Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juli 2022
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juli 2022
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 17 Juli 2022
Hari Minggu Biasa XVI
Kej. 18:1-10A
Kol 1:24-28
Luk. 10:38-42
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Bacaan Injil yang baru saja kita dengarkan memang amat singkat. Namun, bila kita sungguh merenungkannya, injil hari ini adalah injil yang indah dan memiliki makna yang mendalam bagi hidup kita sebagai orang-orang kristiani. Dalam injil tadi Santo Lukas, sang penginjil, mengisahkan kunjungan Yesus dan para murid-Nya ke rumah Maria dan Marta, saudari-saudari Lazarus. Dengan cara mereka masing-masing, kedua saudari Lazarus ini menunjukkan keramahtamahan kepada Yesus. Maria menunjukkan keramahtamahannya kepada Yesus dengan sebuah tindakan, yakni duduk di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan-Nya. Sedangkan Marta, untuk menunjukkan keramahtamahannya kepada Yesus, sibuk menyiapkan segala sesuatu dan melayani Yesus.
Sikap Maria yang hanya duduk dan mendengarkan Yesus, pada akhirnya, membuat Marta menjadi gusar. Ia tidak senang dan “tidak setuju dengan sikap saudarinya yang membiarkannya seorang diri melayani para tamu …”. Rasa tidak senang Marta itu pun juga tertuju kepada Yesus. Bagi Marta, Yesus seakan-akan menyetujui sikap Maria, saudarinya, yang tidak berbuat-buat apa selain duduk dan mendengarkan. Karena itu, Maria memberanikan diri menghampiri Yesus dan berkata kepada kepada-Nya: “Tuhan tidakkah Tuhan peduli bahwa saudariku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Jawaban Yesus pun sungguh di luar dugaan Marta. Dengan penuh cinta Yesus justru menegur Marta: “Marta, Marta engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu: Maria telah mengambil bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya”.
Saudara-saudari yang terkasih
Jawaban Yesus kepada Marta mau mengundang kita untuk memberi perhatian kepada hal yang paling sulit untuk kita lakukan, yaitu memberi waktu untuk hening dan mendengarkan Tuhan. Yesus menegaskan bahwa duduk mendengarkan-Nya “adalah bagian yang (ter)baik dan itulah yang paling perlu dalam hidup ini”. Teguran Yesus kepada Marta dan pujiannya kepada Maria tidak berarti bahwa Yesus tidak suka terhadap mereka yang bekerja, melayani, memiliki banyak kegiatan dan aktivitas. Bukan. Sebaliknya, dengan teguran-Nya kepada Marta, Yesus hendak membantu Marta agar tidak menjadi budak dari pekerjaan dan karena itu lupa untuk menyiapkan dan memberi waktu khusus bagi Tuhan.
Tidak dapat dipungkiri bahwa “Banyak orang terjebak dalam kesibukan seperti Marta. Terlalu banyak kegiatan dan aktivitas. Orang bekerja seolah-olah tidak ada lagi hari esok.” Karenanya hidup mereka penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran. Kecemasan dan kekhawatiran, sesungguhnya, adalah tanda yang jelas dan pasti dari rapuh dan lemahnya iman seseorang karena ia menyakini bahwa hidupnya bergantung dari banyaknya pekerjaan dan penghasilan yang diperoleh dan bukan bergantung pada kasih dan penyelenggaran Tuhan.
Tuhan Yesus sendiri sebenarnya telah mengingatkan kita bahwa hidup kita di dunia ini berasal dari Tuhan dan berada penyelenggaraan kasih-Nya. Karena itu, Ia menasihati kita para murid-Nya agar jangan cemas dan kuatir akan hari esok, “karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Ia justru meminta kepada kita agar pertama-tama mencari Allah dan kebenaran-Nya, maka segala yang kita butuhkan dalam hidup, makan ataupun pakaian, akan diberikan bahkan ditambahkan kepada kita. Bila Allah Bapa di surga memberi makan kepada burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, apalagi kita, manusia, yang telah Ia ciptakan seturut gambar dan rupa-Nya. Keagungan dan besarnya cinta Allah bagi hidup kita, bahkan lebih dari seorang ibu. Lewat perantaraan nabi Yesaya, Allah bersabda: “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukisakan engkau di telapak tangan-Ku” (yes. 49:15-16).
Saudara-saudari yang terkasih
Hari ini Yesus mengingatkan bahwa bagian terbaik dalam kehidupan kita selama sehari adalah hening dan mendengarkan Tuhan. Apa artinya “hening dan mendengarkan Tuhan itu?” Artinya ialah dalam sehari mengambil waktu yang cukup untuk berhenti sejenak dan hening di hadapan Tuhan untuk mendengarkan Dia. Hening dan mendengarkan suara Tuhan akan memberikan kepada kita keberanian, ketenangan dan kekuatan baru untuk berjuang dan berusaha setiap hari. Hening dan mendengarkan suara Tuhan akan mengarahkan hidup kita kepada apa yang baik, yang suci, dan yang mulia serta memberi kita kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, antara kepalsuan dan kebenaran dari segala sesuatu yang dunia tawarkan kepada kita setiap hari.
Agar semua itu dapat kita capai tentu saja, kita perlu hening dan mendengarkan Tuhan. Hanya itu. “Jika kita pergi berdoa, misalnya, di depan Salib, dan kita berbicara, berbicara, berbicara, dan kemudian kita pergi, kita tidak mendengarkan Yesus. Kita tidak mengizinkannya berbicara dalam hati kami.” Itulah sebabnya mengapa Rasul Yakobus berani berbicara tentang cara berdoa yang salah. Rasul Yakobus berkata: “... kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:3). Doa adalah sebuah komunikasi personal antara Allah dan manusia. Doa akan sungguh mendatangkan manfaat dan kebaikan bagi hidup manusia apabila ia memberikan tempat yang pertama dan utama kepada Tuhan untuk berbicara dan bukan dirinya dan daftar permohonan-permohonannya.
Para pertapa memiliki aturan hidup demikian: “Jangan mendahulukan apapun sebelum pekerjaan Tuhan”. Maka, “Rasanya sulit mengatasi kesulitan dalam hidup kalau kita tidak menyediakan waktu khusus untuk berada bersama Tuhan. … . Orang tidak bisa hanya berdoa saja dan lupa bekerja. Sebaliknya, orang tidak bisa bekerja saja dan lupa berdoa”. Pekerjaan maupun doa-doa kita akan mendatangkan kekuatan, ketenangan dan kebahagiaan yang sejati bila kita menempatkan Tuhan dan memberikan waktu bagi-Nya untuk menyapa, menghibur, dan bahkan menegur kita. Tuhan memberkati. P. Hilario D.N. Nampar, Pr.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 24 Juli 2022
Hari Minggu Biasa XVII
Kej. 18:20-32
Kol. 2:12-14
Luk. 11:1-13
RENUNGAN HARI INI
BBapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Di dalam Injil yang baru saja kita dengarkan, Santo Lukas, penulis Injil, mengisahkan kepada kita Yesus yang mengajari para murid-Nya berdoa. Para murid, sesungguhnya, bukanlah orang-orang yang tidak pernah berdoa. Sebagai orang Yahudi yang menerima pendidikan iman sejak kecil, berdoa kepada Yahweh, satu-satunya Allah yang Esa, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan para murid Yesus. Jika demikian, mengapa mereka masih meminta kepada Yesus untuk mengajari mereka berdoa?
Alasan di balik permintaan para agar Yesus mengajari cara berdoa ialah karena para murid terpesona dengan cara Yesus Kristus, sang guru berdoa. Para murid terpesona karena melihat bahwa Yesus tidak berdoa seperti guru-guru lain pada waktu itu. Cara Yesus berdoa memancarkan sebuah ikatan yang amat intim, dekat, dan mendalam dengan Allah Bapa. Para murid pun amat merindukan persatuan seperti yang dialami oleh Yesus, guru mereka ketika Ia berdoa. Karena itu, Yesus mengajarkan doa “Bapa Kami” dan menganugerahkan doa itu kepada para murid-Nya sebagai sebuah anugerah yang perlu dilestarikan, diwariskan, dan diajarkan dari masa ke masa hingga kita saat ini.
Saudara-saudari
Doa “Bapa Kami” yang Yesus ajarkan kepada para murid-Nya dan yang senantiasa kita doakan adalah contoh doa kristiani yang baik dan benar. Doa itu tidak bertele-tele seperti “kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah’ sehingga “Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan” (Lih. Mat. 6:5-18). Karena itu, dalam doa “Bapa Kami” Yesus, pertama-tama, memperkenalkan kepada para murid-Nya wajah dan identitas yang sebenarnya dari Allah yang merupakan tujuan utama dari doa mereka. Allah kita adalah seorang Bapa dan kita adalah anak-anak kesayangan-Nya.
Untuk membuat para murid-Nya mengerti, maka Yesus memberikan dua perumpamaan yang mengisahkan tentang relasi antara dua orang sahabat dan relasi antara seorang bapak dengan anaknya. Perumpamaan yang pertama berbicara tentang seorang sahabat yang datang tengah malam dan membangunkan sahabatnya yang sedang tidur demi memperoleh tiga potong roti untuk menjamu seorang sahabatnya yang lain. Lewat perumpamaan itu, Yesus hendak memperlihatkan kepada mereka bahwa “Tuhan bukanlah seorang sahabat yang sudah punya waktu tidur dan tidak boleh diganggu. Dia dapat didekati pada segala waktu”. Dari perumpamaan kedua Yesus hendak mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa kasih Allah kepada kita, anak-anak-Nya, lebih besar dari kasih kasih seorang ayah manapun di dunia ini. lebih dari seorang bapak, Tuhan tidak pernah mau mencelakan kita. Ia tidak hanya akan memberikan apa yang kita butuhkan, tetapi juga memberikan kepada sesuatu yang lebih berharga dan jauh lebih tinggi dari apa yang kita harapkan. Hal berharga itu ialah Roh Kudus, Roh-Nya sendiri yang akan membimbing hidup kita di jalan kebaikan, kebijaksaan dan cinta.
Saudara-saudari
Setelah memperlihatkan wajah dan identitas Allah yang sejati, maka Yesus tibalah saatnya bagi Yesus untuk mengajarkan cara berdoa yang baik dan benar. Setelah memanggil Allah dengan sapaan Bapa, Yesus tidak memulai doanya dengan permintaan, tetapi dengan “mencari Tuhan dan mendambakan agar kerajaan-Nya datang”. Apa maksud dari bagian pertama doa Yesus ini? Doa Yesus dan doa kristiani adalah sebuah doa yang memberi tempat yang pertama dan utama kepada Tuhan. Semangat doa “Bapa Kami” adalah pertama-tama mencari Tuhan dan memberikan kepada-Nya tempat yang utama dan pertama untuk berbicara dalam doa dan hidup kita.
Bagaimanakah dengan doa-doa kita selama ini? Harus kita akui bahwa doa-doa kita selama ini kerapkali terpusat pada diri kita sendiri. “Kita menghadap Tuhan dan yang pertama kita minta adalah sesuatu untuk diri kita sendiri”. Ketika berdoa, kita mendaftarkan keinginan dan kebutuhan kita lalu memintanya kepada Tuhan supaya dikabulkan. Tanpa kita sadari, dalam doa, kita memperlakukan Tuhan “seolah-olah sebagai sumbat botol yang akan digunakan selama masih ada isinya. Dengan kata lain, orang (kita) berdoa kalau ia (kita) membutuhkan sesuatu dari Tuhan”. Karenanya, tatkala doa kita belum juga dikabulkan kita menjadi tidak sabar dan bahkan marah kepada Tuhan. Itulah sebabnya mengapa Rasul Yakobus berani berbicara tentang cara berdoa yang salah. Rasul Yakobus berkata: “... kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu” (Yak. 4:3).
Berdoa kepada Allah “berarti menanti dengan penuh kesabaran. Bukan kita yang menentukan kapan doa kita dikabulkan, tetapi Tuhan. Apabila doa kita sangat lambat didengarkan, janganlah kita menduga bahwa Tuhan sudah tidak mendengarkan doa kita”. Tuhan selalu mendengarkan doa-doa kita dan pada saat yang sama Ia pun tahu apa yang sesungguhnya paling kita butuhkan. Terkadang kita mengalami bahwa permohonan kita bertepuk sebelah tangan; yang kita mohonkan hal lain, yang kita terima malahan tidak ada bahkan “derita” karena harus menunggu. Nampak bahwa Allah sepertinya tidak mendengarkan doa kita, tetapi yang sesungguhnya adalah Allah mendengar dan sedang merancang serta mempersiapkan karya indah-Nya yang akan membuat kita tak henti-hentinya bersyukur bahkan mampu bersyukur atas pengalaman kegagalan dan penderitaan yang sebelumnya kita alami. Kesabaran dan ketekunan dalam doa pasti akan berbuah manis.
Saudara-saudari
Doa “Bapa Kami” yang hari ini kita renungkan bersama mengajarkan sekali lagi bagaimananya caranya berdoa yang baik. Doa adalah dialog, komunikasi personal antara Allah, Bapa dengan kita anak-anak-Nya. Artinya, kita perlu memberi tempat pertama dan utama kepada Allah untuk berbicara dan kita mendengarkan perkataan dan kehendak-Nya bagi kita. Baru setelah itu, pada tempat yang kedua, kita berbicara dan menyampaikan hal yang kita butuhkan kepada Tuhan. Dan, pada akhirnya, kita perlu senantiasa ingat bahwa sebuah doa kristiani yang baik adalah doa yang didasari oleh kepercayaan penuh kepada Allah Bapa yang Mahabaik dan diteguhkan oleh kesabaran dan ketekunan. Itulah semangat doa “Bapa Kami”. Semoga semangat doa “Bapa Kami” meresapi doa-doa kita dan hidup kita setiap hari.
P. Hilario D.N Nampar,Pr
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi, Minggu, 31 Juli 2022
Hari Minggu Biasa XVIII
Pkh. 1:2; 2:21-23
Kol. 3:1-5.9-11
Luk. 12:13-21
RENUNGAN HARI INI
Bapa, Ibu. Saudara-saudari yang terkasih
Injil hari ini (bdk. Luk 12:13-21) dibuka dengan adegan seorang pria yang berdiri di antara orang banyak dan meminta Yesus untuk menyelesaikan perselisihannya dengan sang kakak perihal pembagian harta warisan. Terhadap permintaan orang itu, Yesus menolak untuk menjadi penengah. Yesus datang bukan untuk menjadi hakim atas perkara-perkara duniawi. Karena itu, Dia lalu mengalihkan pembicaraan untuk memberi peringatan tentang salah satu bahaya yang sangat mengancam hidup manusia yakni soal ketamakan.
Peringatan-Nya itu, Ia sampaikan melalui sebauh kisah. Yesus menceritakan perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh karena percaya bahwa dia akan bahagia dan merasa aman karena memiliki harta yang berlimpah-limpah. Orang kaya ini disebut “bodoh” karena tidak tahu dan sadar bahwa harta yang berlimpah-limpah tidak dapat memperpanjang umur, memberi kenikmatan, dan dapat menyelamatkan atau menentukan perjalanan hidup manusia. Ia lupa bahwa, ketika mati, segala kemuliaan dan hartanya tidak akan turun bersamanya ke dalam liang kubur (bdk. Mzm. 49:18). Hidup manusia itu ada di dalam tangan Tuhan dan tidak bergantung pada harta. Orang kaya, dalam perumpaan Yesus hari ini, benar-benar “bodoh” karena ia tidak tahu untuk apa ia hidup dan dari mana segala keberhasilannya. Dia hanya hidup untuk dirinya sendiri. Dia hanya mau mencari kenikmatan. Tuhan tidak pernah dipikirkan, dipedulikan, bahkan diyakini kekuasaan-Nya atas kehidupan.
Saudara-saudari yang terkasih
Perumpamaan Yesus hari ini mengajak kita untuk menghindari keserahakan. Keserakahan membutakan mata hati manusia dan membuat orang hanya melihat kenikmatan hidup dan kehormatan. Segala sesuatu yang lain, termasuk Tuhan, dengan sendirinya lepas dari perhatiannya. Kita, orang-orang beriman tentu saja tahu akan hal ini, tetapi apakah kita sudah sungguh berusaha melepaskan diri dari keserahakan itu?
Dengan penuh kerendahan hati harus kita akui bahwa meskipun kita tahu bahwa kehidupan itu tidak bergantung pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi sulit bagi kita untuk lepas dari keserakahan karena harta kekayaan itu selalu menggoda manusia dengan kenikmatan. Kita kerapkali lupa nasihat kitab pengkhotbah yang kita dengarkan tadi. Tidak ada yang abadi di muka bumi ini. Hidup manusia, hikmat, pengetahuan dan kecakapan serta segala sesuatu yang manusia miliki akan sirna seiring waktu. Hidup manusia itu ibarat rumput yang pada masanya akan menjadi kering dan mati (bdk. 1Pet.1:24).
Tuhan tahu bahwa tidak mudah bagi kita untuk melepaskan diri dari jerat keserakahan. Karena itu, Ia mengajak kita, para murid-Nya, untuk berusaha menjadi orang-orang yang “kaya di hadapan Allah”. Apa artinya ajakan Yesus kepada kita untuk “menjadi kaya di hadapan Allah”? Rasul Paulus dalam bacaan kedua memberikan kepada kita sebuah jawaban yang jelas: “Pikirkanlah perkara di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati, dan hidupmu tersembunyi dengan Kristus dalam Allah. Kristuslah hidup kita”. Artinya ialah bahwa sembari kita berpijak pada bumi ini, kita tidak pernah boleh lupa bahwa hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki itu berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Apa yang kita miliki, sesungguhnya, bukanlah adalah pemberian dari Allah yang dipercayakan-Nya kepada kita untuk jangka waktu tertentu. Sesudah waktunya tiba, kita akan mempertanggungjawabkan kembali penggunaan harta itu kepada pemiliknya, yakni Tuhan sendiri.
Maka, “menjadi kaya di hadapan Allah” juga berarti “mengumpulkan harta di surga” dimana “ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya”. Artinya, ialah senantiasa berusaha untuk lebih banyak memberi daripada menerima sebab bukan barang dan kerakusan tetapi cinta dan amal yang memelihara kehidupan hingga keabadian. Karena itu, ketika kita hendak memberi dan berbagi dengan sesama yang berkekurangan hendaknya yang kita pikirkan pertama-tama janganlah nominalnya tetapi buahnya, yakni manfaat bagi sesama dan diri kita sendiri (bdk. Flp. 4:17).
Saudara-saudari yang terkasih
Sembari merenungkan perumpamaan Yesus dalam Injil hari ini, kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing: Bagaimanakah kita mengatur kehidupan kita? Apakah Allah menjadi pusat kehidupan kita? Bagaiamanakah pula kita mengelola harta yang kita peroleh? Apakah harta itu sudah membuat kita menjadi kaya di hadapan Allah karena berbagi atau justru sebaliknya, kita justru menjadi miskin di hadapan Allah karena serakah? Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membantu kita untuk melepaskan diri dari keserahakan dan berusaha untuk menjadi semakin kaya di hadapan Allah, Sang Pencipta dan Pemilik Kehidupan. Tuhan memberkati.
P. Hilario D.N. Nampar, Pr.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .