Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juli 2021
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Juli 2021
Hari Biasa Pekan XIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 22:1-19
Mzm. 116:1-2,3-4,5-6,8-9
Mat. 9:1-8
RENUNGAN HARI INI
"Mereka kemuliakan Allah kerena Ia telah memberikan kuasa sedemikian besar kepada manusia". Putera Allah, yakni Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa. Kini kuasa ini telah diteruskan oleh-Nya bagi para Rasul (lih. Yoh 20:23), dan tampak secara nyata dalam Sakramen Tobat di mana Uskup dan pembantu Uskup, yakni imam memiliki kuasa untuk mengampuni dosa dalam nama Tuhan. Kuasa yang demikian besar ini diberikan Tuhan dengan tujuan keselamatan bagi banyak orang. Semakin banyak orang yang mengalami rahmat pengampunan Tuhan, maka semakin banyak pula yang memperoleh keselamatan dan sukacita. Begitulah cara Tuhan menunjukkan kasih-Nya sekaligus menyatakan jati diri-Nya seperti yang diserukan pemazmur; "Tuhan adalah pengasih dan adil, Allah kita Maha Penyanyang."
Jika Tuhan begitu mengasihi kita, maka apa sikap kita sebagai tanggapan atas apa yang sudah Dia tunjukkan bagi kita?
[Thedy Koten]
Hari Biasa Pekan XIII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 23:1-4, 19;24:1-8, 62-67
Mzm. 106:1-2,3-4a,4b-5
Mat. 9:9-13
RENUNGAN HARI INI
Dalam kehidupan bersama, sikap hidup dalam kasih dan persaudaraan menjadi hal yang sangat penting. Namun hal ini sering kali tidak diperhatikan, bahkan tidak disadari. Hal-hal yang baik, penuh kasih dan saling menghargai menjadi modal baik bagi kita untuk hidup bersama di tengah keberagaman. Bacaan Injil yang mengisahkan tentang peristiwa Yesus bertemu dengan para pemungut cukai dan orang berdosa menyadarkan kita akan kerendahan hati dan kasih-Nya yang mendalam. Yesus tidak melihat dan menganggap bahwa Dia adalah Guru, Seorang yang berwibawa yang harus dihormati dan tidak perlu bergaul dengan para pemungut cukai. Justru Yesus datang dan makan bersama dengan mereka. Namun hal ini menjadi aneh bagi orang Farisi. Mereka berkomentar miring, dan menilai hal itu tidak seharusnya dilakukan oleh Yesus. Hal inilah yang perlu kita sadari. Sering kali sikap mudah menilai dan memberi komentar miring muncul ketika melihat sesama kita. Terkadang kita juga menganggap bahwa mendekati orang yang tidak punya kelebihan, orang yang tidak mampu, atau yang dianggap “berdosa” bukanlah hal mudah. Kita kerap tidak mau mendekati, atau bergabung dengan mereka. Apa yang dilakukan Yesus ini pun hendak menegur dan memberi kesadaran kepada kita bahwa tidak perlu merasa paling baik, atau sempurna. Sebab kehadiran kita adalah untuk saling berbagi, saling membantu. Yesus datang untuk menjadi “dokter” bagi manusia yang sakit, baik secara rohani maupun jasmani. Maka kita pun ambil bagian dalam karya Yesus itu, hadir dan menjadi “dokter” bagi sesama kita, dan itu adalah perbuatan kasih. Demikian kata Yesus: “Yang Ku-Kehendaki ialah kasih dan bukan persembahan”. Kasih menyatukan kita untuk saling berbagi, rukun, tidak membeda-bedakan, dan selalu rendah hati.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Sabtu, 03 Juli 2021
Pesta Santo Thomas Rasul
[Warna Liturgi : Merah]
Bacaan Liturgi:
Ef. 2:19-22
Mzm. 117:1,2
Yoh 20:24-29
RENUNGAN HARI INI
Kita merenungkan bacaan Injil yang mengisahkan Rasul Tomas yang mengalami pergulatan imannya. Pengalaman Rasul Tomas ini memberi kesadaran kepada kita untuk mengakui iman kita yang sama yakni percaya kepada Yesus yang bangkit. Awalnya Rasul Tomas ragu-ragu dan tidak percaya ketika teman-temannya menceritakan bahwa mereka melihat Yesus. Ia mengatakan bahwa bila tidak ada bukti yang jelas maka ia tidak akan percaya. Kekerasan hati dari Rasul Tomas pun kemudian diluluhkan oleh kehadiran Yesus. Rasul Tomas diminta oleh Yesus untuk melihat, meraba, dan mencucukkan jarinya ke dalam bekas luka Yesus agar ia percaya. Tetapi Rasul Tomas kemudian langsung percaya dan mengakui-Nya. Pengalaman ini menjadi suatu peristiwa yang sangat penting dan mendalam bagi kita. Kita saat ini juga mungkin sering mengalami dan merasa tidak percaya akan sesuatu bila tanpa bukti. Bahkan kepada Yesus pun kita kerap masih ragu. Yesus memberikan bukti yang sangat jelas kepada kita bahwa Dia adalah Allah yang hidup. Rasul Tomas telah mengakuinya dengan berkata: “Ya Tuhanku dan Allahku!”. Belajar dari Rasul Tomas, maka kita pun diajak untuk memiliki iman yang teguh. Kita diajak untuk percaya walaupun tidak melihat Tuhan secara langsung. Yesus telah memberikan jaminan kebahagiaan bagi kita, bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Bahkan kita adalah orang-orang yang berbahagia karena tidak melihat-Nya namun percaya. Sungguh suatu kalimat pujian dan ucapan selamat dari Yesus kepada kita. Tentu ini menjadi kegembiraan bagi kita, dan suatu hal yang patut disyukuri. Oleh karena itu, kita terus-menerus memupuk iman kita kepada Yesus, dan mengundang-Nya untuk hadir dalam hidup kita, sehingga kita pun boleh berkata “Ya Tuhanku dan Allahku”.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Minggu, 04 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XIV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Yeh 2:2-5
Mzm 123:1-2a,2bcd, 3-4
1Kor. 12:7-10
Mrk 6:1-6
RENUNGAN HARI INI
Pengalaman ditolak adalah suatu hal yang memang tidak mengenakkan. Apalagi yang menolak adalah orang-orang terdekat. Inilah yang dialami oleh Yesus dalam kisah yang diceritakan oleh Markus pada hari ini. Yesus mengalami penolakan ketika Dia hendak melakukan kegiatan, memberikan pelayanan di tempat asal-Nya. Jelas dikatakan bahwa yang menolak-Nya adalah orang-orang yang mengenal Dia dan keluarga-Nya. Alasan penolakan itu adalah karena latar belakang hidup Yesus, yang mereka kenal sebagai seorang anak tukang kayu, dan lainnya. Kisah yang cukup menarik dan menyadarkan kita bahwa dalam kehidupan setiap hari, dan dalam waktu tertentu kita pun mengalami hal yang sama. Pertanyaan refleksi bagi kita adalah apakah kita yang dekat dengan Yesus melakukan hal yang sama, yakni menolak-Nya? Atau kita menerima-Nya dengan hati terbuka dan gembira? Kita dapat mengatakan bahwa kita menerima Yesus dalam bila kita mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita menerima keluarga, sahabat dan kenalan kita dengan gembira. Bahkan menerima siapa pun tanpa memandang latar belakang keluarga, suku atau status ekonominya. Inilah yang mau diajarkan Yesus kepada kita bahwa kita perlu memiliki sikap yang penuh kasih kepada siapa pun. Kita tidak memandang orang lain dari status dan latar belakang keluarganya. Tetapi kita menerima seseorang karena ia adalah sesama kita di hadapan Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
Hari Biasa, Pekan Biasa XIV
Warna Liturgi: Hijau
Kej 28:10-22a
Mzm 91:1-2.3-4.14-15ab
Mat 9:18-26
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Selasa, 06 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XIV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 32:22-32
Mzm 17:1.2-3.6-7.8b.15
Mat 9:32-38
RENUNGAN HARI INI
"Tuaian memang banyak, tetapi sedikitlah pekerjanya!" Jika sejenak merenung, kita akan sadar bahwa jumlah umat Katolik dengan para gembalanya tak sebanding. Banyak umat di daerah pelosok dan terpencil tak pernah mendapatkan kunjungan dari pastor atau gembalanya. Bahkan di daerah perkotaan pun pelayanan umat oleh para gembalanya tak maksimal karena jumlah umat yang begitu banyak. Situasi ini semakin diperparah oleh wabah covid-19 yang tidak hanya merenggut nyawa umat, tetapi juga banyak gembala umat. Kita masih cemas dan takut akan wabah yang tak tahu kapan waktunya akan berakhir. Berharap pada belas kasihan Allah adala satu-satunya pilihan dan sikap iman yang benar. Sembari kita memohon kemurahan kasih Allah, kita juga terus memohon anugerah panggilan yang boleh Allah semaikan dalam diri kaum muda agar kelak dapat menjadi gembala yang terus mewarisi tugas kegembalaan yang dipercayakan oleh Yesus, Tuhan dan Guru kita.
[Thedy Koten]
Kalender Liturgi Rabu, 07 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XIV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 41:55-57; 42:5-7a, 17-24a
Mzm 33:2-3, 10-11, 18-19
Mat 10:1-7
RENUNGAN HARI INI
"Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel". Pesan perutusan yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid kini diperuntukkan bagi kita. Kita adalah murid Yesus yang dipanggil dan diutus untuk melanjutkan tugas kenabian. Tugas perutusan ini termaktub dalam imamat umum yang disematkan pada kita dalam Sakramen Baptis, dan kemudian disempurnakan kembali dalam Sakramen Krisma.
Domba-domba yang hilang adalah mereka yang sering terlupakan, terabaikan, orang miskin dan susah. Kita dipanggil untuk menjadi sahabat yang menemani, menghibur dan membantu mereka di kala dibutuhkan.
Pertanyaan Refleksi: Bagaimana sikap kita ketika berjumpa dengan orang miskin dan susah di jalanan?
[Thedy Koten]
Kalender Liturgi Kamis, 08 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XIV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 44:18-21, 23b-29; 45:1-5
Mzm 105:16-17,18-19,20-21
Mat 10:7:15
RENUNGAN HARI INI
"Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma". Kehidupan adalah anugerah yang kita peroleh dari Tuhan dengan cuma-cuma. Kita hanya diberi tanggung jawab untuk menjaga dan merawat kehidupan kita. Namun tak sedikit pula orang yang mengabaikan tanggung jawab ini dengan menjerumuskan dirinya dalam hal yang justru membahayakan bagi kehidupannya sendiri. Rasa tanggung jawab dalam menjaga kehidupan pribadi adalah ungkapan syukur pada Tuhan atas anugerah-Nya. Hal ini pun menjadi tolok ukur dalam kepedulian kita bagi orang lain. Kita tidak mampu melakukan apapun bagi orang lain dengan lebih baik, jika kita masih lalai untuk mengurus diri sendiri. Mulailah dari diri sendiri dan kemudian berbagi kasih orang lain untuk mengungkapkan rasa syukur kita pada Tuhan.
[Thedy Koten]
Kalender Liturgi Jumat, 09 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XIV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kej. 46:1-7, 28-30
Mzm 37:3-4, 18-19, 27-28, 39-40
Mat 10:16-23
RENUNGAN HARI INI
"Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala!" Setiap perutusan adalah panggilan yang menuntut tanggung jawab. Tanggung jawab itu adalah kesiap-sediaan untuk menerima apapun konsekuensi yang dihadapi. Terkadang konsekuensinya tergolong amat berat, bahkan sangat mebahayakan diri sendiri. Saat itulah komitmen kita sungguh diuji.
Yesus mengingatkan bahwa perutusan yang dipercayakan kepada kita sebagai murid-muridNya tidaklah selalu mudah. Dalam bahasa sederhana, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Yesus atau murid Yesus sama sekali tidak menjamin kenikmatan dan kebahagiaan semata. Orang kerap berprasangka bahwa hidupnya otomatis akan membaik setelah menjadi Katolik. Pesan injil hari ini menepis segala prasangka itu. Kita justru sebaliknya diutus untuk menghadapi situasi sulit kehidupan yang menuntut keteguhan iman kita. Itulah salib kehidupan yang harus kita pikul. Tanpa salib tidak ada kebangkitan, demikianpun tanpa kesulitan tidak akan ada kenikmatan atau kebahagiaan.
[Thedy Koten]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Kalender Liturgi Senin, 12 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel.1:8-14.22
Mat 10:34-11:1
RENUNGAN HARI INI
Dengan hati yang terbuka manusia menanggapi panggilan Tuhan untuk menjadi pengikut-Nya. Hari ini Yesus memberikan peneguhan dan penegasan bahwa seorang yang hendak menjadi pengikut-Nya harus lepas bebas dan siap menanggung setiap hal yang tidak mengenakkan. Yesus menuntut suatu keterbukaan bagi siapa pun yang menjadi murid-Nya. Seorang itu harus berani meninggalkan segalanya, ayah, ibu, sanak saudara, singkatnya orang-orang yang dikasihinya untuk mengasihi Dia, dan demi Kerajaan Allah. Kita sebagai murid-murid-Nya juga dipanggil dan dituntut untuk menyadari hal ini. Panggilan kita adalah untuk menjadi pengikut atau murid Yesus yang selalu menyambut-Nya dan mengasihi-Nya. Bahkan kasih yang kita tunjukkan mesti melebihi kasih kita kepada orang-orang terdekat. Kita juga diminta untuk berani melepaskan orang-orang terdekat, bahkan mereka yang kita kasihi. Beranikah kita melakukan itu semua? Atau apakah kita mampu melakukannya demi Yesus, demi Kerajaan Allah? Kita dipanggil dan diajak untuk menyadari bahwa panggilan itu adalah suatu pilihan, dengan segala risiko yang mesti kita tanggung. Walaupun kita merasa berat, tetapi dengan hati yang terbuka kita akan mampu menjalaninya. Kita menanggapi panggilan Yesus itu untuk mewartakan Injil, melayani orang miskin, menyembuhkan orang sakit, dan memperhatiakn siapa pun. Sebab kasih yang diminta oleh Yesus terwujud dalam setiap kasih yang kita tunjukkan kepada sesama. Dan semua itu dijamin oleh Yesus sendiri bahwa setiap orang yang melakukan itu tidak akan kehilangan upahnya. Semoga kita berani terbuka dan terus-menerus dengan penuh kasih mengutamakan kebaikan sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan, dan bukan oleh kehendak kita sendiri.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Selasa, 13 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 2:1-15a
Mat 11:20-24
RENUNGAN HARI INI
Pertobatan adalah jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Semangat pertobatan hendaknya tidak berkurang di kala banyak peristiwa yang di alami manusia. Hari ini Yesus memberikan kritikan atau kecaman kepada mereka yang tidak mau bertobat. Yesus menghendaki agar orang-orang pada waktu itu percaya akan apa yang telah Ia perbuat. Hal yang membuat Yesus merasa perlu mengkritik orang-orang itu adalah karena kekerasan hati mereka. Apa yang telah dibuat Yesus, bahkan yang mereka saksikan sendiri pun masih tidak mereka percayai. Hal ini kiranya menyadarkan kita akan makna pertobatan dalam pengalaman hidup sehari-hari. Apa yang terjadi kerap dimaknai oleh manusia sebagai suatu kebetulan atau kejadian yang sudah mesti terjadi. Tetapi bagi kita yang beriman dan mengimani Allah sebagai pemberi hidup, segala yang terjadi bahkan di depan mata kita adalah rencana dan karya Allah, dan bukan kebetulan belaka. Inilah yang dikehendaki oleh Yesus, bahwa kita mesti memiliki hati yang terbuka untuk mengakui bahwa sesungguhnya karya Tuhanlah itu. Kita diajak untuk selalu rendah hati, dan terlebih melembutkan hati setiap hari. Sebab seringkali kelembutan dan kerendahan hati nampak sulit di kala hidup sehari-hari terbiasa diliputi sikap hati yang keras. Maka kita dapat datang kepada Yesus dan berkata: “Tuhan lembutkanlah hatiku agar aku dapat menjalani hidup dan percaya serta menerima Engkau.”
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Rabu, 14 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 3:1-6.9-12
Mat 11:25-27
RENUNGAN HARI INI
Ucapan syukur adalah tanda bahwa seorang merasa gembira karena menerima suatu pemberian, atau berkat dalam bahasa iman. Hal ini terlihat dengan jelas dari perkataan Yesus. Dia mengucap syukur kepada Bapa-Nya yang memberikan berkat bagi-Nya dalam setiap usaha dan tugas pelayanan-Nya di dunia. Alasan Yesus untuk bersyukur dan bersukacita karena dalam pelayanan-Nya, Ia berjumpa dengan orang-orang yang mau menerima-Nya. Ia menjumpai orang-orang kecil dan sederhana, yang lemah dan bahkan yang menderita. Tentu Yesus menyadari bahwa semua itu adalah kasih dan pemberian berkat dari Bapa-Nya. Itulah mengapa Dia melambungkan syukur. Hal yang dapat kita lihat dan patut menjadi teladan bagi kita sebagai pengikut-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari kita pun diajak untuk selalu mengucap syukur kepada Tuhan di tengah pergulatan hidup. Kita diajak untuk mampu melihat hal-hal baik yang dianugerahkan Tuhan, dan itulah yang perlu kita syukuri. Dalam pelayanan kita mampu menemukan hal-hal sederhana, kecil dan bahkan tak berarti di mata orang lain. Tetapi sesungguhnya itu sangat berarti bagi kita. Yesus sendiri memberikan penegasan bahwa yang dapat mengenal Bapa adalah orang kepadanya Ia berkenan menyatakan. Maka kita yang telah diterima menjadi murid Yesus sesungguhnya telah diperkenankan mengenal Bapa. Dengan demikian kita pun sungguh merasa bersyukur karena berkat itu. Semoga dalam hidup, pengabdian dan pelayanan kita selalu mengucap syukur kepada Dia. Yesus telah melakukan-Nya untuk menjadi teladan bagi kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Kamis, 15 Juli 2021
PW. S. Bonaventura (UskPujG)
[Warna Liturgi : Putih]
Bacaan Liturgi:
Kel. 3:13-20
Mat 11:28-30
RENUNGAN HARI INI
Perjalanan hidup memang kerap terasa begitu berat. Banyak beban yang mesti kita alami. Ketika begitu banyak pengalaman berat yang membuat kita kadang merasa putus asa, menderita dan frustasi, kita diteguhkan oleh Yesus pada hari ini. Sebagai pengikut Yesus, kita merasa dikuatkan dengan pesan Injil pada hari ini. Kita diajak oleh Yesus untuk datang kepada-Nya sehingga Dia dapat memberikan kelegaan. Ajakan ini memang sesuatu tidak mudah, karena membutuhkan keyakinan yang kuat. Di tengah beban penderitaan dan keletian yang kita alami, Yesus menawarkan suatu jalan yakni kembali kepada-Nya. Artinya bahwa setiap hal yang kita rasakan, yang mungkin menjadi beban akan terasa menggembirakan bila kita menyadari bahwa Yesus akan membantu kita. Hal ini membutuhkan iman. Kita dapat datang kepada-Nya melalui cara kita, berdoa dan selalu mengandalkan Dia. Bila ada persoalan, sadarilah bahwa mungkin Tuhan menyediakan yang lebih baik. Dia juga selalu mengajak kita untuk belajar kepada-Nya. Setiap persoalan mestinya kita hadapi dengan hati terbuka, penuh kerendahan hati dan kelembutan. Sebagaimana Yesus telah melakukannya dalam pelayanan-Nya, bahkan Dia memikul beban salib tanpa mengeluh. Kelembutan hati-Nya ketika menghadapi ejekan dan hasutan orang-orang yang tidak menyukai-Nya juga adalah bukti dan teladan bagi kita. Oleh karena itu marilah kita berusaha untuk selalu datang kepada-Nya dan dan belajar dari-Nya. Dia adalah teladan kesabaran, kerendahan hati dan kelembutan.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Jumat, 16 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 11:10-12:14
Mat. 12:1-8
RENUNGAN HARI INI
Kasih selalu menjadi yang utama, bahkan mestinya menjadi prioritas dalam kehidupan. Hal yang telah ditunjukkan oleh Yesus dalam setiap ajaran, baik dalam perkataan maupun perbuatan-Nya. Bahkan Yesus mengatakan bahwa kasih menjadi hukum yang terbesar. Hari ini, Yesus kembali menegaskan pentingnya kasih dalam kehidupan bersama. Dikisahkan bahwa ketika para murid Yesus lapar dan memetik gandum lalu memakannya, tetapi orang Farisi yang melihat itu protes kepada Yesus karena merasa itu sebagai sebuah pelanggaran terhadap hukum Taurat. Namun Yesus memberikan jawaban bahwa dalam situasi tertentu, yang terutama bukanlah hukum, tetapi belas kasihan. Hal ini kemudian menjadi pelajaran bagi kita. Sebab dalam kehidupan sehari-hari kita kerap jatuh pada prinsip yang mengutamakan aturan. Memang, bahwa aturan menjadi hal yang penting, yang mengarahkan kita untuk menjalani hidup dengan baik dan teratur. Namun aturan tidak membuat kita menjadi kaku. Hukum atau peraturan hendaknya membuat kita penuh kasih kepada sesama. Terutama kita dapat melihat dan memahami cara orang lain menjalankan peraturan itu. Bahkan dalam keadaan tertentu kita diajak untuk mengutamakan kebaikan sesama. Seorang yang dalam keadaan tertentu mesti melakukann tindakan yang tidak sesuai dengan aturan, haruslah kita pahami. Kita dapat melihat bahwa perbuatannya tidak mengakibatkan hal yang buruk, maka itu dapat diterima. Kita tidak diajak untuk langsung menghakimi, menilai perbuatan orang tersebut atau menghukumnya. Inilah kasih yang dikehendaki Tuhan Yesus, yakni jika setiap kita saling memahami tindakan, dan yang terpenting adalah tindakan yang kita lakukan bukan untuk suatu kejahatan.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Sabtu, 17 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XV
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 12:37-42
Mat. 12:14-21
RENUNGAN HARI INI
Ketaatan dan belas kasih merupakan dua (dari sekian banyak) hal yang dimiliki oleh Yesus. Dia adalah Hamba Tuhan yang setia mewartakan kasih. Kasih itu menyembuhkan, dan bahkan kasih itu menyelamatkan. Yesus hadir di tengah dunia layaknya seorang hamba. Ia kerap mengalami hujatan, kritikan dan bahkan penolakan oleh orang Yahudi, terutama kaum Farisi dan ahli Taurat. Sebagaimana juga yang kita dengar pada hari ini, di mana orang-orang Farisi mulai bersekongkol untuk membunuhnya. Namun demikian, Yesus tetap melaksanakan tugas perutusan-Nya. Dia adalah Hamba Tuhan yang taat, dan dalam hidup-Nya selalu berbuat kasih, menyembuhkan serta menyelamatkan. Pengalaman kasih yang dialami orang-orang yang disembuhkan oleh Yesus merupakan tanda bahwa Dia adalah Pribadi yang menyelamatkan. Ketaatan dan kasih-Nya inilah yang menjadi teladan bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari, kerap kita kurang rendah hati. Kita kurang memiliki hati sebagai seorang hamba yang taat setia, bahkan ketika mengalami kesulitan. Kita mudah menyerah dan tak mau mengambil risiko. Hari ini kita diajak untuk meneladan sikap taat dan penuh kasih dari Yesus. Kita belajar untuk menjadi hamba-hamba Tuhan yang setia memberitakan keselamatan. Terutama di masa ini, kita diajak untuk tidak putus harapan di tengah kritikan dan penolakan, bahkan juga di tengah tantangan akibat pandemi covid-19 ini. Kita mesti senantiasa berpegang pada Tuhan yang mengasihi kita. Dengan demikian kita pun boleh menjadi hamba yang mampu menolong, menyembuhkan dan mendoakan sesama kita yang menderita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Minggu, 18 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Yer. 23:1-6
Ef. 2:13-18
Mrk. 6:30-34
RENUNGAN HARI INI
Tugas perutusan sebagai murid Yesus memang tidak pernah usai. Hal ini dapat kita lihat seperti yang dikisahkan oleh Penginjil Markus pada hari ini. Sekembalinya para murid dari tugas perutusan sebelumnya, mereka pun memberitahukan kepada Yesus. Yesus kemudian mengajak mereka untuk sejenak menyepi, mencari tempat untuk sendirian. Memang dikatakan tujuannya adalah untuk beristirahat. Tetapi tempat yang sepi dan sendirian barangkali juga supaya para murid kembali merenungkan dan mengevaluasi kegiatan perutusan yang telah mereka lakukan. Selanjutnya, mereka kemudian kembali didatangi orang banyak. Yesus sendiri kemudian tergerak hati-Nya oleh belas kasihan melihat keadaan orang banyak itu. Kisah hari ini sangat kaya akan makna. Kita sebagai murid Yesus bisa belajar dari para murid waktu itu, yakni dalam menjalankan tugas perutusan kita perlu selalu berkomunikasi dengan Yesus. Dia yang mengutus kita, maka segalanya perlu kita laksanakan seturut kehendak-Nya. Sementara itu, kita juga belajar menjadi pribadi yang reflektif, merenungkan dan memaknai tugas perutusan kita. Kita dapat mengambil waktu hening untuk merenungkan itu. Terakhir, kita menyadari bahwa perhatian kepada sesama tak pernah usai. Yesus, bahkan tidak lagi mempersoalkan waktunya untuk istirahat, atau makan. Dia segera memberikan perhatian dan pengajaran kepada mereka yang terlihat sangat membutuhkan-Nya. Maka kita berusaha untuk meneladan Yesus, di saat sesama kita membutuhkan bantuan kita dapat menolongnya. Walaupun kita kelelahan, atau membutuhkan waktu untuk istirahat, tetapi bila ada yang sangat membutuhkan, kita hendaknya dapat segera membantu. Hati kita segera tergerak oleh belas kasihan terhadap sesama kita. Semoga kita semakin hari dapat belajar menjadi murid Yesus yang mampu menjalankan tugas perutusan dengan penuh semangat, dan tanpa kenal lelah.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Senin, 19 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 14:5-18
Mat. 12:38-42
RENUNGAN HARI INI
Keterbukaan, ketulusan dan kesetiaan adalah sikap yang dibutuhkan dalam kehidupan beriman. Hari ini Yesus kembali mengajak kita untuk memiliki hati yang terbuka, tulus dan setia percaya kepada-Nya. Kita belajar dari pengalaman orang-orang Yahudi yang meminta tanda dari Yesus supaya meyakinkan bahwa Dia adalah penyelamat. Yesus kemudian hanya memberikan suatu pernyataan tentang tanda Yunus kepada mereka. Lebih jauh dapat kita lihat bagaimana Yesus menyayangkan sikap mereka yang keras hati dan tidak mau terbuka. Mereka masih belum percaya kepada-Nya. Situasi semacam ini memang juga tidak jarang terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang beriman. Terkadang kita mengalami, atau mendapati pertanyaan yang meragukan Tuhan. Terlebih di tengah situasi pandemi covid-19 , dengan penderitaan dan kematian yang kian merebak, keyakinan akan Tuhan sebagai penyelamat, penyembuh dan pemberi hidup diragukan, atau seolah-olah tidak dialami oleh manusia. Dengan sikap meragukan Tuhan, bertanya seolah Tuhan tidak ada, bukankah itu menandakan kekerasan hati kita manusia. Kita selalu menuntut suatu tanda, tetapi kita kerap tidak bersyukur akan apa yang dianugerahkan Tuhan selama ini. Di tengah penderitaan dan kematian banyak orang, kita perlu menyadari bahwa apakah hati kita terbuka dan tulus setia mengandalkan Tuhan? Atau kita hanya menuntut, tanpa memperhatikan apa yang Tuhan kehendaki bagi kita? Maka marilah kita merenungkan supaya kita dapat memahami misteri yang terjadi, dan selalu berefleksi untuk menemukan kehendak Tuhan bagi kita. Hal ini sekali lagi membutuhkan iman yang kuat, bahkan di saat kita sudah tak dapat berbuat apa-apa lagi. Di sana Tuhan memberikan tanda dan kebaikan-Nya. Semoga pesan ini dapat kita renungkan lebih mendalam bagi kehidupan kita. Kita tidak hanya menuntut, tetapi setia percaya kepada-Nya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Selasa, 20 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 14:21-15;1
Mat. 12:46-50
RENUNGAN HARI INI
Menjalani hidup sebagai murid Yesus, salah satu tugas yang perlu selalu diperhatikan adalah memelihara dan melaksanakan kehendak-Nya. Hari ini Yesus memberikan penegasan kepada kita yaitu bahwa seorang yang mendengarkan-Nya, melakukan kehendak dan sabda-Nya adalah saudara bagi-Nya. Kisah Ibu dan saudara-saudara Yesus yang datang menemui Dia menjadi suatu kisah yang menginspirasi hidup kita. Yesus menyebut bahwa Ibu dan Saudara-Nya adalah mereka yang melaksanakan kehendak-Nya. Maria, sebagai ibu Yesus tentu sangat jelas mendengarkan Dia sejak awal. Bahkan Maria selalu mendengarkan, menyimpannya dalam hati dan kemudian mewujudkan dalam tindakan yang nyata. Maka, perkataan Yesus itu hanya mau menegaskan kemuridan dari seorang Maria, sekaligus mengajak kita semua untuk melakukan hal yang sama seperti Maria, bunda-Nya. Keteladanan Maria sungguh memberikan semangat bagi kita. Di tengah situasi yang penuh penderitaan dan kecemasan akibat pandemi covid-19 ini, kita tetap diminta untuk selalu mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya. Sabda Tuhan kerap menggugah kita dengan pemaknaan yang baru. Bahkan sabda Tuhan selalu relevan kapan pun, dan sesuai dengan situasi apa pun. Sabda Tuhan menguatkan kita akan arti kekuatan dan pengharapan di tengah penderitaan dan kematian banyak orang akibat virus korona. Sebagai murid Yesus, sekali lagi kita diajak untuk bersedia mendengarkan-Nya secara terus-menerus. Pesan dan ajaran yang kita dengar, kemudian kita wartakan dan laksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Maka marilah kita saling menopang, terus-menerus berupaya agar kehidupan kita sebagai murid dan “saudara” dari Yesus memiliki cinta yang besar untuk mendengarkan dan melaksanakan sabda-Nya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Rabu, 21 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 16:1-5,9-15
Mat. 13:1-9
RENUNGAN HARI INI
Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar! Pesan yang jelas bagi kita sebagai murid Yesus. Hari ini Yesus memberikan suatu perumpamaan tentang bagaimana menjalani kehidupan sebagai orang yang beriman, sebagai murid yang percaya kepada-Nya. Kita semua diminta untuk mendengarkan dengan baik setiap warta yang Dia berikan. Setiap perjalanan kita di dunia selalu mengalami berbagai proses dan dinamika. Kita mungkin kerap mengalami proses seperti beniih yang jatuh di pinggir jalan, atau di bebatuan, atau juga di semak-semak duri. Tetapi kita tentu juga mengalami proses seperti benih yang jatuh di tanah yang subur. Semua proses itu kita alami setiap hari. Memang yang dimaksud oleh Yesus tentang benih itu adalah firman Allah. Maka kita diajak untuk mendengarkan firman Allah itu dengan baik dan menjalankannya. Mungkin kita mengalami bahwa tidak selalu firman yang kita dengar dan renungkan tumbuh subur dalam kehidupan kita. Seringkali kita jauh dalam situasi dihimpit oleh beban atau kekuatiran diri dan hidup. Kekuatiran itu kemudian membuat kita tidak tumbuh dengan baik. Atau terkadang kita juga mengalami situasi kering, tidak punya daya untuk tumbuh. Situasi pandemi covid-19 ini juga mengajarkan kita untuk mendengarkan dengan baik. Setiap peraturan mengenai protokol-protokol untuk menjaga kesehatan juga merupakan hal baik yang perlu kita dengarkan, termasuk himbauan dan larangan demi kebaikan bersama. Inilah hal konkrit saat ini yang dapat kita laksanakan seturut kehendak Tuhan demi kebaikan seluruh ciptaan. Kita berusaha untuk tidak jatuh di tanah yang bebatuan, atau di semak, atau di pinggir jalan. Sebab itu, kita yang memiliki telinga semoga selalu mau mendengar apa yang baik.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Kamis, 22 Juli 2021
Pesta Santa Maria Magdalena
[Warna Liturgi : Putih]
Bacaan Liturgi:
Kid. 3:1-41 atau 2Kor. 5:14-17
Yoh. 20:1.11-18
RENUNGAN HARI INI
Perjalanan sebagai murid Yesus memang kerap tidak lepas dari pengalaman atau situasi sukacita dan dukacita. Pengalaman Maria Magdalena yang pada hari ini kita peringati merupakan bukti dinamika sebagai murid Yesus. Pengalaman suka dan duka sejatinya dikisahkan ketika Maria Magdalena pergi mengunjungi makam Yesus, dan ternyata di sana dia tidak menemukan-Nya. Dukacita yang ia alami sebagai murid karena kematian Yesus, orang yang ia kasihi. Tetapi dalam pengalaman duka dan sedih itu ia diteguhkan oleh suatu sapaan, yakni sapaan Yesus. Ia sungguh bergembira, dan dengan segera menyampaikan pesan Yesus kepada para murid Yesus yang lain. Pengalaman Maria ini juga memberikan teladan bagi kita. Sebagai murid Yesus, tentu kita juga mengalami situasi demikian. Kita mungkin juga kerap mengalami kesedihan, penderitaan dan bahkan kehilangan harapan akan Tuhan. Tetapi hari ini kita diajak untuk menyadari bahwa harapan itu tidak akan hilang, apalagi harapan dalam Kristus. Situasi pandemi covid-19 ini memang menjadi pengalaman kesedihan dan dukacita, tetapi kita diajak untuk terus datang kepada Yesus, seperti Maria Magdalena. Kita datang, mencari dan akan menemukan-Nya. Dia akan menjumpai kita, dan menyapa kita di tengah situasi kehilangan akan orang-orang di sekitar kita. Kita mesti yakin bahwa Tuhan akan datang memberikan peneguhan dan kegembiraan kepada kita. Sisi lain dari keteladanan Maria Magdalena adalah memberikan keyakinan bahwa Tuhan Yesus akan datang memberikan kegembiraan karena Dia adalah harapan kita satu-satunya. Semoga kita pun dapat memberitakan kegembiraan karena beroleh peneguhan dari Tuhan Yesus, kepada sesama kita.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Jumat, 23 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 20:1-17
Mat. 13:18-23
RENUNGAN HARI INI
Memelihara iman yang mampu menghasilkan buah adalah bukti bahwa firman Tuhan diterima oleh manusia, dimengerti dan dilaksanakan. Hari ini setidaknya ada dua keadaan yang ditunjukkan kepada kita. Keadaan yang satu ditunjukkan melalui arti perumpamaan tentang penabur itu yakni hal-hal dunia yang membuat manusia tidak mampu bertahan dalam memelihara iman. Entah ia terusik oleh penindasan, atau penderitaan, atau juga terbelenggu oleh harta duniawi yang membuatnya tidak mampu berkembang. Keadaan yang lain, ditunjukkan juga melalui perumpamaan tentang penabur itu yakni hal-hal yang membuat manusia mampu memelihara imannya dengan baik, bahkan menghasilkan buah. Gambaran ini pun menyadarkan kita akan situasi yang juga sering kita alami dalam hidup. Kita terkadang mungkin merasa terancam, ketakutan dan menderita lalu kemudian meninggalkan iman akan Kristus. Selain itu, mungkin juga kekhawatiran kita akan harta duniawi yang berlebihan membuat kita tidak berkembang dalam iman. Setiap hari kita hanya memikirkan hal-hal duniawi. Kita kerap juga tidak punya banyak waktu untuk mendalami dan mengerti firman Tuhan yang menjadi sumber dan pedoman iman kita. Tetapi di lain pihak kita juga disadarkan bahwa masih ada hal baik yang dapat kita kembangkan, melalui perbuatan baik kita kepada orang lain. Kita berusaha untuk mengerti firman Tuhan dan menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita mampu menjalankan peran seperti tanah yang subur, yang mampu menerima, mengembangkan dan menghasilkan buah.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Sabtu, 24 Juli 2021
Hari Biasa Pekan XVI
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
Kel. 24:3-8
Mat. 13:24-30
RENUNGAN HARI INI
Hari ini kita diingatkan kembali akan kesaksian untuk menjadi seorang pengikut yang mampu menjalankan tugas perutusan dengan baik. Perumpamaan tentang ilalang dan gandum mau menggambarkan perjalanan hidup manusia yang juga memiliki dua sisi, atau dua pengalaman. Secara khusus kita menyadari perjalanan sebagai murid Kristus,kita pun mengalami situasi yang sama. Dua sisi itu dapat kita maknai bahwa kehidupan iman kita juga kerap terhimpit dan terganggu oleh “ilalang-ilalang” duniawi. Tuhan memberikan kita kekuatan dan berkat dalam kehidupan, termasuk juga memberikan tugas perutusan. Dengan tugas perutusan itu kita diharapkan mampu tumbuh dengan baik. Tetapi juga benih ilalang seperti ketidaksetiaan dapat muncul di saat yang sama. Dengan demikian dalam kehidupan setiap hari dua sisi antara perutusan dan ketidaksetiaan selalu tumbuh bersama. Kita diberi tugas, tetapi kemudian tidak satia dan menjalankannya dengan baik. Maka marilah kita menyadari dan terus berusaha agar dapat memelihara benih yang baik, bagaikan benih gandum, dan pelan-pelan melepaskan benih ilalang. Sehingga pada akhirnya nanti kita boleh mengalami syukur karena dikumpulkan dalam lumbung Tuhan Yesus Kristus.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Minggu, 25 Juli 2021
Hari Minggu Biasa XVII
[Warna Liturgi : Hijau]
Bacaan Liturgi:
2Raj. 4:42-44
Mzm 145:10-11, 15-16, 17-18
Ef. 4:1-6
Yoh 6:1-15
RENUNGAN HARI INI
Salah satu hal yang menjadi ciri dari seorang murid Yesus adalah memperhatikan sesama. Banyak kisah dilukiskan mengenai permintaan dan pengajaran Yesus untuk mengasihi sesama, bahkan dalam kekurangan kita. Hari ini Yesus menguji para murid-Nya untuk peka memperhatikan orang sekitar yang kelaparan. Ada yang mengatakan tidak akan cukup membantu karena uang sedikit, ada juga yang memiliki barang dan makanan tetapi juga jumlahnya tidak banyak. Yesus kemudian meminta mereka untuk duduk dan menggandakan makanan yang berupa roti dan ikan itu menjadi banyak. Dengan itu Yesus hendak memberikan bukti bahwa dalam keadaan kekurangan pun kita manusia masih dapat membantu orang lain, bila kita melakukannya dengan tulus. Kita yakin bahwa dalam kekurangan kita, Tuhan akan memberi banyak bantuan. Sehingga niat baik kita untuk membantu sesama dikuduskan oleh Tuhan. Maka saat ini kita juga diajak untuk senantiasa memperhatikan sesama yang mungkin kelaparan, menderita dan diliputi beban hidup lainnya. Sekaligus hal pentingnya adalah kita diajak untuk percaya akan kuasa Yesus yang mampu memenuhi setiap kebutuhan kita dan sesama. Ketika kita merasa berat untuk membantu karena kita pun tidak punya apa-apa. Yesus selalu memperhatikan dan mendengarkan keluhan kita. Semoga kita memiliki niat yang tulus dalam memperhatikan sesama, dan biarlah Tuhan yang menyempurnakannya.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Kalender Liturgi Senin, 26 Juli 2021
PW S. Yoakim dan S. Ana (Orangtua SP Maria)
[Warna Liturgi : Putih]
Bacaan Liturgi:
Sir 44:1.10-15
Mat 13:16-17
RENUNGAN HARI INI
"Berbahagialah matamu karena telah melihat, berbahagialah telingamu karena telah mendengar".
Apa yang sudah kita lihat dan dengar? Melihat dan mendengar dalam konteks ini dapat diartikan dengan "mengetahui". Kita tahu bahwa Allah yang Mahakuasa begitu mengasihi dan mencintai kita dalam diri Putera-Nya Yesus Kristus. Kita tahu bahwa cinta Allah telah menyelamatkan kita. Kita tahu bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh dalam kesatuan dengan Yesus, dan di luar Yesus, kita hanya akan menemukan maut.
Setelah mengetahui semua ini, kita bergerak pada usaha dan perjuangkan untuk mendatangkan sukacita atau kebahagiaan. Kebahagian yang kita cari tentu yang bersifat kekal dan abadi, bukan kebahagiaan sesaat, semu atau sementara. Maka untuk menggapai kebahagiaan abadi itu, kita hanya perlu memberi kualitas pada jati diri kita sebagai murid Yesus. Apa yang sudah dan akan kita buat sebagai murid-murid Yesus saat ini?
Bukan hal yang tidak mungkin bahwa kita patut meneladani kebajikan-kebajikan Santo Yoakim dan Santa Ana yang telah diwariskan kepada Bunda Maria. Semoga berkat doa Santo Yoakim dan Santa Ana, kita dapat bertumbuh menjadi pribadi Maria yang lain.
[Thedy Koten]
Bacaan Liturgi:
Kel. 33:7-11; 34:5b-9,28
Mat 13:36-43
RENUNGAN HARI INI
Pemahaman akan apa yang baik akan membawa kita kepada sikap-sikap dan perbuatan yang berkenan pada Tuhan. Hari ini para murid kembali menanyakan kepada Yesus perumpamaan yang Ia bentangkan sebelumnya tentang lalang di antara gandum. Yesus kemudian menjelaskan bahwa benih gandum yang adalah Kerajaan Allah dan lalang ialah si jahat. Dunia menjadi ladang tempatnya. Namun ketika Kerajaan Allah ditaburkan dan diharapkan tumbuh dengan baik, ada pula kejahatan yang muncul yang menjadi pengganggu. Yesus kemudian lebih lanjut menegaskan bahwa apa yang penting adalah hasil yang akan dituai pada akhir zaman. Anak-anak yang baik akan tumbuh seperti gandum, meskipun terhimpit oleh lalang namum mereka akan tetap tumbuh dan pada akhirnya memperoleh kebahagiaan. Kita diajak untuk menyadari dan melakukan perbuatan-perbuatan baik. Sikap dan perbuatan yang tidak menimbulkan kejahatan dan pengaruh buruk bagi orang lain. Hal yang perlu selalu disadari adalah melakukan kebenaran seturut firman dan kehendak Tuhan. Juga dengan kata lain kita diajak untuk menghindari hal-hal yang merugikan diri dan sesama, atau hal yang membuat sesama kita tersesat perlu dihilangkan. Marilah kita selalu berusaha menjadi seorang murid yang baik, yang selalu menaburkan benih yang baik dan tumbuh seperti gandum. Semoga Tuhan memberkati.
[Fr. Magnus Mitan, Pr]
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI