Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Februari 2023
Kumpulan Renungan Harian
di Bulan Februari 2023
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Homili Rabu Abu
(Yl. 2:12-18; 2Kor. 5:20-6:2; Mat. 6:1-6.16-18)
Ibu, Bapa. Saudara-saudari yang terkasih dalam Yesus Kristus
Hari ini, dengan menerima abu, kita memasuki Masa Prapaskah yang adalah “masa yang diperuntukkan bagi pemurnian jiwa. Abu yang kita terima adalah “tanda yang mengajak kita untuk bertobat, dan untuk mengintensifkan komitmen kita untuk bertobat, untuk mengikuti Tuhan lebih dekat”. Sebab itu, masa Prapaskah adalah sebuah perjalanan untuk kembali kepada Tuhan. Nabi Yoel, dalam bacaan pertama, menegaskan bahwa perjalanan untuk kembali kepada Tuhan adalah perjalanan yang tidak bisa ditunda-tunda. Dalam perjalanan pulang itu, di hadapan Tuhan dan diri kita sendiri, kita diminta untuk secara lebih tekun memeriksa diri kita dan melihat sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama selama ini.
Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin bisa menjadi bahan pemeriksaan batin kita selama 40 hari Masa Praspakah ini kiranya ialah: “sampai saat ini, apakah Tuhan dan sesama memiliki tempat yang utama dan pertama dalam hati saya? Kemanakah arah hati saya selama ini? semakin mendekati Tuhan atau malah semakin menjauh dari-Nya? Selama ini saya hidup untuk siapa? untuk Tuhan dan sesama ataukah untuk hal-hal duniawi yang berlalu, untuk membawa pulang sejumlah uang dan bersenang-senang dan untuk mencari gengsi, pujian dan perhatian manusia?
Saudara-saudari yang terkasih
Jika kita sungguh masuk ke dalam diri kita dan secara jujur di hadapan Tuhan melihat kembali hidup kita selama ini, tentu kita pasti akan menemukan bahwa banyak hal yang tidak beres dalam hidup kita. Hidup kita masih jauh dari Tuhan dam sesama. Dengan kata lain, begitu banyak dosa, kelemahan, dan kekurangan yang kita miliki saat ini. Sebab itu, Masa Praspaskah adalah masa istimewa yang diberikan kepada kita untuk dengan bantuan Allah dan pengharapan yang besar akan kerahiman-Nya, mengakui secara terbuka segala dosa kita di hadapan Tuhan dan mengungkapkan kemauan kita untuk bertobat dan mengikuti jalan dan Sabda Tuhan secara lebih baik dari waktu ke waktu.
Kemauan dan tekad kita untuk bertobat tidak boleh berhenti hanya pada niat dan keinginan di pikiran dan hati semata-mata. Pertobatan itu perlu kita wujud nyatakan dalam tindakan-tindakan nyata yang dapat kita lakukan selama masa Praspaskah ini. Seturut ajaran Kitab Suci dan Tradisi iman Kristiani, ada tiga praktek pertobatan yang mesti kita lakukan selama 40 hari Masa Praspakah ini. Tiga praktek itu ialah puasa, beramal, dan berdoa. Puasa berarti berpantang dari makanan. Akan tetapi hal tersebut bagaimanapun juga, belum sepenuhnya menjadi kriteria dari sebuah puasa yang sejati. Puasa adalah tanda yang kelihatan dari komitmen kita, untuk dengan bantuan Tuhan, menjauhkan diri dari dosa dan kejahatan dan hidup secara lebih baik sesuai dengan Sabda dan Kehendak Tuhan. Sebab itu, mereka yang tidak benar-benar berpuasa adalah juga mereka yang kehidupannya sama sekali tidak diresapi dan dihidupi oleh Sabda Tuhan yang menghidupkan.
Puasa erat kaitannya pula dengan beramal. Mereka yang beramal, sesungguhnya, adalah mereka yang memiliki kemampuan berbelasarasa. Apa itu berbelasa rasa? Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF dalam surat gembala Prapaskahnya tahun ini menjelaskan bahwa “Berbelarasa berarti merasakan yang dirasakan oleh sesama yang menderita”. Nabi Yesaya memberitahu kepada kita bahwa puasa yang dikehendaki Allah ialah membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah, dan memberikan pakaian kepada mereka yang telanjang dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara sendiri (bdk. Yes. 56: 6-7). Santo Yohanes dalam suratnya yang pertama menasehati kita dengan berkata “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allh dapat tetap di dalam dirinya? (1Yoh. 3:17).
Santo Ambrosius, Uskup Milan, berkata “Apa yang kamu miliki, tidak kamu hadiahkan kepada orang miskin; tetapi kamu mengembalikan miliknya kepadanya. Kamu telah menjadikan kepunyaanmu hal-hal yang dimaksudkan untuk digunakan oleh semua orang. Bumi milik semua orang, bukan milik orang-orang kaya.” Dengan demikian, Pantang dan Puasa sesungguhnya hendak mengingatkan kita pula bahwa “hak atas milik perorangan tidaklah mutlak dan tanpa syarat. Tidak seorang pun boleh memperoleh bagi dirinya kelebihan harta milik melulu untuk digunakannya secara pribadi, bila sesama kekurangan hal-hal yang mutlak perlu bagi hidupnya.” (Paulus VI, Populorum Progressio, 23).
Masa Prapaspah, pada akhirnya, adalah waktu istimewa untuk semakin bertekum dalam hal yang paling melelahkan dan berat bagi banyak orang beriman, yakni berdoa. Di tengah segala kesibukan dunia, amatlah sulit orang untuk berdoa dan menyandarkan diri sepenuhnya kepada belas kasih dan penyelenggaran Ilahi. Maka, Masa Prapaskah menjadi kesempatan bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan lewat doa. Santo Agustinus mengatakan bahwa puasa dan sedekah adalah "dua sayap dari doa", yang memungkinkan kita untuk dengan lebih mudah dan mencapai Tuhan.
Saudara-saudari yang terkasih
Mari dalam Masa Prapaskah ini, kita memberi diri kita “untuk didamaikan dengan Allah”. Inilah masa istimewa yang Tuhan berikan kepada kita untuk semakin dekat dengan Allah dan sesama kita dalam kasih. Puasa, amal, dan doa adalah tiga praktek pertobatan yang, bila kita lakukan dengan tekun dan kesungguhan hati, kita akan mampu untuk tidak lagi hidup bagi diri kita sendiri, tetapi bagi Allah yang telah terlebih dahulu mengasihi kita dan bagi sesama secara khusus saudara-saudari kita yang tertimpa kemalangan dan menderita. Semoga masa Prapaskah yang bersama-sama akan kita jalani bersama ini membuat mematikan keegoisan diri kita dan pada saat yang sama membuka hati kita untuk mengasihi Allah dan sesama yang adalah perintah pertama dan tertinggi dari Hukum baru dan ringkasan seluruh Injil. P. Hilario D.N. Nampar, Pr.
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI
Bacaan Liturgi:
RENUNGAN HARI INI