Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Maret 2023
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Maret 2023
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU PRAPASKAH II
Kej. 12:1-4a
Mzm 33:4-5,18-19, 20,22
2Tim 1:8b-10
Mat 17:1-9
RENUNGAN HARI INI
Saudara-saudari yang terkasih,
Injil yang baru saja kita dengarkan tadi mengisahkan tentang peristiwa transfigurasi Yesus. Penginjil Matius mengisahkan bahwa Yesus naik ke sebuah gunung yang tinggi dengan membawa bersama-Nya tiga orang murid, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Di hadapan ketiga murid itu, terjadilah perubahan rupa atau transfigurasi Yesus. “Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau seperti cahaya”. Dalam peristiwa transfigurasi Yesus itu, tampak pula Musa dan Elia yang “sedang berbicara dengan Yesus”. Peristiwa transfigurasi Yesus di atas gunung ini mencapai puncaknya ketika Allah Bapa, dari dalam awan terang yang menaungi para murid memberi kesaksian sekaligus sebuah perintah dengan berkata, “Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!”
Saudara-saudari yang terkasih,
Apa makna dari peristiwa transfigurasi atau perubahan rupa Yesus ini? Misteri Transfigurasi tidak boleh dilepaskan dari konteks perjalanan yang Yesus sedang jalani ikuti, yaitu menuju Yerusalem, tempat Ia harus melewati sengsara dan kematian di kayu salib untuk mencapai kebangkitan. Yesus sendiri berbicara secara terbuka tentang hal ini kepada para murid-Nya. Akan tetapi, para murid nyatanya tidak mengerti, bahkan tidak mampu untuk menerima rencana Allah Bapa bagi Yesus itu. Petrus, ketika mendengar bahwa di Yerusalem Yesus harus menderita dan dibunuh, menarik Yesus ke samping dan menegur dia dengan berkata, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau”. Kita tahu apa reaksi Yesus terhadap tindakan dan perkataan itu. Ia sama sekali tidak setuju dengan pikiran Petrus, bahkan dengan lebih keras menegur Petrus, “Enyalah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia”.
Oleh sebab itulah, agar peristiwa salib tidak menjadi sandungan bagi iman para murid-Nya, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk melihat peristiwa transfigurasi-Nya. Yesus ingin terang kemuliaan-Nya menerangi hati para murid saat mereka harus melewati kegelapan sengsara dan kematiannya Yesus ingin memberi kepada sahabat-sahabat terdekat-Nya itu pengalaman cahaya kemuliaan-Nya, yang kelak dapat menjadi cahaya dan kekuatan batin mereka ketika harus berhadapan dengan saat dimana salib menjadi batu sandungan yang tak tertahankan bagi iman dan harapan mereka kepada Yesus. Cahaya kemuliaan Yesus dalam peristiwa transfigurasi-Nya dalam Injil hari ini, di satu sisi, mau meneguhkan para murid dan kita sekalian bahwa penderitaan atau salib bukan akhir dari segala-segalanya. Di balik salib ada sebuah kemuliaan, kejayaan, dan kemenangan. Akan tetapi, di sisi lain, peristiwa transfigurasi Yesus mau menunjukkan kepada kita bahwa “tanpa salib tidak ada mahkota kemuliaan. Tidak mungkin orang mencapai kesuksesan dalam kemuliaan hidup bila tidak melalui jalan salib. Jalan salib adalah jalan perjuangan, jalan penderitaan, dan jalan pengorbanan”. Singkatnya, tidak ada kemuliaan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang diperoleh dengan mudah dan singkat. Jika orang ingin sukses dan bahagia, ia harus siap untuk masuk dalam proses yang panjang dan kadang melelahkan bahkan menyakitkan. Dengan peristiwa transfigurasi-Nya, Yesus ingin memperlihatkan kepada para murid-Nya dahulu, kini, dan yang akan datang bahwa tidak ada kebangkitan dan kemuliaan tanpa salib dan bahwa salib dan penderitaan bukan akhir dari segala-galanya, tetapi jalan yang terjal dengan tujuan yang pasti, yaitu kebangkitan dan kemuliaan. Salib adalah pintu kepada kebangkitan. Tantangan, cobaaan, bahkan penderitaan adalah jalan untuk menuju kepada kebahagiaan sejati yang tak akan berkesudahan.
Saudara-saudari yang terkasih,
Penderitaan dan kemuliaan, salib dan kebangkitan yang secara jelas kita lihat dalam kisah transfigurasi Yesus dalam Injil hari ini mengajak kita untuk bersyukur atas salib Kristus, sebab, sebagaimana yang selalu kita serukan bersama dalam ibadah jalan salib, salib itu telah menebus dunia. Salib tidak hanya menebus dunia dari kejahatan dan menebus kita dari dosa, tetapi juga memberikan kekuatan dan pengharapan bagi kita untuk melewati jalan salib kehidupan kita masing-masing; untuk tidak takut dan lari ketika berhadapan dengan cobaan dan penderitaan; untuk tidak mudah kehilangan pengharapan ketika jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan mesti begitu terjal dan menyesakkan hati; dan untuk berani mengorbankan hidup (pikiran, hati dan tenaga) bagi kebaikan dan keselamatan sesama. Karenanya, dalam Masa Praspakah ini alangkah baik kita untuk memupuk kebanggaan dan kecintaan kita kepada salib melalui devosi jalan salib. Salib Kristiani bukanlah perabot rumah atau hiasan untuk dipakai, itu tetapi adalah simbol iman kristiani. Salib adalah lambang Yesus, yang mati dan bangkit kembali untuk kita. Salib adalah lambang kemenangan kasih yang berani berkorban dan berbagi atas sikap keegoisan, ketamakan, dan cari selamat sendiri. Salib adalah lambang yang memberi kita kekuatan untuk tetap yakin dan berharap di tengah kesesakan karena terjalnya perjuangan hidup yang harus dijalani. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU PRAPASKAH IV
1Sam 16:1B,6-7,10-13a
Ef.5:8-14
Yoh 9:1-41
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dan dikasihi Tuhan
Injil Minggu Keempat Prapaskah ini kita bercerita tentang perjumpaaan Yesus dan seorang pria yang buta sejak lahir (bdk. Yoh 9:1-41). Berkat perjumpaan dengan Yesus itu, pria yang buta sejak lahir itu pada akhirnya memperoleh kembali apa yang telah lama dirindukannya, yakni penglihatan fisik. Akan tetapi, kembalinya penglihatan fisik pria yang buta sejak lahir itu ternyata bukan akhir, tetapi awal dari sebuah sebuah mukjizat yang jauh lebih penting dan bernilai lagi, yaitu iman yang tak tergoyahkan, kokoh, dan mendalam.
Kesembuhan yang dialaminya ternyata harus diuji. Para tetangga yang mengetahui bahwa pria itu telah sembuh dari kebutaan bukannya bersukacita, tetapi justru membawa pria itu ke hadapan otoritas keagamaan Yahudi saat itu, yakni orang-orang Farisi. Terhadap tuduhan orang-orang Farisi bahwa orang yang menyembuhkannya tidak datang dari Allah karena tidak memelihara hari Sabat, pria yang telah disembuhkan Yesus itu malah bertanya balik, “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mukjizat yang demikian?” Selanjutnya, ketika ditanya pandangannya perihal siapakah identitas orang yang menyembuhkan, pria itu bersaksi di hadapan orang-orang Yahudi dan orang-orang Farisi bahwa orang yang telah menyembuhkannya adalah seorang Nabi.
Akibat pengakuannya itu, pria yang telah disembuhkan oleh Yesus itu harus menerima pengucilan, yakni diusir dari komunitas orang Yahudi. Ia harus terpisah dari orang tua dan para tetangganya. Di saat kritis tersebut, Yesus kembali hadir. Ia bertemu pria itu dan bertanya kepadanya, "Apakah kamu percaya pada Anak Manusia?" (ayat 35). “Dan siapakah dia, Tuan, agar saya percaya padanya?”, jawab orang buta yang telah sembuh itu. “Engkau telah melihatnya, dan dialah yang berbicara kepadamu” (ayat 37). Pria itu kemudian berkata, “aku percaya, Tuhan”, dan dia bersujud di hadapan Yesus.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pria buta sejak lahir mewakili kita masing-masing, yang diciptakan untuk mengenal Tuhan; tetapi karena dosa menjadi buta; kita membutuhkan terang baru. Kita semua membutuhkan terang baru: terang iman, yang telah diberikan Yesus kepada kita. Sebab itu, kita harus menyadari bahwa walaupun mungkin cukup banyak dari antara kita yang relatif rajin ke gereja, ataupun ikut terlibat dalam kegiatan gerejawi, namun ini tidak menjadi jaminan akan besarnya iman. Sebab, keterlibatan seseorang dalam kegiatan gereja tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan imannya.
Cukup banyak terjadi di kalangan umat beriman, meski mereka rajin beribadat dan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama, namun dalam kehidupan sehari-hari jauh perbuatan, perkataan, dan hidupnya sama sekali jauh dari kehendak dan bimbingan Allah. Memang mata inderawi mereka tidak buta, tapi karena mata batinnya buta, maka hidupnya berjalan bukan oleh bimbingan Allah, tetapi oleh nafsu, perselisihan, dengki, dan iri hati yang pada akhirnya menuntun kepada dosa dan lebih naas lagi malapetaka yang melanda kehidupannya. Kebutaan rohani seperti itu juga nampak dalam mereka yang akibat beratnya beban kehidupan dan penderitaan yang silih berganti hidupnya tidak lagi mengalami penghiburan yang datang dari iman. Memang tidak mudah untuk bertahan dalam penderitaan. Namun, sayangnya, kita kerapkali membiarkan penderitaan dan beban kehidupan itu perlahan-lahan menguasai hidup kita. Bila kita terus berada kondisi seperti itu, kita memang akan kesulitan untuk melihat Kristus dan yakin bahwa iman kepada-Nya dapat memberikan suatu kepercayaan yang tenang dan teguh untuk bangkit, bahkan dalam kesulitan terbesar, seperti yang dialami oleh pria yang disembuhkan oleh Yesus dalam Injil.
Saudara-saudari yang terkasih,
“Menjadi seorang Kristiani bukanlah hasil dari pilihan etis atau gagasan mulia, melainkan perjumpaan dengan suatu kejadian, seseorang, yang memberikan cakrawala baru dan arah yang menentukan dalam hidup.” Beriman bukan sekedar menerima dan percaya kepada ajaran-ajaran iman Gereja, tetapi juga adalah sebuah hubungan persahabatan yang mendalam dengan Yesus Kristus. Persahabatan inilah yang mengarahkan kita kepada semua yang baik, suci, dan mulia serta memberi kita kriteria untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kepalsuan dan kebenaran dari segala sesuatu yang dunia tawarkan kepada kita setiap hari. Saat Kristus sungguh mengubah hidup kita dan menjadi satu-satunya kekuatan untuk bersandar dan berharap dalam hidup ini, maka di saat itulah kita sungguh mengalami-Nya sebagai Terang Dunia dan kita dapat melihat penyelenggaraan dan berkat ilahi di balik pelbagai pengalaman kehidupan, bahkan dalam hal dan pengalaman yang terburuk sekalipun.
Oleh sebab itu, mari kita menjadikan masa Prapaskah sebagai kesempatan untuk bertobat. Pertobatan bukanlah beban, tetapi rahmat sebab memberikan kepada kita kesempatan untuk melihat hal apa saja yang selama ini telah membutakan hati kita sehingga tidak dapat melihat kehadiran Tuhan secara jelas dalam hidup kita dan percaya kepada-Nya dengan sepenuh hati, bahkan di saat beban kehidupan, penderitaan, dan tantangan begitu berat untuk kita pikul seorang diri. Pada masa Prapaskah ini panggilan Tuhan kembali bergema: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (Yl 2:12). Tuhan sedang memanggil kita untuk menggunakan masa prapaskah sebagai masa untuk memilih.
Masa Prapaskah bukan masa penghakiman Tuhan, tetapi masa penghakiman kami: masa untuk memilih apa yang penting dan apa yang berlalu, masa untuk memisahkan apa yang perlu dari apa yang tidak perlu. Apa yang akan kita pilih: hati yang disinari oleh Kristus, Sang Terang Kehidupan atau hati yang terkungkung oleh kegelapan dosa? Percaya kepada Tuhan atau percaya kepada berhala-berhala buatan tangan manusia, seperti uang, kenikmatan, kekayaan, pangkat, kuasa? Mencari alasan dan mengeluh, bertindak seolah-olah kita hanya dapat bahagia jika seribu syarat terpenuhi atau berani bangkit dari keterpurukan karena yakin akan kekuatan kasih Tuhan? Jawaban dan pilihan ada pada diri kita masing-masing. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU PRAPASKAH V
Yeh 37:12-14
Mzm 130:1-2,3-4b,4c-6, 7-8
Rm 8:8-11
Yoh 11:1-45
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus Tuhan kita
Injil Minggu Prapaskah Kelima ini menceritakan tentang kebangkitan Lazarus. Kebangkitan Lazarus adalah puncak dari "tanda-tanda" ajaib yang dikerjakan oleh Yesus. Penginjil Yohanes mengisahkan bahwa sebelum Yesus datang, Lazarus sudah meninggal dan jazadnya sudah empat hari berada dalam kubur. Ketika Yesus tiba di Betania, Marta, saudara Lazarus, segera pergi menjumpai Yesus. Di hadapan Yesus, saudara Lazarus itu mencurahkan isi hatinya. Berita kematian Lazarus sudah disampaikan kepada Yesus, tetapi Yesus justru tidak lekas datang untuk menyembuhkan Lazarus. Marta nampak amat.
Meskipun menyesalkan sikap Yesus, Marta percaya penuh pada apa yang dikatakan Yesus, yaitu bahwa Yesus adalah kebangkitan dan hidup. Sebagai Mesias, Anak Allah, Yesus berkuasa atas maut sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun sudah mati. Marta sungguh percaya bahwa barangsiapa yang menggantungkan harapan hidup-Nya hanya pada Kristus, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, tetapi pintu menuju kepada kehidupan yang baru, penuh, dan abadi.
Saudara-saudari yang terkasih
Kisah mukjizat Yesus yang membangkitkan Lazarus dalam Injil hari ini tentu saja mau meneguhkan kembali iman dan harapan kita akan kebangkitan dan hidup abadi, yang setiap hari Minggu senantiasa kita serukan dalam syahadat iman kita. Kemenangan Kristus atas kuasa maut, menumbuhkan di dalam hati kita harapan kokoh akan kebangkitan yang mulia; sehingga kita yang sering takut akan maut yang tak terelakkan itu sungguh merasa terhibur oleh janji hidup abadi yang hari Yesus sampaikan di hadapan Marta. Karena itu, kita yakin sungguh bahwa dengan kematian hidup bukannya dilenyapkan, melainkan diubah. Sebagaimana Yesus yang telah mengalahkan kuasa maut dan bangkit, demikian juga kita akan dibangkitkan dengan tubuh yang telah diubah rupa menjadi tubuh kemuliaan sehingga kita boleh memandang Allah dari “muka ke muka” dan hidup dalam persekutuan yang penuh dengan Allah Tritunggal di surga yang adalah tujuan akhir dan kediaman kita yang abadi.
Akan tetapi, kisah kebangkitan Lazarus dalam Injil hari ini tentu saja ingin memberi pesan lain yang tidak kalah penting bagi kita yang sedang menjalani masa Praspakah yang merupakan masa pemurnian jiwa dan masa persiapan menuju perayaan Paskah, Tuhan kita Yesus Kristus. Di depan makam sahabat-Nya Lazarus Injil mengisahkan bahwa Yesus “berseru dengan suara keras: 'Lazarus, keluarlah!'. Dan orang mati itu keluar, tangan dan kakinya dibalut perban, dan mukanya dibalut kain” (ay.43-44). Seruan Kristus ini juga adalah perintah yang ditujukan kepada kita semua yang sadar atau tidak mengalami kematian rohani, akibat dosa, yang mengancam dan membelenggu keberadaan dan kebebasan kita sebagai manusia.
Kristus tidak menyerah pada kuburan yang telah kita bangun akibat pilihan-pilihan hidup kita yang membawa kita pada dosa, kejahatan, dan kematian. Yesus sama sekali tidak pasrah dan menyerah dengan situasi kita saat ini! Dia mengundang kita, bahkan memerintahkan kita, untuk keluar dari kubur tempat dosa-dosa kita mengubur kita. Dia memanggil kita dengan tegas untuk keluar dari kegelapan penjara tempat kita dikurung, puas dengan kehidupan palsu, egois dan biasa-biasa saja. “Keluar!”, dia berkata kepada kita, “Keluar!”. Inilah undangan dan perintah untuk kebebasan sejati, untuk untuk membebaskan diri kita dari "perban", dari balutan kesombongan. Kesombongan membuat kita menjadi budak dari begitu banyak berhala, termasuk keegoisan diri kita sendiri yang seringkali menjauhkan hidup kita dari Tuhan dan sesama. Inilah sesungguhnya kebangkitan itu, yaitu ketika ketika kita memutuskan untuk menaati perintah Yesus dengan keluar dari kegelapan dan membiarkan hidup diterangi dan dipimpin Dirinya sendiri yang adalah Terang Sejati.
Saudara-saudari yang terkasih
Tindakan Yesus membangkitkan Lazarus menunjukkan sejauh mana kuasa kasih karunia Allah dapat pergi, dan, dengan demikian, sejauh mana pertobatan kita sungguh menjadi sebuah kesempatan transformasi hidup kita. Tidak ada batasan untuk belas kasihan ilahi yang ditawarkan kepada semua orang! Tuhan selalu siap untuk menyingkirkan batu nisan dosa kita, yang memisahkan kita dari Dia, terang kehidupan. Tuhan bahkan tidak pernah menyerah untuk membawa kita keluar dari kubur dosa yang telah mengurung kita dalam keamanan dan kepastian yang palsu serta dan keputusasaan yang tidak berujung karena kita lebih mengandalkan lebih mengandalkan kemampuan kita yang terbatas dan harta duniawi yang fana, ketimbang rahmat dan kasih Allah yang tak pernah habis-habisnya dan tak pernah mengecewakan. Kini, keputusan ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita mau dengan penuh kebebasan menjawab seruan dan perintah Tuhan untuk meninggalkan kubur dosa kita masing-masing ataukah tidak.
Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI