Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Maret 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Maret 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 27 Maret 2022
Hari Minggu Prapaskah IV
Bacaan Liturgi:
Yos. 5:9a.10-12
2Kor. 5:17-21
Luk. 15:1-3.11-32
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Perjalanan pertobatan kita dalam masa Praspaskah kini telah memasuki minggu yang ke IV. Minggu Prapaskah IV sering disebut juga sebagai Minggu Laetare atau Minggu Sukacita. Mengetahui hal tersebut, kita mungkin bertanya; mengapa Minggu Prapaskah IV ini dikatakan Minggu Sukacita? Bukankah masa Prapaskah adalah masa pertobatan dan penitensi serta pantang dan puasa? Apa alasan dan makna terdalam dari sukacita di tengah-tengah masa tobat yang sedang kita jalani bersama saat ini? Alasan dan makna terdalam dari sukacita kita pada hari Minggu Prapaskah ke IV ditemukan dalam bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan bersama.
Saudara-saudari yang terkasih
Dari perumpamaan Yesus tadi, terlihat bahwa sang anak bungsu ingin hidup enak. “Baginya, lama kelamaan, hidup di rumah sendiri bersama bapa dan saudaranya membosankan, tidak memuaskan.: setiap hari bangun, mungkin jam 6 pagi, kemudian menurut tradisi Israel berdoa, membaca Kitab Suci, lalu pergi bekerja dan pada akhirnya berdoa lagi. Hari demi hari, dia berpikir bahwa hidup lebih dari itu semua, ia merasa harus menemukan kehidupan lain di mana ia dapat benar-benar bebas, bisa melakukan apa yang ia sukai. Ia ingin kehidupan yang bebas dari disiplin dan dari perintah sang ayah. Ia ingin menjadi dirinya sendiri dan memiliki hidup sepenuhnya untuk dirinya sendiri, dengan segala keindahannya” (Lih. Benedetto XVI, Omelia IV Domenica di Quaresima, 18 marzo 2007).
Sang anak bungsu itu pun meminta warisan kepada sang ayah. Setelah menerima harta warisannya, sang anak bungsu “menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh” (ay. 13). Pada awalnya segala sesuatu berjalan seperti yang ia pikirkan dan inginkan. Namun, apa yang sebelumnya ia pikirkan sebagai hidup yang sesungguhnya, justru lama kelamaan, malah membawanya kepada kebosanan, kekosongan batin, bahkan perbudakan karena ia menyadari bahwa standar hidupnya tidak lebih tinggi dari seekor babi. Kemudian mulailah ia berpikir dan menyesali kejahatan yang telah ia lakukan kepada ayahnya. Ia kini sadar bahwa hidup di luar rumah dan jauh dari ayahnya, bukanlah hidup yang membahagiakan. Ia sadar bahwa peraturan ayahnya adalah bukanlah hambatan bagi kebebasannya, melainkan petunjuk yang diperlukannya agar dapat memiliki kehidupan dan kebahagiaan yang sejati.
Ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah sang ayah tak peduli apa resiko yang harus diterimanya dari ayah dan kakak kandungnya. Ia ingin tinggal di rumah ayahnya meski hanya menjadi seorang karyawan rendah. Sungguh di luar pikiran manusia, reaksi sang ayah ketika melihat anaknya dari kejauhan. Tampaknya setelah sang anak pergi meniggalkan rumah, sang ayah tidak pernah berhenti mengalihkan pandangannya dari pintu gerbang rumahnya untuk mengamati kalau-kalau orang yang lewat disana adalah anak kandungnya sendiri. Kedurhakaan sang anak sama sekali tidak pernah bisa menghapus rasa cinta dan memiliki yang besar dari sang ayah. Sungguh besar kerahiman sang ayah. ia tidak mau melihat apa yang telah lewat. Sukacita Bapa karena anaknya telah kembali membuatnya tidak peduli dan tidak mengingat-ingat lagi dosa anaknya. Ia berlari menjemput anaknya yang pulang dan mencium dia dan bahkan mengadakan pesta yang meriah untuk menyambut kepulangan anaknya itu.
Saudara-saudari yang terkasih
Bacaan Injil hari ini menjelaskan sekali lagi kepada kita apa itu dosa dan konsekuensi dosa itu bagi hidup kita. Dosa, pertama-tama, berarti suatu penghinaan dan pemberontakan terhadap Allah (bdk. KGK, 1850). Penghinaan dan pemberontakan itulah yang terlihat jelas dalam perkataan dan perlakuan sang anak bungsu terhadap bapanya. Ketika kita mulai menyalahgunakan kebebasan kita dan ingin hidup mandiri dan jauh dari Allah, sesungguhnya, bukanlah kebahagiaan yang kita terima, melainkan kekosongan batin, batin, dan kehilangan martabat berharga kita sebagai putra dan putri Allah. Di luar Allah, tidak ada kehidupan dan kebahagiaan yang sejati.
Kita pun disadarkan kembali bahwa perintah dan kehendak Allah itu bukanlah bukan penghalang kebebasan dan kehidupan yang indah, tetapi mereka adalah indikator jalan yang harus dilalui untuk menemukan kehidupan dan kebahagiaan yang sejati. Kehidupan dan kebahagiaan yang sejati itu hanya dapat ditemukan apabila manusia hidup bagi Allah dan bagi sesamanya. Kehidupan yang individualis tidak akan pernah membuat kita bahagia.
Injil tidak hanya berhenti pada soal dosa dan konsekuensinya bagi hidup kita. Injil pada hari juga membantu kita memahami dengan baik dan benar siapakah Allah kita dan bagaimana tanggapan-Nya terhadap putra-putri-Nya yang datang bertobat. Dia adalah “Bapa yang penuh belas kasihan yang mengasihi kita melebihi segala ukuran di dalam Yesus. Kesalahan yang kita lakukan, meskipun besar, tidak mempengaruhi kesetiaan cintanya. Dalam sakramen tobat kita selalu dapat memulai hidup baru: Dia menyambut kita, memulihkan martabat kita sebagai anak-anak-Nya”. Sebab itu, pusat dari Sakramen Tobat bukanlah dosa-dosa kita, melainkan pengampunan Allah (bdk. Francesco, Omelia, 25 Marzo 2022). Inilah alasan kita, para putra dan putri Allah, bersukacita hari ini. Di hadapan dosa pemberontakan dan penghinaan kita terhadap-Nya, Allah sama sekali tidak pernah melupakan kita. Kita tetap berharga di mata-Nya. Ia tetap ada bersama kita bahkan menanti kita kembali kepada-Nya melalui Sakramen Tobat.
Pada masa Prapaskah ini Gereja “mengajak kita kepada pertobatan yang, ..., merupakan kesempatan untuk memutuskan untuk bangkit dan memulai lagi, yaitu meninggalkan dosa dan memilih untuk kembali kepada Tuhan”. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita pun diingatkan Gereja, untuk “meninggalkan sikap egois anak sulung yang yakin pada dirinya sendiri, yang dengan mudah mengutuk orang lain, menutup hatinya untuk memahami, menerima dan memaafkan saudara-saudaranya dan lupa bahwa dia juga membutuhkan pengampunan” (bdk. Benedetto XVI, Omelia IV Domenica di Quaresima, 18 marzo 2007) . Saudara-saudari, seperti anak bungsu yang dengan penuh rasa penyesalan, memberanikan diri untuk bangkit dan kembali kepada Bapa, kita tidak perlu takut untuk bangkit kembali dan berjalan pulang kepada Bapa sebab “dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia (Allah) menjadi berlimpah” (Roma 5:20). Tuhan memberkati.
P. Hilario D. N. Nampar, Pr.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI