Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juni 2021
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juni 2021
Bacaan Liturgi:
Kej 13:2,5-18
Mzm. 15:2-3ab.3cd-4ab,5
Mat 7:6,12-14
RENUNGAN HARI INI
Kita tentu sangat senang dan ingin selalu diperlakukan baik oleh orang lain. Sebaliknya kita juga tidak suka, kesal, dan jengkel bahkan marah jika diperlakukan tidak baik oleh orang lain. Kita selalu berharap bahkan kadang menuntut diperlakukan baik dan adil, tetapi di sisi lain kita juga sering lalai untuk berlaku yang sama terhadap orang lain.
Menghindari pertentangan, perselisihan atau percecokan dan bahkan perkelahian adalah jalan bijak sebagaimana yang ditunjukkan oleh Abaraham, serta oleh Pemazmur dilukiskan sebagai pewaris gunung Tuhan yang kudus. Matius sudah terlebih dahulu mengingatkan bahwa pintu menuju surga itu sempit dan sesak. Mengapa sempit dan sesak? Jawabannya, jalan menuju surga adalah sebuah perjuangan mengamalkan kebaikan,kebenaran dan keadilan. Ingatlah bahwa dalam setiap seruan Doa Bapa Kami, kita memohon pengampunan Tuhan seperti yang juga telah kita lakukan pada orang lain. Intinya jelas bahwa segala sesuatu yang kita kehendaki supaya orang perbuat kepada kita, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Teruslah berbuat kebaikan tanpa henti karena demikianlah usaha dan perjuangan menuju pintu surga yang sesak dan sempit itu.
[Thedy Choten]
Bacaan Liturgi:
Kej: 15:1-12, 17-18
Mat 7:16-20
RENUNGAN HARI INI
"Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka". Sebagaimana pohon dikenal dari buahnya, demikianpun seseorang akan dikenal dari apa yang diperbuat atau diucapkannya. Banyak sekali pengalaman penyamaran yang tak terduga. Orang menyamar seperti domba, namun sesungguhnya adalah serigala yang buas. Selicik apapun itu yang jahat akan tetap ada sebagai yang jahat. Begitupun sebaliknya yang baik akan tetap ada sebagai yang baik. Hanya waktulah yang akan menjawab dengan tuntas dan mengungkapkan kenyataan yang sesungguhnya.
Hari ini kita dipanggil untuk selalu berusaha menaman buah yang baik. Jika mulai hari ini kita menaman benih yang baik, maka pasti kelak kita juga akan memanen hasil yang baik. Inilah sebuah panggilan kenabian bagi kita, sebab kita sendirilah nabi zaman ini.
[Thedy Koten]
Bacaan Liturgi:
Yes. 49:1-6
Kis. 13:22-26
Lukas 1:57-66. 80
RENUNGAN HARI INI
Segala sesuatu ada karena memiliki alasan tertentu. Itu berarti tidak ada sesuatu apapun yang hadir atau ada karena sebuah kebetulan semata. Lalu bagaimana dengan takdir hidup? Takdir hidup yang cenderung bermakna negatif sesungguhnya tidak ada bagi orang yang sungguh beriman, sebab hidup adalah sebuah rencana Tuhan. Sebagaimana Yesaya dan Yohanes yang sejak dalam kandungan bahkan sebelum dikandung telah ditetapkan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya, demikianpun sesungguhnya kita secara pribadi sudah ada dalam rancangan atau rencana Tuhan. Kendalanya ada dalam keterbatasan kita sebagai manusia. Keterbatasan ini membuat kita lamban untuk memahami atau mengerti rencana Tuhan bagi hidup kita. Kelak kita akan tahu dengan sangat gamblang, apa sesungguhnya alasan keberadaan kita. Karena itu, bersyukurlah selalu atas karunia hidup ini. Janganlah terus menggerutu oleh karena goresan kerikil kesulitan yang tak sebanding dengan anugerah kehidupan yang Tuhan sediakan bagi kita masing-masing.
[Thedy Koten]
Hari Biasa Pekan XII
Bacaan Liturgi:
Kej. 17:1.9-10, 15-22
Mzm. 128:1-2,3,4-5
Mat. 8:1-4
RENUNGAN HARI INI
Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Nyanyian ziarah pemazmur ini mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan yang tiada tara. Kebaikan Tuhan yang setara dengan kemahakuasaan-Nya membuat segala sesuatu menjadi mungkin bagi-Nya.
Kesangsian Abraham perihal karunia keturunan di usia lanjut menjadi gambaran perwakilan diri kita yang juga kerap ragu pada Tuhan dalam perkara di luar nalar manusiawi kita. Kita begitu mudah untuk lupa bahwa Tuhan yang Mahabaik selalu menganugerahkan kebaikan bagi siapa saja yang sungguh-sungguh takwa pada-Nya. Orang yang takwa atau takut pada Tuhan adalah mereka yang selalu menaruh harapan pada Dia, Sang empunya segala kebaikan dan kebahagiaan.
[Thedy Koten]
Bacaan Liturgi:
Kej.18:1-15
Mat 8:5-17
RENUNGAN HARI INI
Iman selalu melampaui rasionalitas. Ada hal yang tidak dapat dimengerti secara tuntas dengan nalar, namun itu dapat diterima dari sudut pandang iman. Bukan berarti iman itu buta, melainkan karena iman bersentuhan dengan Kemahakuasaan Tuhan yang tak terdandingi atau tak tersaingi oleh sesuatu apapun, termasuk di dalamnya nalar manusia yang kerdil dan tak berarti apa-apa di hadapan Tuhan.
Sara, istri Abraham yang sudah sangat tua merasa amat mustahil jika ia dapat mengandung di usianya yang 90 tahun itu. Sara dan Abraham, suaminya sungguh tidak yakin. Namun utusan Tuhan menegaskan bahwa perkataanNya akan terlaksana di tahun berikutnya.
Berbeda dengan pengalaman Sara dan Abraham, Perwira di dalam bacaan Injil amat yakin bahwa hanya dengan sepatah kata saja dari Yesus, tanpa Yesus mendatangi rumahnya, maka hambanya pasti akan sembuh. Akhirnya apa yang diyakini oleh perwira itu sungguh terjadi. "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya". Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, karena Tuhan sungguh Mahakuasa.
[Thedy Koten]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, Rasul
[Warna Liturgi : Merah]
Bacaan Liturgi:
Kis 12:1-11
Mzm. 34:2-3.4-5.6-7.8-9
2Tim 4:6-8.17-18
Mat 16:13-19
RENUNGAN HARI INI
Sebagai pengikut Yesus, hari ini kita diajak untuk melihat kembali diri kita, relasi kita dengan Yesus. Selama ini, apakah kita sudah sungguh mengenal Yesus? Atau kita hanya mendengar dari orang lain? Atau kita bahkan sama sekali tak mengenal-Nya?
Pertanyaan Yesus kepada Petrus tentang siapakah Diri-Nya menuntut jawaban iman yang baik dan mendalam. Pertanyaan itu sesungguhnya ditujukan juga kepada kita yang "bersama" dengan dia, sebagai murid-murid-Nya. Pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias yang hidup merupakan sebuah pengakuan pribadi yang bersumber dari keyakinannya yang mendalam. Suatu pernyataan iman dari Petrus.
Sebagai orang yang juga mengikuti Yesus, kita pun harus memiliki keyakinan yang teguh bahwa Yesus yang kita imani adalah Dia yang hidup dan memberi kehidupan kepada kita. Yesus pun memuji bahagia Petrus, karena kedalaman imannya.
Tanggapan Yesus selanjutnya atas jawaban/pengakuan Petrus menjadi sebuah janji bahwa Gereja dalam kehidupannya akan tetap berdiri, dan tidak akan dikuasai oleh alam maut.
Sekali lagi bahwa kita diajak untuk menyadari pengenalan kita akan Yesus. mengenal-Nya membuat kita lebih peduli, lebih tahu tentang diri-Nya dan kehendak-Nya. Kita akan peduli pada ajaran-Nya, dan dengan gembira mau meneladan sikap hidup-Nya.
Orang yang saling mengenal akan selalu saling menyapa, selalu ingin dekat, dan berbagi kegembiraan. Maka bila kita sungguh mengenal Yesus, kita akan bergembira dan selalu mau datang kepada-Nya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
Kej. 21:5,8-20
Mzm. 34:7-8.10-11, 12-13
Mat. 8:28-34
RENUNGAN HARI INI
Kehadiran Kristus di tengah manusia adalah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa dan kejahatan. Jelas sekali terlihat dalam pengusiran setan yang dikisahkan oleh penginjil Matius hari ini. Perjalanan Yesus ketika bermisi, sampai pada suatu perjumpaan dengan dua orang yang kerasukan setan. Momen pertama yang terjadi adalah dua orang yang kerasukan itu datang kepada Yesus. Mereka menyampaikan keluh kesah akibat terbelenggu oleh roh jahat itu. Kedatangan dan pengaduan mereka pun mendapat tanggapan dari Yesus. Ia kemudian mengusir setan dari tubuh kedua orang tersebut. Hal ini mengajarkan kita untuk menyadari bahwa kerap kita menjumpai situasi sesama, atau bahkan diri kita sendiri yang dikuasai oleh roh jahat. Dalam situasi itu, hal yang perlu kita lakukan adalah datang kepada Yesus, sebagaimana kedua orang yang dikisahkan itu. Kita datang kepada Yesus dengan keyakinan bahwa Ia akan melepaskan kita dari kejahatan dunia. Kedatangan kita adalah suatu bentuk usaha untuk sembuh, karena kehadiran-Nya adalah untuk menyembuhkan, menyelamatkan. Selain itu, sebagai murid Yesus, kita juga diajak untuk mampu menanggapi situasi sesama kita yang mungkin terbelenggu oleh kekuasaan setan. Kita melakukan hal yang sama seperti Yesus, membantu melepaskan belenggu-belenggu kejahatan dari sesama kita. Dengan demikian kita turut ambil bagian dalam misi Yesus, yakni menyelamatkan.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]