Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Mei 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Mei 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
BKalender Liturgi, Minggu, 15 Mei 2022
HARI MINGGU PASKAH V
Bacaan Liturgi:
Kis. 14:21b-27
Why. 21:1-5a
Yoh.13:31-33a.34-35
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Dalam konteks Injil Yohanes, bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan merupakan pembukaan dari khotbah perpisahan Yesus. Khotbah persiapan tersebut disampaikan Yesus pada malam perjamuan terakhir bersama para murid-Nya. Yesus menyadari bahwa tidak lama lagi Ia harus kembali kepada Bapa. Akan tetapi, Yesus tahu bahwa jalan kembali kepada Bapa-Nya tidak terjadi begitu saja. Yesus harus menunjukkan ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa dengan pengorbanan-Nya sampai mati di atas kayu salib. Karena itu, sebelum semua itu terjadi, tatkala Ia masih ada bersama dengan para murid-Nya, Yesus memberikan amanat perpisahan. Amanat itu bukanlah sebuah pesan terakhir, tetapi adalah sebuah perintah dan karenanya harus didengarkan, ditaati, dan dilaksanakan oleh para murid-Nya dahulu, kini, dan yang akan datang. Perintah itu adalah supaya para murid saling mengasihi, sama seperti Kristus telah mengasihi mereka.
Saudara-saudari yang terkasih
Kasih adalah sebuah kata yang begitu akrab dengan hidup setiap anak manusia. Begitu populernya kata ini, arti yang benar dan sejati dari kasih tidak lagi ditemukan bahkan dihayati. Sinetron dan kisah percintaan para artis yang dipertontonkan televisi justru oleh anak-anak muda saat ini malah diyakini sebagai sebuah model yang benar dari kasih itu. Akibatnya, kasih dimaknai semata-mata sebagai sebuah perasaan emosional yang dapat datang dan pergi sesuai dengan suasana hati. Tidak ada ketekunan, kesetiaan dan pengorbanan di sana. Yang ada justru hanyalah keegoisan yang selalu terarah untuk mencari kenikmatan sesaat dan keuntungan pribadi. Inilah arti kasih yang tiada hentinya ditawarkan oleh dunia kepada kita; sebuah kasih yang emosional dan egois karena yang penting adalah aku dan kebahagiaanku dan bukan sesama.
Kasih yang diperintahkan oleh Yesus kepada kita, para murid-Nya amat berbeda dari kasih yang dunia ini pertontonkan dan tawarkan setiap hari kepada manusia. Di dalam bacaan Injil kita mendengar “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi”. Dengan berkata demikian, Yesus sesungguhnya hendak menegaskan bahwa hanya pada Dirinyalah manusia dapat memahami arti dan menemukan teladan dari kasih yang sejati dan benar. Bila demikian, apakah makna sesungguhnya dari kasih menurut Kristus, Guru dan Tuhan kita?
Kepada para murid-Nya, Yesus berkata “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Yesus tidak hanya mengajarkannya, tetapi Ia juga memberikan teladan kepada para murid-Nya dengan membasuh kaki mereka yang adalah ungkapan kesediaan diri untuk melayani dan pada akhirnya memberikan hidup-Nya sendiri di atas kayu salib sebagai ungkapan pengorbanan yang total dan penuh bagi keselamatan mereka dan seluruh umat manusia.
Kini menjadi jelaslah bagi kita bahwa kasih yang sejati dan benar bukanlah sekedar sebuah perasaan. Perasaan dapat hilang dan pergi. Kasih yang sejati dan benar, sesungguhnya, adalah ungkapan tertinggi dari iman yang didasarkan pada persahabatan terus menerus dengan Kristus. Maka kasih yang lahir dari persahabatan dengan Kristus itu membuat manusia selalu peka dan mengambil inisiatif yang pertama untuk melayani dan memberi diri atau berkorban bagi kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatan sesama. Tidak ada kasih yang lebih besar dari seorang beriman yang selalu peka dan siap sedia untuk melayani dan berkorban.
Saudara-saudari yang terkasih
Lewat perintah baru-Nya, yakni perintah kasih, Tuhan Yesus juga menetapkan bahwa kasih adalah sarana utama bagi Tuhan dan sesama untuk menilai apakah kita ini layak disebut murid-murid Kristus atau tidak. Tuhan Yesus berkata, “… semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi”.
Maka, sesungguhnya, untuk menjadi murid Kristus yang baik, seorang kristiani tidaklah pernah berpuasa diri hanya dengan menerima Sakramen Baptis dan sakramen-sakramen lainnya, pergi ke gereja hari minggu, dan menjadi anggota Gereja Katolik. Semua itu baik, namun belum sempurna bila di dalam kehidupan sehari-hari para murid Kristus tidak mengamalkan perintah dan hukum cinta kasih. Dengan nada yang tegas dan lantang Rasul Yohanes menyampaikan kepada kita bahwa kedalaman hidup iman seseorang ditentukan oleh penghayatan perintah kasih itu dalam kehidupan sehari-hari. Rasul Yohanes menulis demikian, “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudara yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya” (1Yoh. 4:20).
Pada akhirnya, perintah kasih yang hari ini kita renungkan bersama, menjadi hukum utama yang Allah gunakan untuk menghakimi setiap orang sesudah kematian. Santo Yohanes dari Salib berkata: “Pada waktu kita bersiap meninggalkan hidup ini, kita akan dihakimi berdasarkan kasih”. Karena itu, “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Mat. 16:26).
Maka, saudara dan saudari, mari kita saling mengasihi seperti Kristus telah mengasihi kita. Kita ungkapkan kasih itu dalam pelayanan dan pengorbanan yang tulus sebab hanya dengan kasih seperti itulah hidup yang berkelimpahan dan tak berkesudahan dianugerahkan Allah kepada kita. Tuhan memberkati.
P. Hilario D.N. Nampar, Pr.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI