Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Januari 2023
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Januari 2023
Bil. 6:22-27
Mzm. 76:2-3,5,6,8
Gal. 4:4-7
Luk 2:16-21
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Pada hari ini kita, bersama seluruh Gereja, kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Bunda Allah adalah gelar pertama santa Perawan Maria yang dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Yunani, berbunyi Theotokos. Selain sebagai gelar, Santa Perawan Maria adalah dogma pertama Gereja tentang Santa Perawan Maria. Gelar Maria sebagai Bunda Allah dirumuskan sebagai sebuah ajaran iman yang mengingkat seluruh Gereja sepanjang masa pada tahun 431 dalam Konsili Efesus. Pada waktu itu, dikisahkan bahwa penduduk Efesus berkumpul di sisi pintu basilika dimana para Uskup berkumpul untuk melaksanakan konsili dan berteriak: "Bunda Allah!". Teriakan itu sebenarnya mau memperlihatkan betapa besar kecintaan umat kepada Santa Perawan Maria. Dengan spontan dan hati yang tulus, mereka mengakui keibuan ilahi Santa Perawan Maria yang mencintai mereka dengan kasih sayang dan kelembutan yang teramat luar biasa.
Saudara-saudari yang terkasih,
Bacaan-bacaan Kitab Suci yang baru saja kita dengarkan hari ini mengajak kita untuk memahami, merenungkan, dan menghayati pengakuan iman Gereja tentang keibuan ilahi Santa Perawan Maria yang dirayakan hari ini. Permenungan terhadap keibuan ilahi Santa Perawan Maria juga membantu kita untuk melihat kembali perjalanan hidup kita di tahun 2022 yang tidak lama lagi akan kita tinggalkan dan menyambut tahun 2023 dengan dengan iman dan pengharapan. Di akhir dan awal tahun yang akan kita lewati dan masuki, kita semua diajak untuk bersama dengan Santa Perawan Maria Bunda Allah bersyukur atas segala berkat Tuhan yang boleh kita alami di tahun 2022 seraya memohon kepada-Nya berkat bagi tahun yang akan kita masuki bersama tak lama lagi, yaitu tahun 2023.
Bacaan pertama mengumandangkan kembali kepada kita berkat yang dipercayakan Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada Harun dan anak-anak. Adapun Harun dan seluruh anak laki-laki keturunannya dipercayakan untuk mengemban tugas sebagai imam bagi seluruh umat Israel. Kata-kata yang dipercayakan Tuhan kepada Musa itu sesungguhnya amat indah dan memiliki makna yang mendalam. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” Pada kalimat berkat tadi, sebanyaknya tiga kali nama Allah diulangi. Pengulangan nama Allah di dalam setiap kalimat berkat yang kita dengarkan tadi hendak menegaskan sekaligus mengajarkan kepada kita bahwa syarat utama dan terpenting untuk dapat menerima berkat dan perlindungan Tuhan adalah berada senantiasa berada dekat bersama dengan Tuhan.
Kita dapat bertanya, apakah selama tahun 2022 ini, kita telah menjadikan Tuhan sebagai pusat dan sumber hidup kita sebelum kita meminta berkat dan rahmat dari-Nya? Ataukah kita baru mendekati Tuhan dan meminta rahmat serta berkat-Nya, ketika kita butuh dan ada maunya saja? Apakah dalam hidup kita sehari-hari, kita telah berusaha dengan sungguh untuk menyesuaikan keinginan-keinginan kita dengan keinginan dan kehendak Tuhan ataukah kita, dalam doa-doa kita selama ini justru memaksa Tuhan untuk mengikuti kehendak dan mau kita ketimbang membiarkan diri untuk menerima kehendak dan mau Allah bagi hidup kita? Hari ini, di saat kita akan memasuki tahun yang baru, bacaan pertama memberi pesan ini kepada kita: bila kita merindukan berkat Tuhan dan menginginkan agar damai sejahtera Tuhan senantiasa menyertai kita maka kita harus meletakkan nama dan wajah Tuhan dalam urutan yang pertama dalam hari-hari hidup kita di tahun yang baru. Jika kita merindukan damai sejahtera, maka Tuhan harus menjadi pusat dari kehidupan kita. Jika kita merindukan perlindungan-Nya, maka Tuhan harus menjadi sandaran utama pengharapan kita.
Santa Perawan Maria yang hari kita rayakan sebagai Bunda Allah adalah teladan dan contoh yang paling unggul. Maria adalah wanita yang terberkati tidak hanya di antara wanita, tetapi juga di antara semua umat manusia. Kita bisa bertanya, mengapa Bunda Maria terberkati di antara segala wanita dan bahkan di antara manusia? Maria terberkati karena ia percaya, beriman. Maria terberkati di antara segala wanita dan bahkan di antara semua manusia sebab ia, dengan kemerdekaan dan kehendak bebasnya, menempatkan Tuhan dan kehendak-Nya sebagai pusat dari kehidupan dan bukan diri dan kehendak manusiawinya.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pada akhirnya, Santa Perawan juga mengajarkan kita bahwa tidaklah cukup hanya memohon rahmat dan berkat Tuhan bagi diri sendiri. Kita pun harus membagikan rahmat dan berkat itu kepada orang lain, seperti halnya ia yang mengunjungi Elisabet saudarinya setelah menerima berkat Tuhan, yaitu Kristus dalam kandungannya. Kita sekali lagi bisa bertanya, apakah hidup saya selama ini, perkataan, perbuatan, dan tingkah lakuku, sudah menjadi berkat bagi orang lain atau justru malah menjadi bencana?
Di tahun yang baru nanti, kita dipanggil untuk memberkati dan dalam nama Tuhan berbicara baik kepada sesama dan tentang sesama. Betapa hidup keluarga, komunitas, dan masyarakat saat ini sangat tercemar karena banyak orang berpikir dan berbicara buruk tentang sesamanya sendiri. Berpikir dan berbicara buruk tentang sesama, mendatangkan bencana dan kerusakan, sedangkan berpikir dan berbicara yang baik membuat hidup kita menjadi berkat bagi sesama, kekuatan bagi mereka yang lemah, dan penghiburan bagi mereka yang merasa kesepian dan ditinggalkan. Kita mohon rahmat Santa Perawan Maria, Bunda Allah agar di tahun yang baru kita dapat semakin menjadi seperti dirinya, semakin dekat dengan Tuhan sehingga kita boleh menerima rahmat dan berkat-Nya dan hidup kita pun menjadi berkat bagi sesama yang ada di sekitar kita. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU BIASA II
Yes 49:3,5-6
1Kor 1:1-3
Yoh 1:29-34
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil mengisahkan aktifitas Yohanes Pembaptis di sungai Yordan. Seperti yang kita ketahui, tugas atau misi Yohanes adalah untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Misi itu ia jalankan dengan mewartakan pentingnya manusia agar bertobat dan dibaptis sehingga pada akhirnya layak untuk memperoleh keselamatan Tuhan. Akan tetapi, penginjil mengisahkan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis ternyata tidak mengenal Yesus Kristus, yang bertahun-tahun lamanya telah ia wartakan. Penginjil mengisahkan kepada kita bahwa Yohanes Pembaptis baru mengenal Yesus sesudah pembaptisan Yesus, yaitu ketika Roh Kudus turun ke atas Yesus dalam bentuk seekor burung merpati dan suara Bapa menyatakan bahwa Ia adalah Putra-Nya terkasih (bdk. Mat 3:16-17).
Peristiwa Pembaptisan Yesus, pada akhirnya, membuat Yohanes Pembaptis mengenal dengan baik identitas Kristus. Yohanes sempat kebingungan dan hampir tidak percaya ketika Yesus memanifestasikan dirinya dengan cara yang sama sekali tidak terpikirkan. Ia hadir di sungai Yordan, di antara di antara orang berdosa yang ingin menerima pengampunan melalui pembaptisan Yohanes, dan menerima pembaptisan yang juga diterima oleh para pendosa. Tetapi Roh kemudian menerangi Yohanes dan membuatnya mengerti bahwa dengan cara inilah rencana keselamatan Allah terpenuhi. Yesus adalah Mesias, Raja Israel, tetapi bukan dengan kuasa dunia ini, tetapi sebagai Anak Domba Allah yang menanggung atas diri-Nya sendiri dosa-dosa dunia dan seluruh umat manusia, kita semua.
Saudara-saudari yang terkasih,
Yohanes Pembaptis pada akhirnya mengenal dan sadar bahwa Yesus Kristus yang telah diwartakannya sejak lama adalah Anak Allah yang datang ke dunia untuk memberi kehidupan kepada manusia melalui pengorbanan kematian-Nya di atas kayu salib. Kematian-Nya membuat manusia didamaikan kembali dengan Allah sehingga boleh menerima dan mengalami hidup abadi, yaitu hidup dalam bersama dan di dalam Allah selama-lamanya. Pengorbanan Yesus yang menganugerahkan kehidupan abadi kepada kita senantisa kita alami dalam dan melalui Perayaan Ekaristi dimana Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya supaya kita diluputkan dari kematian kekal dan beroleh keselamatan yang sejati; keselamatan tidak hanya dialami saat di dunia ini, tetapi juga dalam keabadian setelah kematian fisik atau badani.
Pengalaman Yohanes Pembaptis kiranya adalah pengalaman kita pula. Setelah bertahun-tahun lamanya kita mengikuti Yesus, sudahkah kita mengenal Yesus dengan sebaik-baiknya? Ataukah selama ini kita hanya menjadikan iman Katolik sebagai sebuah identitas fisik semata sehingga orang tahu bahwa kita ini orang bergama? Apakah selama ini segala upaya rohani kita lebih sekedar memenuhi kewajiban hidup beragama, ketimbang perjumpaan pribadi yang terus menerus dengan Kristus yang membawa pada pertobatan dan perubahan hidup yang lebih baik? Harus kita akui, seperti Yohanes Pembaptis, kita masih belum mengenal dengan baik dan sungguh-sungguh Yesus Kristus, putra Allah, guru dan Tuhan kita. Hidup kita, pikiran, perkataan, dan perbuatan kita, masih kerapkali bertentangan dengan apa yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Yesus Kristus. Ekaristi, hanya kita anggap sebagai sebuah rutinitas bahkan kewajiban ketimbang momen berahmat dimana Tuhan datang dan memberi hidup-Nya agar kita semakin serupa dengan-Nya, baik dalam hati maupun pikiran.
Hal itu dapat dilihat dan dirasakan ketika banyak orang Katolik kurang mempersiapkan dirinya ketika hendak merayakan Ekaristi. Akibatnya mereka datang terlambat ke Perayaan Ekaristi, tidak bisa menjaga keheningan dan kesakralan rumah Tuhan. Ekaristi menjadi semacam tontonan di bioskop sehingga kapan saja selama perayaan orang dapat keluar masuk begitu mudahnya dan tanpa merasa ada sesuatu yang salah atau kurang berkenan tatkala hendak maju menyambut Tubuh Tuhan. Tidaklah mengherankan bahwa Ekaristi, sebanyak apapun dirayakan, tidak pernah membawa perubahan bahkan berkat di dalam kehidupan.
Saudara-saudari yang terkasih,
Injil yang hari ini kita dengarkan mengajak kita untuk tidak pernah puas hanya karena telah dibaptis dan menjadi warga Gereja Katolik. Semua itu belumlah cukup. Iman yang sejati bukanlah setumpuk pengetahuan keagamaan, menaati peraturan dan kewajiban agama, tetapi perjumpaaan yang personal dan mendalam dengan Tuhan. Bila iman sungguh merupakan perjumpaan yang personal dan mendalam dengan Tuhan, maka kehendak Allah dan peraturan Gereja tidak akan dilihat sebagai beban, tetapi jalan untuk hidup bahagia. Dan, Ekaristi membantu kita untuk mengenal dan berelasi dengan Tuhan secara lebih baik dan lebih mendalam. Bila kita merayakan Ekaristi dengan persiapan hati yang baik, keheningan, penuh penghormatan maka kita sedang berada dalam jalan yang tepat untuk mengenal Tuhan secara lebih baik dan mendalam. Pada akhirnya, dengan menerima kasih dan pengorbanan Tuhan dalam Perayaan Ekaristi, kita diajak untuk menjadi solider dan berbelas kasih dengan saudara-saudari kita yang berkekurangan, membutuhkan penghiburan, dan pertolongan. Bila kita mampu menghormati kehadiran Tuhan dalam Ekaristi dan solider serta berbelas kasih kepada sesama, seperti Kristus Sang Anak Domba Allah yang solider dengan penderitaan manusia, maka itulah sesungguhnya iman, yaitu mengenal Tuhan dan berelasi dengan-Nya secara lebih baik dan mendalam. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
HARI MINGGU BIASA III
Yes 8:23b-9:3
1Kor 1:10-13,17
Mat 4:12-23
RENUNGAN HARI INI
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih,
Injil yang baru saja kita dengarkan hari ini mengisahkan awal karya Kristus di muka umum. Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap Herodes, Yesus meninggalkan Nazaret, tanah kelahiran-Nya dan menetap di wilayah Galilea. Galilea adalah sebuah wilayah yang didiami tidak hanya oleh orang Yahudi, tetapi juga oleh orang-orang bukan Yahudi dari berbagai bangsa. Bagi mereka semualah, Yesus datang sebagai Terang yang bersinar dalam kegelapan.
Yesus mengawali karya-Nya di muka umum dengan membawa pesan yang sama, seperti yang telah disampaikan oleh Yohanes Pembaptis, yaitu pesan pertobatan agar dapat manusia dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus ini, bukanlah kerajaan duniawi, tetapi adalah Yesus Kristus sendiri. Agar dapat hidup dalam persekutuan dengan Yesus, maka orang harus bertobat.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pertobatan yang dimaksud Yesus hari ini bukan hanya perubahan cara hidup, tetapi juga perubahan cara pikir. Pertobatan tersebut jelas hanya dapat terjadi bila diawali dengan pertobatan yang terjadi di dalam hati sebab hati merupakan pusat dan inti dari seluruh kehidupan manusia. Yesus sendiri pernah mengingatkan kita akan hal itu dengan berkata, “apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya. … ., sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserahakan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang”.
Jika hati manusia tidak peka terhadap dosa, maka tidak akan pernah ada perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Bila di dalam hatinya, manusia tidak lagi menyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya pedoman dan sandaran dalam hidup, maka amat sulit baginya untuk tidak lagi mampu membedakan antara yang kebenaran dan kepalsuan, antara kebaikan dan kejahatan. Hidup yang demikian, sesungguhnya, adalah hidup di dalam kegelapan.
Saudara-saudari yang terkasih,
Pentingnya pertobatan terus menerus mulai dari hati sendiri merupakan hal yang penting dan perlu kita lakukan terus menerus. Kita, kerapkali jatuh dalam lubang kesalahan yang sama, bukan hanya karena kita tidak pernah belajar dari kesalahan, tetapi karena kita juga kurang memiliki waktu untuk diam sejenak untuk melihat perjalanan hidup kita dan memeriksa batin kita masing-masing. Kita begitu sibuk dengan pelbagai aktifitas dan pekerjaaan sehingga kita selalu tidak sempat untuk memperhatikan kesehatan hidup rohani kita yang sebenarnya sangat menentukan baik atau tidaknya hidup kita di mata Allah dan sesama.
Karena itu, saudara dan saudari, pertobatan yang hari ini Yesus serukan, mengajak kita untuk senantiasa memperhatikan, peduli, dan waspada dengan apa yang ada di dalam hati kita masing-masing. Paus Fransiskus, mengingatkan kita orang kristiani bahwa setan yang selalu menggoda kita untuk menjauhi Allah dan memuja diri sendiri, adalah sosok yang berpendidikan. Setan menggoda kita bukan dengan menampilkan hal-hal yang buruk, tetapi hal-hal yang enak, nikmat, dan menyenangkan. Karena itu, bagi Bapa Suci Fransiskus, ketika kita tidak waspada terhadap setan yang berpendidikan itu, maka kita tidak akan menemukan kenyataan bahwa bukan Allah, tetapi setanlah yang mengarahkan dan menguasai hati dan hidup kita.
Mari, ibu bapa, saudara-saudari, kita jadikan seruan pertobatan Yesus ini sebagai ajakan untuk senantiasa memperhatikan situasi kebatinan kita setiap hari ini; untuk tidak membiarkan hidup kita dikuasai oleh kegelapan, tetapi dituntun dan diterangi oleh Kristus, Sang Terang Sejati sehingga hidup kita dapat menjadi berkat karena dari hati kita lahirlah buah-buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tuhan memberkati.
R.D. Hilario D.N. Nampar.
NIATKU HARI INI
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI