, kita semua telah diangkat menjadi anak-anak Allah dalam Yesus Kristus, Putra-Nya. Identitas kita sebagai anak-anak Allah hanya akan terlihat jelas ketika kita hidup bukan untuk diri kita sendiri dan mencari selamat sendiri, tetapi ketika kita membaktikan hidup untuk sesama dan mengusahakan kebaikan, kebahagiaan, serta keselamatan mereka. Apapun posisi dan peran yang kita miliki, baik di rumah, tempat kerja, maupun di dalam Gereja, kita semua hendaknya menyadari dengan sungguh bahwa sebagai anak-anak Allah kita senantiasa dipanggil bahkan dituntut untuk menjadikan hidup kita sebagai berkat dan rahmat untuk saudara-saudari kita. Anak-anak Allah yang sejati dan sebenarnya adalah mereka yang hidup bukan untuk dirinya sendiri, tetapi bagi orang lain; yang tidak egois dan individualis, tetapi yang mata dan hatinya selalu terarah kepada Allah dan kepada sesama di sekitarnya. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Yes. 2:1-5
Rm. 13:11-14a
Mat. 24:37-44
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Pada hari ini kita memulai masa Adven. Kata Adven berasal dari bahasa Latin, adventus. Dalam bahasa Yunani, kata latin Adventus adalah parusia. Baik kata adventus maupun parousia berarti kehadiran atau kedatangan. Masa Adven, karenanya, hendak mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan telah datang ke dalam dunia, secara misterius terus menerus hadir di tengah-tengah kita dan menjumpai kita dalam keseharian hidup kita.
Injil yang baru saja kita dengarkan hari ini, berbicara perihal kedatangan dan kehadiran Tuhan dan bagaimana kita manusia mesti menyikapinya. Kedatangan Tuhan itu tiba-tiba dan karenanya kita mesti senantiasa berjaga-jaga. Di dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan Yesus berkata, “..., hendaklah kamu juga siap sedia, karena Putra Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Kedatangan Tuhan yang tiba-tiba itu diibaratkan Yesus dengan seorang pencuri di waktu malam. Kita tahu baik bahwa tidak ada seorang pencuri, bahkan bila pencuri itu masih pemula, yang memberitahukan rencananya kepada siapapun untuk mencuri isi rumah seseorang. Bagi seorang pencuri waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya adalah saat dimana sasarannya sedang tidak siap, tidak waspada dan saat itu biasanya malam hari.
Tuhan jelas bukan seorang pencuri. Pencuri dan aksinya di malam hari diambil Yesus untuk menggambarkan bagaimana Tuhan akan datang memanggil kita. Iman Katolik menegaskan bahwa pada akhir zaman, Tuhan akan datang dalam kekuasaan dan kemuliaan serta mengadili orang yang hidup dan mati. Akan tetapi, di saat yang bersama iman mengatakan kepada kita bahwa Tuhan datang menjumpai dan memanggil manusia melalui peristiwa kematian yang datang dan terjadinya mendadak, tiba-tiba, tak terduga. Karena itu, dalam Injil, Tuhan Yesus mengajak kita agar dalam hidup ini senantiasa berjaga-jaga. Berjaga-jaga yang dimaksud oleh Yesus, sesungguhnya, adalah tidak terlena, terbuai, dan terlalu sibuk dengan hal-hal duniawi karena segala sesuatu termasuk hidup kita di dunia ini ada batasnya. Berjaga-jaga, dengan demikian, berarti hidup yang senantiasa terarah kepada Tuhan dan kehendak-Nya. Hidup seperti itu menjadi mungkin karena bila kita sungguh mengimani dan menyadari bahwa bahwa di dunia ini kita hanyalah para peziarah dan karenanya “suatu kediaman abadi tersedia bagi kita di surga, bila pengembaraan kita di dunia ini berakhir.”
Saudara-saudari yang terkasih,
Adven memang adalah masa persiapan menuju perayaan Natal, yaitu kedatangan Yesus yang pertama dalam sejarah dunia dan umat manusia. Namun, makna dan spritualitas adven tidak hanya itu. Adven, yang kita alami setiap tahun, menyadarkan kita agar kita jangan menjadi orang-orang yang terlalu duniawi sebab segala sesuatu termasuk hidup kita ada batasnya; agar kita sadar bahwa waktu hidup yang kita miliki ini bukanlah berada dalam kuasa kita, tetapi berada sepenuh dalam tangan Allah; agar hidup kita jangan sampai dikendalikan oleh kekhawatiran dan rencana-rencana kita, tetapi oleh sabda, pikiran, dan kehendak Tuhan. Itulah artinya berjaga-jaga demi mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang tiba-tiba kelak dalam kehidupan kita dan pada akhir zaman.
Tentu bila kita menilik hidup kita dan dengan jujur bertanya kepada diri kita masing-masing, kita akan menemukan bahwa kita sekalian masih jauh dari kata siap untuk menyambut kedatangan Tuhan yang tiba-tiba itu. Kita mungkin telah berulang kali mendengar dan melayat saudara-saudari kita meninggal. Namun, di hadapan realita kematian itu, kita kerap lupa bertanya ke dalam hati kita perihal kesiapan kita bila saat itu datang menjumpai hidup kita. Peristiwa kematian memang peristiwa memilukan. Namun, momen itu adalah saat dimana Allah juga menyapa dan kita yang masih hidup hingga saat ini bahwa kediaman kita di dunia ini, sebagus apapun itu, hanyalah kediaman sementara dan sekuat apapun kita berusaha, kita tidak akan pernah bisa mengelak dan menghindar panggilan dan kedatangan Tuhan yang tiba-tiba itu.
Adven sesungguhnya tidak terbatas hanya ketika secara liturgis kita merayakannya. Selagi kita masih bernapas dan jantung kita berdetak, semangat adven terus hadir menyertai hidup kita. Konsekuensinya adalah usaha kita untuk selalu berjaga-jaga berarti pula senantiasa bertobat dan memperbaharui diri. Menunggu hingga saat terakhir baru bertobat adalah sia-sia bahkan sebuah bencana. Setan kerapkali menggoda kita untuk enggan bertobat. Ia menyakinkan kita bahwa hidup ini masih panjang, harus dinikmati dan karenanya bertobat masih bisa dilakukan di lain waktu dan kesempatan apalagi kematian adalah hal yang menakutkan dan tidak dapat diprediksi.
Saudara-saudari yang terkasih,
Semoga pesan Injil hari ini dan semangat adven membantu kita untuk menggunakan kesempatan hidup ini secara lebih baik. Tekad yang kuat untuk hidup senantiasa terarah kepada Tuhan dan bertobat membantu kita untuk hidup dengan lebih baik dan pada akhirnya kelak siap untuk menyambut kedatangan Tuhan yang tiba-tiba untuk menjemput dan meminta pertanggungjawaban kita atas anugerah kehidupan yang telah diberikanNya. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI